MARRIAGE & BENEFIT

MARRIAGE & BENEFIT
Seseorang itu, dia?!


__ADS_3

Kondisi bu Fatimah sudah lebih baik dari sebelumnya dan dokter juga sudah mengijinkannya untuk pulang.


Kini wanita paruh baya itu tampak lebih bugar juga segar setelah mendapatkan perawatan menjelang pernikahan putra sulungnya yang beberapa jam lagi akan berlangsung.


_____


Devina terlihat begitu menawan saat mengenakan kebaya akad miliknya. Wanita itu mematut dirinya didepan cermin. Ia sendiri tak pernah mengira jika akan secepat ini menjalani masa lajangnya. yah, meskipun pernikahan mereka tidaklah seserius itu.


Alma menemui dirinya yang tengah berdiri membelakangi pintu kamar.


"WAW!. Seriusan ini lu, Vin?."


Alma mengembangkan senyumnya ketika melihat perubahan Devina saat mengenakan kebaya.


"Kalo Alfin sampe tetep gak suka, buta berarti dia."


"Suka itu gak bisa dipaksain kali, Al."


"Dia itu the real mahluk visual, Vin. Lagaknya aja sok sok an gak mau, bayangin aja sama si Rosi yang muka standar aja dia kicep, masa sama elu dia mau nolak?!."


"Rosi mah model masa kamu bandingin sama aku?." Devina bercak kesal.


"Heleh!. Dadanya aja kerepes gitu apanya yang dibanggain coba?."


"Ya yang lainlah."


Tawa keduanya pecah saat sadar jika mereka seolah bisa mengetahui pemikiran satu sama lain.


________


Alfin menyambut tamu bersama pak Hamid yang kala itu memilih duduk dikursi roda karena kakinya yang tak bisa digunakan untuk berdiri terlalu lama.


Ada Edo disana. Beruntung pria itu mengambil shift malam agar bisa menyaksikan jalannya pernikahan si biang masalah.


Beberapa menit sebelum pengucapan ijab qobul dimulai, Edo menyapa saudara sepupunya yang ternyata juga mengambil bagian dalam sesi dokumentasi untuk pernikahan Alfin.


"Bang!. Jadi tim elu yang dapet job disini?."


"Gue juga baru tahunya kemaren malah. Gara -gara si Toto yang tiba-tiba aja bilang mau ngejob di parangtritis." Ucap Kenzi sembari mengecek kamera ditangannya.


"Gak papalah, disini lebih banyak untungnya."


"Tapi lumayan juga dikaki gue entar malem."


Edo terkekeh sembari menepuk lengan Kenzi.


"Gue kedepan dulu, si Alfin udah standby."


"Yoi!."


_________


Devina berjalan perlahan diiringi oleh sang ibu dan juga Alma yang memegangi kedua lengannya. Sedangkan bu Fatimah sendiri sama halnya dengan pak Hamid yang memilih duduk dikursi roda karena masalah kesehatannya.


Menempati kursi putih disebelah mempelai pria, Devina nampak begitu cantik dan menggemaskan. Ia yang bertubuh standar kebawah itu justru terlihat seperti anak-anak dan tak pelak menimbulkan bisik-bisik diantara para tamu yang hadir karena mengira jika Alfin menikahi seorang bocah.

__ADS_1


Suasana terasa semakin mencekam bagi si mempelai pria. Alfin cukup sadar dengan permainan yang ia buat itu, namun saat dihadapkan langsung dengan kenyataan seperti saat ini nyatanya ia juga tak bisa meredam rasa gerogi yang sejak tadi terus menggelayutinya.


Panas, dingin dan juga keringat yang terus menetas dikepalanya cukup menjadi bukti betapa nervousnya pria itu yang sebentar lagi akan melepas status lajangnya.


Saya Alfin Prambudi ..............


Terdengar suara Alfin yang tengah membacakan serangkaian kalimat meminta restu untuk pernikahannya dengan Devina kepada para tamu undangan dan terutama bagi kedua orang tua mereka.


Acara sakral itu berjalan sebagaimana mestinya. Jabatan tangan pak Bandi yang sedari awal benar-benar membuat jantungnya seperti ingin melompat keluar kini sudah berubah hangat dengan senyum tipis yang tersemat diujung pipinya.


Alfin menikmati prosesi pembubuhan tanda tangan yang dilakukan oleh Devina diatas buku keramat milik Kantor Urusan Agama tersebut.


"Nengok Fin, ada kita loh disini. Masa Devina aja yang dapet perhatian!." Edo mengganggu si mempelai pria yang tengah tersepona dengan penampilan sang Ratu hari ini.


Berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Alfin. Devina, tangan wanita itu menggetar saat akan memberikan tangan miliknya karena sosok yang selama ini ia cari tiba-tiba hadir tanpa pernah ia duga sebelumnya.


__________


__________


Sepanjang acara berlangsung Devina tak menampakan wajah bahagianya seperti diawal ia memasuki venue dan hal itu membuat Alma seketika menyadari ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh wanita itu.


Begitupun saat berada didalam kamar setelah acara usai. Alfin yang tak begitu peduli pun dengan asal berucap jika Devina tengah memikirkan malam pertama mereka kepada adik perempuannya tersebut.


"Ngaco lu!."


"Lah, terus apa?. Gue kan gak ngerti juga dia kenapa?."


"Ya elu tanya dong, Fin!. Lu kan lakinya."


"Yee, salah lu sih!."


"Lagian emang kenapa sih dia?." Alfin akhirnya bertanya.


"Lu gak lihat apa, dia jadi diam gitu dari tadi!."


"Meding lu tanya aja yang tanya sono!."


"Apa mungkin ada orang yang gak disukainya ya tadi pas dipesta?." Ucap Alma mengira-kira


Ucapan Alma membuat Alfin mengingat kembali tentang foto pria yang pernah ia temukan.


Jangan-jangan!.


Pria itu meraih ponselnya yang tergeletak diatas nakas untuk mencari gambaran foto yang ia abadikan secara diam-diam.


Alfin mengamati wajah itu, kemudian mengingat-ingat dimana ia pernah melihatnya.


"Kenapa gue jadi penasaran gini ya?." Gerutunya sembari memijit pangkal hidungnya.


"Kamprrrt emang tu boncel!." Umpatnya sembelum mematikan ponsel.


Tak lama kemudian pintu kamar mandi pun terbuka dan menampakan wajah segar Devina yang baru saja selesai dengan ritualnya.


Wanita itu menatap suami abal-abalnya yang tampak santai diatas kasur masih dengan kemeja dan celana bahan miliknya.

__ADS_1


Alfin melirik sekilas wajah cantik sang istri yang terlihat tak acuh kepadanya sebelum akhirnya ia memilih untuk membuka pesan masuk yang membuatnya cukup terkejut.


Edo, pria itulah yang menjawab pesan miliknya.


📨"Lah, itu bukannya foto kelulusan sepupu gue ya?. Dapet dimana lu?."


"Ada deh!."


📨"Bisa banget lu dapetin foto keramat dia!?."


"Gue juga nemunya secara gak sengaja."


📨"Tadi dia yang ngefotoin elu tuh, Fin."


Alfin langsung bisa menarik kesimpulan dari mana wajah murung wanita itu berasal. Namun ada satu hal yang membuat Alfin penasaran, yakni hubungan keduanya.


Bukankah Devina pernah bilang jika wanita itu sendiri tak pernah menjalin kasih dengan siapa pun?. Lantas mengapa ia justru menyimpan foto lawas milik seorang pria, apa mungkin ia menyukainya?. Atau mungkin cintanya tak berbalas?."


"Kenapa gue jadi bego gini ya!. Mau banget dibikin penasaran sama si boncel." Kembali pria itu menggerutu.


Namun tetap saja rasa penasarannya lebih mendominasi hingga saat wanita itu melemparkan handuk putih kewajahnyanya dan membuatnya seketika sadar dari rasa galau yang sejak tadi menyelimutinya.


"Mandi gih!. Bau banget kamar ni gara-gara kamu." Ucapan Devina membuat Alfin terkekeh pelan sembari menampilkan senyum licik dibibirnya.


"Gue orangnya males mandi."


"Jorok."


"Gue mau langsung tidur."


"Mandi dulu, Alfin!."


"Elu yang mandiin."


"Idih, jijay lah yaaw!." Ucapnya sembari menepuk serum wajah.


"Vin."


"Emh?."


"Lu pernah gak suka sama seseorang?."


Devina terdiam dengan posisinya. Ia menatap pantulan Alfin yang juga tengah menatapnya dari dalam cermin.


"Kenapa?." Wajah wanita itu seketika berubah.


"Enggak, gue cuman mau tahu aja. Tapi kalo lu keberatan ya gak usah dijawab." Ucapnya santai namun penuh harap sebelum akhirnya berlalu untuk membersihkan dirinya.


Devina memilih diam sembari mengusapkan body lotion ketangan dan kakinya. Hatinya seolah dicucuk oleh puluhan duri saat mengingat kenangan pahit yang mungkin tak akan pernah ia lupakan sepanjang hidupnya.


.


.


.

__ADS_1


tbc


__ADS_2