Maria Jiwa Yang Terkurung

Maria Jiwa Yang Terkurung
Jeritan hati seorang kakak


__ADS_3

...Maria ...


...(Jiwa yang terkurung)...


...#13...


...*****...


Ada kata yang sulit terucap


Ada bibir yang enggan bicara


Ada rasa yang enggan tuk diam


Ada rindu yang terus menguar


Semua itu karena kamu


Karena kamu yang kurindu


Karena kamu yang kucinta


Karena kamu rasa itu ada


Kau tahu,


Senja itu seperti kamu


Tak pernah bisa tergapai dengan jemariku


Tak bisa teraih oleh jutaan rindu


Terkadang,


Aku ingin seperti angin


Yang membawa puing kenangan


Yang membawa sejuta asa.


Aku ingin menjadi sejuta cahaya


Yang bisa membiaskan keindahanmu


Yang menjingga di langit sore


Yang bersinar layaknya senja


Tentu saja tak bisa


Aku hanyalah aku


Yang hanya punya kenangan biasa


Yang kebetulan ada kamu di dalamnya.


Aku kembali ke kamarku, dan Maria masih tetap menunggui ayahnya dari kejauhan.


Tubuh kasar ku pun sudah dapat memberikan respon, meski untuk sesekali saja. Seperti menggerakkan jari walau sesaat, dan itu membuatku tidak dapat berkelana lagi jika tubuh kasar ku sedang memberikan respon.

__ADS_1


Untuk yang pertama kalinya, aku tidak ingin cepat-cepat tersadar dan pulih, aku masih ingin menemani Maria sampai ia benar-benar pergi ke alam baka.


Mungkin ini adalah detik-detik perpisahan ku dengan nya, betapa sedih yang kurasa bila membayangkannya.


Aku menelusuri bangunan rumah sakit ini, tak kujumpai Maria. Aku memutuskan untuk ke danau. Dan benar saja, Maria ada disana.


"Ku kira Kau ada di ruangan ayahmu?" sapaku kepadanya.


Senyum itu ... yang selalu menghiasi hari-hariku, yang sebentar lagi tak akan kurasakan.


"Apakah Kau mencariku sampai kesana?" tanyanya dengan senyum malu."


"Tidak, ge-er sekali Kau." Wajahku memerah seketika.


"Tino, apakah kau pernah berfikir, apa sebenarnya yang kita cari di dunia yang semu ini?" tanya Maria dengan lirih.


Aku diam sejenak, mencerna setiap kata yang terucap oleh Maria. Bahkan aku pun tak pernah berpikir apa yg kucari selama ini, selain mengembangkan usaha alm.papa.


Aku menengadah saat menjawabnya. "Bahkan Aku tak pernah sekalipun berpikir seperti itu, selama ini Aku hanya meneruskan dan pengembangkan usaha yang dirintis Ayahku, agar lebih maju." Aku menoleh sesaat kearahnya.


Maria hanya tersenyum. "Tentu saja selain uang, apa yang manusia cari ya?"


"Aku pun belum menemukan apa yang kucari selama ini, sampai akhirnya Aku mati." Maria menunduk, seperti ada penyesalan.


"Oh iya, ayo kita keruangan ayahmu. Biar bagaimanapun dia adalah ayahmu, jangan membencinya ... kadang Aku suka iri dengan orang-orang yang masih memiliki seorang ayah."


"Apakah Kau mau menemaniku?" tanyanya.


Aku menganggukkan kepala dan tersenyum kepadanya. "Tentu saja."


"Terimakasih Tino, untuk semuanya." Senyum Maria mengembang, membuat hatiku luluh seketika.


Tuhan, aku berharap ... senyum itu akan selamanya seperti itu, tetap ceria dan bahagia dengannya. Aku semakin takut kehilangannya, bila boleh meminta ... aku ingin bertemu dengannya lagi, di kehidupan kedua nanti.


"Apa?" jawabku.


"Kau masuk duluan ya, dan lihat apakah ibu tiriku ada didalam atau tidak." jawabnya lagi dengan memelas.


"Baiklah, Kau tunggu saja disini." Aku mengelus kepalanya, padahal aku memang menahan tangan ini. Tak kusangka aku memberanikan diri untuk mengelusnya pagi ini.


Aku pun menemui Maria kembali. "Hanya ada ayahmu seorang, masuklah biar kujaga disini."


Tanpa menjawab pertanyaanku, dia langsung menyelonong masuk.


Biarlah ia menghabiskan kerinduan dengan ayahnya, memberikan ruang privasi untuknya. Pastinya aku berjaga didepan kamar pasien, bila ibu tirinya datang aku dapat memberitahukan Maria.


Cukup lama aku menunggunya, tiba-tiba saja aku merasakan lemas yang begitu dahsyat. Aku tersungkur jatuh, "Maria..." panggilku lirih, aku tak dapat memanggilnya.


Sesak yang begitu hebat kurasakan kembali, bagaimana ini? Bagaimana jika ibu tirinya datang?


"Maaa ... ri ..." ucapku terbata, kurasakan semuanya gelap.


...*****...


"Dok, bagaimana adikku? Bukankah kemarin dia menunjukkan respon?" suara Vania terdengar amat parau, tersimpan begitu banyak kesedihan didalamnya.


"Biarkan kami memeriksa nya terlebih dahulu ya, silahkan tunggu diluar sebentar ya!"


Degup jantung bertalu-talu, seperti nyanyian kidung kematian pengantar kepergian sang adik.

__ADS_1


Hatinya cemas, takut menyelimuti benaknya. Air matanya bukan lagi menetes keluar, melainkan jatuh menetes kedalam hatinya.


Vania terus berdoa untuk kesembuhan adiknya, berharap Tuhan mau memberikan kesempatan padanya untuk berkumpul kembali dengan sang adik.


"Kenapa lagi?" tanya Roni yang baru saja datang.


"Tino kolep lagi..."


"Sudah kubilang, sudah kau tandatangani saja berkasnya itu! Untuk apa kau menghabiskan waktumu seperti ini? Lihat dirimu yang sekarang ini! Sungguh, memprihatinkan." Roni tanpa hentinya bicara, seakan meledek istrinya yang sedang berduka.


"Kenapa kau menginginkan adikku mati dengan cepat?" Vania bertanya dan menatap kosong kearah pintu kamar itu.


"Aku ... aku hanya kasihan saja melihatmu seperti ini, sayang dengarkan aku ya! Kau pun harus menjaga diri terutama kesehatanmu, lihatlah wajahmu saat ini bagaimana rupa mu!" Roni tersenyum mencibir, bukan tersenyum tetapi menyeringai penuh arti.


"Apa dengan aku menandatangani berkas itu, kau akan senang dan merasa puas?" tanyanya lagi.


"Vania sayang, itu semua demi kebaikanmu juga adikmu. Kau jangan menyiksa adikmu terus seperti itu." Roni kembali mengulum senyum, berharap kali ini istrinya mau mendengarkannya.


"Aku bukan menyiksa tapi memperjuangkannya untuk tetap hidup!"


"Lihat adikmu saat ini, begitu tersiksanya menahan semua itu. Sudahlah, kau setujui saja ajuan itu."


"Jika aku menandatangani berkas itu, sama saja aku membunuhnya!"


"Kau ini memang payah, jika sama saja membunuh maka Kau akan masuk penjara bodoh! Ini kan telah disetujui juga oleh pihak rumah sakit!" Roni begitu kesal, dia pun berlalu meninggalkan Vania begitu saja.


Vania diliputi rasa ragu, apakah dia harus menandatangani persetujuan penyuntikan itu atau tidak?


Ketika para tim kesehatan keluar dari kamar Tino, Vania berdiri menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan adik saya, Dok?" tanyanya dengan hati tersayat. Dia bahkan tidak sanggup mendengar jika memang ada berita buruk yang akan disampaikannya nanti.


"Kita hanya dapat membantu semaksimal mungkin, tugas Ibu adalah berdoa dengan hati yang tulus kepada Nya."


Hanya itu saja yang ia dengar, sama seperti sebelumnya. Tanpa tahu arti sesungguhnya.


"Apakah aku harus menandatangani berkas itu?" lututnya terasa begitu lemas, seakan tak dapat lagi untuk menopang kedua kakinya.


Vania pun duduk tersungkur, menangis sejadi-jadinya. Bahkan disaat adiknya belum benar-benar meninggal, ia sudah seperti itu. Sungguh memilukan melihatnya, dia diliputi keraguan yang begitu besar.


Vania mencoba bangkit berdiri, meski tertatih...


"Tino ... maafkan kakak, jika membuatmu tersiksa selama ini. Apakah aku begitu egois bila mengharapkan mu kembali pulih? Aku tidak memikirkan betapa tersiksanya kamu menjalani semua ini, apa aku salah?" Vania terisak didepan tubuh adiknya.


Menahan rasa sakit yang datang menyeruak didalam dada nya.


"Tino adikku, apa kau begitu tersiksa selama ini? Benarkah kau ingin pergi menyusul ayah dan ibu, hem? Untuk apa lagi aku hidup sendiri seperti ini." Vania kembali menangis, menjerit sekuat tenaganya. Sayangnya itu semua hanyalah jeritan dalam hatinya.


Siapapun tak akan ada yang dapat mendengarnya. Tentunya akan lebih lega jika dia menjerit dengan mengeluarkan suara, hatinya hancur tercabik-cabik, oleh sayatan kesedihan...


Tok tok tok!


Terdengar suara ketukan pintu berulang-ulang.


Tak ada jawaban dari Vania.


Della membuka pintu kamarnya, "Loh Kak, ada apa denganmu?" Della berlari kecil menghampiri Vania yang duduk berlutut dengan mata nanar menatap kosong kearah Tino.


"Kenapa Kakak seperti ini?" tanyanya lagi pada perempuan rapuh itu, ia pun memeluknya.

__ADS_1


...*****...


(Bersambung dulu yaa, terimakasih selalu mengikuti cerita MJYT (Maria Jiwa Yang Terkurung) semoga kalian semua terhibur ya 😚🙏 jangan lupa like komen dan ulasannya, juga follow aku ya )


__ADS_2