
"Pak, saya permisi mau ke kandang." Devina siap untuk berdiri saat pak Hamid bertanya,
"Ada apa?. Kenapa malam-malam ke kandang?."
"Si Didit barusan ngabarin ada ular yang datang."
"Eleh, paling juga anakan kobra." Alfin menimpali dan tak mendapat respon apa-apa dari keduanya selain tatapan tak enak sang ibu dan juga Alma kepadanya.
"Datang lagi?. Udah ngasih info ke perlindungan satwa belum?."
"Sudah pak, tapi belum ada jawaban. Jadi ini si Didit lagi ngehubungi pihak damkar buat bantu evakuasi secepatnya sebelum lantai kandang jebol lagi."
"Iya, ya kamu benar, ayo kita kesana."
"Gak perlu pak, biar saya saja mumpung Kang Sule belum pulang." Sule merupakan nama supir pak Hamid.
"OH, Fin!."
Yang disebut seketika menoleh.
"Kamu aja yang temani Devina." Pak Hamid benar-benar tidak memperdulikan tatapan kekesalan pria itu.
"Ada si Sule yang ngantar."
"Benar pak, saya pergi sama kang Sule saja. Permisi." ucapnya membenarkan.
Devina berlalu dengan cepat meninggalkan meja dimana mereka baru saja menyelesaikan makan malam. Ia bergegas mengambil tas dan sweeter untuk menghalau hawa dingin disana. Wanita itu setengah berlari saat menuruni rentetan anak tangga untuk mempersingkat waktu sesaat setelah menutup telepon kang Sule.
Ia hampir membuka hendle pintu mobil sang supir saat tangan lain justru menariknya dengan kasar.
"Kamu apa-apaan sih!. Lepas!." Vina mengibaskan cengkraman tangan Alfin yang tak juga terlepas darinya. Pria itu justru menariknya untuk berpindah ke mobil hitam yang terparkir dibelakang mobil kang Sule.
Alfin membuka pintu itu dan mendorong paksa Vina hingga tubuh wanita itu terhuyung karenanya.
"Alfin!." Suara Vina meninggi,
"Apa?. Marah?."
"Mending kamu pulang, aku bisa pergi sama kang Sule." Vina hendak melangkahkan kakinya keluar saat pria itu berkata jika dirinya tak akan membiarkan wanita itu pergi tanpa dirinya karena sang ayah sedang mengawasinya melalui CCTV.
"Gue KE_PAK_SA, inget itu!." Ucap Alfin sebelum menginjak pedal gas dan berlalu meninggalkan rumah orangtuanya.
_______
Tinggalah dua wanita yang masih berada dimeja makan, sedangkan pak Hamid memilih untuk mengecek peternakan yang berada dilokasi berbeda bersama Sule.
Alma tengah memperhatikan wajah ibunya yang tampak semakin pucat akhir-akhir ini.
"Mama kenapa?." Tanyanya lembut, "Mama masih mikirin Alfin juga?."
__ADS_1
"Enggak, mama baik-baik aja."
"Mama mending cerita deh sama aku."
"Mama gak papa Al, mama cuman ngerasa sedikit capek aja."
"Enggak, Alma tahu mama lagi nyimpen sesuatu."
"Apaan?. Uang?." Sang ibu terkekeh melihat keseriusan diwajah si bungsu.
"Ma, Alma beneran loh!. Kok malah dibecandain sih!."
"Coba mama tanya, kamu tahu gak sekarang pacarnya Alfin siapa?."
"Dih, kalo itu sih Alma juga gak tahu kali." Alma menggaruk kasar kepalanya. "Lagian mama kenapa masih mikirin dia, udah ada si Vina yang ngurusin kandang ayah."
"Bukan begitu, kemaren mama lihat dia masuk hotel sama perempuan. Seksiiiiiii banget."
"Ma, Alfin itu udah tua. Udah gak seharusnya mama pikirin dia. Cukuplah mama ngerawat dia sampai bisa bedain mana baik sama enggak. Masalah sekarang dia gak bisa dikasih tahu ya udahlah itu udah jadi tanggung jawab dia."
"Ya gak gitu juga Al, Alfin dan kamu itu sama-sama anak mama. Tanggung jawab mama sama ayah."
"Udah, intinya mama itu jangan banyak mikir, entar keriput diwajah mama makin banyak loh!."
"Udah tua ini."
"Ya jangan dong. Entar mama kelihatan mirip nenek-nenek."
Alma terbahak-bahak setelah mendengar penuturan bu Fatimah mengenai dirinya yang seharusnya telah menimang cucu sama seperti teman-teman seusianya.
___________
🍂
🍂
Setibanya dihalaman peternakan, Vina langsung meninggalkan Alfin begitu saja. Wanita itu berlari menuju lokasi dimana terdapat ular besar yang sering kali masuk ke kawasan mereka.
Beberapa orang pria menyambutnya, Didit salah satu diantaranya. Pria itu menjadi pengawas yang selalu memberinya informasi terkini mengenai hal apa saja yang terjadi dipeternakan.
"Gimana Dit?."
"Udah dihubungi buk, sebentar lagi datang, karena yang terdekat lagi ke TKP kebakaran di sumber sari." dan benar saja tak lama setelah kedatangan Devina, kilau lampu tanpa suara dari mobil damkar menyapa pengelihatan mereka.
Petugas pun dengan segera mengambil tindakan untuk meringkus si biang kerusuhan. Ini adalah kali ke empatnya mereka melakukan hal yang sama dipeternakan milik pak Hamid yang memang lokasinya berada paling dekat dengan hutan dan jauh dari pemukiman penduduk. Menurut mereka ini merupakan yang terbesar setelah beberapa bulan lalu yang hampir seukuran paha orang dewasa.
"Pagar sudah rapat dan kami buat keliling dengan bagian bawah yang ditanam kedalam tanah, tapi masih bisa ya mereka masuk." Devina mengusap dahinya setelah memikirkan cara binatang berdarah dingin itu bisa masuk dan memakan ayam-ayam dikandang mereka.
"Bisa jadi mereka mengikuti cabang atau dahan pepohonan untuk bisa masuk kemari buk." Jelas salah satu petugas.
__ADS_1
"Dan saya yakin yang seperti ini masih banyak diluaran sana."
Devina tengah membicarakan masalah keamanan kandang dari binatang-binatang liar yang cukup menjadi ancaman bagi ternak termasuk juga keamanan para pegawai yang berjaga dimalam hari.
Tiba-tiba Alfin datang menghampiri. Pria itu berdiri disisinya dan ikut mendengarkan penjelasan mengenai cara-cara yang bisa mereka terapkan untuk meminimalisir hal seperti ini kembali terjadi.
Setelah beberapa saat berdiskusi mereka pun akhirnya pamit dengan membawa ular tadi untuk diserahkan kepada pihak perlindungan satwa.
"Sudah kan?. Ayo pulang." Alfin terlihat gusar.
Devina bisa melihatnya dengan jelas dan ia sama sekali tak berniat untuk mengikuti pria itu lagi.
"Kenapa kamu masih disini?."
"Heh kecil!. Aku itu nungguin kamu!."
"Kamu pulang aja. Aku tidur disini."
"Tidur disini?. Sama orang laki-laki?."
"Disini ada mes untuk wanita. Jadi kami tidak tidur bercampur satu sama lain."
"Busuk juga lu ya sebenarnya." Alfin tersenyum remeh.
Didit dan beberapa orang lain melihat bagaimana Alfin mencemooh wanita itu dihadapan mereka lengkap dengan gayanya yang benar-benar membuat mereka gemas ingin melemparkan pria itu kehutan dibelakang kandang.
"Hati-hati mulut kamu Fin, kami disini kerja untuk peternakan. Kami mengenal satu sama lain dan saling menjaga untuk memberikan rasa aman. Tidak seperti kamu yang bisanya cuman menghina dengan omong kosong."
Devina bergerak meninggalkan pria itu menuju mes para wanita.
"Pintar banget kamu bicara." Alfin menahan pundaknya dengan sebuah cengkraman.
"Udahlah Fin, malu dilihat orang."
"Sekarang mending kamu pulang. Kasian pacar kamu kalo tahu kamu selingkuh sama cewek lain, dikandang ayam lagi." lanjutnya.
Alfin terkekeh, pria itu mengira jika Devina tengah cemburu kepadanya.
"Kamu cemburu?." Tanyanya hingga membuat Vina mengerutkan alis.
_
_
_
_
_
__ADS_1
tbc