
...Maria ...
...(Jiwa yang terkurung)...
...#12...
...*****...
Menyakitkan, mengapa mencintainya sesakit ini? Aku ingin terus menangis dan menangis, tapi sepertinya tak pernah ada ujungnya aliran air dimataku, bak menganak sungai.
Tuhan, kenapa Kau membuatku terjebak didalam perasaanku sendiri. Kenapa Kau hadirkan Maria didalam hatiku, jika memang semua ini hanyalah berakhir dengan kedukaan?
...*****...
Aku berharap matahari datang lebih awal,
menyinari genangan hujan air mata yang masih tersisa.
Hatiku terasa sendu, pilu yang melengggu.
Berlalu menyisakan kisah dan luka.
Membuat cerita pada goresan luka dalam hatiku.
Pagi ini Kak Vania datang dengan wajah sumringah, Aku bahagia melihatnya bahagia.
Aku melangkahkan kaki ini, mencari sosok Maria dan ingin memberitahukan padanya tentang perkembangan ku.
"Maria..." panggilku.
Maria menoleh dan tersenyum padaku, ya senyum yang sangat kurindukan selama ini. Senyum yang begitu menguatkan hati yang rapuh.
"Ada apa?" tanyanya dan tetap tersenyum manis padaku.
"Dokter bilang, Aku ada kemajuan dan bisa pulih." Kataku dengan wajah berbinar.
Namun, senyum Maria yang sebelumnya merekah itu kembali layu.
"Baguslah, itu artinya tak lama lagi Kau pun akan pulih. Dan..." Maria menghentikan ucapannya.
"Dan apa?" tanyaku.
"... dan itu artinya, Kau akan melupakanmu."
__ADS_1
"Tidak akan pernah, Kau begitu sangat berarti untukku. Aku tak akan melupakanmu." Kataku dengan yakin.
"Seseorang yang sudah terbangun dari tidur panjangnya, akan lupa dengan semua yang terjadi, Tino ... itu hanya akan menjadi bunga tidurmu." Maria mencoba untuk tersenyum, meski hatinya begitu sakit dan terluka.
"Maria, jika nanti Aku sudah tersadar dan melupakanmu ... kumohon, ingatkan Aku dan datanglah selalu kedalam mimpiku!" pintaku memohon padanya, aku tak ingin membuang semua kenangan bersamanya, aku tak ingin melupakannya.
"Kau harus selalu berusaha untuk segera pulih, masih banyak yang harus Kau lakukan bukan?" Maria mengalihkan pembicaraan.
"Iya, oh iya jawab dengan jujur. Kemarin Kau kemana saja?" Aku sudah menata hati yang sempat tercabik, mungkin mendengar penjelasannya akan membuatku sedikit lega, kupikir.
"Malaikat pencabut nyawa membawaku ke alam baka, namun Jin penunggu danau tak menginginkan ku pergi."
"Lalu?"
"Jin penunggu danau ini menganggap, dia yang lebih berhak atas jiwaku."
"Terus apakah Kau ke alam baka?" Aku pun penasaran, ada rasa takut mendengar kata alam baka.
"Iya, dan Raja alam baka pun memberitahukan bahwa tidak lama lagi, pertualanganku akan berakhir." Maria tersenyum getir menatapku.
Entah harus merasa senang ataukah bersedih, kami sama-sama akan mengakhiri pertualangan kami dalam dimensi semu.
"Maria, jika nanti kita terlahir kembali ... maukah Kau bertemu denganku lagi? Maukah Kau menungguku di penghujung usiaku?" Aku meraih jemarinya, tak perduli lagi tentang perbedaan kami.
Yang Aku tahu adalah, Aku begitu mencintainya disisa akhir perjalananku. Hanya anggukan darinya, aku bahagia meski hanya sesaat mengenalnya.
"Hey Maria, tunggu! ada apa?" Aku pun berlari menyusul langkahnya.
Maria berdiri mematung, melihat tubuh yang sedang didorong oleh petugas keruang UGD.
"Ada apa?" Aku bertanya padanya, Maria berjalan gontai dan memasang wajah cemas.
Ada raut ketakutan dimatanya.
"Siapa dia? Apa Kau mengenalnya?" tanyaku lagi, yang semakin penasaran dengan tingkahnya.
"Dia ayahku," ucap Maria yang terus saja mengawasi pasien itu.
"Ya sudah cepat Kau kesana, lihat lebih dekat!"
"Tidak bisa, Aku bahkan tidak bisa mendekatinya jika ada isterinya." Maria menjawab dengan perasaan cemas, terlihat jelas disudut matanya seperti ada genangan air.
"Kenapa tidak bisa?" tanyaku heran.
__ADS_1
"Itu, apakah Kau lihat ada wanita yang sedang bersamanya?" Ku ikuti kemana arah telunjuk Maria.
"Lalu? Apa yang membuatmu tidak bisa mendekat kesana?" Aku menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.
"Dia itu memiliki sebuah jimat, jimat yang membuatku terasa terbakar jika berdekatan dengannya."
Sungguh, aku baru tahu jika ada jimat seperti itu?
"Tunggu saat dia lengah saja, kita baru masuk kedalam?" Aku menepuk pelan pundaknya, ternyata Maria begitu rapuh.
Rumah sakit tempatku dirawat adalah satu-satunya yang terbesar dan terlengkap, tak heran jika ayahnya Maria pun memakai jasa rumah sakit ini.
"Ternyata ayahku sudah amat tua ya..." Maria menahan rasa sedihnya, mencoba tersenyum meski getir yang tercipta.
"Selama ini, bahkan Aku tak pernah sekalipun bertatap muka dengannya ... ayahku begitu sibuk dengan urusannya, bahkan ketika kakak tiri ku memperkosaku pun ia tak pernah tahu..." Maria berurai air mata, sungguh memilukan.
Betapa kagetnya aku mendengar pengakuannya barusan.
"Seberat itukah beban yang kau simpan, Maria?" batinku menjerit lirih, menatapnya begitu rapuh hatiku kembali teriris.
"Apa? B*jingan! Lalu apa ibu tirimu tahu akan hal ini?" tanyaku yang semakin geram mendengar kebenarannya.
Maria hanya mengangguk dan menangis meski tertahan.
Maria hanya mengangguk dan menangis meski tertahan.
"Saat Aku ingin memberitahukan kepada ayahku, mereka mengancam ku. Mereka tak segan membunuhku." Tangisnya pun pecah.
Aku hanya bisa merangkulnya saja, aku tak tahu bagaimana cara menenangkan wanita jika sedang terluka atau bersedih. Aku memang payah, tidak ada sisi romantisnya sedikitpun. Yang kulakukan hanyalah menepuk-nepuk pelan pundaknya, sungguh bodoh.
Hatiku begitu merasakan ngilu yang begitu hebat, bagaimana bisa Maria begitu tenang dan tidak dendam dengan mereka yang telah berbuat jahat dengannya? Hingga menghilangkan nyawanya, Maria tetap tidak dendam?
Ya, menangis lah ... jika itu membuat hatimu terasa lapang. Betapa tersiksanya hidupmu, Maria...
Andai saja aku lebih dahulu mengenalmu, aku pasti akan membuatmu aman disisiku. Tak akan kubiarkan kau menangis sedikitpun, Maria.
"Kenapa Kau tak coba membalas dendam pada mereka? Jika mereka berbuat sangat keji seperti itu?" tanyaku.
"Ada dua hal yang membuatku tidak bisa membalaskan dendamku. Pertama, jika Aku membalas dendam ... Aku akan semakin terperangkap didalam dimensi ini, jiwaku semakin kotor akan dendam." Semakin lirih kudengar suara Maria ketika menjawab ku, lebih tepatnya terdengar seperti rintihan yang membuat hatiku ngilu.
"Kedua, mereka mempunyai jimat yang sengaja mereka minta kepada dukun mereka, agar arwahku tak dapat menghantui mereka. Ibuku mati pun ditangan ibu tiriku!" kali ini, Maria menjawab dengan penuh penekanan diakhir kalimatnya.
Sungguh bi*dab manusia seperti mereka, demi harta mereka gelap mata dan membutakan semua rasa!
__ADS_1
"Bi*adab! Andai saja Aku dapat membantumu ... Aku pasti akan membuat mereka masuk kedalam penjara!" jawabku penuh dengan emosi.
...*****...