
Devina sudah menyerahkan segala urusan pernikahan mereka sejak awal kepada calon mertuanya tanpa sedikitpun ikut campur selain dari pada pemilihan cincin dan mahar yang nantinya akan menjadi miliknya secara utuh.
Wanita berwajah mungil itu memutar tubuhnya yang berbalut kebaya hasil rancangan Gita'sweddplan dimana pemiliknya merupakan sang desainer itu sendiri.
"Nah kaan, cocok banget toh pas udah dipake gini!." Perempuan yang kerap disapa jeng Gita itu nampak sumringah setelah melihat hasil karnyanya melekat sempurna ditubuh Devina dan membuatnya semakin cetar karena kecantikan alami yang dimiliki oleh si calon pengantin tersebut.
Devina mencoba relaks dengan penampilannya saat ini. Sejujurnya ia sangat terharu melihat kesungguhan bu Fatimah dan Alma yang mau mengurusi semua keperluan pernikahan dirinya dan Alfin. Bahkan sampai gaun yang dikenakannya saat ini pun tak bisa dikatakan murah dengan desain yang benar-benar pas dengan dirinya baik dari segi warna maupun kualitas bahan yang terasa nyaman saat ia gunakan.
Rasanya cukup jahat untuk mengingat dirinya yang menyetujui pernikahan itu hanya karena warisan. Ya, berkat kepercayaan pak Hamid lah dirinya jadi seperti saat ini dan karena adanya dukungan dari Alma pula ia bisa menjajal gaun mahal seperti yang dilakukannya sekarang.
"Udah gak ada yang perlu kita rubah ya mbak Vina?." Tanya Gita yang diangguki olehnya.
"Wal!. Mas Alfinnya gimana?." Lanjutnya kemudian.
"Uh uh uh, akika gak kuat lihat kegantengannya maakk!." sahut si Walang dari sebelah.
_______
"Cukup sekali gue ngelakuin ini dan itu semua gara-gara warisan!."
Kini keduanya telah berada diposisi masing-masing. Pria itu menarik mundur kursi kemudi miliknya dan merubah posisi sandaran menjadi laydown.
"Bentar, pusing gue dari tadi nahan emosi." Ucapnya kepada Vina sebelum memejamkan mata.
Alfin melipat bibirnya untuk meredam gejolak emosi yang dirasakannya sejak tadi.
Devina yang duduk dengan ponsel menyala pun hanya bisa tersenyum melihat bagaimana pria itu mencoba berdamai dengan emosinya lantaran sosok Walang yang benar-benar telah menguji kewarasannya sejak awal.
"Berarti kamu kudu kasih tahu ke Rosi jangan sampai nanti pesan gaun kalian disini." Devina terkekeh dengan kalimatnya yang membuat Alfin seketika membuka mata dan melirik kearahnya.
"Buat apa juga dia pesan gaun, disini?."
"Emang kamu gak pingin meresmikan hubungan kalian berdua?."
"Bini gue cuman elu." Bantahnya dengan mata tertutup.
"Terus dia mau kamu kemanain?."
__ADS_1
"Mau dikemanain emang?." Pria itu membalik pertanyaannya.
"Secinta itu Fin dia sama kamu, tega emang ninggalin dia?."
"Gue cuman nyari keuntungan aja."
"Fin_
"Lu mau gak kalo punya suami gue?." Ucapan Devina terpotong olehnya yang memberi pertanyaan tak terduga kepada wanita itu.
"Enggak." Jawaban jujur Devina membuat pria itu berdecak kesal.
"Alasan lu?."
"Ya karena aku gak suka kamu. Apalagi?."
"Gak sukanya karena apa?."
"Hampir semua yang ada dikamu dan apa yang kamu lakuin."
"Ya ya ya, gue paham maksud lu."
________
Edo memberikan balasan kepada Kezi yang saat itu telah merampungkan urusannya dimansion.
Pria itu mengatakan jika Alfin masih menjadi kekasih dari wanita yang memiliki jam terbang tinggi tersebut.
Sebelumnya Kenzi juga sudah memberi tahu jika nama Rosi masuk dalam daftar BO yang juga melibatkan beberapa artis tanah air dan sebagian diantaranya ada yang sudah tertangkap.
"Gak kaget sih gue." Edo bermonolog,
"Fin, Alfin. Mau aja lu ditempelin benalu."
Pria berkemeja putih dengan dasi kupu-kupu itu kemudian terkekeh saat membaca pesan yang dikirimkan oleh sepupunya.
Edo yang berprofesi sebagai karyawan disalah satu Lounge hotel bintang lima nyatanya memiliki waktu luang lebih sedikit ketimbang Alfin yang seorang DJ. Pria itu hanya mengandalkan gaji bulanan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, tidak seperti Alfin yang memiliki sumber dana unlimited 'dulu' sebelum negara api datang.
__ADS_1
Pesan Kenzi dikirim ulang oleh Edo ke nomor Alfin. Ia sudah tak peduli jika teman main satu clubnya itu marah ataupun memusuhinya karena telah mencampuri hubungannya dengan sang kekasih.
__________
__________
Devina baru saja selesai menemani pak Hamid menemui beberapa distributor fresh food yang mengambil pasokan telur dan juga ayam potong segar dari rumah potong unggas milik mereka.
Sejauh ini Devina cukup bisa diandalkan untuk mengatasi laju permintaan barang dengan stok yang tersedia ditempat mereka. Pak Hamid sendiri cukup puas dengan hasil kerja keras calon menantunya tersebut. Hanya saja pria itu masih bingung mencari cara agar anak lelakinya mau menerima Devina tidak hanya sebatas kertas melainkan juga dengan hatinya.
Sayang sekali jika Alfin sampai meninggalkannya hanya karena harta waris yang tak seberapa dibandingkan kelebihan yang dimiliki oleh wanita itu.
*****
Pak Hamid duduk dengan santai dikursi penumpang, sedangkan Devina memilih duduk disamping kang Sule yang tengah mengemudikan kendaraannya membelah padatnya jalan protokol.
Pria paruh baya itu menatap jajaran ruko tua yang membuat kenangan lama dirinya tiba-tiba saja kembali naik kepermukaan saat melihat taman terbuka bertuliskan Sentra yang dulunya merupakan ruko tertua didaerah itu. Tempatnya mengais rupiah dari seratus, lima ratus, seribu, dua ribu sampai dua puluh ribu saat awal-awal dirinya menikahi wanita yang telah menemani perjalanan hidupnya selama kurang lebih tiga puluh satu tahun ini.
Mulai dari jatuh bangun hingga saat terpuruk mereka ketika ruko sentra itu mengalami kebakaran besar yang menghabiskan seluruh bagunan dan isinya termasuk dagangan pak Hamid. Tepat disaat itu bu Fatimah tengah mengandung Alfin yang masih berusia tujuh bulan.
Usaha merekapun akhirnya gulung tikar dan pak Hamid memilih untuk pindah ke desa, memulai kembali kehidupan mereka dari nol. Meski begitu tak sekalipun ia dan istrinya mengeluh, sampai pada saat Alfin berusia tiga tahun pak Hamid memulai usaha barunya sedikit demi sedikit dengan membeli anakan ayam petelur dan memeliharanya dengan kandang kecil yang hanya mampu menampung dua puluh ekor.
Perlahan tapi pasti, usahanya kian bertambah. Sebelum berangkat mengajar bu Fatimah menyempatkan diri untuk membantu suaminya membersihkan ayam potong mereka sendiri kemudian bersiap ke sekolah kala mentari telah terbit dengan membawa Alfin dalam gendongannya.
Sedangkan Pak hamid sendiri sudah lebih dulu berangkat dengan motor bututnya sebelum adzan subuh berkumandang untuk menjual ayam segar hasil potongannya ke pasar. Begitu seterusnya sampai Alfin menginjak usia sekolah dan Alma lahir.
Pak Hamid pun menghentikan agendannya dipasar dan memilih fokus untuk ayam-ayam petelurnya dirumah yang membutuhkan tempat lebih besar dari sebelumnya. Semua proses lelah telah ia lalui, yang semula hanya ada dia dan istrinya kini telah memiliki banyak karyawan dengan lokasi kandang yang terbagi ditiga daerah berbeda.
....
Seharusnya Alfin bisa melihat dan bersyukur dengan segala kemudahan yang ia terima sedari kecil sampai saatnya ia harus menggantikan posisi sang ayah. Namun apa yang diharap nyatanya berbanding terbalik dengan kenyataan yang terjadi.
Pria itu justru telah mengecewakan kedua orang tuanya dan bertindak seolah nasib baik selalu berpihak padanya.
.
.
__ADS_1
.
tbc.