Maria Jiwa Yang Terkurung

Maria Jiwa Yang Terkurung
POV Ayah Maria.


__ADS_3

...Maria ...


...(Jiwa yang Terkurung)...


...#15...


...*****...


Akhirnya aku keluar dari rumah sakit terbesar di kota ini, akibat serangan jantung yang menyerangku beberapa hari lalu.


Entah hanya perasaanku saja ataukah memang nyata yang ku rasakan, aku seperti sedang bersama dengan Maria, anakku satu-satunya dari pernikahanku yang sebelumnya.


Hampir 6 tahun Maria meninggalkan rumah, pergi bersama laki-laki. Begitulah yang istriku ucapkan padaku.


"Papi, kenapa?" tanya istri kedua ku, Mega.


"Mi, papi merasakan Maria menemani papi." Jelasku padanya.


"Sudah berapa kali mami bilang, jangan terus memikirkan Maria. Anak tidak tahu diri itu, apa dia juga memikirkan papi? Gara-gara mikirin dia, papi jadi masuk rumah sakit kan?" cerca istriku.


Ada benarnya semua perkataan Mega, istriku. Maria tak sekalipun memberiku kabar sejak 6 tahun kebelakang, jika mengingatnya jantung ini kembali sesak.


'Maria, pulang lah Nak walau hanya sebentar saja ... seburuk apapun perilaku mu, kau tetap anakku satu-satunya.' Bathinku kembali menjerit, air mataku seakan jatuh begitu saja saat mengingat anakku.


"Jadi pulang hari ini, Om?" tanya Rian anak tiriku.


Rian adalah anak dari Mega, saat awal membawanya masuk dalam kehidupanku dan Maria, perawakannya seperti anak berandalan. Mungkin karena Rian tumbuh di dalam lingkungan yang kurang layak, Rian dan Maria berbeda tujuh tahun saja.


Mungkin semua ini adalah kesalahanku, kebahagiaan Maria ku tukar paksa dengan kebahagiaanku.


...****...

__ADS_1


...(12 tahun yang lalu)...


"Pi, hari ini Mami mau keluar sebentar ya." Ucap Marni istriku, yang tak lain adalah ibunya Maria.


"Mau kemana, Mi?" tanyaku yang tengah mengurus berkas-berkas perusahaanku yang amat menumpuk.


"Temen Mami, si Mega mau datang Pi. Sekalian dia kita ajak kerja bantu-bantu beres rumah ini ya?" Marni mempunyai jiwa yang tidak tegaan, sama seperti putri kami.


"Loh, kita kan sudah ada Mbok Sum?" sebenarnya aku pun kurang setuju dengan pendapatnya itu.


"Kasihan Pi, si Mega itu janda dan bawa anak lagi." Jelasnya.


"Ya sudah kalau itu yang Mami mau, Papi nurut aja deh sama Mami." Aku pun mencubit pelan hidung mancungnya itu.


Marni begitu cantik dan berhati lembut, aku beruntung mendapatkannya. Namun, disinilah awal dari malapetaka kehidupanku.


Satu persatu, wanita yang amat ku cintai juga ku sayangi perlahan pergi meninggalkanku sendiri.


Tak berapa lama, Marni pun pamit pergi untuk menjemput temannya itu.


Akupun hanya membalas dengan senyum, Mega dan anaknya terlihat sangat kumuh.


"Mega dan Rian, nanti kamar kalian jadi satu dulu ya? Soalnya kamar yang satu lagi masih berupa gudang, pelan-pelan kita bereskan ya untuk dijadikan kamar Rian." Ucap Marni dengan tutur kata yang lembut.


"Iya, gak apa-apa Mirna. Kamu terima Aku dan Anakku saja, sudah bersyukur banget." Suara Mega terdengar begitu serak, mungkin ia amat terharu dan menahan tangis sejak tadi.


Sesekali Mega, memandangiku dan tersenyum. Seketika, Akupun menoleh ke arah lain.


"Pi, kenapa bengong?" tanya Marni padaku.


"Itu temen kamu, kenapa liatin papi seperti itu banget ya?" Aku yang penasaran pun tanpa sengaja bertanya seperti itu kepada istriku.

__ADS_1


"Seperti apa sih Pi?" Marni bertanya kembali dan tertawa, sepertinya aku salah bertanya.


"Ya sudah, Papi mau urus proyek baru dulu ya Mi." Aku pamit pada Marni, dengan adanya teman di rumah ini setidaknya Marni tidak akan kesepian lagi.


Tanpa terasa satu tahun pun berlalu, Mega dan Rian pun akrab dengan kami semua. Namun, kondisi Marni perlahan memburuk tanpa sebab yang pasti.


Dua bulan dari datangnya Mega dan Rian, Marni mulai sakit-sakitan tanpa penyebab yang pasti. Sudah banyak dokter yang menangani istriku, tetap dengan hasil yang sama. Marni sehat-sehat saja, tidak mempunyai riwayat penyakit yang serius.


Hingga akhirnya, Marni menghembuskan nafas terakhirnya. Hatiku hancur, benar-benar hancur saat itu. Melihatnya semakin kurus dan tak berdaya, satu kalimat terakhirnya yang membuatku berat untuk menerimanya.


"Pi, biarkanlah Mega tetap disini ya? Biarkan dia menjadi ibu sambung untuk Maria." Nadanya semakin lirih terdengar, hanya inilah kata-kata terakhir yang keluar dari bibir mungilnya, sebelum ia menutup matanya.


Hatiku tak dapat menerimanya, bagaimana mungkin aku menjadikan Mega sebagai ibu sambung untuk Maria? Aku sendiripun tidak pernah memiliki rasa padanya.


...*****...


"Pi, jadi 'kan kita pulang hari ini? Atau Papi mau tinggal sehari lagi disini?" suara Mega membuyarkan lamunanku.


"Papi sudah baikan kok, kita pulang saja."


"Oh ya , Rian. Selama Om di rumah sakit, apa Kau menghandle semuanya?" tanyaku pada Rian, aku bahkan tidak dapat mempercayainya sampai detik ini.


"Semua Oke, Om." Jawab Rian dengan tersenyum.


"Papi sepertinya tidak percaya dengan Rian? Cobalah sesekali Papi menyerahkan sepenuhnya tanggungjawab kepada Rian, pasti Rian juga tidak akan mengecewakan Papi." Cerocos Mega.


Memang sejak lama ia terus saja membujukku untuk menyerahkan sepenuhnya, semua tanggungjawab perusahaan pada anaknya itu.


Tetap saja, aku masih menunggu Maria pulang dan menyerahkan haknya sebelum masa tuaku habis.


...*****...

__ADS_1


Ku sapu seluruh ruangan kamar anakku dengan mata ini, betapa rindunya hati ini pada Maria. Kamarnya masih sama, seperti sebelumnya.


'Maria, pulanglah Nak. Temani papi, di sisa umur papi ini..." Batinku berucap lirih.


__ADS_2