MARRIAGE & BENEFIT

MARRIAGE & BENEFIT
Siomai


__ADS_3

Tiga pasang mata saling menatap satu sama lain. Rosi berada diantara seorang pria dan wanita yang sebentar lagi akan melepas status lajang mereka.


Alfin dan Devina, keduanya memilih untuk menemui wanita itu dengan persetujuan Alfin tentunya.


Devina merasa jika dirinya harus ikut ambil bagian dalam drama yang dibuat oleh wanita gila itu lantaran sifat Alfin yang mudah tergoda oleh hal-hal negatif disekitarnya.


"Elu putus dari gue cuman gara-gara perempuan kaya dia?. Waras lu, Fin?!" Rosi tertawa mengejek.


"Lu pasang pelet ya?." Tanyanya pada Devina yang terlihat tak acuh.


"Gue kesini buat ngomongin masalah jabang bayi yang ada didalam perut elu, bukan untuk dengerin bacotan elu."


"Oh, oke."


Rosi menyulut sebatang rokok sebelum memulai aksinya.


"Gue hamil." ucapnya terjeda,


"Dan setelah gue hitung-hitung itu pas banget sama bibit yang elu semai."


"Oh ya?." Alfin menyungging tipis. "Gimana lu bisa yakin kalo itu punya gue sedangkan lu sendiri udah kaya WC umum."


"Eh, lu jangan sok tahu deh!. Gue yakin banget ini punya elu ya karena cuman elu yang bikin dihari itu!."


"Lu lupa kalo gue selalu pake balon?. Atau jangan-jangan lu gak inget lagi bikinnya sama siapa?."


Rosi menekan puntung rokok miliknya penuh emosi. Jelas perkataan Alfin telah memantik amarahnya karena memang benar adanya jika pria itu tak pernah melupakan sarung andalan miliknya saat melakukan hal menjijikan itu.


"Gue tahu lu sengaja ngefitnah gue karena emang status kita yang pernah menjalin hubungan dan lagi karena harta warisan yang jadi incaran elu." senyum Alfin mengembang.


"Kalo lu memang mau gue tanggung jawab, berarti lu harus bisa buktikan dulu itu bibit gue atau bukan dan seandainya memang punya gue. It's ok, gue bakal tanggung jawab tapi inget satu hal. Gue gak bisa ngasih apa-apa, karena harta warisan gue yang jadi angan-angan lu udah jadi hak milik dia. Gue cuman kacung, Paham?!."


"Najis lu!." Rosi menyiramkan segelas orange jus kepada Alfin dan langsung disambut kekehan Devina yang menyaksikan adegan live tersebut.


"Dan buat elu cebol, sory gue udah tahu rasa punya calon suami lu yang gak seberapa itu!."


Devina menanggapinya dengan senyum simpul.


"Oh ya?." sambutnya, "Saya kira anda lebih pintar dari seekor gagak tapi nyatanya hanya sedangkal itu pemikiran anda." Devina benar-benar membuatnya semakin termakan emosi.


"Lu ngatain gue barusan?."


"Lihatlah, anda tidak hanya bodoh tetapi juga tuli dan lambat menerima informasi karena yang ada dikepala anda hanya kenikmatan semata." Ucapnya dengan tatapan jahat yang benar-benar membuat Rosi semakin tak tahan untuk tidak melempar wajah Devina.


Gerakan Rosi masih kalah cepat dengan tangan Devina dalam menyambar asbak dan juga hot cokelat miliknya yang langsung membuat model tersebut kewalahan karena secepat kilat cokelat panas dan juga abu rokok itu sudah berpindah ketubuhnya.


"Dasar lu manusia kerdil, brengs*k!."Pekiknya penuh kekesalan saat melihat wajah tak berdosa Devina setelah mempermalukan dirinya dimuka umum.


AARRGGH!!


Rosi menghambur meja yang memisakan keduanya hingga menyebabkan kegaduhan luar biasa karena kejadian itu. Namanya pun semakin terkenal karena beberapa pengunjung ada yang mengenalinya sebagai model disalah satu majalah dewasa yang sudah tak lagi beredar dipasaran.


__________

__ADS_1


__________


Alfin duduk dipinggir jalan bersama Devina setelah menemui Rosi yang pergi meninggalkan keduanya dengan rasa malu dan amarah yang luar biasa.


Pria itu menyalakan pemantik untuk membakar tembakau ditangannya. Sedangkan Devina memilih untuk memesan seporsi siomai ekstra pedas sembari membaca beberapa pesan masuk yang dikirimkan oleh penjaga peternakan kepadanya.


"Kamu gak makan?."


Alfin menoleh sekilas kemudian menggeleng untuk menunjukan ketidak tertarikannya pada makanan wanita itu.


"Kang, es kelapa satu ya." Ucap Devina sebelum menyantap siomai miliknya.


"Siap!."


Begitu nikmatnya ia melahap kukusan kubis yang digulung juga potongan buah pare dan bakso ikan kemudian disiram sambal kacang lengkap dengan potongan cabai yang tampak begitu menakutkan untuk digigit.


Alfin yang sejak tadi hanya diam menghisap nikotin pun sepertinya mulai tergoda setelah melihat Devina yang memilih fokus dengan piring miliknya.


"Enak?." Tanyanya.


"Enggak." Ucapan wanita itu tampak tak sesuai dengan fakta yang kini tengah ia nikmati.


"Dosa, lu bohong sama makanan."


"Aku gak bilang kalo makanan ini gak enak kok." Wanita itu berkilah.


"Lah itu barusan apa?."


"Ya maksud gue tadi kan makanan elu, Devina!." Alfin menginjak sisa rokoknya sembari menggerutu. "Bikin kesel aja ni bocah."


"Bang!. Satu ya, kaya dia." Pintanya pada si mamang yang tengah sibuk membukus pesanan milik beberapa orang yang juga tengah mengantri.


"Oke!."


.............


Alfin nampak termenung sesaat ketika ingatannya kembali ke beberapa waktu lalu saat ia menemukan foto kelulusan seorang pria didalam lemari Devina.


Ia menatap wanita yang tengah duduk disampingnya sembari mengusap dahi yang terlihat basah oleh keringat.


"Lu pernah pacaran?."


Devina melirik sekilas kemudian menggeleng,


"Belum."


"Why?. Secara lu pinter, gak mungkinlah kalo gak ada yang naksir."


"Aku gak berminat."


"Alasan lu?."


"Aku takut ketemu orang yang salah."

__ADS_1


"Oh ya?. Gimana kamu bisa tahu kalo gak dicoba?."


"Ya kita lihat ajalah dari kebiasaannya. Misalnya aja kamu."


"Ya elu jangan samain lah sama gue."


"Kan contoh, Fin."


"Ya kan tetap bedalah. Gak mungkin kan elu tiba-tiba ketemu gue langsung tahu keburukan gue."


"Ya yang jelas itu tadi. Aku males ketemu sama orang yang salah. Lagian, menurut aku pacaran bukan hubungan yang menjajikan. Lebih banyak ruginya ketimbang baiknya."


"Busyet!. Lu udah ngomongin untung rugi aja sih non."


"Hidup manusia itu cuman sekali Fin, dan aku gak mau ngejalanin masa muda ku yang cuman sebentar ini buat mikirin lawan jenis yang belum tentu bakalan jadi sandaran terakhir kita."


Alfin menaikan kedua alisnya sembari mengangguk-anggukan kepala. Pria itu bisa memahami apa yang diucapkan oleh wanita yang masih sibuk dengan es kelapa ditangannya.


"Lu gak mau nyoba gitu pacaran, tapi yang halal."


"Mana ada pacaran halal."


"Ada dong!."


"Pacaran setelah nikah maksud kamu?."


Devina tersadar dengan ucapannya yang mengatakan pacaran halal setelah menikah lalu ia menolehkan kepalanya kearah pria yang tengah tersenyum manis kepadanya sembari mengedipkan mata.


"Ih, enggaklah ya!."


"Ya kan nyoba doang, kalo lu gak mau bisa langsung putus kok." Tawarnya dengan menyenggol lengan wanita itu.


"Jijik, Alfin!."


"Kalo udah sah ya gak jijik lah."


"Ya justru kamu itu yang bikin jijik, bukan hubungannya."


"Jahat nian ucapan mu sweety."


"Apaan sih!. Gak usah colek-colek, gatel!."


Tingkah lucu keduanya membuat beberapa pembeli siomai tersenyum geli karena melihat mereka yang lebih mirip anak kecil.


.


.


.


.


tbc.

__ADS_1


__ADS_2