
...Maria ...
...(Jiwa yang terkurung)...
...#7...
...*****...
Ah, Maria kemana Kau? Kenapa Aku jadi takut seperti ini ya?
Metta terus saja berusaha untuk menukar cairan infus ku, Aku pasrah saat ini. Tak ada yang dapat kulakukan untuk menyelamatkan diri ku sendiri. Aku memang tak berguna.
"Sial! Lama sekali dia, bagaimana jika ada yang datang nanti? Kenapa harus kulakukan sendiri, dasar brengs*k kau!" entah siapa yang Metta caci itu, dia terus saja melihat kearah pintu saat tangannya berusaha untuk menukar cairan infus ku.
Aku berusaha untuk mendorongnya, bahkan sangat sulit tubuhnya tidak dapat ku sentuh sedikitpun. Bahkan niat untuk melempar sesuatu kearahnya pun tidak bisa.
Ahh!! Aku kecewa dengan semua ini!
Kenapa Aku harus menyaksikan sendiri percobaan pembunuhan ini? Aku harus bagaimana lagi ini?
Sepertinya Metta kesulitan, namun hampir berhasil ... Aku terduduk lemas melihat detik-detik kematianku sendiri, ditangan orang yang begitu amat kusayangi dan kupercayai.
"Maria, kemanakah Kau saat ini? Tak ingin kah Kau mengucapkan salam perpisahan padaku?" Aku bergumam lirih meratapi nasibku yang sebentar lagi akan berakhir.
Dreett.
"Hey dimana Kau sekarang? Kenapa begitu lama sekali sih? Aku hampir berhasil ini, cepat Kau kesini!" ucap Metta dengan seseorang disebrang sana.
"Apa?? Aku hampir saja berhasil ini sedikit lagi! ... Sial! Baiklah, ini semua gara-gara Kau!"
Tutt.
Metta mematikan sambungan telponnya dan pergi begitu saja. Entah apa yang sedang mereka bicarakan tadi, yang kulihat Metta terlihat begitu terburu-buru dan menghentikan perbuatan keji nya itu.
Beberapa menit saat Metta keluar dari ruangan ku, Kak Vania datang bersama dengan Della. Hatiku begitu senang sekali, Aku masih diberikan kesempatan untuk tetap bertahan, meskipun tak tahu harus berapa lama lagi Aku terbaring seperti itu.
"Loh, ini apa ya? Kenapa infusnya ditaruh disini?" Kak Vania bergumam sendiri.
Kak Vania meraih cairan mirip dengan infus, ketika ia sedang meletakkan tasnya diatas nakas.
"Ada apa Kak?" Della menghampiri Kak Vania dan ikut melihat cairan itu.
__ADS_1
Aku pun mendekati Della.
"Baru saja Metta ingin menukar cairan infus ku dengan cairan yang entah apa itu, untung saja kalian cepat datang." Aku menjelaskan padanya, agar dia dapat menyampaikan kepada Kakakku.
Della pun terpekik karna kagetnya.
"Kak, jika Della memberitahukan Kakak yang sebenarnya ... apakah Kakak akan mempercayai ucapanku?" Della bertanya dengan hati-hati, karna memang Kak Vania tidak percaya akan hal-hal mistik.
"Sejak kapan Aku tidak mempercayai Kamu?" jawab Kak Vania dengan tersenyum dan mencubit pelan ke pipi Della.
"Jika Aku mengatakan ... Tino ada disini ... apakah Kakak juga akan percaya denganku?"
"Hahaha, ya jelas toh Tino ada disini? Tuh lihat, dia sedang tertidur pulas 'kan?" Kak Vania tertawa pada Della.
Dan Della pun menggaruk-garuk kan kepalanya yang kurasa tidak gatal.
"Aduh bagaimana menyampaikannya kepada Kakak mu itu?" bisik Della padaku.
"Jangan pernah Kakak meninggalkan Tino sendirian ya, Kak ... meskipun Kakak ada urusan, sebaiknya Kakak menyuruh seseorang yang Kakak percayai untuk menemani Tino selama Kak Vania sedang keluar." Ucap Della kepada Kakakku.
"Memangnya kenapa? Tadi Kakak cuma keluar sebentar karna ada rapat kok, kenapa Kau begitu cemas?" tanya Kak Vania pada Della.
"Karna bisa saja perempuan jahat itu datang kesini dan mencoba untuk membunuh Tino?" Della pun meraih cairan itu dari atas nakas yang tadi diletakkan oleh Kakakku.
Memang Kak Vania begitu lembut dan penuh kasih sayang kepada siapapun.
"Tapi Kak, jika Kakak tidak percaya ini buktinya Kak. Perempuan gila itu sudah datang kemari, dan mencoba untuk menukar infus Tino." Della berusaha menjelaskan kepada Kakakku, tetap saja Kak Vania keras kepala.
Dia adalah tipe orang yang tidak bisa percaya dengan apapun tanpa dibuktikan terlebih dahulu dengan mata kepalanya sendiri.
Kak Vania hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Mungkin saja tadi perawat lupa membawa kembali cairan infus ini, Della sayang." Jawab Kak Vania.
"Baiklah kita tanyakan kepada semua perawat, dan kita berikan kepada Dokter teman Kakak itu. Apakah ini cairan infus ataukah ini cairan lain yang entah apa itu." Della berusaha meyakinkan Kak Vania.
Dan kali ini, Kak Vania hanya terdiam menatap Della yang sedari tadi tampak serius.
"Baiklah, jika memang keselamatan Adikku sedang dalam bahaya..." jawab Kak Vania dengan tatapan matanya memandang ke tubuhku.
Akhirnya, Kak Vania pun bisa diajak kompromi. Memang susah meyakinkan Kakakku itu.
__ADS_1
Oh iya, kenapa dari tadi Maria tidak hadir ya? Untung saja tadi Kakakku dan juga Della cepat datang, kalau tidak ... entah apa yang akan terjadi.
"Siapa ya kira-kira yang ditelpon oleh Metta tadi? Kenapa dia bisa tahu kapan Kakakku datang dan pergi? Apakah ada seseorang yang seharusnya bertanggung-jawab dibalik semua kejadian ini? Tapi siapa dia?"
"Ada apa?" Maria datang disaat tidak dibutuhkan.
"Dari mana saja Kau?" tanyaku kesal padanya.
"Ada urusan sedikit tadi, kenapa? Kangen ya?" godanya.
"Cuihh! Kau ini dari tadi Aku membutuhkanmu disini, kenapa Kau tidak hadir!" Aku memaki nya karna kesal.
"Kan tadi sudah kubilang, ada urusan sedikit. Kau ini selalu saja marah-marah gak jelas, darah tinggi baru tahu rasa Kau!"
"Kau tahu tidak? Betapa putus asa nya Aku tadi! Harus menyaksikan sendiri percobaan pembunuhan itu lagi! Kau tahu tidak bagaimana perasaan ku tadi? Berharap Kau datang dan membantuku!" emosiku terluar begitu saja.
Tidak seharusnya Aku menyalahkannya, karna memang bukan salah Maria.
"Apa Kau tahu tadi Metta datang berusaha untuk membunuhku lagi! Kau kemana disaat Aku butuhkan hah? Dan sekarang Kau disini, Aku sungguh muak denganmu!"
Aku terus saja berkata kasar kepadanya, Aku melampiaskan semua emosiku pada Maria. Maria hanya terdiam dan matanya sedikit berkaca-kaca, dia menundukkan kepalanya dan melihat ke arah lain.
Apakah Maria menangis? Ah, Aku terlanjur berbicara kasar padanya. Aku merasa bersalah kepadanya. Kenapa Aku begitu emosi pada Maria? Hanya karena kecewa ia tidak datang disaat Aku sedang membutuhkannya.
Maria masih diam mematung, Akupun menjadi salah tingkah karna merasa bersalah telah membentak juga berbicara kasar padanya. Untuk meminta maaf pun terasa keluh bibirku, lebih tepatnya gengsi.
Tak lama Kak Vania dan Della pun datang, Maria pun keluar tanpa berkata apapun denganku.
Della menatapku dengan tatapan heran, melihat Maria keluar begitu saja dengan wajah tertunduk.
Della menaikkan bahu dan alisnya, seolah bertanya ada apa dengan kami.
"Bagaimana?" Aku mencoba untuk mengalihkan pertanyaannya tadi.
"Kakakmu sudah percaya jika perawat tidak datang ke ruangan ini, dan soal cairan itu pun Kakakmu sudah tahu." Della berbisik sepelan mungkin agar Kakakku tidak mendengarnya.
Kakakku membelai lembut wajah dan lenganku, ada rasa bersalah yang menyeruak dimatanya. Tatapan sendu itu ditujukan kepadaku, Aku amat tidak menyukai tatapannya itu. Seolah sedang mengasihani nasibku.
Nasib yang sudah menjadi seonggok tubuh yang tak tahu kejelasannya, ada seseorang yang masih saja berusaha ingin melenyapkan adiknya.
Della pun mengelus pundak Kak Vania, memberi kekuatan pada perempuan penyayang itu. Mereka menitikkan air matanya bersama-sama, Aku benci suasana seperti ini. Seperti sedang berduka saja. Aku pun keluar dari ruangan ku.
__ADS_1
Sudah kubilang, berada di dekat Kakakku membuat hatiku teriris ... bila melihatnya menangis seperti tadi.
...*****...