
Hari ini, aku sudah dapat kembali menjalani aktivitas seperti biasanya. Mencoba kembali memimpin perusahaan yang selama ini ku kelola.
Tampak raut wajah Roni, kakak iparku, terlihat tak begitu bersahabat. Sejak awal, aku tak menyukainya.
Angan ku melayang jauh, mengingat kenangan bersama dengannya. Ya, dialah perempuan yang teramat ku cintai. Namun, ia juga yang berusaha membuatku celaka.
"Kenapa? Apakah ada yang mengganggumu?" tanya Della, ketika aku tengah asik bermain dengan kenanganku.
"Tidak, aku hanya menyesali semuanya. Apa selama ini, Metta pernah datang?" tanyaku iseng.
Aku tak dapat membohongi perasaanku sendiri, aku masih merindukannya.
"Tentu saja, dia datang dan..." Della menghentikan ucapannya.
"Dan apa?"
"Sudahlah, sebaiknya kau fokus dengan pekerjaan yang telah kau tinggalkan saja. Oh ya, hari ini apa rencanamu?"
"Tidak ada, aku ingin jalan-jalan sejenak. Bisakah kau mengantarkan ku?" sejak kecelakaan itu, aku jadi trauma membawa kendaraan sendiri.
"Kemana?"
"Ke danau rumah sakit, aku ingin kesana."
"Untuk apa? Aneh kau, sejak pulih tingkah mu sungguh membuat kami heran."
"Aku pun tak mengerti, hanya disana lah hatiku merasa tenang."
"Baiklah, apa perlu aku menunggu juga disana?"
"Tidak perlu."
****
Hatiku merasa tenang memandangi danau ini, merindukan seseorang yang aku sendiri pun tak mengetahuinya.
Metta, sampai kini pun aku masih mencintainya. Hanya saja, untuk saat ini ... aku tak begitu ingin bertemu dengannya lagi.
Terbayang akan indah senyumannya, kelembutan hatinya, dan mata teduhnya.
"Ah!" Aku tersentak dari lamunanku.
"Sedang apa kau disini?" tanya seorang pria paruh baya kepadaku.
__ADS_1
"Mencari ketenangan, Anda siapa?" tanyaku padanya.
"Saya Samuel, kamu sendiri?"
"Saya Tino, om. Valentino Albertus." Seraya menjabat tangannya.
"Sepertinya ... Saya tidak asing dengan wajah om, tapi ... dimana ya? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyaku lagi sambil mengingat.
"Belum, kita belum pernah bertemu sebelumnya. Hahaha." Ucapnya.
"Danau ini, sepertinya tidak begitu terurus ya?"
"Ah, oh iya, Om. Oh iya, Om sendiri sedang apa disini?"
"Tidak sengaja berjalan, seperti kaki melangkah sendiri ke tempat ini." Jawabnya dengan pandangan tak lepas dari danau ini.
'Sepertinya pernah melihat Om ini, tapi dimana ya?'
"Apa kau sering kesini?"
"Tidak juga, tapi entahlah Om, saya pun merasa pernah kesini sebelumnya."
"Ya sudah, saya mau kembali ke ruangan dokter dulu. Ini, kartu nama saya."
"Oke Om, hati-hati."
"Oh, rupanya dia seorang pemborong. Kontraktor terkenal rupanya."
Dreett ...
(Metta calling)
'Masihkah aku mencintaimu?' Aku memandang layar ponselku, hatiku masih terasa sakit bila mengingat apa yang terjadi.
"Hufh." Ku hembuskan secara kasar nafas ini.
"Tino Sayang, apa kau tak ingin bertemu denganku lagi, huh?" pesan masuk dari Metta, aku hanya membacanya dari layar ponselku, tanpa membalasnya.
'Metta, kenapa kau lakukan ini semua ... disaat aku benar-benar mengharapkan mu.'
*****
"Hey, anak muda. Kemarilah!"
__ADS_1
"Loh, Om masih disini?" tanyaku pada Om Samuel Atmajaya.
"Sepertinya kau tidak bersemangat?"
'Kenapa berada didekatnya, aku tidak merasa asing ya?'
"Iya Om, entah kenapa hati ini seperti ada yang mengganjal." Aku menjawab lirih.
"Mari kita ngopi di cafe itu!" Spontan aku pun mengikuti arah telunjuk Om Samuel.
Aku bagai tak punya semangat untuk menjalani hari-hari rasanya. "Baik Om." Jawabku singkat.
"Habis ini, kau mau kemana?" tanya Om Samuel, disela-sela menikmati hidangan yang ia pesan tadi. Sedangkan aku, hanya memandangi secangkir kopi yang telah mendingin.
"Mungkin kembali ke kantor, Om."
"Tidak semangat banget kelihatannya? Harusnya kau lebih semangat dalam menjalani kehidupan ini, bukankah kau telah selamat dari maut itu?" ujarnya dengan sedikit senyum.
"Saya hanya bingung aja, Om ... bagaimana saya bisa menghadapi Metta nanti? Entahlah, apa saya bisa kuat menahan amarah padanya. Sedangkan rasa sakit itu, memang benar ada!"
"Bersikaplah seperti biasanya, dia bisa melakukan itu sebelumnya, dia juga akan melakukan itu lagi ... jika kau bersikap menantang."
*****
"Brengsek!!!"
"Ada apa? Gagal lagi?"
"Dia menolak semua panggilan dari gue!"
"Apa kali ini, kita harus membenahi si Vania?"
"Jangan! Jika kalian sampai berani melukai Vania, bakalan hancur kalian di tangan gue sendiri!"
"Hahaha, sepertinya ada yang cinta mati ya? Dasar bodoh!"
"Kalian lakukan secepatnya! Jangan mengulur-ulur waktu lagi!" teriak perempuan itu kepada mereka yang hadir.
Entah karena dendam, atau ambisi ... ia tega melakukan semua itu, kepada Tino dan keluarganya. Bahkan, ia adalah saudara berbeda ibu dengan Tino juga Vania.
"Dasar perempuan gila, dia kira kita ini siapa, huh!" bisik salah satu dari mereka.
"Sepertinya dendam dan luka yang dia rasa, lebih besar dari segalanya." Ya, mereka berbisik satu sama lainnya.
__ADS_1
"Kalau bukan karena saling menguntungkan, aku tak mau terlibat dengan wanita gila seperti dia." Sambungnya lagi.
...****...