MARRIAGE & BENEFIT

MARRIAGE & BENEFIT
Alfin?


__ADS_3

"Vin."


Devina mengerutkan dahi, ia jelas mendengar suara Alfin tengah memanggilnya.


"Devina?."


Lagi, namun ia masih enggan untuk membuka pintu.


"Aku pulang sayang."


Setelah yakin jika itu adalaha suara pria yang sama, Devina kemudian menarik handle pintu kamarnya dan langsung menyalak saat melihat senyum pria itu seperti abege sedang kasmaran.


"PRAMBUDI!."


"Eh?." Ternyata istriku belum tidur." Ucapnya sembari cengengesan tak berdosa.


"Kamu apa-apaan sih berisik jam gini?."


"Ngapain lu malem-malem masih On?." Pria itu melongokan kepalanya kedalam kamar untuk melihat apa yang baru saja dilakukan si calon istri diwaktu seperti ini.


"Lu lagi kerja?!." Alfin berseru dengan matanya yang membesar.


"Ngapain lu kerja jam gini Devina!."


"Tidur!."


Pria itu menyeruak masuk kedalam kamar tanpa permisi. Tangannya hampir menyentuh tombol power saat Devina mendorongnya menjauhi layar monitor miliknya yang masih menyala dengan tampilan tabel berisikan angka yang tak dipahami oleh si tersangka.


"Jangan Alfin!." Bentaknya penuh emosi.


"Tinggalin kamar." titahnya dengan hati kesal.


"Enggak!. Gue bakalan nungguin lu disini sampe selesai." Alfin berkeras.


"Fin!." Tatapan Devina begitu tajam


"Gue gak bakal pergi sebelum elu matiin itu komputer."


"Kerjaan aku banyak dan besok masih harus keliling buat ngecek!."


"Ada si Abdi yang bisa lu suruh."


"Abdi itu juga gak nyantai Fin, dia juga lagi ngerjain yang lain."


"Masih ada Lena."


"Lena besok ketemu sama klien."


"Ya udah gue tetep disini."


"Fin, tolong kerjasamalah buat gak nambah masalah yang ada jadi tambah mbelibit."


"Lu pilih gue disini diem atau gue tinggalin setelah nidurin elu?."


Kini giliran mata Devina yang membola. Ia tak menyangka jika ancaman pria itu ternyata bisa membuat tubuhnya seketika meremang.


___________


Pukul dua dini hari. Devina baru menyelesaikan pekerjaannya. Wanita itu menatap tubuh pria yang kini tengah meringkuk diatas tempat tidur berwarna hijau sage miliknya dengan mata terpejam.


Kata-kata Alfin masih berputar dengan jelas diingatannya. Mata pria itu menunjukan kesungguhan atas ancaman yang diucapkannya sebelum tumbang oleh rasa kantuknya sendiri.


Devina memilih untuk tidur dikamar tamu yang terletak dilantai bawah. Ia membawa serta selimutnya setelah menutup sebagian tubuh pria itu dengan selimut bulu pemberian bu Timah.


"Dasar gak tahu malu." Umpatnya sebelum meninggalkan kamar.


______


Pagi-pagi sekali Alma sudah mengetuk pintu kamar Devina untuk mengajak wanita itu melakukan treatment bersama setelah mengantarkannya kepeternakan terlebih dahulu. Namun alangkah terkejutnya ia saat mendapati jelmaan komodo tengah mengorok diatas nyamannya kamar wanita bertubuh mungil itu.

__ADS_1


"KADAL!."


Alfin yang mendengar suara bentakan pun berusaha membuka matanya dengan rasa sedikit perih saat melihat wajah sangar Alma berada tepat dihadapannya.


Bukannya sadar, pria itu justru beralih membelakangi sang adik yang masih berdiri diposisinya.


"Fin!?."


"eeeemh."


"HEH!. Lu apain Devina semalem?." Tanyanya sembari memukul lengan pria itu.


"Gak ada." Jawabnya dengan suara sengau.


"Bohong!."


"Gue ajakin ***-*** dia gak mau, ya udah gue tinggal tidur aja."


"Gila lu!." Bentaknya kesal.


"Terus sekarang dia dimana?."


"Gak tahu." Pria itu semakin mengeratkan pelukannya pada guling yang terasa sangat nyaman dan menenangkan.


"Dasar lu, Bajul!." Tepat ketika Alma berbalik, Devina muncul diambang pintu kamar dengan handuk yang melilit diatas kepalanya.


"Alma?."


"Lu abis bobo bareng dia?." Alma bertanya penuh selidik.


"e'enggak!. sumpah!." Devina sedikit tergagap karena keberadaan Alma yang langsung mencecarnya dengan pertanyaan.


"Terus lu tidur dimana semalem?."


"Di kamar tamu."


Alma menghembuskan nafas lega. Ia tak menyangka akan mendapati kejadian seperti ini dipagi hari.


"Aman."


"Ya udah gih, ganti baju kita ke pergi sekarang."


Alma meninggalkan Devina dengan persiapannya sebelum pergi ke peternakan, karena pak Hamid dan istrinya mengatakan jika hari ini mereka belum bisa kembali oleh sebab itu si bungsu berinisiatif untuk mengantarkan calon kakak iparnya tersebut sebelum mereka pergi untuk melakukan perawatan tubuh.


^___^


Alfin baru saja terbangun saat dering ponselnya menyapa. Ia melihat nama sang kekasih tertera disana.


"Halo?." Jawabnya lemah lengkap dengan suara seraknya dan mata terpejam.


📲"Honey, kamu belum bangun?."


📲"Aku ada shooting di Lembayung, antarin ya?."


"Lembayung?. Rumah makan?." Alfin yang masih dalam mode tidur pun tidak bisa berfikir cepat dan menjawab sekenanya.


📲"ih bukan itu."


"Terus?."


📲"Tempat spa."


"Spa?."


📲"Iya."


"Minta cowok yang semalem tidur ama lu aja buat nganterin."


📲"Honey, kamu marah?. Itu cuma sepupu aku."

__ADS_1


"Ya udah bilang aja ama sepupu kamu kalo lagi butuh tumpangan."


📲"Ih, kamu gak asik deh Fin."


"Diasikin ajalah. Kan doi semalem udah bobo bareng elu."


📲"Fin_


"Udahlah Ros, gue tahu lu sama busuknya sama si Tania. Open BO juga kan lu?."


📲"Aku bisa jelasin semuanya honey."


"Ros, mending nikmati aja drama yang lu buat itu. Gue juga gak bisa terus-terusan ada buat nyenengin hasr*t lu. Jadi yaa_


📲"Aku gak mau kita putus!."


"Gue juga gak sudi punya cewek modelan lu yang doyan jadi peliharaan banyak cowok."


📲"Alfin!."


"Dan satu lagi, gue mau nikah!." ucapnya terjeda.


"Jadi gue harap lu jangan pernah lagi hubungin gue dengan alasan yang gak masuk akal."


📲"Fin, Alfin!."


............


Sambungan berakhir tanpa permisi, meninggalkan pertanyaan tak berujung dibenak wanita dengan tubuh semampai itu.


"Sialan kamu Fin!." Rosi menggeram dengan tangan mengepal kuat.


Ia tak terima saat Alfin membuangnya begitu saja. Pasalnya, dulu ia menyingkirkan Tania hanya demi mendapatkan pria itu yang menjadi kekasih sahabatnya sendiri.


"Aku gak bisa biarin kamu menikah selain sama aku Fin!."


___________


___________


Memerlukan waktu kurang lebih tiga jam bagi Devina untuk berkeliling dari satu kandang ke kandang lainnya yang memiliki ukuran cukup besar tersebut. Lalu dimana Alma?.


Alma sendiri lebih senang berada didapur peternakan untuk berbincang atau lebih tepatnya ngerumpi bersama ibu-ibu yang bertugas mengurusi perut para karyawan ditempat tersebut.


"Tiga hari lagi loh mbak Al, masa si calon pengantinnya santai banget gitu."


"Gak papa bu, aman. Jaman sekarang tuh duit yang berbicara."


"Eh, iya. Ibu lupa." kekehnya sembari terus mengaduk tumisan dihadapannya.


*****


Devina melirik jam yang tersemat dilengan kanannya sebelum melipat celana jeans untuk mencuci tangan dibawah pancuran air. Disaat itu pula dering ponsel disaku celananya menginterupsi namun ia tak bisa mengangkatnya hingga panggilan itu berakhir dengan sendirinya.


Diraihnya lembaran kertas yang sejak tadi menemaninya sembari mengecek ponsel dengan pemberitahuan terkini.


"Vin, cepetan!." Alma meneriakinya dari arah dapur dan membuat langkah Devina bertambah cepat dua kali lipat.


"Apaan?."


"Alfin, kena tangkap!."


.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2