
...Maria ...
...(Jiwa yang hilang)...
...#14...
...******...
"Kenapa Kakak seperti ini?" tanyanya lagi pada perempuan rapuh itu.
"Apakah aku harus menandatangani pelepasan untuk Tino?" dengan nada bergetar dan lirih, Vania bertanya pada Della. Meski hatinya menahan sakit yang teramat sangat.
"Memangnya ada apa dengan Tino? Bukankah dia ada kemajuan?" ucap Della.
"Beberapa saat yang lalu, Tino kejang lagi dan dokter tak menjelaskan apapun padaku."
"Jika memang diperlukan, lakukan saja ... agar dapat mengurangi penyiksaan terhadapnya."
Lagi-lagi Vania mendapat saran seperti itu, haruskah aku melepaskan Tino? Vania bertanya dalam hati.
"Sudah tenanglah kak, biarkan Tino pergi dengan tenang ... lepaskan dia!" bisik Della.
...*****...
Disaat yang bersamaan, Maria mencari Tino dengan wajah kesalnya. Maria merasa Tino sengaja meninggalkannya, untung saja ibu tiri dan kakak tirinya tidak menampakkan batang hidung mereka.
"Dasar Tino, dia tidak menepati janjinya! Katanya akan berjaga diluar, tapi mana? Untung saja mama dan kakak tidak datang, awas kau ya jika aku menemukanmu!" gerutu Maria mengutuk Tino, hatinya amat jengkel.
Tanpa ia tahu apa yang sedang terjadi pada Tino.
Maria mencari ke danau, dan ke kamar VIP itu tetap saja tak menemukan Tino. Maria hanya melihat Della dan Vania yang sedang menangis, tentunya juga terdapat tubuh kasar Tino yang tengah berbaring.
Maria mengintip mereka dari luar kamar. "Kenapa raut wajah kakaknya begitu sedih ya?" gumamnya dalam hati.
"Dan kemana si Tino itu ya?" sambungnya lagi. "Ah sudahlah, lebih baik aku menunggunya di danau." Ucapnya lagi dan menghilang.
...*****...
Senja itu seperti halnya kamu,
Yang hanya datang menghiasi setiap luka,
Kau pun sama seperti lilin-lilin itu...
Hadirmu yang sesaat menerangi gelap hatiku, lalu pergi meninggalkan beribu luka didalamnya.
Senja itu seperti kamu,
Ketika senja meninggalkan mentari,
Dunia seakan gelap dan tak satupun terlihat terang.
Begitu pun dengan hatiku, ketika kau menjauh pergi meninggalkan ku dilanda kegelapan.
__ADS_1
Hadirmu seperti fatamorgana untukku,
Semu...
Menahan beribu perih dalam hati.
Bolehkan aku menyesali?
Hatiku menjerit perih,
Rasa sakit yang menyayat hati
Masih saja bersemayan di dalamnya.
Dua hari pun berlalu, kini giliran Maria yang mencari dimana Tino berada. Tuhan sepertinya sedang mempermainkan mereka.
Mengaduk-aduk perasaan mereka, ada rasa kecewa dan takut kehilangan di hati Maria saat ini. Anehnya, ketika tidak bersama dengan Tino, Della tidak dapat melihat Maria.
Maria ingin bertanya kepada Della, namun sia-sia saja. Rasa berkecamuk dalam dadanya, bertambah lagi satu beban dalam hatinya.
"Aku baru saja senang dapat bertemu kembali dengan ayahku, lalu kenapa kau pergi menghilang dariku?" bisiknya dalam hati.
"Tino, dimanakah kau saat ini? Apakah ini pembalasan atas sikapku tempo hari? Kau kekanak-kanakan!" Maria berjalan menuju ruangan Tino berada, hanya ada Vania saja.
Iya menatap lekat pada tubuh yang terbaring itu, kemana sebenarnya Tino? Maria terus bertanya-tanya dalam hatinya.
"Kepada siapa aku harus bertanya?"
"Tino, kenapa kau meninggalkanku tanpa bicara? Jika ini adalah lelucon mu, sungguh tidak lucu sama sekali." Desis Maria.
...*****...
"Metta sayang, ayolah sekali ini saja ... bermanja-manja denganku!" pinta lelaki itu kepada Metta, mereka tengah asik meneguk minuman yang berbau alkohol di suatu ruangan club malam.
"Sudahlah, Aku masih kesal denganmu. Seharusnya tempo hari itu hampir saja berhasil melenyapkan si Tino, karna Kau akhirnya gagal total." Metta menjawab dengan ketus kepada lelaki itu.
"Sudah Kau tenang saja, kita bisa mengulanginya lagi di lain waktu." Ujar laki-laki itu, tangannya tak lepas dari bahu Metta.
"Kalian memang payah!" Ucap perempuan muda itu, yang sedari tadi hanya menatap sinis kearah mereka.
"Terutama Kau Metta!" sambungnya kembali dengan sedikit bernada tinggi.
"Ini semua salah dia, kalau saja dia datang tepat waktu sebelum Vania datang, mungkin aku akan berhasil dan tidak meninggalkan barang bukti disana." Metta membela diri, tetap saja perempuan muda itu masih terlihat kesal.
"Kau ceroboh, untung saja Vania tidak mengusutmu!" masih dengan bernada sinis dan sedikit tidak senang.
"Sudahlah, kalian jangan bertengkar terus. Mari kita nikmati malam ini!" Ucap pria itu menengahi mereka berdua.
Pesta dimulai, meskipun waktu yang sesungguhnya belum lah tiba.
...*****...
"Hey, bodoh!" teriak Maria memanggil Tino yang baru saja terlihat setelah beberapa hari menghilang.
__ADS_1
"Maria?" Tino terpekik heran sekaligus senang saat melihat kehadiran Maria.
"Kemana saja Kau beberapa hari ini?" tanya Maria dengan melipat kedua tangannya didepan dadanya.
"Kangen ya?" Tino menggoda Maria.
"Gak lucu tahu!" Maria menjauhi Tino, sejurus kemudian Tino pun menyusulnya dengan setengah berlari kecil.
"Bagaimana kabar ayahmu? Maaf ya kemarin tiba-tiba saja dadaku kembali sesak, dan...."
"Dan apa?" Maria bertanya, ia menghentikan langkah kakinya.
"Aku bertemu dengan malaikat kematian, dan dibawa ke alam baka." Ucap Tino dengan nada sedikit bergetar.
Ia amat takut mengingat kembali kejadian kemarin, begitu amat menyeramkan baginya.
"Lalu?" Maria bertanya kembali.
"Raja alam baka pun bertanya padaku, dan dia pun mengatakan bahwa waktu ku masih banyak di dunia." Tino tersenyum pada Maria.
Itu artinya kematiannya masih lama.
"Ada hal yang belum ku selesaikan, begitulah kata Raja alam baka." Sambungnya lagi.
Maria menggigit pelan ujung bibirnya.
"Boleh Aku tahu, hal apa itu?" tanya Maria yang terlihat heran.
Tino menggelengkan kepalanya dan mengangkat bahu.
"Aku pun sama halnya seperti mu, Aku belum dapat pergi ke alam baka sebelum Aku menyelesaikan urusanku. Tetapi, kurasa Aku tak mempunyai urusan apa-apa lagi di dunia." Jawabnya dengan wajah sedikit gusar.
"Apa mungkin itu urusan dengan ayahmu?" ucap Tino.
"Entahlah, Aku pun tak tahu."
"Apa ayahmu sekarang sudah baikan?"
"Sudah, tiga hari ini ku habiskan untuk menemani ayahku. Dan itu membuatku amat bahagia, dan sedih disaat yang bersamaan." Ujar Maria dengan tertunduk lirih.
Ada hal yang tak bisa di jelaskan dengan kata, pandangan mata Maria seolah menyiratkan banyak penderitaan yang ia simpan didalamnya.
"Kapan ayahmu pulang?" Aku memberanikan diri untuk bertanya padanya.
"Mungkin saja hari ini...." tatapan nanar itu kembali melukiskan segala kepedihan yang ia tengah rasakan.
"Bagaimana kalau kita mencoba untuk ke rumahmu?" ajakku padanya.
Seketika ia pun terhenyak dengan ajakan Tino, sejurus kemudian ia pun tersenyum mengangguk pertanda amat setuju.
...*****...
(Bersambung dolo yaak 😚 terimakasih sudah membaca, jangan lupa minta like ini kudu harus wajib 😅😂😂🙏 )
__ADS_1