MARRIAGE & BENEFIT

MARRIAGE & BENEFIT
Rumit.


__ADS_3

Alfin mengembalikan foto tadi kedalam lemari. Pikirannya terus mengingat gambaran wajah dengan potret hitam putih tersebut. Ia seperti pernah melihatnya atau justru mengenalinya namun ia lupa siapa dan dimana pernah bertemu dengan wajah yang sama.


...


Waktu menunjukan pukul tiga dini hari dan ia hampir saja terlelap saat ponselnya berdering,


Devina, wanita itu menghubunginya disaat yang tidak terduga sebelumnya.


📲"Kamu dimana?."


"Kandang."


📲"Fin, ibu kamu masuk ICU."


Alfin terperanjat, tubuhnya menegang dan wajahnya seketika pias.


"Kamu dimana?."


📲"Darma Husada."


Sambungan sektika terputus.


Alfin meninggalkan kamar tanpa menguncinya. Pria itu segera berlalu untuk mempersingkat waktu. Ia tak lagi memikirkan bahaya yang bisa saja menghadangnya saat diperjalanan.


___


Wanita paruh baya itu tiba-tiba saja dilarikan ke rumah sakit karena sempat mengalami gagal jantung akibat rasa panik yang diterimanya secara mendadak.


Kejadian itu bermula saat Alfin pergi meninggalkan kediaman mereka.


Sedari sore bu Timah sudah merasa jika tubuhnya sedang tidak fit karena rasa lelah yang dialaminya setelah melakukan perjalanan keluar kota bersama pak Hamid.


Namun dirinya yang seorang istri merasa jika tidak perlu membesar-besarkan keluhan yang saat itu ia rasakan dan memilih bersikap biasa sembari memijat kaki sang suami yang belakangan terlihat membengkak karena penyakit asam urat yang dideritanya.


Puncaknya adalah ketika sesosok wanita asing bertamu kerumah malam itu dengan membawa sebuah pengakuan yang tak terduga.


Rosi secara sengaja menyambangi rumah orang tua Alfin tanpa sepengetahuan pria itu. Ia memang sudah menyusun rencana setelah sebelumnya gagal karena tuduhannya tidak terbukti.


Wanita itu mengaku jika ia tengah mengandung cucu mereka dengan memberikan bukti berupa foto hasil USG yang menunjukan kantung dengan isi didalamnya.


Bu Timah yang saat itu menerima pengakuan Rosi berusaha untuk tetap kuat meski pikirannya kacau dan jantungnya semakin kuat menekan dadanya.


Pak Hamid pun sama terkejutnya, hanya saja beliau tidak ingin menelan informasi itu mentah-mentah setelah mengingat masalah yang dialami putranya karena model tersebut.


"Saya ingin memberitahunya lebih dulu namun anak anda telah memblokir nomor saya dan membuat saya memutuskan untuk datang kemari sebagai gantinya."


"Apa kamu sudah memeriksanya dengan benar?."


"Tentu saja. Saya tidak berbohong jika ini memang anak Alfin."

__ADS_1


"Tapi maaf, saya tidak mau memakan informasi ini begitu saja sebelum ada bukti yang menguatkan pengakuan mu."


"Saya tidak peduli anda mau percaya atau tidak. Yang jelas saya menunggu Alfin untuk mempertanggung jawabkan hasil perbuatannya kepada saya. Permisi."


Bu Timah sama sekali tidak mengeluarkan suaranya sejak pertama Rosi tiba. Wanita itu sekuat tenaga menahan gemuruh didadanya sembari terus menatap gambar hitam putih yang berada diatas meja dengan rasa yang tak bisa diucapkan.


Baru beberapa jam Alfin meyakinkan dirinya mengenai sang mantan kekasih yang tidak akan mengganggunya namun pada kenyataannya pria itu salah. Rosi lebih berani dari yang ia kira.


Sepeninggalan Rosi, bu Timah pun hanya bisa meremas genggaman tangannya dengan pak Hamid. Pria tua itu mengusap punggung istrinya untuk memberikan rasa tenang.


Cukup lama keduanya duduk diruang tamu sampai akhirnya Devina tiba setelah dijemput oleh Sule.


Wanita muda itu mendapati dua paruh baya yang saling berpelukan karena sesuatu yang tak ia ketahui sampai akhirnya mata Devina melihat secarik potongan gambar hasil USG seseorang.


"Vin, bisa kamu temani ibu?. Saya mau bicara sama Alfin."


Devina melepas tasnya untuk membantu bu Timah berdiri. Sedangkan pak Hamid sendiri terlihat tengah menahan amarahnya karena Alfin.


Namun baru beberapa langkah berlalu bu Timah tiba-tiba terjatuh dan langsung tak sadarkan diri tepat pukul sebelas lewat empat puluh menit malam.


Kepanikan seketika melanda kediaman pak Hamid. Dua orang asistennya pun langsung ikut membantu mengangkat sang pemilik rumah untuk segera dibawa masuk kedalam mobil Sule.


Devina dengan cepat menelpon Alma saat itu juga dan langsung mendapat respon dari si pemilik nomor.


Alma yang terkejut pun seketika menangis dan mengatakan jika ia segera menyusul mereka kerumah sakit.


Lalu bagaimana dengan Alfin?.


Pukul tiga dini hari dan mengetahui fakta jika pria itu menyusulnya ke peternakan setelah melupakan janjinya untuk menjemput begitu menyelesaikan urusannya dengan pak Hamid.


Devina tengah berdiri didepan meja counter bersama Alma yang saat itu masih saja menitikan air mata. Satu diantara dua wanita itu sedang mengurus keperluan administrasi.


Lalu pak Hamid sendiri?. Pria itu tengah menunggu istrinya yang belum sadarkan diri di ruang ICU.


"Papa mana?." Tanyanya pada Devina.


"Papa diatas jagain mama." Jawabnya tak acuh.


"Fin." Alma menahan lengan Alfin saat hendak berlari mengejar Lift yang tengah terbuka oleh seseorang.


"Jangan!."


Alfin melihat wajah sendu adik perempuannya yang masih memegang kuat lengan kiri miliknya.


"Papa lagi gak baik-baik aja buat ngelihat muka lu."


"Sebenarnya ada apa sih?. Gue masih belum tahu alasannya kenapa sampai bisa begini."


"Rosi." Alma kembali menitikan air mata.

__ADS_1


"Dia kerumah dan ngaku lagi hamil anak kamu." Devina menyambung ucapan adik iparnya yang tak bisa berkata-kata.


Wajah Alfin seketika berubah padam. Pria itu melepas kasar genggaman tangan Alma pada lengannya dan berlari keluar menuju parkiran.


"ALFIN!."


"JANGAN!."


Alma berlari menyusul kakak lelakinya yang sedang dalam kondisi terbakar amarah.


*


*


*


*


Rosi dalam perjalanan mencetak goal dengan kekasih dari salah satu teman sesama model yang tak pernah ia sukai keberadaannya.


Wanita itu melenguh berkali-kali diantara padatnya kegiatan panas mereka yang terjadi diapartemen miliknya.


"Gila, kamu emang gila Ros!."


"Aku gak nyangka kamu bisa kaya gini Gil!." kicaunya diantara permainan mereka.


"Tapi gimana sama si Stevi?."


"Itu urusan nanti, sekarang kita selesaikan dulu yang ini."


......


*****


Edo pagi itu baru saja mendapat kabar tak menyenangkan dari kakak sepupunya yang bernama Kenzi. Pria itu mengatakan jika Rosi telah merusak jalinan asmara sang adik dengan kekasihnya yang merupakan seorang musisi.


📲"Stevi bener-bener gak mau keluar kamar, Do!. Gue takut kalo terjadi apa-apa sama anak labil itu."


"Gue juga gak bisa apa-apa bang, masalahnya si Alfin baru aja putus sama perempuan itu."


Edo bisa merasakan kegusaran yang tengah dialami pria diseberang sana. Ingin sekali ia meninju wajah wanita bernama Rosi itu jikalau boleh.


Tak berselang lama Edo kemudian menghubungi Alfin untuk menanyakan keberadaan pria itu. Hanya saja yang didapatnya adalah berita buruk bahkan lebih buruk dari pada yang pertama ia terima dari Kenzi.


"Oke, Oke, gue kesana sekarang. Kita omongin bareng-bareng."


.


.

__ADS_1


.


tbc


__ADS_2