MARRIAGE & BENEFIT

MARRIAGE & BENEFIT
Ganteng meong-meong


__ADS_3

Ponsel Alfin kembali berdering saat Devina sibuk membalur punggung pria itu dengan minyak kayu putih yang selalu tersimpan dalam tasnya.


"Fin, angkat gih berisik banget."


"Biarin aja, paling juga si Rosi."


Devina menebak jika pria itu tengah berselisih dengan kekasihnya yang seorang model.


"Fin, kalo ada masalah itu cepet diselesaikan bukannya menghindar."


"Bawel lu ah, kaya bu Fatimah!."


"Dih, ngatain lagi. Diputusin Rosi baru tau rasa!."


"Ada elu."


"Kenapa lagi aku?."


"Ya kan lu bini gue entar."


"Ogah banget punya suami kamu."


"Warisan, Devina!. Inget!."


Devina akhirnya terbahak setelah menyadari jika pria itu telah mengcopy kata-kata yang selalu ia ucapkan saat Alfin tak mau menurutinya.


"SAKIT!." Alfin memekik karena wanita dibelakanya baru saja menggaruk punggungnya dengan kasar.


"Lu apa-apaan sih boncel?!."


"Sakit ini punggung gue, udah perih malah lu cakar lagi."


"Makanya punya mulut itu dijaga."


"Emang gue ada salah ngomong?."


"Ngapain coba kamu pake ngopy kata-kata aku barusan?."


"Ya kan biar elu nurut ama gue."


"Dih, ngadi-ngadi. Yang ngejar warisan kan kamu bukan aku."


"Sama aja, elu sama gue itu cuman beda diversi doang. Lu kira gue gak tahu kalo lu juga ngincer warisannya pak Hamid!."


Devina terdiam, ia tak berani menyangkal ataupun berkata-kata dan lebih memilih mendengarkan ocehan pria dihadapannya.


"Bedanya gue males kerja dan elu yang gila kerja tapi intinya tetep sama. Sama-sama materialistis."


AAWWWW


"Sakiiit Devina!." Pria itu kembali merintih.


"Lu kenapa sih dendam banget sama gue!?. Kalo emang niat lu mau cakar-cakaran tunggulah bulan depan!." Ucapnya kesal.

__ADS_1


Devina yang loading justru menanyakan maksud dari ucapannya yang terdengar ambigu.


"Mau nyakar kamu aja ngapain pake nunggu bulan depan coba?. Ckk!, kurang kerjaan!." Desisnya sembari menurunkan kaos Alfin hingga menutupi punggung pria itu.


"Ya kan bulan depan udah sah tuh!. Jadi kalo lu mau nyakar gue, gue juga bisa cakar balik."


"Dih, Ogah lah yaa... Ru_gi banget cakar-cakaran sama kamu!."


"Atau lu mau sekarang aja?." Alfin memainkan kedua alisnya naik turun.


"PRAMBUDI!!."


"Apa sayang?."


"Jangan macam-macam!. Inget, Warisan Fin!."


"Oke bebi! Kita langsung cus aja buat fitting sebelum negara api kembali menyerang."


Lirikan mata Devina membuat Alfin tak bisa berhenti terkekeh hingga wanita itu memilih untuk memalingkan wajah demi menepis rasa kesalnya kepada si pria materialistis.


_________


_________


Rosi berada disebuah mansion untuk melakukan pemotretan salah satu produk pakaian dalam. Wanita itu benar-benar senang melakukan pekerjaannya saat ini yang terbilang cukup mudah dan tak memerlukan modal besar untuk menunjang penampilannya saat berada di set. Cukup dengan menunjukkan pose indah tubuhnya dalam balutan bikini yang jelas tak pernah disukai oleh Alfin.


Ya, Rosi melakukannya secara diam-diam. Terlalu malas baginya untuk memberitahu sang kekasih yang pasti tidak akan menyetujui kontraknya tersebut.


"Kontraknya ada yang lebih exclusive dari ini gak mas Sam?." Tanyanya dengan nada manja kepada pria setengah botak dengan perut membusung yang tengah berdiri memantau jalannya pemotretan.


"Kamu enak banget, aku jadi pingin nambah." bisiknya lekat pada telinga wanita itu.


"Ih, kamu bisa aja." Balasnya dengan senyum malu-malu dan sebuah cubitan kecil diperut buncit si pria.


"Udah selesaikan?." Samuel menanyakan kegiatan Rosi kepada sang fotografer yang langsung diacungi jempol oleh pria berkulit putih dengan wajah mirip dengan Edo si narsis.


"Yuk!." Pria buncit itu kemudian menggiring tubuh semampai Rosi untuk menghilang dibalik pintu sebuah kamar dimansion yang mereka sewa.


Sepeninggalan keduanya senyum pria yang kerap disapa Bang Kenzi itu mengembang sempurna. Dalam keseriusannya menatap kamera ternyata ada hal lain yang tengah dilakukannya.


Kenzi mengirimkan foto mesra Rosi yang tengah berjalan membelakangnya bersama si buncit Sam kepada Edo. Ia menanyakan tentang wanita itu kepada sepupunya yang ternyata sama-sama mengetahui kiprah si jal*ng.


📨"Dia masih pacaran sama temen lu?."


Tidak ada respon dari si penerima pesan. Kenzi berfikir jika Edo sedang dalam urusan pribadinya dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.


_________


Alfin memarkirkan mobilnya disebuah butik yang menjadi langganan ibunya setiap kali memesan baju untuk berbagai jenis acara.


Devina mengamati butik itu dari balik kaca mobil. Bangunannya terlihat sangat klasik dengan penambahan lentera dibagian luar pintunya yang memberi kesan sedikit___horor?.


"Fin, kamu gak salah?."

__ADS_1


"Salah apa?."


"Tempat."


Alfin pun menengok keluar jendela lalu tersadar jika yang dimaksud oleh Devina adalah rumah butik itu yang tampak seperti tempat uji nyali.


"Pesugihannya kuat disini. Ayo masuk, keburu sore entar!." Ajaknya pada wanita yang terlihat masih enggan untuk beranjak dari tempat duduknya itu.


Devina dengan berat hati mengikuti langkah pria didepannya yang lebih dulu membuka pintu kaca dengan cat berwarna cokelat tua serta ukiran batik parang dikedua sisinya.


Seorang wanita muda menyambut kedatangan mereka dan menanyakan keperluan keduanya yang memang belum pernah ia temui.


"Saya Devina."


"Oh!. Mbaknya yang dipesanin baju sama bu Fatimah ya?."


Devina mengangguk dengan senyum terpaksa.


"Mari-mari mbak, mas langsung saja kedalam." Ucapnya begitu ramah seolah sudah mengenal keduanya begitu lama.


"Si ibu sama mbak Alma juga barusan dari sini pada fitting sekalian ngelihat apa-apa yang mau ditambah atau dikurangi, siapa tahu kan mereka kurang pas sama hasil jadinya." Jelasnya panjang lebar membuat Devina dan Alfin yang mengekorinya hanya diam sembari mendengarkan penuturan wanita dengan keperibadian ramah itu.


"Bu Gita!. Calon pengantinnya udah datang nih!." Ucap wanita bernama Ayu yang tengah membukakan ruang fitting dimana gaun-gaun indah pesanan pelanggan butik mereka berjajar rapi pada mannequin.


"Laahh, ini dia main caracternya." Perempuan paruh baya dengan sanggul khas wanita jawa itu menyambut ramah keduanya.


"Ayo ... ayo ...dicoba dicoba dicoba."


"Yuk mbak Vina sama saya, mas Alfin biar sama si Walang ya." Gita mempersilahkan Devina untuk masuk keruang ganti yang nanti akan disusul olehnya.


Sedangkan Alfin?. Pria itu digandeng oleh kedi bernama Walang yang suka sekali dengan pria-pria tampan sepertinya.


"Cucok ciiint!, ganteng euh!. meong-meong."


"Wal!. Jangan digodain masnya."


Alfin berusaha untuk bersikap tenang meski tangannya begitu gatal ingin melakukan adegan berbahaya saat melihat rupa dan bentuk pembantu yang akan melayaninya.


"Euh ganteng,,, ye boleh loh pegang tangan akika. Siapa tau aja kan ye takut masok kedalam." Walang mengedip genit.


"Yuk ah, akika bantuin ganti baju!." Ucapnya manjah sembari terus mengusap lengan Alfin.


Sungguh!. Devina tak kuasa melihat bagaimana wajah kesal pria itu saat Walang menggiringnya untuk masuk kedalam.


.


.


.


.


.

__ADS_1


tbc


__ADS_2