Maria Jiwa Yang Terkurung

Maria Jiwa Yang Terkurung
Maria


__ADS_3

"Aku perhatikan akhir-akhir ini Kau selalu menahan rasa laparmu? Jika memang Kau lapar, sebaiknya bergabung lah dengan teman-temanmu itu!" Kataku kepada Maria yang sedang memandangi gerombolan teman-temannya itu.


Ya mereka sedang berpesta sepertinya, ada yang memberi sajen di pohon mahoni yang usianya sudah ribuan tahun itu. Juga ada beberapa janin manusia dan ari-ari yang sengaja dibuang di rumah sakit maupun ditumpukkan sampah.


"Tapi nanti Kau tidak mau berteman denganku lagi? Karna bau amis dari makananku?" jawabnya memelas.


"Sudah cepatlah kesana atau Aku akan berubah pikiran!" Aku tersenyum kearahnya, amat lucu melihat ekspresi wajahnya.


Maria memicingkan matanya, menatapku dengan penuh rasa heran. "Apa Kau serius? Kau tidak bercanda 'kan? Kenapa Kau tiba-tiba bersikap seperti ini?" Maria mencerca ku dengan banyak pertanyaan.


"Sudah seharusnya Aku membiasakan diri dengan hal-hal semacam itu." Ku arahkan pandanganku pada mereka yang sedang berebut makanannya.


"Aku tidak mengerti, ada apa dengan dirimu?" tanyanya lagi dengan wajah heran.


"Sudahlah, cepat kesana nanti Kau tidak kebagian!" Aku melototi nya.


Dia pun tersenyum manis padaku. Sungguh membuat hatiku damai melihat senyuman polosnya itu. Entah kenapa khir-akhir ini Aku selalu menunggu senyuman itu?


"Apa Aku harus mencoba memakan makanan mereka? Suatu hari nanti Akupun akan memakannya ... dan apakah Aku harus membiasakan diri mulai saat ini?" Aku terus saja bertanya-tanya didalam hatiku.


Jujur saja, didalam hati kecilku pun tak ingin memakannya. Sungguh pilihan yang sulit.


"Tino! Kemarilah!" teriak Maria sambil melambai-lambaikan tangannya.


"Ada apa? Aku disini saja." teriakku.


Aku belum siap jika harus mencobanya. Iya, mencoba makan makanan mereka itu.


Darah manusia yang tercecer tak luput dari jilatan mereka, luka nanah manusia, ari-ari bayi, janin yang hancur, dan masih banyak lagi. Tak lupa sajen berupa kembang dan kopi juga teh pun tak luput dari hisapan mereka.


Bahkan lauk-pauk sisa diatas meja yang tak tertutup pun tak lepas dari jilatan mereka para makhluk halus. Menjijikan memang, tapi Aku juga akan menjadi seperti mereka cepat atau lambat nanti.


"Ini cobalah!" Maria memberikanku sedikit kopi hitam, dia mengajariku bagaimana caranya menyesapnya. Tentu saja hanya sari nya saja yang mereka hisap.


Hanya segelas kopi, tak apalah mungkin memang sebaiknya Akupun belajar untuk mencobanya.


"Aku tidak pernah dan tidak suka kopi, aaplagi kopi hitam seperti ini."


"Tidak apa, Kau cobalah dan belajar dari sekarang! Lama-lama Kau akan terbiasa juga nantinya." Maria terus saja menyodorkan gelas itu kepadaku, ia sengaja menempelkannya pada bibirku.


"Sudahlah! Aku tidak mau dan jangan Kau paksa! Aku belum mati!!" Aku pun kesal dan meninggikan suaraku.


"Yasudah kalau tidak mau, Kau memang payah."


Hening...

__ADS_1


Kami larut dalam pikiran masing-masing memandang danau yang berada didepan kami.


"Oh ya, kemarin Aku minta maaf ya tidak berada di dekatmu ... disaat Kau sedang membutuhkan seorang teman." Maria menatapku dengan mata teduhnya.


"Tidak apa, mungkin benar jika Aku terlalu berlebihan. Aku terlalu takut untuk mati. Aku terlalu takut untuk menerima kenyataan." Aku terus memandang danau di depanku ini, mungkin Aku pun akan menjadi penghuni danau ini nantinya. Aku hanya dapat tersenyum kecut.


"Lalu, apa rencanamu nantinya?" tanya Maria.


"Rencana apa? Aku tak tahu." Aku balik bertanya kepadanya.


"Siapa ya kira-kira yang ditelpon Metta itu?"


"Entahlah, Akupun tak tahu. Bagaimana mungkin seseorang itu bisa mengetahui kapan Kakakku pergi dan pulang, aneh 'kan?" jawabku.


"Oh ya Maria, apakah Aku juga bisa jalan-jalan keluar selain di rumah sakit ini?"


"Maksudmu ingin keluar dari rumah sakit ini?" tanya Maria.


Aku menganggukkan kepala. "Iya."


"Bisa saja asal stamina mu cukup, Kau latih saja dulu keluar dari gerbang rumah sakit itu sampai sejauh 5KM dulu!" Maria menunjuk gerbang rumah sakit dan mengukur jalan dengan telunjuknya.


"Oh, kupikir bisa menghilang dengan jurus Shunshin no Jutsu?" jawabku asal.


"Kau pikir kita sedang dalam cerita Naruto? Ingat, kita sedang tayang di cerita 'Maria (Jiwa yang terkurung)' Kau malah bercanda." Maria menjitak kasar kepalaku.


"Habisnya Kau ini, kita sedang bicara serius malah bercanda." Jawabnya dengan ketus.


"Hey lihat, siapa dia?" bisikku pada Maria, karna sedari tadi Aku seperti melihat sepasang mata yang sedang memperhatikan kami.


Sesehantu hantu itu tetap berada dibalik pohon menatap kami, auranya begitu kuat.


"Sudahlah ayo kita kesana!" nekat sekali Maria ini. Aku pun mengikutinya dari belakang.


"Siapa Kau?" Maria bertanya padanya namun matanya tetap memancarkan dendam dan amarah.


"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya disini?" ucap Maria lagi.


Hantu perempuan itu tetap saja diam, Aku bergidik melihatnya.


Wajah penuh luka sayatan dan juga nanah yang keluar dari tangan juga kakinya, perutnya yang membesar seperti orang hamil, rambut yang tak terurus dan darah kental yang menetes perlahan dibagian mata.


"Kau baru saja mati ya?" Maria pun bertanya lagi, tetap saja diam dan masih menatap penuh dendam kepada kami.


Aku jadi gregetan banget, apa dia tuli? Atau tidak bisa bicara?

__ADS_1


"Sudahlah kita kembali saja!" Aku menarik lengan Maria, namun ketika kami ingin kembali, hantu itupun berbicara.


"Tolong Aku!" ucapnya dengan suara bergetar dan serak.


Serentak kami pun menoleh ke arahnya, Aku dan Maria pun saling pandang.


"Kenapa Kau meminta tolong kepada kami?" Aku bertanya heran pada hantu itu.


"Ceritakan lah, apa yang bisa kami bantu?" tanya Maria.


"Aku mati dibunuh..." jawabnya lirih.


"Lalu kenapa aura mu begitu terasa jahat?" tanyaku dengan spontan.


Maria mencubit lenganku, hantu itupun menatap dalam padaku.


"Maaf..." ucapku salah tingkah.


"Maria. Benarkan namamu Maria?" Hantu itu bertanya dan memandang Maria dengan menyeringai.


"Bagaimana Kau tahu?" Maria merasa aneh dengan hantu itu. "Dan kenapa ditubuhmu begitu banyak luka?" sambungnya lagi.


"Karna Aku mati disantet oleh istri pertama suamiku." Dia menjawab dengan tatapan nanar.


"Lalu apa hubungannya dengan kami? Apa yang bisa kami bantu?" Aku bertanya kepadanya, memangnya kami ini lembaga tenaga sukarela apa?


"Aku membutuhkan Maria untuk masuk ke dalam tubuh suamiku, Aku rindu dengan anakku." Katanya dengan mengiba.


"Kenapa harus Maria? Kenapa bukan kau saja?" tanyaku lagi.


"Sudahlah, Kau pergi saja dari sini!" Maria hanya diam saja dari tadi, entah apa yang sedang ia pikirkan.


"Maria, tolonglah..." pintanya mengiba.


"Tidak bisa, maaf." Maria menarik lenganku dan pergi dari hantu itu.


"Ada apa? Sepertinya kau sedang banyak pikiran?" Aku bertanya pada Maria yang sedari tadi hanya diam seperti memikirkan sesuatu.


"Aku tahu siapa dia, dia itu mau menipuku." Maria menghentikan langkahnya, Aku pun seketika berhenti juga.


"Menipumu? Kenapa? Siapa dia?"


"Kau jangan pernah tertipu oleh hantu, hantu itu banyak tipu muslihat seperti jin." Maria menatapku seperti ada rasa ketakutan yang sedang ia sembunyikan.


Berarti aku pun tak harus percaya dengannya dong? Dasar Maria Aneh.

__ADS_1


*****


__ADS_2