
...Maria...
...(Jiwa yang terkurung)...
...#part3...
...*****...
(Danau Maria)
Aku lebih menyukai danau ini ketika hati sedang merasa resah.
"Hey, kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Sayang mengagetkanku.
"Sejak kapan kau di sini?" tanyaku balik, seingatku tadi dia tidak ada.
"Dari tadi, sebelum kau datang," ucapnya seraya memandang danau.
"Sejak kapan kau mengenalku? Em, maksudku sejak kapan kau tahu tentangku?"
"Sejak pertama kali kau mencoba menolongku," ia menjawab kembali. Rasanya aku tak pernah bertemu dengannya, bagaimana mungkin aku menolong dia?
"Menolongmu?" Aku mengernyitkan dahi, mencoba mengingat tapi tetap saja aku tak merasa pernah menolongnya.
"Iya, lima tahun lalu. Saat jasadku sudah membujur kaku, bukankah kau yang menolongku?" Menoleh ke arahku dan tersenyum.
Menolongnya? Lima tahun yang lalu? Butuh waktu bagiku untuk mencerna setiap ucapannya.
"Ah, ya, sepertinya aku pernah menolong seseorang. Akan tetapi, aku tidak begitu mengingatnya."
Samar-samar memori lima tahun itu, terbayang seperti penggalan puzzle. Tetap saja aku tak dapat mengingatnya.
"Maaf, aku lupa," jawabku.
Ingatanku memang buruk. Ah, sudahlah itu tak penting bagiku.
"Apa yang terjadi denganmu, lima tahun lalu?" sambungku kembali.
"Aku mati! Mereka membunuh dan membuang jasadku di danau ini," jawabnya datar tanpa ekspresi.
"Mereka? Siapa mereka? Apa kau mengenalnya? Dan, kenapa mereka membunuhmu?" cercaku.
Dia pun menceritakan semuanya.
Namanya Maria. Bukan Sayang seperti yang ia bilang. Dasar perempuan sinting.
"Aku mati dibunuh hanya karena warisan ayahku. Mereka semua serakah!" suaranya terdengar penuh dendam.
"Siapa mereka? Apakah ayahmu masih hidup?" tanyaku penasaran.
"Mereka adalah Ibu tiriku dan anaknya. Ayahku sudah tak peduli denganku, dia lebih memilih perempuan itu daripada anak kandungnya sendiri," jawabnya lirih.
"Maaf, ya, kau jadi mengingat hal yang menyakitkan,"
"Sebelum mereka membuangku ke danau ini, aku masih bernyawa ...," ucapnya terputus.
__ADS_1
Memang menyakitkan, mengingat dengan sengaja.
"Aku memohon ampun kepada mereka agar melepaskan, semakin memberontak mereka semakin liar menyiksaku."
Begitu tersiksanya perempuan ini, tak jauh berbeda denganku.
"Lalu, itu sebabnya kau masih di dunia ini?" tanyaku padanya.
"Iya. Ketika kita mati dibunuh, maka kita akan terperangkap dan terkurung di tempat itu selama ada yang menggantikannya."
"Aku kurang paham, maksudnya? Sampai kapan kau akan tetap di sini?"
Maria menghela nafas secara kasar.
"Entahlah, mungkin saja sampai ada yang menggantikan aku," jawabannya semakin membuatku bingung.
"Coba jelaskan, aku sungguh tak mengerti apa yang kau bicarakan!" ucapku kesal.
"Jadi gini. Aku mati dengan cara ditenggelamkan, bukan?"
"Lalu?"
"Jadi, aku harus mencari jiwa pengganti agar aku dapat terbebas."
"Ah, Aku semakin tak mengerti! Coba jelaskan yang lebih mudah!" kataku dengan kesal, sudah tahu otakku lagi banyak beban.
"Misalkan ada yang mati bunuh diri di pohon itu, ya," tangannya menunjuk pohon besar dekat danau.
"Lalu ia akan selamanya terkurung di pohon itu, sampai ada jiwa baru yang menggantikannya di sana. Apa sampai di sini kau paham?" tanyanya dengan lembut.
"Hufh! Caranya, ya, menghasut manusia untuk mati bunuh diri juga di pohon itu. Sama seperti ia mati sebelumnya." Penjelasannya kali ini, membuatku sedikit mengerti.
"Oh, ternyata seperti itu, toh?" jawabku dengan anggukan kepala.
"Jadi, sampai kapan jiwamu terkurung di danau itu?" tanyaku lagi.
"Sampai aku menemukan jiwa baru, yang mati persis sepertiku."
"Kenapa kau tidak menghasut manusia saja, agar bisa terlepas dari danau ini?"
"Aku tak mau menambah dosa. Bisa saja aku menghasut manusia yang sedang banyak masalah, agar bisa terbebas dari danau ini. Tapi aku tidak mau."
"Apa alasannya? Bukankah semua hantu itu sama saja, ya? Jahat dan selalu membuat manusia terjerat dosa?" ucapku penuh dengan emosi.
Maria hanya tertawa, entah apa yang sedang ia pikirkan.
Aku kembali teringat akan Roni dan Metta, mereka menginginkan kematianku demi harta.
"Lalu apa rencanamu sendiri?" tanyanya.
"Entahlah, Kakak Ipar dan juga kekasihku, mereka menginginkan aku mati," ucapku lirih.
"Oh, iya, kenapa aku tidak bisa mengingat tentang kejadian lima tahun lalu, ya?" sambungku lagi.
Aku penasaran kenapa tidak bisa mengingat apa pun.
__ADS_1
"Karna saat kau menolongku, kau mengalami benturan di bagian kepala," Maria tersenyum begitu manis padaku.
"Terima kasih, ya, saat itu aku ingin mengucapkan terima kasih padamu. Tetapi, kau tidak bisa melihat ataupun mendengar suaraku," sambungnya kembali dan menatap sendu danau itu.
"Meskipun saat itu aku sudah tak bernyawa, aku amat bahagia. Setidaknya masih ada yang peduli denganku,"
"Sejak saat itu, aku terus mengikutimu ke mana pun kau pergi."
"Sungguh? Apa jiwa pahlawanku sebesar itu?" Aku menertawakan diriku sendiri, saat membayangkan menolong seseorang.
"Saat Metta berencana membunuhmu pun aku tahu, aku mencoba berinteraksi denganmu tapi gagal terus. Kau tak bisa merasakan kehadiranku."
"Sudahlah, aku tak ingin membahas wanita itu."
Pantas saja selama ini aku merasa seperti ada yang mengikuti, memperhatikan dan menyentuhku saat aku tertidur.
"Sekarang apa yang kau mau?" tanya Maria padaku.
"Aku tak tahu, bagaimana nasibku nanti. Aku kasihan dengan Kak Vania," jawabku, aku pun tidak pernah tahu jalan Tuhan.
"Apa kau masih ingin terus bertahan?" tanyanya lagi.
"Bertahan dari apa?" Aku kembali bertanya.
"Jika masih bisa hidup, teruslah bertahan dan berjuang. Jangan sepertiku, yang terkurung seperti ini."
"Lihat Kakakmu, dia terus memperjuangkan agar kau terus hidup. Meski dengan bantuan alat. Setidaknya kau tidak sepertiku."
"Aku pasti akan sadar dari tidur panjangku. Dan membalas semua perbuatan Metta!" ucapku penuh dendam dan emosi.
"Jika hatimu dipenuhi rasa dendam seperti itu, bagaimana mungkin kau akan cepat pulih?"
Sungguh terharu mendengar kata-kata Maria, bagaimana mungkin dia bisa bicara seperti itu? Bahkan dia tidak seperti hantu lainnya.
"Apa kau tidak dendam dengan Ibu tiri dan Kakakmu itu?"
"Tidak. Sedikitpun tidak lagi dendam. Dulu memang aku pernah dendam dan mencoba untuk membalas semua perbuatan mereka. Tapi untuk apa? Nantinya aku hanya termakan amarah terus menerus. Energiku pun semakin jahat nantinya."
"Waw, baru ini aku menyaksikan sendiri hantu yang baik, juga cantik ...," jawabku spontan.
Maria hanya tersenyum malu, sebenarnya itu bukanlah pujian yang di sengaja. Maria begitu anggun dengan gaun putihnya.
Rambutnya hitam panjang, gaun putih menutupi kakinya. Cantik. Matanya sendu, dibalik tawa tersimpan ribuan luka. Senyumannya manis. Ah, ada apa denganku?
Memaafkan Metta? Jangan harap, aku bisa memberikan maaf kepadanya! Tetapi, disisi lain aku masih mencintainya.
Apakah aku harus memaafkannya seperti Maria memberikan maaf untuk orang-orang yang telah membunuhnya?
Jika nanti Tuhan memberikanku kesempatan untuk kembali hidup, aku ingin merubah semua sifat egoisku selama ini.
Mungkin saja selama ini, banyak yang telah terluka oleh ucapanku. Maafkan aku, Tuhan ....
*****
(Jangan lupa ya Kak akak, sempatkan like dan klik ulasannya 😁🙏)
__ADS_1
Terimakasih untuk yang sudah berkenan membaca, semoga kita semua selalu diberikan kesehatan juga rejeki yang melimpah ya. Amin.