
Devina memutuskan untuk absen dari pekerjaannya hari ini karena mata wanita itu yang masih tampak bengkak bahkan setelah ia mencuci wajah sekalipun. Ia kemudian mengirim pesan kepada Didit dan juga Lena untuk menggantikannya mengurus kandang.
Ia melihat Alfin yang masih setia mendengkur tepat dibawah tempatnya tadi terlelap. Pria itu sama sekali tak terganggu meski dirinya menimbulkan suara berisik didekatnya.
Bagaiman mana tidak berisik jika yang berbunyi adalah mesin vacum cleaner.
"Dasar!. Bisa-bisanya masih ngorok padahal suaranya keras gini." wanita itu menggeleng samar sembari terus melanjutkan pekerjaannya.
Pukul sembilan, perut wanita itu terasa melilit karena tak mendapat asupan makanan yang cukup sejak tiba diapartemen terlebih Alfin yang sama sekali tidak peka dengan urusan perut mereka. Hal itu membuat Devina memilih keluar untuk belanja.
Beruntung tempatnya tinggal tak jauh dari salah satu supermarket terbesar dikota itu. Hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar lima belas menit dan ia tiba dengan sekeranjang kebutuhan pokok juga sayur mayur dan buah-buahan yang akan memenuhi asupan gizinya hingga dua hari kedepan.
Sesampainya diapartemen ia belum juga melihat pria itu berpindah dari tempatnya berbaring. Wanita itu cukup eneg mendengar suara sumbang yang dihasilkan suaminya sendiri.
"Fin." Devina mencoba membangunkan si beban keluarga namun tak juga bergerak.
Devina kembali membiarkannya dan beralih pada urusan dapur untuk mengisi perutnya yang hampir mengamuk.
Tangannya dengan sigap memilah sayuran yang akan dimasak. Begitu juga dengan buah-buahan yang akan dimasukan kedalam lemari pendingin.
________
Besuamikan pria seperti Alfin tak lantas membuat Devina menjadi orang yang berbeda. Menurutnya tak ada yang berubah dari kehidupannya dari sebelum maupun setelah menikah dengan pria itu selain dari pada statusnya yang telah berganti.
Devina hampir menyelesaikan masakan terakhirnya ketika Alfin tetiba saja berdiri tanpa suara dibalik tubuhnya dan membuat wanita itu secara reflek memukul kepala pria itu menggunakan spatula kayu berlumur saus lada hitam disertai jeritan karena rasa syoknya.
"Sakit Devinaaa!."
"Lagian kamu ngapain sih diam-diam berdiri dibelakang orang!?." Omelnya penuh kekesalan.
"Aku cuman mau lihat aja."
"Makanya kamu tuh jangan diem gitu, bersuara kek apa gitu, biar aku gak kaget." Omelnya sembari memunguti potongan bawang bombai dan bulir-bulir lada yang tersangkut dirambut si Pria.
Alfin yang berjongkok tiba-tiba menangkap lengan kecil Devina yang tengah sibuk membersihkan kepalanya dari remah-remah bumbu. Tanpa diduga, pria itu justru menj**** telunjuk mungil berlumur saus hitam pedas dengan santainya.
Devina yang terkejut pun hanya bisa melongo dengan manik mata yang kian melebar.
"Kamu_
"Enak." Ucapan Alfin membuatnya semakin meradang.
"JIJIIIIIKKKK!."
__ADS_1
"Jorok Alfin!. kamu Jorok banget!!!."
Alfin dengan kecepatan seekor puma berlari menghindar dari kejaran pemburu yang siap memakannya hidup-hidup.
Tawa pria itu memenuhi apartemen miliknya.
_______
Sepiring capcay dengan dori filet krispi tersaji diatas meja makan lengkap dengan sup ala-ala salah satu resto cepat saji yang banyak digemari oleh anak-anak.
Devina membawa sepiring nasi panas miliknya ke atas meja kemudian meninggalkannya begitu saja untuk mengambil segelas jus melon rumahan yang rasanya tak kalah enak dari kedai bintang lima.
Wanita itu nyaris melemparkan gelas ditangannya saat melihat seseorang telah duduk santai sembari menyuapkan nasi dengan lauk yang tersaji dimeja makan tanpa seizinnya.
"Masakan kamu enak." Komentar pertama yang diucapkan Alfin kepada wanita dengan tatapan bak pemangsa yang tengah lapar.
"Tapi sayang porsinya dikit banget."
"Segini sih cukup buat satu orang doang."
"Tapi gak papalah, yang penting enak."
Pria itu terus saja mengulang kalimat yang sama sampai menghabiskan sepiring nasi yang bukan miliknya.
"Ternyata duit halal tuh kaya gini ya rasanya." Alfin terkekeh diantara senyapnya ruang apartemen. "Enak dan mengenyangkan."
Devina melirik tak suka kepadanya meski telah berkali-kali dipuji. Wanita itu memilih meredam emosinya sembari mengambil sepiring nasi untuk mengisi perutnya dengan lauk yang tersisa. Tak sedikit pun ia berniat menjawab ucapan si beban keluarga sekalipun hanya isyarat mata.
Devina mencoba untuk tetap fokus menikmati masakan yang dihasilkan oleh tangannya sendiri. Hal itu sama halnya dengan menghargai apa yang sudah tuhan anugerahkan kepada kita dikala sehat.
"Vin, gue mau tanya sesuatu. Boleh?."
Devina menaikan sedikit pandangannya untuk melihat keseriusan diwajah Alfin.
"Sebenarnya_
TIING! _ Bel pada pintu apartemennya berbunyi dan membuat pria itu memutus ucapannya.
"Siapa sih, bertamu pagi-pagi." Ia menggerutu dalam langkahnya menghampiri pintu.
Alfin melihat layar CCTV yang terpasang disamping pintu besi itu dan mendapati wajah Edo tengah tersenyum manis ke arah kamera.
"Lu ngapain sih datang kerumah orang jam gini?."
__ADS_1
"Gue lagi lari pagi ternyata sampe sini juga ujungnya."
"Bau masakan Fin." Edo mengendus aroma gurih yang menguar didalam ruangan.
"Bini gue masak."
Pria itu seketika menepuk jidatnya. Ia lupa jika Devina kini ikut menempati apartemen penuh sejarah milik pria tampan yang tengah menyambutnya dengan style rumahan tersebut.
"Lupa gue kalo lu udah punya bini."
"Eh, jadi ini gue ganggu gak?."
"Kalo iya, gue pulang." ucapnya beruntun tanpa jeda.
"Omongan lu sok perhatian." Mulut Alfin berdecak. "Udah, Kita ke atas aja!."
Dibagian paling atas gedung terdapat coffee bar milik pengembang properti yang sengaja dibuka untuk umum, hanya saja akses masuknya harus menggunakan lift khusus yang berada disisi luar gedung jika pengunjungnya bukan pengguna apartemen tersebut.
_________
Devina tengah bersantai dibalkon setelah membersihkan sisa-sisa kotoran yang menyampah didalam wastafel. Wanita itu menyalakan laptop dan seketika itu puluhan email memenuhi kotak masuk saat ia membuka account miliknya.
Satu persatu ia membaca kemudian membalasnya jika memang diperlukan. Berawal dari nama Lena yang berada dibagian paling atas hingga akhirnya ia sampai pada email masuk terakhir yang membuatnya cukup terkejut.
Hatinya kembali berdesir kala matanya membaca nama si pengirim.
..."Hai kamu, apa kabar?. Mudahan baik ya,...
...Selamat untuk pernikahan kalian,...
...Aku gak nyangka akhirnya kamu bisa move on setelah sekian lama....
...Dulu ku pikir aku udah terlalu jahat sama kamu, tapi sekarang aku bersyukur kamu bisa dapat yang lebih baik dari aku....
...Vin, aku bener-bener minta maaf untuk masalalu kita....
...Aku sadar, salah ku waktu itu tidak memperjuangkan hubungan kita dan justru meninggalkan mu hanya karena perjodohan yang dibuat oleh mereka....
...Aku benar-benar menyesalinya, maaf....
...Semoga kamu bisa bahagia dengan pria pilihan mu."...
^^^kenzi***^^^
__ADS_1