MARRIAGE & BENEFIT

MARRIAGE & BENEFIT
Kasus aneh


__ADS_3

Alma terpaksa membatalkan acara int*m mereka untuk bermanja ria dengan sentuhan lembut para terapis disebuah tempat spa karena masalah Alfin.


Edo-lah yang memberi tahukan kepadanya jika kakak lelaki wanita itu kini sedang menjalani pemeriksaan terkait namanya yang masuk dalam daftar nama pembeli jasa pr*stitusi online.


"ARRRGH, ALFIN GILA!." Alma memukul stir mobilnya saat terjebak kemacetan dilampu merah.


Devina yang duduk disampingnya hanya bisa diam tanpa berkomentar apapun karena sejujurnya masalah ini memang bukanlah sesuatu yang mengejutkan untuk mereka, hanya saja hal itu membuat Alma luar biasa kesal lantaran harus membatalkan agenda pribadi keduanya yang amat ditunggu-tunggu.


_____


Setibanya dikantor polisi Alma justru tidak menemukan Alfin. Ia kemudian menelpon Edo untuk menanyakan keberadaan lelaki dengan seribu masalah itu kepadanya.


"Lu dimana?."


....


"BNN?."


....


"Kok bisa ada disana?."


.....


"Tes?."


....


"Ya udah, gue susul kesana."


Alma mematikan sambungan telepon Edo dan kembali memacu kendaraannya menuju lokasi si dia berada.


"Pak Hamid gimana?."


"Belum tahu." Jawab Alma spontan. "Dan jangan sampe tahu. Kasian ayah, gara-gara mikirin manusia satu itu doang. Gak berguna lagi. Nyampah aja kerjaan!."


________


Edo tengah duduk santai diantara rindangnya pepohonan yang menaungi parkiran dihalaman gedung bercat putih dengan sedikit lumut yang menempel dipinggir temboknya itu sembari memesan segelas kopi hitam kepada pedagang minuman keliling yang tengah mangkal didepan kantor tersebut.


"Al!." Edo meneriaki Alma dari tempatnya berdiri.


"Lu ngapain disitu?." Alma menghalau sinar matahari yang benar-benar terasa menyengat kulit.


"Lah?. Ngapain emang?. Gue kan cuman nungguin dia keluar doang."


"Jadi yang lu bilang ke gue tentang Prts online tadi gimana sih?."


"Biasalah, itu cuman akal-akalannya si Rosi aja."


"Lah!. Kenapa bisa begitu?."


"Dia gak terima diputusin ama abang lu yang paling tampan se komplek."


"Terus jadi kesini ujungnya?."


"Entahlah, gue juga pusing. Coba lu tanya sendiri ama dia entar."


"Rosi?. Bisa banget ya dia bikin si kampret masuk kesini?."

__ADS_1


"Canelnya banyak, bisa aja dia bayar orang buat bikin jebakan."


"Tapikan si kampret semalem tidur dirumah?."


"BAPnya sih tu barang dapetnya dimobil pas dia pulang ke apartemen."


"Wah...salah tu berita, harusnya yang mereka tulis lebih banyak balon pengaman dari pada serbuk putih!." Alma terbahak-bahak mengingat bagaimana isi dalam mobil si kampret yang lebih didominasi oleh balon-balon maksiat.


Tak lama Devina muncul setelah melihat keduanya sudah tak lagi dalam mode serius. Ia berjalan santai dengan rambut terurai. Membawa pouch dengan outfit yang terbilang cukup santai. Sepotong jeans berpadu Tshirt putih dan sepasang sneakers.


Edo yang melihatnya sempat tersenyum dan berkata kepada Alma jika penampilan calon kakak iparnya tidaklah menunjukan umur yang sesungguhnya.


Dari kejauhan Devina memang terlihat seperti anak SMA dengan fresh looknya yang begitu menarik mata siapa saja yang berpapasan dengannya.


"Bego gak tuh si Alfin kalo sampe nyeraiin dia gara-gara Rosi?." Edo mendengar pertanyaan sekaligus umpatan Alma mengenai teman satu club pria tersebut.


"Kalo dia niat mau nyeraiin si Vina ada gue yang siap nampung tu janda."


Alma menoleh seketika kearah si pria dengan tatapan menelisik.


"Emang dia mau sama lu?. Terus cewek lu sendiri gimana?."


"Bisa diatur." Edo terkekeh dengan jawabannya sendiri.


___


"Laper. Makan yuk!." Devina mengajak keduanya untuk mengisi perut karena tak tahan dengan rasa lapar yang menghantui lambungnya.


"Lu aja berdua. Gue tungguin si kampret dulu."


"Emang gak masih lama?."


"Ya udah, kita duluan."


Tak lama setelah kepergian Alma dan Devina, Alfin pun keluar dengan wajah kesalnya. Pria itu terus mengumpat dengan kata-kata kasar selama diperjalanan menuju resto tempat kedua wanita tadi memesan tempat.


"Gue tahu hal-hal buruk bakalan terjadi waktu gue mutusin dia. Tapi yang gak gue paham, itu perempuan bisa banget nyari celah buat masukin gue kesini?."


"Terus lu ngarepnya dapet masalah yang gimana?. Apa perlu dia ngemis-ngemis minta lu tanggung jawab karena udah bikin dia bunting kaya di film-film gitu?."


"Ya enggak gitu juga."


"Tapi gak heran lah Fin, doi kan servisnya dimana-mana."


"Iya juga sih."


"Tapi Do!."


"Apa?." Edo menoleh sekilas.


"Gue baru sadar, cowok yang semalem gue lihat."


"Maksud lu?."


"Gue lihat orang yang sama pas diatas."


"Ya udahlah, intinya emang dia niatan cari gara-gara ama lu doang."


"Untung urin gue kaga napa-napa."

__ADS_1


"Terus yang lu bilang prtsi ke gue?."


"Batal, nomor gue aja gak ada disitu. Bekas transaksinya pun gak ada. Ngaco dah pokoknya!. Gue aja sampe kesel. Ngerti gak lu kasus gue udah kaya naskah didrama-drama. Gak ada angin, gak ada hujan tiba-tiba aja diciduk langsung dua pula dalam sehari. Padahal ya, gue mutusin tu perempuan baru tadi pagi!. Bisa ya secepat itu, paham gak lu?."


"Baru percayakan lu kalo udah begini. Awal-awal aja lu belain dia lebih baik dari Tania, nyatanya?. Tania pisah sama lu juga gara-gara dia kan?."


Alfin diam tanpa memberikan komentar apapun. Hatinya benar-benar kesal karena kelakuan mantan kekasihnya yang secara sengaja membuat masalah hanya karena putus darinya.


***


Devina tengah menyantap gurame goreng crispy dengan sambal dabu-dabu yang terlihat begitu nikmat untuk menemani seporsi nasi bakar pesanannya.


"Vin, kalo si kampret mau seriusan ama lu gimana?."


"Seriusan?. Suka gitu maksud kamu?."


"Ya semacam itu." Ucap Alma sembari mencubit cumi bakar miliknya.


"Aku belum kepikiran buat seriusan sama dia ataupun laki-laki lain."


"Alasannya?."


"Males mikir Al, lebih baik ngurusin ayam dari pada mikirin patah hati. Ya gak?."


"Iya juga sih, berarti lu konsepnya sama ya sama gue."


"Nah loh!."


"Gue udah pernah ngerasain cinta yang bertepuk sebelah tangan Vin, jadi untuk sekarang mending gak mikirin kesono dulu lah."


Disaat itu seseorang menarik kursi yang berada disisi kedua wanita tersebut.


"Kirain lu pesen makanan didepan!." Alfin menggerutu ketika tahu tempat makan yang kini mereka datangi bukanlah resto seperti bayangannya. Melainkan sebuah kedai biasa dengan daftar menu yang ditulis menggunakan selembar kertas kemudian dilaminating agar tidak luntur saat terkena air.


Pria itu ikut mencubit gurame milik wanita disebelahnya yang kini justru menatapnya dengan mata menghunus.


"Nyicip elaaahhh, gitu banget ngeliatnya!. Cium neh!."


"Aku gak suka berbagi makanan sama orang jorok."


"Jorok apa Devina?."


"Cuci tangan mu baru pegang makanan."


"Oh, ini." Alfin terkekeh kemudian berkata jika ia belum membasuh tangannya setelah melakukan tes urin tadi.


"ALFIN JOROK!."


Tawa pria itu seketika pecah dan langsung menarik perhatian sebagian pengunjung disiang menjelang sore hari itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


tbc.


__ADS_2