
▪○▪○▪
"Masalahnya Do, gimana caranya gue bilang ke Rosi kalo gue bakal nikahin itu si minion?."
"Itu sih gampang Fin. Justru gue sangsinya malah sama elu yang nantinya bakal jatuh hati sama cewek yang elu bilang minion tadi."
"Encok gue denger elu bilang gitu."
"Jujur Fin, gue berani taruhan kalo itu."
"Eh mas Edo Ardiansyah, gue udah tahu enaknya Rosi terus elu mau suruh gue ngebandingin ama si kecil itu?. Waras gak lu?!."
"Oke gue yang gila, tapi elu kan belum pernah ngerasain yang original."
"Kampret!. Sama aja!. Beda seret sama enggaknya doang."
"Tetep aja namanya beda."
"Terserah."
"Lagian emang elu yakin kalo si Rosi cintanya cuman sama elu doang?."
"Gue sih gak peduli, selagi bisa dapet enak. Masalah cinta enggaknya itu urusan belakang, yang penting benefit dulu." Alfin memainkan kedua alis matanya.
"Serah lu dah, terserah. Gue cuma berharap nantinya elu gak kecewa aja gara-gara si Rosi."
________________
Vina mengikuti langkah pak Hamid mengelilingi Kandang untuk mengecek ayam-ayam peliharaan mereka. Tidak ada Alfin disana, tidak mungkin pria itu mau menginjakan kakinya ditempat itu.
"Semua kondisinya baik, stabil. Jadi gak ada lagi masalah sama sisa-sisa pakan selain limbah kotoran yang bisa difungsikan ya berarti tinggal kita evaluasi aja." Pak Hamid berjalan santai setelah menyelesaikan jadwal keliling rutin yang dilakukannya bersama Vina.
"Pak, saya ada keperluan sebentar setelah ini."
"Oh, iya ya ya silahkan. Apa perlu diantar supir?."
"Gak usah pak, terimakasih. Saya bisa naik taksi."
"Ya sudah, kalo gitu hati-hati. Tapi nanti malam makan dirumah kan?."
"InsyaAllah pak."
"Soalnya si Alfin sama Alma mau makan malam dirumah jadi sekalian kita kenalan."
"Baik, nanti saya pulang sebelum makan malam. Saya permisi."
_______________
Sore itu Devina telah membuat janji untuk bertemu teman kuliahnya yang juga berdomisili dikota yang sama. Ia dan Seli telah menjadi sahabat sejak kali pertama mereka masuk kuliah. Hanya saja nasib Seli jauh lebih beruntung dibanding dirinya lantaran selesai kuliah Seli langsung dipinang oleh pacarnya yang merupakan seorang abdi negara dan kini telah memiliki satu anak berusia tujuh bulan.
Acara intim mereka yang berlokasi disebuah cafe membuatnya tak sengaja bertemu dengan sosok pria yang cukup membuat hatinya ingin menangis meski wajahnya tak terlihat sedih. Vina berpura-pura tak mengenali pria itu saat melihat keberadaan Alfin dan pria lain yang duduk bersamanya.
__ADS_1
Ia langsung tersenyum kala Seli melambaikan tangannya disalah satu meja dengan view berupa pemandangan kota yang saat itu terlihat macet dan cukup membuatnya terhibur, setidaknya Seli telah memilih tempat yang pas dan tidak berdekatan dengan dua orang tadi.
"Ya ampun Vin, tambah cantik aja sih kamu!." Seli memberinya sebuah pelukan hangat.
"Dih, sama aja kali. Justru kamu makin nambah tuh cantiknya."
"Gak usah ngolok!. Aku tuh bukan nambah cantiknya, tapi bobotnya."
"Gak papalah yang penting masih ada cantiknya."
"Iya juga sih."
"Ngomong-ngomong yang katanya kamu direkrut jadi mantunya juragan ayam emang jadi?." Seli berbisik dengan setengah tubuhnya condong ke atas meja.
"Jangan bahas itu dulu deh, kepala aku jadi kesemutan."
"Oke, oke, tapi kalo kamu mau cerita lagi aku siap kok dengerin."
"Iya, tenang aja. Tunggu entar kalau pikiran aku ngadat lagi, yah itung-itung bisa ngurangin polusi di otak lah ya."
"Nah, ntu baru bener."
"Eh, iya si ganteng mana?."
"Dia lagi tidur. Disusulin ayahnya tadi selesai upacara sore."
Sementara itu_____
"Sialan lu bandingin sama dia. Gue bingung deh yang elu bilang cantik dari mananya, orangnya aja pendek gitu."
Kali pertama Alfin melihat secara langsung wanita yang akan dijodohkan dengannya berada disatu tempat. Ia beranggapan jika Devina tidak mengenalinya, sama halnya dengan yang dilakukan oleh wanita itu. Mereka bertindak seolah tak mengetahui satu sama lain meski sebenarnya keduanya pernah melihat profil masing-masing melalui daftar nama karyawan yang bekerja dibawah perusahaan milik pak Hamid.
Daftar karyawan?. Apakah Alfin termasuk didalamnya?.
Jawabnya 'tentu saja', dari mana ia mendapat uang cuma-cuma selama ini jika bukan karena namanya yang masuk dalam daftar karyawan itu.
"Pesen gue Fin. Seandainya ni ya, seandainya!. seandainya elu memang gak suka sama tu cewek dan berniat buat ngelepasin dia. Gue siap buat gantiin posisi elu dengan catatan jangan elu sentuh dia."
"Bah!. Bisanya elu nikahin janda gue."
"Kenapa sama janda?. Gak masalah kan selagi orangnya baik, dan yang penting gak elu apa-apain."
"Oke, oke, gue inget pesan elu. Tapi gue gak yakin ya kalo dia dikopek in sama yang lain."
"Gak mungkin kalo menurut gue."
"Yakin banget lu."
"Lihat aja tu orangnya. Lagian ni ya, emang bokap lu mau gitu punya mantu dengan status yang cacat sosial?."
"Ya mana gue tahu. Kan gue gak pernah peduli dari awal."
__ADS_1
"Yeee, elu mah otaknya enaaaakkk mulu!. Kaga baik noh, mendingan servis dulu gih otak lu Fin."
"Enak apaan!?. enak enak enak ngasal aja lu kalo ngomong."
"Lah elu keseringan keringetan bareng ama tu cewek makanya jadi tambah error."
"Sialan lu ngatain gue!. Terus apa bedanya kita Do!!." Keduanya tekekeh menertawakan kebodohan masing-masing.
Alfin tak pernah mengira jika ucapannya akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri sampai hari yang dinantikan oleh pak Hamid itu tiba.
___________
Makan malam keluarga pak Hamid terbilang cukup sepi. Tidak ada orang lain yang duduk disana selain ke empat anggota keluarga itu sendiri dan satu orang luar yang akan masuk menjadi bagian didalamnya.
Pak Hamid duduk diposisi kepala, ada Alma dan bu Fatimah yang menepati disisi kanan pak Hamid serta mereka, Alfin dan Devina yang duduk bersebelahan disisi kiri.
Dentingan sendok dan piring yang saling beradu terdengar lebih mendominasi ketimbang suara mesin pompa air dari aquarium milik pak Hamid. Tidak ada yang bersuara sama sekali sampai pak Hamid menyelesaikan makannya dan bertanya kepada Alma mengenai toko kue miliknya yang baru sebulan ini dibuka.
"Baik yah, respon orang-orang juga baik meskipun ada beberapa yang bilang gak sesuai sama ekspektasi dia." Ucap Alma begitu tenang.
"Hal seperti itu wajar terjadi dan kamu gak boleh marah karena yang begitu itu bisa jadi bahan evaluasi buat kita untuk membenahi apa-apa yang kurang biar lebih baik lagi."
Alma mengangguk samar. Ia sangat paham dengan maksud dari ucapan pak Hamid kepadanya.
Sejenak pria tua itu terdiam sebelum akhirnya menanyakan hal serupa kepada anak sulung mereka yang saat itu terlihat tak acuh.
"Kamu gimana?." Pertanyaan pak Hamid yang terdengar ambigu.
"Apanya gimana?." Alfin berlaga seolah tak mengerti.
"Pekerjaan kamu."
"Sejauh ini fine fine aja."
"Gak ada niatan buat pindah kerja yang halalan tayiban gitu?."
"Capek yah kalo nyari yang kaya gitu."
Devina menyandarkan tubuhnya kebelakang untuk membuka pesan masuk pada ponsel putih miliknya. Alfin yang melihatnya justru dibuat kesal lantaran wanita disebelahnya dirasa tidak sopan karena bermain ponsel saat berada dimeja makan.
"Kamu gak pernah diajarin sopan santun saat dimeja makan ya?." Mulut pria muda itu begitu ringannya berucap tanpa tahu alasan dibaliknya.
_
_
_
_
tbc.
__ADS_1