
...Maria ...
...(Jiwa yang terkurung)...
...#6...
...*****...
Tak terasa, sudah enam bulan Aku terbaring tak berdaya. Selama itu pula Kak Vania yang selalu menjengukku, wajar saja karena dia adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa.
Sebenarnya Aku pun ingin sekali datang ke kantorku, tapi untuk apa lagi? Toh Aku pun juga tak bisa berbuat banyak, Aku ingin secepatnya kembali sadar dan membenahi kesalahan yang telah diperbuat.
Mungkin dulu Aku begitu sombong dan angkuh, karna terlalu percaya diri dan tak memperdulikan orang lain di sekitarku.
"Lagi mikirin apa?" tanya Maria.
Maria menghampiriku, kami duduk ditepian danau. Ya, hanya danau ini lah yang membuatku sedikit tenang. Lebih tepatnya karna ada Maria yang menemaniku, ia begitu tulus menjadi sahabatku.
"Menyesali hidupku." Hatiku terasa hampa, ada ruang kosong yang tak bisa kuisi dengan perasaan apapun.
"Kenapa harus disesali?" Maria bertanya kembali, dia memang sosok wanita yang kepoh menurutku.
"Andai saja Aku tidak buta untuk melihat keadaan sekitar, dan mau mendengarkan kata-kata Kakakku..."
Aku terlalu mempercayai Metta, terbuai dengan kecantikannya yang ternyata itu semua adalah pembawa malapetaka untukku.
"Sudahlah untuk apa terus-menerus Kau sesali? Jika terus-terusan Kau sesali, yang ada hidupmu akan terus seperti ini!"
"Kembalilah semangat agar Kau cepat pulih dan tersadar dari tidur panjangmu!" sambungnya lagi.
"Kau ini, kalau bicara ya mudah. Coba Kau berada diposisi ku?" Aku mendengus kesal, dia bisa bicara seperti itu karna ia tak merasakan apa yg sedang kurasakan.
"Hidupmu itu jauh lebih beruntung dibandingkan denganku! Kau masih ada kesempatan untuk hidup kembali? Sedangkan Aku? Aku akan selalu terjebak dan terkurung di danau ini!"
"Jika Aku mati, apakah akan sama denganmu? Em ... maksudku, apakah Aku akan terjebak sepertimu juga? Atau ke alam baka?"
"Mungkin Kau juga akan terjebak sepertiku, entahlah Aku tidak tahu rahasia Tuhan."
Kami pun tertawa bersama, mungkinkah Aku akan terus dapat menikmati suasana seperti ini? Tertawa lepas ... selepas-lepasnya.
Sudah lama entah beberapa tahun lamanya, Aku tidak tertawa lepas seperti ini. Tak terkecuali saat bersama dengan Metta, hanya Maria yang dapat membuatku tertawa lepas seperti ini, juga anak perempuan masa kecilku itu. Entah dimana dia sekarang.
__ADS_1
"Ternyata Kau ini tampan juga yaa saat tertawa?" Maria tersenyum mengejekku, saat pipiku terasa panas ia tertawa terpingkal-pingkal.
"Laa iya, Aku ini kan laki-laki? Sudah sepantasnya tampan, masa' cantik?" Kami pun tertawa lagi, Aku semakin menyukai keadaan ini.
Tuhan, jangan pernah Kau biarkan perempuan pemberi semangat ini berhenti tertawa, jika Aku benar-benar meninggal nantinya ... kuatkan lah juga Kakakku, Vania. Jangan biarkan pengganti Ibuku itu hancur hatinya saat melepas kepergian ku.
Aku telah rela dan ikhlas, jika takdirku akan berakhir seperti ini.
Aku berjalan menjauhi Maria yang sedang tertawa, Aku tak kuat saat nanti akan mengalami perpisahan dengannya juga dengan Kakakku.
"Hey, mau kemana Kau?" teriak Maria, yang menyadari jika Aku sudah beranjak pergi.
Aku hanya terdiam saja melanjutkan langkah kaki ini, entah kenapa malam ini Aku begitu takut kehilangan Maria.
Bersama dengannya, Aku merasa seperti merindukan masa kecilku. Aku kembali teringat akan anak perempuan itu, menyakitkan rasanya jika mengingatnya disaat seperti ini.
Kubuka kembali dompet ini, setelah sekian lama Aku tak pernah membukanya. Ya, didalamnya terdapat sebuah fotoku dengan anak perempuan itu ... begitu cantik dan riang, andai saja ia adalah jodohku.
"Mengapa Aku merasakan Kau begitu dekat denganku?" batinku berbisik lirih.
Mataku memanas, dan perih ... tenggorokan pun terasa tercekat seperti ada sesuatu yang mengganjal didalamnya, Tuhan ijinkan Aku bertemu dengannya walau hanya sebentar saja. Sebelum Aku menghadap Mu nanti, kumohon kabulkan lah permintaan terakhirku ini.
"Tolong jagakan dia selamanya." Aku tak mampu lagi menahan tetesan air mataku.
"Apakah Kau menangis?" tiba-tiba saja Maria sudah berada di dekatku.
"Tidak, hanya saja tadi tak sengaja terkena debu." Aku segera menghapus air mata yang sempat menetes tadi.
"Ada apa lagi? Kangen dengan pacarmu itu?" tanyanya lagi.
"Kau ini, kenapa sih selalu saja ingin tahu?"
"Aku hanya bertanya saja kok." Maria pun menjawab tanpa dosa.
"Dasar Kau wanita sin--" Aku menghentikan ucapanku.
Ada apa denganku hari ini? Kenapa Aku jadi tidak tega mengatai dia wanita sinting?
"Kenapa?" Maria bertanya lagi dan tersenyum meledek.
"Sudahlah, Aku lagi ingin sendiri malam ini. Sebaiknya Kau pergilah mencari makan!"
__ADS_1
Entah kenapa setiap kali melihat mata teduhnya, Aku seperti melihat teman kecilku. Apa mungkin dia adalah anak perempuan itu? Aku membatin dalam hati, rasanya tidak mungkin jika Maria adalah anak itu. Hanya matanya saja yang mirip. Dan mata teduh itu pun ibuku juga memilikinya, andai saja Tuhan mempertemukan Aku dengan anak perempuan itu...
"Aku tidak lapar." Dia menjawab secepat kilat.
Aku tahu sejak berteman denganku, Maria tidak lagi memakan makanan itu sejak berteman denganku. Karna Maria tahu, Aku tidak menyukai bau amis dari mulut dan tubuhnya. Maka dari itu ia tidak lagi memakannya, meskipun masih sembunyi-sembunyi. Memang aneh tingkahnya.
...-----...
Pagi ini tak kulihat Kakakku, mungkin Kak Vania sedang ada rapat pikirku.
Hingga seseorang pun masuk dengan leluasa kedalam kamarku.
Aku terperanjat melihat siapa yang datang sepagi ini.
Metta! Perempuan yang tega membunuhku!
"Mau apa lagi dia?" tanyaku dalam hati.
Aku hanya bisa menyaksikannya saja, Aku tak tahu apa maksud dan tujuan dia datang kesini.
"Kemana si Maria ini, ketika dibutuhkan dia tidak nongol!" gerutuku dalam hati.
Padahal Aku berharap dia ada disini, dan ikut melihat apa yang akan dilakukan Metta kepadaku.
Entah kenapa Aku menjadi takut dengan Metta sekarang.
Tak berapa lama ia pun menelpon seseorang entah siapa yang ia hubungi sepagi ini.
"Halo, dimana?" tanya Metta kepada seseorang disebrang sana.
Aku hanya dapat mendengar suara Metta saja, tanpa tahu apa yang dibicarakan oleh lawan bicaranya itu.
"Baiklah akan kutunggu Kau sampai datang, ya baiklah ... Aku baru saja datang, dan benar katamu disini tidak ada siapapun."
Metta menutup telponnya dan sedikit tertawa melihat tubuh yang terbaring itu.
Aku penasaran siapa yang sedang ia telpon itu? Kenapa waktunya pas sekali ketika Kak Vania tidak ada disini? Siapa orang itu? Bagaimana ia bisa tahu kalau disini tidak ada siapapun?
"Apa Aku harus mencari Maria dulu ya? Atau menunggu saja sampai seseorang yang tadi ia telpon itu datang?" tanyaku dalam hati.
Ah, Maria kemana Kau? Kenapa Aku jadi takut seperti ini ya?
__ADS_1
...*****...
Hayoo, siapa kira-kira orang yang ditelpon oleh Metta? Penasaran gak? Penasaran dong? Heheh, nantikan di bab selanjutnya yaak 😚