
Devina memang tidak mengaku jika ia pernah berpacaran dengan seorang pria karena memang hubungan yang pernah terjalin diantara ia dan Kenzi tidak memiliki status apapun dan tidak ada yang mengetahuinya selain mereka berdua.
Kenzi sendiri merupakan anak lelaki satu-satunya seperti halnya Alfin. Hubungan mereka pun harus berakhir dengan cukup buruk karena Kenzi memilih untuk mengikuti aturan keluarganya yang mengharuskan dirinya untuk menikahi wanita dari satu suku yang sama dan masih berbau keluarga dengan kedua orang tuanya.
Terlebih dengan adanya perbedaan ekonomi dalam keluarga yang membedakan diantara mereka dan itu cukup membuat Devina merasa tersakiti karena Kenzi sama sekali tak memiliki perjuangan apapun untuk mempertahankan hubungan tanpa status mereka atau bahkan sekedar untuk mengakui bahwa keduanya memang memiliki hubungan.
Hanya berselang satu tahun setelah pria itu menghilang dengan kabar pernikahannya, Devina kembali harus mendengar jika Kenzi telah menceraikan istrinya karena visi dan misi mereka yang memang tak sejalan.
Kenzi yang cenderung bebas tak bisa jika harus dikekang dengan banyaknya peraturan keluarga yang harus ia patuhi hanya karena status pernikahan mereka. Disitulah ia kemudian memikirkan gadis yang pernah ia tinggalkan karena ke egoisannya.
Kenzi tak pernah menampakan batang hidungnya. Tidak sekalipun meski ia tahu Devina juga tidak mungkin menagih janji apapun darinya.
Bukannya tak ingin menemui, hanya saja terlalu malu bagi Kenzi untuk mengakui kebodohannya. Berbanding terbalik dengan Alfin, meski sama-sama bodoh namun setidaknya si beban keluarga itu masih memiliki pendirian. Ia rela menikah demi memperjuangkan apa yang menjadi haknya dan tidak termakan oleh isu apapun atau sekedar omongan yang tidak perlu.
Devina merasa cukup untuk menelan rasa pahit itu sendiri dan tidak perlu ada yang mengetahuinya selain dirinya, tetapi pada kenyataannya tidak demikian. Ada hati lain yang tengah menyimpan secuil rasa penasaran akan masalalu dirinya yang tak pernah ia duga sebelumnya.
__________
"Nah itu dia yang mau gue tanyain ke elu juga!." Edo menunjuk Alfin dengan jemarinya yang mengapit sebatang rokok.
"Pikiran kita kayanya sama, sama-sama penasaran." Ucap Alfin menerawang.
"Jadi itu foto, elu dapet dari mana gue tanya?."
"Bini gue, gak percaya kan lu?."
"Tunggu, maksud lu Devina nyimpen foto item putihnya si Kenzi!. Buat apa?."
"Gue juga bertanya-tanya Do, awalnya gue kira itu foto adeknya apa gimana. Tapi setelah lu bilang itu si fotografer, disitu gue langsung curiga."
"Emang lu udah tanya ke dia?." Tanya Edo semakin penasaran.
"Belum, gue gak enak hati mau tanya langsung."
"Iya juga ya." Edo mengangguk setuju.
"Lagi pula waktu itu dia bilang gak pernah punya hubungan apapun sama cowok sebelum nikah sama gue."
"Kali aja dia backstreet." Edo menanggapi.
"Enggaklah, dia bukan tipe kaya gitu. Apalagi kalo udah menyangkut status begini. Lagian seandainya backstreet pun dia pasti gak akan maulah sama gue."
"Tapi Vin, asal lu tahu aja nih. Si Kenzi itu duda loh aslinya."
"Seriusan?." Tanyanya tak percaya.
__ADS_1
"Elah, pain juga gue bohong ke elu?."
"Gue pikir lajang, taunya udah duda aja."
"Dulu dia nikah karena dijodohin juga, sama kaya elu. Tapi gak nyampe setahun udah pisah."
"Masalahnya?." Tanya Alfin dengan alis bertaut.
"Di keluarga gue tuh kental banget ama pernikahan satu rumpun. Yang udah sepupuan berkali-kali sama keluarga gue bisa dicari terus dinikahkan untuk menjaga garis keturunan biar gak terpecah."
"Busyet!. Berarti elu sama si Tania terancam juga dong?."
"Kalo gue sih siapa yang mau?. Lu tahu sendiri kerjaan gue apa, hobi gue gimana, tongkrongan gue dimana. Kalo mereka gak malu ya gue sih it's oke!."
"Wah, sialan juga lu. Kasian noh Tania, udah nungguin lu ngelamar sampe puluhan abad kagak ada kejelasannya."
"Tania sih gampang bisa nyari cowo lain, bebas. Lah gue?. Sampe gue bawa dia masuk kedalam keluarga gue yang ada bukannya kita bahagia, Fin. Stres!. Tuntutan dikeluarga gue terlalu banyak. Mau gak nurut tuh tapi orang tua gue masih ada, lengkap. Jadi udah yang kaya ditengah-tengah jembatan gitu posisi gue."
"Terus si Kenzi gimana nasibnya?."
"Dengan dia memutus pernikahan sama perempuan yang udah dipilih itu sama aja dia ninggalin rumah orang tuanya. Ngerti gak lu?."
"Maksudnya dia gak dianggap gitu?."
"Nah bener." Edo menjentikan jarinya. "Dia lepas dari semuanya tapi itu juga termasuk sanksi, dia gak boleh bawa-bawa nama keluarga. Seandainya dia nikah lagi pun ya gak akan ada yang peduli termasuk jika nanti dia punya keturunan, gitu!."
"Taulah, gue aja bingung."
____________
Sementara mereka bergosip, Devina kembali terlelap dengan posisinya yang masih berada dibalkon apartemen. Semilir angin membuatnya larut dalam buaian. Bukan tanpa sebab, ia melakukannya karena terlalu lelah jika harus di ingatkan tentang perasaan yang sama ketika matanya terbuka.
Hingga suaminya kembali dan mendapati dirinya masih dalam posisi yang sama.
"Vin." Alfin mencoba membangunkan Devina dengan memanggil namanya.
"Tidur didalem gih." Ucapnya ketika melihat mata wanita itu terbuka setengah. "Masuk angin lu entar disini."
Devina akhirnya sadar sepenuhnya saat Alfin duduk dihadapannya dengan netra yang menatap lekat kepadanya.
"Temen kamu sudah pulang?." Tanya Devina untuk mengurai kecanggungan.
"Sudah."
"Oh." Responnya begitu singkat.
__ADS_1
Devina beranjak dari tempatnya berbaring kemudian menyimpuni barang-barang miliknya untuk dibawa masuk kedalam.
"Vin."
Yang dipanggil menoleh,
"Lu, kalo ada masalah cerita aja ke gue."
Tak ada jawaban, hanya mata wanita itu yang tampak bergerak kesana-kemari mencari keseriusan dari ucapannya.
"Gue bisa jaga rahasia, lu gak usah khawatir." Ucapnya meyakinkan.
Devina membalasnya dengan senyuman lembut sembari berlalu dengan laptop dan juga sebuah map dan jurnal book tebal ditangannya. Wanita itu kembali menoleh sebelum memasuki pintu kaca diantara skat pembatas ruang dengan balkon.
"Makasih buat tawarannya. Aku gak kenapa-kenapa jadi gak perlu khawatir."
Alfin bisa melihat bagaimana kebohongan itu begitu nampak dari caranya menatap.
"Lu bisa bilang enggak, Vin. Tapi mata elu bener-bener jujur dan gue yakin itu semua gara-gara dia."
Pria itu kemudian beranjak dari tempatnya berjongkok untuk menyusul pergerakan sang istri yang kini telah menempati salah satu sofa ruang tamu.
"Ganti baju lu." Titahnya pada Devina yang hampir menyalakan kembali laptop miliknya.
"Mau ngapain?." Devina mengernyitkan dahinya.
"Kita keluar, temenin gue belanja barang."
"Tapi aku_
"Gue gak terima penolakan, inget warisan Vin."
"Ckk!!. Warisannya udah jadi punyaku."
Alfin tersenyum simpul.
"Ya kan lu bini gue, jadi tetep bagi dua."
.
.
.
.
__ADS_1
tbc.