MARRIAGE & BENEFIT

MARRIAGE & BENEFIT
Makan siang


__ADS_3

Alfin telah menyelesaikan mandinya, kini pria itu duduk diantara para pekerja dengan segelas teh hangat untuk menemani waktu bersantai mereka sembari menunggu jam makan siang tiba.


Menggunakan setelan kaos dengan celana training milik Devina, pria itu nampak seperti olahragawan karena bentuk kaos oversize milik wanita itu yang justru melekat dengan sempurna hingga tak menyisakan celah untuk jalur angin begitupun dengan celana training yang membalut kedua kakinya terlihat seperti drawstring. sangat menggelikan.


"Mas Alfin belum pernah masuk ke kandang ya sebelumnya?." Tanya salah satu pekerja yang saat itu tengah bersantai sembari menunggu jam makan siang tiba.


"Belum pak. Ini yang pertama." Ucapnya dengan senyum canggung.


"Ho ya pantesan aja sampe pucat gitu."


"Padahal kalo sering kesini malah lebih cepat sembuh loh mas." Seorang pria lain menimpali


"Iya, dulu saya juga begitu. Tapi gara-gara mbk Vina sekarang jadi terbiasa." Pria bernama Basir ikut menambahi namun dengan senyum malu-malu saat mengatakannya.


Alfin bisa melihat jika pria bertubuh kecil itu jelas menyukai wanita yang sebentar lagi akan dinikahinya.


"Gara-gara Vina?."


"Iya, saya_


"Mas Alfin ini calon suaminya mbak Vina loh Sir." Pria bernama Tarno memotong ucapannya.


"Oh!?." Basir mengerjabkan matanya sesaat setelah pak Tarno mengenalkan pria dengan paras tampan dihadapannya.


"Hehe, enggak mas. Saya cuma ngefans aja sama mbk Vina." Basir tertawa garing setelah menyadari jika dirinya hampir saja keceplosan.


Wajah cerahnya seketika mendung saat mengetahui jika anak pemilik peternakan tempatnya bekerja merupakan calon suami dari wanita yang selama ini membuatnya selalu merasa deg-deg ser ketika berada dekat dengannya.


Basir merupakan karyawan baru yang melamar kerja setelah lulus dari jenjang sekolah menengah atas. Umurnya terbilang cukup muda, sembilan belas tahun dan kini dirinya harus dihadapkan dengan kenyataan pahit setelah mengetahui siapa pria dengan paras tampan yang terlihat tak acuh kepada mereka itu.


______________


"Sudah jam dua belas, ayo makan dulu." Teriak salah satu wanita dengan apron yang menutupi bagian depan tubuhnya.


"Mas Alfin, mari kedalam."


Alfin mengangguk samar dan menolak secara halus ajakan pria paruh baya bernama pak Supri itu dengan mengatakan jika ia masih menunggu Vina.


"Oh iya, ya sudah mas kami duluan kalo gitu."


"Mari, silahkan."


Terakhir Basir juga mengatakan hal yang sama dengan pak Supri sebelumnya namun bukannya menjawab ataupun tersenyum, Alfin justru memberinya smirk jahat layaknya pria nakal yang gemar merusak suasana hati seseorang.


Basir yang telah berucap dengan sopan malah merasa aneh saat menerima respon tak masuk akal darinya.


"Edan opo wong iki?." gumamnya dalam hati.


_______

__ADS_1


Tak lama yang dinantipun akhirnya muncul juga. Devina terlihat begitu segar dengan rambut panjangnya yang terurai dan masih sedikit lembab.


Jujur, tidak mungkin jika pria itu tidak tertarik saat melihat penampilan si wanita saat ini. Wajah freshnya benar-benar sangat menarik. Tidak ada makeUp berlebihan yang menonjol darinya selain matte eyeshadow dengan warna pastel yang melekat manis menghiasi kedua kelopak mata bulatnya dan juga polesan liptint pada bibir mungil wanita itu yang membuatnya semakin indah untuk diterus dipandangi.


"Fin!."


Devina mengibas-kibaskan tangannya tepat dihadapan pria itu.


"Oi!. Oi!."


"PRAMBUDI!."


Alfin tersadar, matanya mengerjab beberapa kali sebelum akhirnya kembali ke mode sebelumnya, 'Sok cool'.


"Ya ampun malah ngelamun!."


"Kamu gak laper?. Malah duduk disini, ayo kita makan siang dulu."


"Makan diluar aja." Pria tu hendak menarik tangan Devina sesaat sebelum si wanita justru balik mendorongnya untuk masuk kedalam dimana para karyawan tengah menikmati makan siang mereka.


"Kita makan bareng aja, disini juga enak kok. Gak kalah sama restoran bintang lima."


"Tapi aku_


"Udah masuk. Inget warisan Fin." Bisiknya sebelum keduanya benar-benar memasuki pintu ruang makan itu.


Devina membawa nampan berisikan sepiring nasi dengan sayur asam dan juga balado ikan asin, lalu Alfin?. Pria itu berjalan mengekorinya dengan membawa piring tanpa isi. Wajahnya tampak bingung memilih menu masakan yang belum pernah dicobanya selain sayur asam tadi.


"Kamu beneran gak mau makan?." Devina mengerutkan alisnya setelah melihat pria dibelakangnya hanya menoleh kesana dan kemari memindai isi diatas meja prasmanan tersebut.


"Gue bingung."


"Nasi Fin, Nasi!."


"Lauknya Devina, itu apaan coba?."


"Itu tahu bacem, itu balado ikan asin. Terus yang disebelahnya orek-orek tempe, yang didepannya lagi ada ampal jagung." Devina menghela nafas perlahan, sadar dengan keberadaanya kini yang tak mungkin memaki pria itu hanya karena makanan.


"Kamu nyari apa?. Spageti?. Pizza?. Steak?. Atau chiken katsu?."


"Gak mungkin ada Fin, disini tuh menunya menu kampung. Menu yang pasti ngenyangin dan gak bikin penyakit kanker - Kantong kering!." Wanita itu mendengus kesal.


"Kamu kalo nyari menu western atau chinese food mending tunggu Rosi aja deh entar malem. Tapi kalo dijalan asam lambung kamu naik ya jangan salahkan siapa-siapa ya, Oke!?."


Si pria kemudian mencebik, ia cukup mengerti dengan kondisinya yang tak mungkin menunda makan siang setelah kejadian tadi yang cukup menguras isi lambungnya.


___


Keduanya duduk berhadapan disatu meja yang sama dengan Basir dan pak Supri.

__ADS_1


'Tak nyaman' itulah yang dirasakan oleh pria yang berprofesi sebagai DJ di club malam saat ini.


Hanya ada nasi, sayur asam dan ampal jagung di dalam piringnya. Posrinya pun tak banyak, sebatas cekungan yang ada pada piring itu saja. Bahkan beberapa butir nasinya tampak berenang kesana kemari saat ia menggeser pringnya untuk lebih dekat.


Alfin tak semerta-merta menyantap makanannya. Mata pria itu justru menatap lurus kepada Basir yang duduk disamping Devina.


"Kenapa?. Gak pas sama lidah kamu?."


Teguran Devina membuat Basir mengangkat kepala dari fokus makan siangnya. Pria itu lalu menatap Alfin dan Devina secara bergantian.


"Enggak, enak aja kok." namun matanya tak juga berpaling dari Basir yang justru celingukan karena dirinya terus menatap kearah pria itu.


"Kenapa Sir?." Tanya pak Tarno yang seperti melihat gelagat aneh pada Basir, si pria muda yang baru saja hatinya terpotek.


"Gak papa pak." Ucapnya sebelum melanjutkan makannya kembali.


"Apa dia merhatikan aku ya?." Perasaannya semakin galau, Basir pun menjadi salah tingkah karenanya.


_______


Devina berada didalam mobil tengah menunggu Alfin yang sedang menuntaskan kebutuhannya dikamar mandi.


Bunyi panggilan masuk pada ponsel pria itu membuat Devina melirik sekilas. Matanya menangkap nama wanita yang menjadi kekasih calon suaminya. Senyum remeh menghiasi sudut bibirnya kala melihat pria yang dinantinya tiba dengan wajah lesu.


"Vin, garukin punggung gue bentar dong!." Pintanya memelas.


"Ih, enggak bisa. Aku lagi sibuk."


Alfin membuka kaosnya yang menutupi bagian punggung.


"Sebentar aja Devina, please."


"Gatel banget ini."


Devina pun akhirnya mengabaikan ponselnya dan melihat sang objek yang sudah duduk memunggungi dirinya.


"YA AMPUN!."


.


.


.


.


tbc.


mon map ya gaes, banyak banget typo-nya ditulisan-tulisan sebelumnya.😭

__ADS_1


__ADS_2