Maria Jiwa Yang Terkurung

Maria Jiwa Yang Terkurung
Kabar Baik


__ADS_3

...Maria ...


...(Jiwa yang terkurung)...


...#10...


...*****...


Sudah beberapa hari ini Maria begitu murung, sejak terakhir berinteraksi dengan hantu jelek berwajah penuh sayatan itu datang menemuinya. Maria begitu tertutup dengan kisahnya, Aku ingin menghiburnya tapi tak tahu bagaimana caranya.


"Hey, tersenyumlah! Jika Kau murung seperti itu terus, wajahmu itu amat jelek tahu tidak?" Aku mencoba membuat lelucon tapi dia tetap saja tak bergeming.


Sungguh membosankan jika Maria terus menerus diam seperti itu.


"Ada masalah apa sih sebenarnya? Coba Kau ceritakan, siapa sosok hantu yang menemui kita beberapa hari lalu itu?" ucapku padanya, tetap saja dia hanya diam memandang danau dengan tatapan mata yang kosong.


Maria ... kemanakah senyum yang selalu membuatku merasa damai itu? Senyuman yang selalu meneduhkan hatiku ... kemanakah perginya? Mengapa kini wajah ceria itu berubah sendu? Ada apa dengannya?


Aku cemas melihatnya terus murung seperti itu, seperti menyimpan beribu luka dalam tatapan matanya.


"Mau kemana Kau?" Aku bertanya kepada Maria yang berjalan menjauhiku.


"Aku hanya ingin sendiri, dan Kau ... belajarlah untuk terbiasa tanpa Aku." Ucapnya pelan dan pergi menjauh dan semakin menjauh dariku.


Aku tak tahu apa maksudnya? Apa salahku? Apakah tadi Aku salah bicara? Tapi sepertinya Maria bukan tipe yang mudah tersinggung?


"Apa salahku Maria? Kau tak bisa seperti itu padaku, beritahu ku jika Aku melakukan sebuah kesalahan yang tak kusadari, Maria!" teriakku padanya.


Maria menoleh... matanya begitu rapuh, air matanya pun telah jatuh entah sejak kapan. Kenapa melihatnya menangis, hatiku terasa sakit? Begitu banyak luka yang tergambar ketika melihat tatapan matanya, seakan Aku dapat merasakan sakitnya.


"Maria..." ucapku lirih.


"Tolong ... jangan pernah mengatakan hal seperti tadi lagi kepadaku, Ak-aku--" Aku tak dapat lagi melanjutkan kata-kataku.


Tenggorokanku terasa sakit saat mengucapkan kalimat, bahkan menelan Saliva ku saja terasa sakit. Maria tetap berjalan meninggalkan Aku yang tengah terpaku melihat kepergiannya.


Lidahku terasa kelu, Aku merasakan sakit didalam hati. Tidak, Aku bahkan belum pernah merasakan ini sebelumnya. Ada apa denganku?


"Maria!" panggilku tetap berdiri mematung.


Aku tak ingin Maria meninggalkanku, hatiku sangat sedih melihatnya semakin menjauh dariku. Rasanya ingin menangis, menjerit dan entah apalagi rasanya ini yang berkecamuk didalam hatiku. Perasaan apa ini? Apakah aku mencintainya? Tidak, itu tidaklah mungkin.

__ADS_1


Aku hanya takut kehilangannya saja, karna hanya Maria lah temanku satu-satunya saat ini.


"Tuhan ... ada apa sebenarnya dengan Maria? Kenapa hatiku terasa sakit, kerongkonganku seperti ada yang mengganjal, sakit sekali..." Aku terus bertanya-tanya dalam hati, kenapa? Ada apa dengannya?


Maria ... kenapa kau menyimpan semua pahitmu seorang diri? Apakah kau tak pernah menganggap ku sebagai sahabat?


Sejak hari itu, aku tak pernah lagi melihat keberadaan Maria. Aku rindu dengan senyumnya, aku rindu dengan riang tawanya. Hari ku kembali gulita seperti sebelum bertemu dengannya.


Tiga hari tanpa hadir Maria, waktu terasa begitu lama berputar.


"Kenapa Kau begitu terlihat murung beberapa hari ini?" tanya Della padaku dengan berbisik tentunya.


Della selalu menjengukku di waktu luangnya.


Aku hanya diam saja mengabaikan Della yang berusaha menghibur.


"Aku tak melihat Maria akhir-akhir ini?" Della bertanya kembali.


Akankah aku akan benar-benar kehilangan Maria? Sungguh Aku belum bisa menerimanya, apa kesalahanku hingga membuat dia menjauh?


"Maria, andai kau tahu betapa aku sangat merindukanmu disini..." bisikku dalam hati.


Kupandangi danau itu dari tempatku berada, ya dari kamarku ini dapat melihat dengan jelas kearah danau.


Hari ini, Dokter memeriksa keadaanku kembali. Dokter mengatakan kepada Kak Vania, jika Aku ada perkembangan walau hanya sedikit saja.


Hari ini, untuk pertama kalinya setelah hampir tujuh bulan lamanya Aku kembali melihat senyum diwajah Kakakku. Seharusnya akupun senang mendengarnya, inilah saat-saat yang kutunggu dari awal.


Tentunya ini adalah berita bagus dan bahagia untukku, namun hatiku gelisah dan kecewa ... dan tidak begitu senang mendengar perkembangan yang kualami.


Padahal sebelumnya aku memang ingin segera pulih dari tidur panjangku, apakah aku akan benar-benar berpisah dengan Maria...?


"Hey, kau ini kenapa!" Della mengagetkanku.


"Kau akan segera pulih, cepatlah sadar dan masih banyak yang harus kau urus. Sambungnya lagi.


"Kau bicara dengan siapa, Del?" rupanya dari tadi Kak Vania memperhatikan gerak gerik Della.


"Ach, tidak Kak cuma latihan dialog saja." Della menghampiri Kak Vania.


Kenapa perasaanku menjadi ragu pada Della ya? Kenapa Aku merasa ada maksud tersembunyi padanya? Apa ini hanyalah perasaanku saja?

__ADS_1


"Tentang cairan itu, siapa ya yang sudah memberitahu keberadaan Tino kepada Metta?" Kak Vania bertanya kepada Della, sama sepertiku yang juga penasaran siapa yang ditelpon oleh Metta tempo hari itu.


Yang tahu hanyalah Roni, suami dari Kakakku, Della dan juga Kak Vania sendiri. Della menurutku tida mungkin, atau jangan-jangan malah Roni? Tapi untuk apa dia melakukan itu? Bahkan Roni pun tidak mengenal Metta sama sekali. Aku semakin pusing dibuatnya, apa tujuan Metta membunuhku? Apa untungnya buat dirinya setelah Aku mati? Bahkan Aku dan Metta belum menikah, jika pun aku mati ... Metta tak akan mendapat keuntungan apapun?


Siapa dalang dibalik semua ini? Siapa dia?


...------...


Jiwaku meronta mencarimu,


Didalam sudut ruang hatiku, tersimpan indah senyumanmu.


Menyisahkan sebuah sesak didalam dada.


Jejak semu yang tertinggal, mampu membuatku jatuh dalam kerinduan.


Maria...


Indah senyummu, mampu membuatku lupa akan masalah terberat ku.


Maria...


Akankah semua ini akan berakhir?


Hadirmu, telah memenuhi ruang kosong dihatiku.


Aku ingin menjadi bayangmu, yang selalu menemani disetiap langkahmu berpijak.


Maria...


Tetaplah berada di sisiku, hadir dan temani jiwa yang tersesat ini.


...*****...


Ku seka kembali air mata ini, berharap yang kutunggu pun datang menemani.


"Sedang apakah kau saat ini?" Aku sudah lelah mencari Maria.


Mungkin memang benar jika aku harus terbiasa tanpanya, meski hanya beberapa bulan saja ia hadir mengisi hari-hariku ... Aku begitu merasakan kehilangan yang teramat dalam padanya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2