
"Cemburu?." Devina mengulang pertanyaan Alfin padanya.
"Ya, kamu cemburu aku punya cewek."
"Siapa?. Rosi maksud kamu?. Model yang udah gak laku itu?."
Alfin mengepalkan tangan saat Devina mengatai kekasihnya model tak laku.
"Sory Fin, gak sebanding sama harga diri aku buat iri ataupun cemburu sama pacar kamu."
"Tapi dengan begini bukannya semakin jelas?."
"Apanya?."
"Kalau kamu cemburu sama dia."
"Fin, aku bukan orang udik. Aku udah lama tinggal di kota dan aku tahu siapa Rosi. Aku juga gak asing sama kebiasaan kalian dengan kehidupan malam dan s*x bebas."
Alfin masih diam menyimak dengan rahang yang kian mengetat.
"it's your choice Fin."
"Tapi tolong lah buat kamu untuk bisa hargai orang lain, aku juga punya pilihan sendiri dan menikah sama kamu bukan berarti aku harus patuh dan tunduk sama kamu. Bahkan harga diri kamu aja gak sebanding sama ayam-ayam pak Hamid Fin, pikirkan itu!."
Kerongkongan pria itu seperti baru saja menelan biji kedondong. Ia tak bisa bicara untuk melawan wanita dihadapannya yang kini benar-benar meninggalkannya untuk masuk kedalam mes para pekerja wanita.
Beruntung saat mereka berdebat tadi orang-orang sudah tak berada disana. Setidaknya itu bisa mengurangi rasa malu dan kesal yang tengah menyelimuti dirinya saat ini.
Devina meninggalkannya sendiri dalam diam, dalam gelapnya suasana peternakan dimana jam telah menunjukan pukul sepuluh malam.
_
_
_
Alfin pulang tanpa membawa Devina bersamanya. Ia membiarkan wanita itu dengan penolakan yang tadi diucapkan kepadanya.
Pria itu memilih kembali ke apartemennya. Ia juga membatalkan pekerjaannya malam ini dan meminta seseorang untuk menggantikan jadwalnya kepada pihak club.
***
Alfin melangkah dengan kaki yang teramat berat. Pikirannya masih berkubang tentang harga dirinya yang tak sebanding dengan ayam dipeternakan.
Ayam?🐔🐓
"BANGS********TTT!!!."
Tangannya dengan ringan meninju standing mirror yang berdiri tepat dibalik pintu masuk unitnya hingga menyebabkan kaca itu pecah berkeping-keping mengotori lantai dan meninggalkannya begitu saja ke kamar mandi.
"Devina, Devina." Ia terkekeh.
"Kamu itu baru mau jadi istri ku aja udah berani ngata-ngatain, pake ngehina Rosi pula!."
Alfin bermonolog dengan pantulan dirinya yang ada pada cermin dikamar mandi setelah mencuci tangan untuk menghilangkan lelehan darah yang merembes melalui luka cucuk ditangannya.
"Kamu pikir kamu siapa?."
"Kamu itu orang asing, orang baru, orang sok tahu, sok pintar."
"BANGS***************." Hampir saja ia meninju kaca dihadapannya saat suara bell pada unit apartemennya berbunyi.
Sejenak ia terdiam masih dengan menatap kaca sebelum akhirnya memilih untuk mengeringkan tangan dan membuka pintu.
Seorang wanita tengah berdiri diluar menenteng paperbag bertuliskan sebuah kedai kopi ternama dengan label Queen hijau.
__ADS_1
"Hai honey!. Kamu lesu banget?." Rosi memberinya sebuah kecupan dan berlalu begitu saja setelah melihat kepingan kaca yang berserakan.
"Ya ampun, kenapa berantakan banget sih!?." Wanita itu menyingkirkan celana jeans dan kaos kaki yang tercecer dari atas sofa kelantai. Lalu meletakan barang yang ia bawa tadi diatas meja kaca yang tak kalah kotornya seperti bak sampah dengan tumpahan abu rokok beserta puntungnya dan beberapa kaleng bir yang telah kosong.
"Besok panggil tukang bersih-bersih ya. Aku juga gak betah kalo berhambur begini." Keluhnya dengan suara manja.
Alfin hanya diam sembari mengamati bagaimana wanita dengan dua wajah itu tengah meminta perhatian dari dirinya.
"Kamu kok diem aja sih sayang. Aku udah sempetin buat kesini karena dari tadi aku teleponin kamu gak nyambung." Lagi, wanita itu mengeluh.
"Tangan kamu kenapa?. Atau jangan-jangan kamu yang mecahin kaca dipintu itu?." Tanyanya terkejut saat menyadari ada sesuatu yang tak beres dengan kekasihnya.
"Dimana kotak P3K nya?."
Alfin tetap diam. Ia sama sekali tak merespon pertanyaan Rosi.
"Sebenarnya ada apa sih Fin sama kamu?. Kalo kamu tetap diam seperti ini gimana aku bisa tahu coba?."
Pria itu merebahkan tubuhnya diatas sofa. Ia mencoba memejamkan mata saat tangan Rosi terasa merambat naik diatas pahanya.
"Ros, aku lagi gak mood."
"Aku bakal terus godain kamu kalo kamu masih gak mau ngaku."
"Aku gak papa, lagi capek aja."
"Capek apa?. Kamu bahkan gak perlu banting tulang buat dapet duit banyak."
"Singkirin tangan kamu Ros."
"Ayolah Fin, sekali aja."
"Badan aku capek banget."
"Ish, kamu gak asik."
"Enggak mau, aku udah cocok sama punya kamu."
"Pijitin kaki ku dulu, gimana?."
"Ih, gak mau. Jorok!."
"Jorok apanya?. Aku udah cuci kaki kali."
"Aku tuh gak pernah mijitin kakinya orang tau!!."
"Makanya kaki ku dulu sebagai percobaan."
"Enggak!. Udah ah, kamu gak asik." Rosi menyambar tasnya dan memilih pergi untuk meninggalkan pria itu sendiri dengan rasa galaunya.
______________
______________
Edo menyambangi apartemen Alfin dipagi hari setelah semalaman tak bisa menghubunginya.
Pria itu mendapati wajah bantal temannya saat membuka pintu.
"Jam berapa Bos!?."
"Paan sih elu pagi-pagi udah bikin ribut ditempat orang. Ganggu aja!." Gerutunya sembari meninggalkan Edo begitu saja.
"Gue kirain elu dicolong kolong wewe dari semalam gak ada kabar."
"HP gue mati." Alfin menghempaskan tubuhnya diatas sofa untuk kembali memejamkan mata.
__ADS_1
"Lah, si Rosi gak ada kesini semalam?."
"Ada, tapi langsung pulang."
"Kenapa?."
"Gue suruh mijitin kaki tapi dia gak mau."
Edo terbahak-bahak karenanya. "Ya iyalah dia gak mau, kukunya bisa patah dong boy!. Jatuh harga diri."
Ucapan Edo mengingatkannya dengan Devina dan membuatnya seketika kembali meradang.
"Bisa gak lu jangan ngebahas harga diri disini?."
"Kenapa?." Edo melirik kearahnya. "Ada yang ngejatuhin harga diri elu?."
"Devina."
"Devina?. Calon istri elu?."
"Gak usah juga disebut itunya, bangs*t!." Alfin melemparkan bantalan kakinya kewajah Edo.
"Ya kan bener, apanya yang salah sih."
"Ya elu seharusnya gak bawa-bawa status dong!. Elu sengaja banget cari masalah kalo begitu!." Pria itu benar-benar kesal dengan Edo si pria narsis.
"Emang dia bilang apaan?."
"Mau tau aja atau mau tau banget?."
"Deh sumpah, elu manusia paling nyebelin tau Fin."
"Ya kan gue nanya kenapa elu yang emosi?."
"Lah kan tadi elu yang bikin gue penasaran, blek-geblek!."
"Dia bilang harga diri gue gak lebih tinggi dibanding ayam-ayam ternak. Kebayang gak lu kalo digituin ama perempuan yang bakalan jadi bini elu?."
"Cie .. ngomongnya udah bini aja nih abang sate!."
"Kampret, lu kenapa malah ngolokin sih, bukannya prihatin juga temennya di hina."
"Coba kasih jelas ke gue harus gimana?." Edo menarik remot TV untuk menyalakan layar hitam itu untuk menemani pagi mereka.
"Ya se_enggaknya tu elu ngerasa kalo itu tu bener-bener menghina harga diri kita sebagai seorang pria."
"Lah?. Kan yang dihina elu, bukan gue. Lagian kan emang elu nikah sama dia niatnya bukan untuk membina rumah tangga beneran toh?. Niat lu cuman buat dapetin warisan, jelek gak tuh?."
"Jelek apaan?."
"Ya jelek Fin, elu nikah sama dia cuman gara-gara harta warisan dan itu tuh karena elu yang gak mau nerusin perjuangan bokap lu. Coba bayangin deh segimana kecewanya orang tua elu sama pilihan itu?."
"Oooh, jadi sekarang elu mihak bokap gue nih!?."
"Sory bro, gue gak mihak siapa pun. Tapi gue memposisikan diri seandainya gue punya anak kayak elu."
"Dih, ogah kali punya bapak kaya elu."
"Apalagi gue, euh boroo-boroo punya anak modelan elu,,,deuhh amit-amit jabang bayik!."
"Sialan!." Alfin kembali melemparkan sendal rumahan yang semula melekat dikakinya kepada Edo yang tengah menepuk-nepuk bantalan sofa dipangkuannya.
_________
_________
__ADS_1
tbc.
hola hola hola ...