Maria Jiwa Yang Terkurung

Maria Jiwa Yang Terkurung
Sosok itu ....


__ADS_3

...Maria Jiwa Yang Terkurung...


...#part18...


...*****...


'Siapa perempuan ini? Kenapa ia bisa tahu semua tentangku? Bahkan, kami pun baru saja saling menyapa.' Lelaki itu pun bergumam penuh tanda tanya.


*****


"Gimana rasanya hidup kembali?" Roni bertanya kepadaku, senyumnya seperti mengejek.


"Jika pertanyaan mu hanya sekedar basa-basi, mending diam saja." Cetus kak Vania kepada suaminya itu, tentu saja aku hanya sebagai pendengar setia.


Ya, masa pemulihan ini sungguh membuatku seperti orang bodoh saja. Kondisi yang belum stabil benar, terkadang membuatku sulit untuk mengingat, berbicara, berjalan, bahkan sulit untuk membedakan mana sudah dan mana yang belum.


"Kau sudah sadar rupanya?" kini, perempuan yang bernama Della itu yang bertanya.


'Sepertinya aku pernah melihatnya, dimana ya?' aku bertanya pada diriku sendiri.


"Iya, Tuhan masih berbaik hati. Semoga kelak, tidak ada lagi kejadian seperti kemarin." Jawab Kak Vania, membelai rambutku.


"A-a-ak-aku kenapa?" tanyaku pada mereka, namun yang terdengar hanyalah erangan ku saja.


"Ada apa Tino? Kau mau minum?" kak Vania bertanya dan ya, aku seperti boneka hidup saja rasanya.


"Ada apa? Apa yang dia ucapkan?" kini, Roni yang bertanya.


"Entahlah, mungkin ini semua efek dari koma dan obat-obatan selama ini. Itu yang Dokter Merry katakan, dan aku harus sabar juga telaten mengurusnya." Kak Vania tersenyum padaku. Senyum itu, membuatku merasa nyaman.


"Oh ya, Della. Bagaimana keadaan kantor? Besok tolong jadwalkan rapat untuk besok ya, dan kamu mas ... jangan pernah mencampuri urusan kantor lagi, lebih baik kau kembangkan saja usaha mu itu."


"Loh, kenapa memangnya? Tidak bisa begitu dong!" tak mau kalah, ia menyampaikan keberatannya.


"Tino sudah pulih, kau lihat sendiri 'kan? Jadi, aku tak ingin ketika nanti ia kembali ke kantor, akan kecewa mendapati kau disana."


"Baik kak, ada lagi?" tanya Della di sela-sela perdebatan Vania dan Roni.


"Sudah, itu saja. Kau boleh pulang sekarang--" Roni memotong ucapan Vania.


"Della, beruntung sekali ya nasib mu? Bisa dengan leluasa dalam kantor? Bahkan kau ini hanyalah orang luar?" Sindir Roni pada Della.


Tersenyum. "Aku hanyalah pegawai lama saja." Bantah Della. "Baiklah kak, aku pamit dulu ya." Sambungnya lagi.


"K-kk-kak," aku berusaha mengeluarkan suara

__ADS_1


"Ya, Sayang?"


"Apa ada seorang gadis, yang bernama Maria?" tanyaku berusaha mengingat-ingat.


"Maria? Siapa Maria?"


"Seorang gadis, umurnya tidak terlalu jauh denganku."


"Kakak tidak mengerti apa yang kau bicarakan, siapa gadis itu? Bagaimana kau bisa menanyakan dia?"


"Aku merasa, selama ini aku hidup kak. Dan, gadis itu terasa amat nyata." Aku mencoba untuk mengingatnya lagi, siapa gadis itu?


"Kamu saja baru pulih dan tersadar, bagaimana mungkin ada seorang gadis yang kau tanyakan itu? Selama ini, kakak hanya sendiri yang menemani kamu." Ucap kak Vania lalu tersenyum.


Ahh, tapi rasanya begitu nyata. Siapa gadis yang bernama Maria itu? Apa aku hanya bermimpi? Tapi, dia seperti nyata.


Lambat laun, setelah mengikuti banyak tetapi pemulihan yang cukup berat, akhirnya aku sudah dapat kembali normal. Meskipun masih butuh istirahat yang cukup.


Dokter mengatakan, bahwa aku orang yang beruntung. Akibat kecelakaan maut itu, masih bisa kembali hidup normal. Banyak yang mengalami cacat setelah pulih, aku sangat bersyukur kepada Nya, Sang pemberi hidup.


Ya, aku mengalami kecelakaan tunggal dan cukup parah. Mobil yang ku kendarai, menabrak pembatas jalan dan masuk ke dalam jurang. Sebelum terjadi kecelakaan, dari arah berlawanan sebuah mobil truk berkecepatan tinggi menghantam mobilku.


*****


Hujan deras disertai angin yang begitu kencang, membuat seluruh persendian ku terasa ngilu.


"Tino, apa kau baik-baik saja?" tanya kak Vania, ketika pandangan ku terus saja menatap arah danau, dari jendela kamarku.


"Iya kak, entah kenapa aku merasa amat familiar dengan danau itu." Jawabku singkat, kini danau itu tak terlihat lagi. Telah tertutup gorden.


"Sudah, kau istirahat saja ya. Beberapa hari kedepan, kita akan kembali ke rumah." Kak Vania merapikan selimutku.


Terlihat, ia tampak lelah sekali. "Maafkan Tino, kak. Dan terimakasih selalu ada untuk Tino." Dengan menahan sesak di dada, aku mengucapkannya.


Kak Vania tersenyum. "Tidak perlu berterimakasih, kau adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa...."


"Kak, kemana Metta? Kenapa dia tidak menjengukku?"


"Kau tahu? Dia hampir saja menghilangkan nyawa mu!" hardiknya penuh emosi.


"Maksud kakak?? Apa yang kakak katakan?"


"Dia, wanita yang kau cintai! Yang membuatmu jatuh ke jurang!"


"Dia sengaja membayar orang untuk menabrak mu, semua bukti memang tidak mengarah kepadanya. Hanya saja, kakak yang mendengar langsung dari mulutnya!"

__ADS_1


"Ap-aap-apa mm-maksudnya??"


"Tino, kakak tahu kau begitu amat mencintai Metta, tapi tolong dengar kakak ... dia tidak benar-benar mencintai kamu, dia sengaja ingin membunuh mu."


"Tidak mungkin...."


"Percayalah, sumpah demi ayah dan ibu jika kakak berbohong!"


"Aarrgghh!!!" Aku menjerit sekuat tenagaku, rasanya aku tidak dapat mempercayai semua perkataan kakakku.


'Tino...' suara lirih terdengar begitu menyayat.


"Sss-sii-siapa?" aku bergidik ngeri, tentu saja suara-suara seperti itu membuat siapa saja merasa ngeri.


"Kenapa?" tanya kak Vania.


Dengan mengatur ritme jantungku, aku mencoba bersikap biasa-biasa saja. "Itu ... tadi, ada yang memanggil Tino."


Kak Vania yang sedari tadi memainkan gawai nya pun, seketika matanya menyapu keseluruh ruangan kamar. "Tidak ada suara apa pun, sudah tidur saja sekarang."


'Tidak mungkin, jika aku salah mendengar. Jelas-jelas itu tadi suara perempuan.' Aku membatin.


'Tino ... apa kau bisa mendengarku?' suara itu kembali terdengar, suara yang seperti terbawa angin. Kadang dekat, kadang jauh sekali.


Aku meringkuk dalam selimut, jangan ditanya seberapa besar detak jantung ku bertalu.


DUAARRR!!!


Suara petir saling menyapa satu sama lainnya, terlihat percikan kilat bak alam tengah ber-selfie ria.


"Siapa disana!" teriakku tanpa sadar.


"Aduh, kamu kenapa sih dari tadi? Mengagetkan kakak saja deh!" gerutu kak Vania.


Aku melihat sesosok bayangan hitam diantara gorden itu, tak mungkin jika aku memberitahukan kepada kak Vania. Karna ia tak akan mempercayai apa yang ku katakan.


"Kak, aku takut..." ucapku lirih.


Aku memang penakut dari kecil, jangankan melihat hantu? Mendengar suara-suara seperti ini saja, sudah membuat nyali ku menciut.


"Makanya, kalau mau tidur itu biasakan berdoa dulu, seperti anak kecil saja." Kak Vania menggelengkan kepala melihat tingkahku.


"Kak, jangan tidur dulu ya sebelum aku tidur." Rengek ku padanya, persis anak kecil yang sedang ketakutan.


Hanya bisa pasrah, ketika kak Vania menertawakan ku sepanjang waktu. Biarlah, asalkan kakakku mau menemaniku sampai aku terlelap nanti.

__ADS_1


...***** ...


__ADS_2