Maria Jiwa Yang Terkurung

Maria Jiwa Yang Terkurung
Aku, mencintaimu ... Maria!


__ADS_3

...Maria ...


...(Jiwa yang terkurung)...


...#16...


...by. AmoyShanghai...


.......


Piringan matahari hampir lenyap di tepi langit


Berganti malam yang dingin merasuk kulit


Kau bagaikan senja


Yang datang sekejap membawa luka


Katanya kau hadir bagai lentera


Penyambung hidupku yang dirundung duka


Melambunkanku di atas mega


Lalu jatuh bersama rintik air mata


Tak sempat aku goreskan tinta


Tuk menuliskan kisah hidupku yang gelita


Kau yang datang lalu hilang entah kemana


Jauh di dasar sukma aku cinta


Cinta yang menenggelamkanku


Menghancurkanku


Di saat detik-detuik berbahagiaku


Kau meningalkanku

__ADS_1


...ooOoo...


Angin berhembus tidak biasanya untuk malam ini, entah kenapa sedari tadi siang hatiku begitu resah dan cemas. Seperti biasa, ku habiskan detik demi detik di danau ini.


"Tino, Ak-aku--" ucap Maria terputus,


Aku mengernyitkan dahi ku. "Iya, ada apa?" tanyaku padanya.


"Em ... ada yang ingin aku sampaikan...." Matanya terlihat berembun.


"Ada apa?" dengan cepat aku bertanya padanya, berharap yang akan ia sampaikan bukan lah hal buruk.


"Apa Kau akan melupakan ku?" sedikit sesak menjalar dalam hatiku, hatiku perih bukan karna mendengar pertanyaannya. Melainkan mendengar suaranya saat bertanya, terdengar begitu lirih menyayat hati.


"Maria ... ada apa? Apa yang sebenarnya ingin Kau sampaikan?" Aku meraih jemarinya, berusaha menenangkan meski ku tahu tak 'kan ada arti apa-apa.


Perlahan butiran bening itu membasahi setiap lubang pada pori-pori wajahnya. Tangisnya pecah, bahunya bergetar sangat kuat meski tanpa suara.


"Katakanlah, ada apa Maria? Hatiku sakit melihatmu seperti ini...." Ujar ku menatap nanar, perlahan mataku pun terasa buram karna genangan air mata.


Maria memelukku begitu erat, seketika jantungku terasa tercabik. Dada ini kembali sesak, perih yang begitu menyayat, hatiku seperti di penuhi pecahan kaca di dalamnya. Sakit sekali rasanya, bahkan untuk bernafas pun terasa sulit.


"Tino..." Maria kembali berucap lirih, isak tangisnya kian menyamar menjadi rintihan memilukan.


"Waktu kita, sudah tak banyak lagi...,"


"Sudahlah, bicara saja jangan buat ku semakin penasaran. Aku tak suka Kau bicara bertele-tele seperti itu."


"Apa Kau tahu dimana teman kecilmu berada?" Aku hanya menatap Maria yang sedang berdiri di depanku.


"Dia ada disini sekarang..."


"Apa? Dimana dia??" tanyaku dengan menyapu ke setiap sudut dan bangunan dengan mata ini.


"Dia ... adalah Maria, ya nama anak itu Maria." Mata sendu nya menatapku dengan nanar.


"Benarkah? Apa itu Kau??" tanyaku senang, namun seketika aku pun kecewa padanya.


Maria hanya mengangguk senyum, melukis perih dan bahagia menjadi satu.


"Kenapa?? Kenapa baru Kau katakan sekarang? Apa Kau sedang mempermainkan Aku, hah!" Aku amat kecewa dengannya.

__ADS_1


Maria menggelengkan kepala, perlahan bukit bening itu menetes membasahi celah pada porinya.


"Maaf ... maafkan Aku, Tino." Ucapnya dengan terisak.


"Kenapa Maria? Kenapa Kau tidak memberitahukan ku?"


"Aku pun baru mengetahuinya, Kau pun tak pernah memperlihatkan foto anak yang Kau maksud itu padaku ... beberapa hari lalu, Aku tak sengaja melihat sebuah foto..." Maria menangis seperti ada penyesalan di wajahnya.


"Aku melihat ada fotoku disana, dan Aku pun terkejut melihatnya. Ternyata foto yang Kau maksud itu adalah Aku." sambungnya lagi.


Aku diam tak tahu harus bagaimana, keadaan ini membuatku semakin terluka. Aku berusaha memberanikan diri untuk menghapus bulir bening itu, dan memeluknya.


"Maria ... andai saja Aku bertemu denganmu, bukan dalam keadaan seperti ini..." Aku mendekap erat tubuh Maria, kenapa semuanya seperti ini?


"Tuhan telah menuliskan semuanya, ternyata kita memang terhubung sejak kecil." Maria menyatukan kedua tangannya, memelukku begitu erat.


Aku memberanikan diri untuk mengecup keningnya, ya Aku amat bahagia sebenarnya. Maria adalah cinta pertamaku, mengapa Tuhan mempermainkan kami seperti ini?


"Tak lama lagi, Kau akan pulih ... dan Kau pun akan melupakanku disini." Maria berucap lirih.


"Tidak akan, bahkan sampai Aku koma pun ... Aku masih tetap dapat mengingatmu."


Ya, aku koma sudah hampir 18 bulan lamanya. Namun, ada hal yang membuatku enggan pulih.


"Sudah jangan menangis lagi, hatiku sakit melihatmu atau Kakakku menangis." Ku lukiskan sebuah senyuman untuknya.


Masih memeluknya, Aku tak ingin melepaskan pelukan ini rasanya.


"Tetaplah menjadi Maria ku, yang selalu mampu membuatku terlupa akan pahitnya kenyataan. Tetaplah menjadi Maria ku, yang selalu tersenyum meski pahitmu lebih banyak dariku, aku mencintaimu dengan segenap hatiku. Kau adalah wanita pertama yang meluluhkan lantakkan hati ini, tunggu lah Aku sampai hari dimana aku mati nanti." Ucapku menahan perih dalam hati.


Aku menghela nafas dengan berat, seketika luka itu kembali menganga. Rasa sakit itu menjalar kembali, mengingat sebentar lagi perpisahan yang sesungguhnya akan tiba.


"Tino ... Aku bahagia dapat mengenalmu, meski ku tahu kita tak akan pernah menyatu."


"Aku akan menunggumu diakhir waktu nanti, berharap Kau datang menjemputku."


"Entah kapan Aku akan berada disini, jika kelak kita akan bertemu lagi ... Aku tetap ingin mengukir cerita ini denganmu." Maria menatapku dalam, bukan seperti ini yang ku inginkan sebenarnya.


"Aku pun sama denganmu, jika Tuhan mengizinkan ... Aku ingin menyambung cerita yang tertunda ini denganmu. Hanya denganmu seorang."


Ah, rasanya begitu bahagia bisa menemukan wanita yang teramat dalam kucintai ini. Meskipun akan berpisah kembali, aku hanya berharap jika ini adalah takdirku ... aku ingin tetap menerima perih ini bersama dengan Maria.

__ADS_1


'Sampai mati pun, aku tetap mencintaimu ... Maria.'


...(Bersambung lagi yaa)...


__ADS_2