
...Maria ...
...(Jiwa yang terkurung)...
...#4...
...*****...
Untuk pertama kalinya, aku dapat kembali tertawa dengan lepas. Itu semua berkat hadirnya Maria. Maria yang membuatku kembali semangat, setelah empat bulan lebih lamanya aku terbaring tak berdaya.
Maria selalu menemaniku, memberi dorongan untuk kembali bangkit. Yang selama ini Aku hanya berpasrah diri, Maria ... adalah sosok perempuan yang sangat lembut dan manja, andai saja Aku mengenalnya terlebih dahulu jauh sebelum ia meninggal, dan Aku tidak bertemu dengan Metta...
Ahh, perasaan apa ini?? Apakah Aku mulai jatuh cinta padanya? Tidak mungkin!
"Kenapa Kau?" tanya Maria mengagetkan ku.
"Kamu ini, selalu saja datang tiba-tiba!"
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" godanya.
"Nggak kenapa-kenapa, oh ya apa Kau tidak berniat sedikitpun untuk menjenguk ayahmu?" karna Aku melihat beberapa hari ini ia begitu murung tanpa sebab.
"Untuk apa..." jawabnya dengan lirih.
Aku tahu, ia sangat merindukan ayahnya. Hanya saja, ia tak mau jujur pada hatinya.
Hening...
Aku dan Maria menghabiskan waktu di danau ini, hati kecilku amat mengagumi sosoknya. Seperti sudah mengenalnya lama sekali...
"Apa Kau benar-benar mencintai Metta?" tanyanya sambil memandang danau.
Pertanyaan apa itu? Tentu saja Aku mencintainya, namun ia memang tak pantas untuk dicintai.
"Tentu saja." Jawabku pun memandang danau.
"Bersama dengannya, seperti berada dekat dengan seseorang dimasa kecilku dulu." Sambungku lagi, ingatanku menerawang jauh.
"Siapa dia?" Maria bertanya lagi.
Memang Maria ini kepoh banget orangnya.
"Entahlah Aku juga tidak begitu mengenalnya, hanya beberapa kali pernah bertemu namun Aku tak berani berkenalan dengannya."
"Cinta pertama mu kah?" tanyanya lagi.
Maria menoleh ke arahku dan menatapku dalam, seketika ada rasa yang tak biasa kala tatapan matanya beradu pandang denganku.
Mata itu ... mata yang amat teduh, seperti mata yang ku rindukan selama ini. Mata wanita yang telah melahirkan ku, mereka mempunyai mata yang sama ... sangat indah.
__ADS_1
"Dulu saat usiaku tujuh tahun, aku tidak sengaja bertemu dengan anak perempuan itu. Dia cantik dan manis bagiku, beberapa kali Aku bertemu dengannya setelah pertama kali Aku tidak sengaja berfoto dengannya." Aku kembali mengingat masa kecilku dahulu.
"Maksudmu? Tidak sengaja berfoto?" Maria pun mengernyitkan dahinya, pertanda ia tak mengerti.
Wajahnya saat bingung sangat lah lucu, dan cantik. Lagi-lagi Aku memujinya. Hufh, ada apa denganku?
"Iya ketika Aku ikut ke Bali bersama dengan orangtua dan Kakakku, Aku berfoto tanpa sengaja anak perempuan itu ikut terfoto denganku. Lalu beberapa tahun kemudian, Aku pun bertemu dengannya lagi secara tidak sengaja. Kami satu gedung les yang sama." Ucapku menerangkan padanya.
Kurasa ia paham dengan penjelasanku barusan, dan ia pun mengangguk paham.
"Itu mah bukan cinta pertama kalee." Ucapnya dengan terkekeh.
"Sampai saat inipun, Aku masih dapat mengingat jelas wajahnya. Dia jauh lebih cantik darimu." Ledekku padanya dan kulihat raut wajahnya berubah masam.
"Biar saja, itu kan saat ia masih kecil? Coba kalau sudah dewasa pasti jelek!" Celetuknya dengan cemberut.
Aku tertawa lepas saat menggodanya seperti ini, membuat hatiku sedikit lega.
"Kenapa begitu? Dia akan tetap cantik kok meskipun ia sudah tua." Jawabku lagi, lagi-lagi ia tidak senang hahaha sungguh lucu melihatnya.
"Kata orangtua jaman dahulu kala, jika bagus rupa saat kecil, belum tentu besarnya pun bagus!" ketusnya.
"Hahahaha, iya deh Maria adalah hantu yang can--" Aku tidak dapat melanjutkan ucapanku.
Dadaku terasa sesak tiba-tiba.
"Kau kenapa??" tanya Maria dengan cemas ketika melihatku memegangi dada.
"Ayo cepat kita ke kamarmu sekarang!" teriak Maria begitu panik.
Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, apakah Aku akan mati...? Sungguh, Aku belum siap menerimanya jika benar Aku akan mati.
Bagaimana dengan Kakakku? Aku masih ingin hidup, sungguh Tuhan. Jangan Kau ambil nyawaku sekarang, ku mohon!
Aku mengikuti Maria, dengan menahan rasa sakit Aku memaksakan melangkah. Aku bukan seperti Maria yang dapat menghilang, Aku masih belum menjadi hantu.
Semakin sakit rasanya, Aku seperti tidak bisa lagi untuk melanjutkan langkahku. Aku jatuh terduduk, kurasakan nafasku semakin lama semakin sedikit saja.
Seperti ikan yang kekurangan air, ya seperti itulah Aku saat ini.
"Tino!" teriakan Maria terdengar begitu samar di telingaku.
"Tino! Cepat, Kau harus cepat kesini!!" suara Maria terdengar panik.
Aku kembali mencoba untuk bangkit, meski nafasku tersengal-sengal. Hingga satu langkah lagi ... dan...
"Dok, ada apa dengan Adik saya?" suara Kak Vania begitu cemas, sama dengan wajah Maria tadi.
"Sebentar ya Bu, biar kami periksa terlebih dahulu." Jawab Dokter tersebut.
__ADS_1
Telah banyak Dokter dan perawat yang memenuhi ruangan ini.
Tubuhku seperti kejang, ada apa sebenarnya ini? Dokter dan perawat pun mencoba melakukan pertolongan dengan bantuan alat-alat medis.
Tuhan, jangan Kau cabut nyawaku. Kumohon dengan sangat Tuhan, masih banyak yang ingin kulakukan. Masih banyak dosa-dosa dan kesalahan yang pernah ku ciptakan, Aku ingin memperbaiki semuanya.
Aku tak henti-hentinya berdoa meminta ampun kepada Sang Pemilik Hidup, berharap Tuhan akan mendengar dan mengabulkan permohonan ku.
Dua puluh lima menit, Dokter dan perawat pun keluar dari ruangan ku, dan menemui Kakakku di depan.
"Bagaimana Dok?" suara serak Kak Vania terdengar begitu parau, entah sudah berapa lama ia menangis untukku.
"Tuan Tino sudah kembali tenang, berdoa saja kepada Sang Pencipta. Semoga saja ada keajaiban untuknya." Ucap Dokter tersebut sebelum ia pergi meninggalkan Kakakku.
"Sudahlah daripada dibuat repot terus, mending Kau tandatangani saja surat itu!" Roni kembali membujuk Kak Vania agar menandatangi surat penyuntikan itu.
Apakah harus berakhir seperti ini? Apa dengan Aku mati, dapat meringankan beban dan air mata Kakakku?
Apakah Aku sangat egois jika menginginkan untuk bertahan? Aku ingin hidup lagi.
Tak terasa air mataku mulai jatuh perlahan, membasahi pipiku. Hangat dan semakin panas.
"Tidak akan pernah!" Kak Vania menjawab dengan tatapan penuh amarah kepada laki-laki itu.
"Sudah berapa kali Aku bilang, dan Kau ... jangan pernah lagi membahas soal ini!!" bentak Kak Vania kepada suaminya.
Hanya senyuman sinis yang terlukis disudut bibir laki-laki itu. Dasar bajing*n!
Maria pun mendekat ke arahku, ia pun berkaca-kaca menatapku.
"Aku seperti orang bodoh ya?" tanyaku pada Maria.
Maria menepuk dan mengelus dengan lembut punggungku.
"Tidak." Maria pun menjawab dengan suara serak, seperti menahan tangis sejak tadi.
"Lihat Kakakku, Aku membuatnya menangis berhari-hari seperti itu ... apa jika dengan Aku mati, semua akan baik-baik saja?" tanyaku lirih.
"Apa Aku egois jika ingin tetap hidup? Meskipun Aku tahu kenyataannya..." sambungku lagi.
Kak Vania mengelus pipiku, dan menggenggam erat jemariku. Seolah menguatkanku untuk tetap bertahan.
"Dengar Tino, Kau adalah Adikku yang amat Aku sayangi ... Kau adalah keluargaku satu-satunya yang tersisa. Jadi kumohon padamu, untuk tetap bertahan dan kembali hidup seperti dahulu." Suara parau nya terdengar begitu menyayat hati.
Aku mencoba untuk memeluknya, namun tidak bisa. Aku tak dapat menggapainya, hatiku begitu sakit ... sakit sekali!
Aku hanya bisa melihat Kak Vania menangis tersedu-sedu, punggungnya bergetar dengan kuat. Seolah ada beban berat yang ia pikul selama ini, ia menangis dan terus menangis memeluk tubuh yang tak berdaya itu.
Maria pun memelukku, menguatkanku, entahlah jika Maria tidak ada mungkin Aku tidak tahu lagi bagaimana cara menumpahkan seluruh rasa dihati ini.
__ADS_1
*****
Terimakasih sudah membaca ceritaku yaa semuanya. Jan lupa like dan kasih ulasan yaa kak akak 😚😚😚