
Devina tiba dirumah saat hari telah gelap bersama kang grab yang selalu setia kapan dan dimanapun dirinya membutuhkan tumpangan.
Salah seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuknya dan berkata jika sang majikan tidak bisa pulang malam ini. Sebelumnya bu Timah juga telah memberitahunya bahwa mereka harus pergi secara mendadak setelah mendapat kabar kematian dari salah satu teman pak Hamid yang berada dikota sebelah.
Wanita itu seperti anak tunggal yang menempati rumah besar bersama dua orang ART dan satu satpam yang bekerja saat malam tiba.
Sama seperti Alfin, Alma juga memilih apartemen sebagai tempat tinggalnya. Ia menginginkan sebuah hunian yang cukup nyaman dan pastinya lebih privasi. Hanya beberapa kali dalam seminggu anak bungsu pak Hamid itu pulang kerumah untuk mengunjungi mereka.
Malam itu Alma menghubungi Devina dan menanyakan pendapatnya tentang baju yang dicobanya bersama Alfin.
"Ada sebagian yang aku rubah."
📲"Bagian mananya?." Tanya Alma melalui panggilan telepon.
"Dada, minta ditutup aja."
📲"Waaaahh,,, harusnya itu jangan ditutup Vin. Jadi gak H*T lah!."
"Al!. Kamu sengaja mau nyodorin aku jadi makanan komodo?."
Alma terbahak-bahak mendengar reaksi calon kakak iparnya itu yang ternyata seumuran dengannya.
📲"Ya gak ada niatan juga sih buat itu, tapi kalo komodonya nolak ya kan berarti bego tuh!." Kembali suara wanita itu memenuhi pendengaran Devina dan membuatnya berdecak kesal.
__________________
Dua hari setelah Alfin mendapat pesan berantai mengenai Rosi, hatinya mulai dirundung rasa kesal ketika melihat wajah tanpa dosa sang kekasih saat meminta untuk menemaninya tidur diapartemen yang baru beberapa waktu ini dibeli oleh model tersebut.
Alfin jelas menolak permintaan kekasihnya yang telah menjadi simpanan banyak hidung belang diluran sana.
Pria itu hanya mengantarkan si wanita sampai dipintu Lift tanpa suara.
"Kamu gak mau lihat kamar kita yang baru?." Tanyanya manja.
"Besok aja, gue masih ada urusan sama orang rumah." ucapnya berbohong, ia bahkan tidak tahu jika pak Hamid sedang tidak berada dirumahnya saat ini.
"Masalah warisan ya?." Wanita itu memberinya kec*pan dibibirnya sebelum menutup pintu lift.
"Pokoknya kamu jangan mau kalah sama Alma ya honey, pastikan kita dapat dua kali lipat dari dia."
Begitu kesalnya Alfin saat Rosi mengecupnya, ingin sekali ia memukul bibir wanita tak tahu malu itu yang sayangnya adalah kekasihnya sendiri.
______
Alfin tak langsung pergi, tubuhnya bersandar pada body mobil yang terparkir diluar gedung. Pria itu menyulut sebatang rokok sembari mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Edo.
📲"Oi?." Suara Edo terdengar serak seperti orang yang baru saja bangun tidur.
"Woy!. jam berapa ini!!!!???."
📲"Gak tahu, capek gue Fin. Lu mau ngajak car freeday kan?."
"Car freeday gundulmu!. Hari apa ini Do, Edo Ardiansyah!. Abis ngapain sih lu?. Udah tidur aja jam gini!?."
📲"Si Tasya minta bantuin bikin money buket pesenannya orang!. Apa lu set*n?. Mau ngolok gue!?. Sory lah ya!!!. Doi lagi puasa!!!."
__ADS_1
Alfin tengah terbahak-bahak saat mobil hitam lain melintas tepat dihadapannya menuju parkiran gedung yang berada dibasement.
"Ya udah lah, lanjutin aja tidur lu. Gue mau langsung kerumah pak Hamid."
📲"Ganggu Lu!."
"Kampr*t!."
Sambungan pun terputus. Alfin menjatuhkan rokoknya yang tersisa dan menginjaknya dengan sepatu untuk mematikan sisa tembakau yang masih menyala.
Pria itu membuka mobilnya dan menemukan jika Rosi melupakan tas belanja yang berisikan barang-barang pribadi wanita itu. Ia memungutnya dan kembali meninggalkan mobilnya untuk mengantarkan kantong belanja tadi ke unit dimana sang kekasih tinggal.
Sembari menunggu lift, ponselnya pun kembali berdering. Wajah Alma memenuhi layar pipih itu tepat pada pukul dua belas malam.
📲"Dimana?."
"Apartement."
📲"Bukan, gak sama tuh liftnya."
"Apartemen baru Rosi, kenapa?."
📲"Gila, pain malam-malam nyambangi dia?. Mau bobo lu berdua?."
"Bukan urusan lu markonah." Alfin berdecak malas.
📲"Oke, niat gue tadi nelepon lu cuman mau tanya masalah baju yang tadi lu coba."
"Cukup."
"Sengaja lu ya bikinin dia model yang gak sopan gitu?."
📲"Gak ada, gue cuman pesan yang cocok sama muka dia aja."
"Lu tahu gak segimana syoknya gue?!."
📲"Ellahh, sok sokan. Tapi lu suka kan?!. Ngaku aja dah lu!. Modelan macam lu aja pake nolak, Meeehhh, Kadal!."
"Gak ada laki-laki normal yang bakal nolak kecuali ustadz."
📲"Gak juga, banyak juga yang kedoknya doang ustad tapi cabul."
"Nah berarti lu harus hati-hati sama si Sony."
📲"Sony bukan pacar gue, lagian dia juga gak sebaik yang gue kira jadi yaaa udahlah."
_____________
Alfin mematikan ponselnya saat tiba tepat depan pintu apartemen Rosi. Pria itu menekan tombol yang melekat tepat disisi kanan pintu besi berwarna abu tua tersebut.
Hampir dua puluh detik pria itu menunggu dan mendapati sesosok pria lain tengah berdiri dihadapannya tanpa baju alias topless.
Pria yang tak ia kenal tersebut bertanya apa keperluan dirinya mengetuk pintu ditengah malam seperti ini.
"Rosi?."
__ADS_1
"Dia didalam, tidur."
"Lu pacarnya?."
Pria itu tak menjawab dan mengerutkan dahinya sebagai respon dari pertanyaan Alfin.
"Gue nanya doang ellaahh. Nih!. belanjaan dia tadi ketinggalan." Alfin menyerahkan kantung belanja ditangannya dengan kasar dan pergi begitu saja setelah mendapati kenyataan bahwa memang tidak hanya dirinya yang menjadi teman tidur kekasihnya.
Alfin menyandarkan tubuhnya dibalik kemudi dengan senyum mengembang penuh misteri.
Sejenak ia teringat kembali dengan foto yang dikirimkan oleh Edo. Jemarinya bergerak membuka galeri dan menemukan gambar wanita dengan bikini tengah tertawa dengan seorang pria botak yang tak kenalinya.
"Maniak juga lu ya, dasar lubang buaya." Umpatnya kesal.
Alfin melajukan mobilnya menuju kediaman pak Hamid pukul 00.35 menit. Setibanya disana ia disambut oleh pak Magrib yang bertugas menjaga rumah malam itu.
"Mas Alfin?." Magrib menyapa saat Alfin menurunkan kaca pada pintu mobilnya.
"Bapak sama ibu keluar kota mas tadi sore."
"Ada acara apa pak?."
"Takziah mas, temen bapak ada yang meninggal katanya."
"Hooo....." Alfin tampak manggut-manggut.
"Terus siapa yang dirumah."
"Ada si Wati sama mbok Darmi."
Pria paruh baya itu termenung sesaat sebelum akhirnya menyebutkan nama Devina yang langsung membuat Alfin menarik sudut bibirnya sedikit keatas.
"Ya sudah pak saya masuk dulu."
"Baik mas, silahkan."
________
Pria bertubuh tinggi itu bersiul ketika memasuki rumah yang justru terdengar lebih menakutkan bak sebuah film horor dengan judul 'psikopat in your house'.
Devina yang tengah duduk didepan komputer nyatanya tak bisa tenang saat mendengar suara itu meski kamarnya berada dilantai atas. Ia kemudian berlari untuk mengunci pintu saat siulan itu semakin mendekati anak tangga teratas.
"Gila ni rumah horor banget." Gerutunya dengan dada terus berdebar kuat.
Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu kamar dimana ia masih berdiri dibaliknya dengan menggigit bibir.
"Vin."
.
.
.
.
__ADS_1
tbc.