
..........
"Ambil."
"kamu tahu gak ini baju mahal dan bisa-bisanya kamu bikin jadi alas kaki?!." Ucapnya sembari mengangkat sepotong kain tadi tepat didepan wajah Devina.
Wanita dengan rambut kuncir kuda itu melirik Alfin dengan tatapan menghunus dan membuat si pria langsung menarik kedua bahu Rosi untuk menyingkir dari hadapannya.
"Pakai baju kamu dan cepat tinggalin apartemen ku."
"Lepasin Fin!." Pekiknya sedikit kuat, "Kamu apa-apaan sih!?. Bukannya ngebelain, malah jadi ngusir gini.!."
"Ini demi keamanan bersama. Kamu aman, aku juga aman. Oke honey?." Alfin menggiring tubuh Rosi sampai diambang pintu dan mendapati jika Edo juga berada disana.
"Ow...Ow...Ow..." Pria itu mengangkat kedua tangannya saat melihat Alfin mengeluarkan paksa kekasihnya dari dalam.
"Ada kehebohan apakah ini?." Edo menjauhkan diri saat Rosi akan memukulnya.
"Udah Ros!. Pake baju kamu yang bener."
"Fin!. Aku gak nyangka kesetiaan kamu hanya sebatas ini!."
"Kesetiaan apa lagi sih yang kamu bahas?."
"Kamu lebih ngebela dia dari pada aku yang jelas-jelas pasangan kamu!."
"Nanti aja kita bahas itu, sekarang benerin dulu baju kamu terus pergi dari sini. Katanya tadi kamu ada pemotretan di Sanur, ya kan?."
"Tapi_
"Ya sudah cepetan, nanti kamu terlambat." Alfin menggiringnya sampai didepan pintu elevator. Menekan tombol turun dan membiarkan wanita itu masuk dengan sendirinya.
_____________
Alfin telah kembali ke kamar dan mendapati jika Edo juga sama tegangnya saat beradu tatap dengan Alma.
"Sory Al, gue gak ada niatan buat ikut campur." Edo tersenyum canggung setelah melihat dua wanita pak Hamid ternyata telah menempati posisi mereka pagi tadi.
Alfin melihat bagaimana Devina yang terpingkal-pingkal menertawakan lawakan artis W tadi sampai-sampai membuat pria itu jengkel dan mematikan acara tak berguna yang menjadi hiburan wanita itu sejak tadi.
"Kenapa dimatikan sih!?." Alma memprotes Alfin yang kini berdiri dihadapan mereka dengan remot tv.
"Kalian juga keluar dari sini!." Perintahnya yang membuat Alma kembali memprotesnya namun tidak begitu dengan Devina, wanita itu menarik tali tasnya dan berdiri untuk melangkah.
"Vin, Kita gak bisa tinggalin dia gitu aja. Kita harus bawa dia keluar supaya kena sinar matahari." Ucapan Alma membuat kedua pria itu mengerutkan alis mereka.
"Emang kenapa sama sinar matahari?." Tanya Edo yang tak mengerti maksud Alma.
"Biar jinnya pada ilang dari badan dia. Sekalian elu kalo bisa, jadi gak dia doang yang ilang, elunya juga ikut ilang."
"Wah, ya jangan dong!. Apakabar temen kita diclub?."
"Al, udah biarin aja." Devina mencoba untuk membujuk Alma agar mengurungkan niatnya semula.
"Kita jadi ikutan bau entar." Lanjutnya.
"Maksud elu apa!?." Emosi Alfin kembali tersulut.
"Ya udah, yuk!." Alma kemudian berdiri mensejajari Devina yang memiliki tinggi tak lebih dari telinganya.
Alfin justru menarik lengan atas Devina untuk mendekat kepadanya. "Coba ulangi!?." Geramnya tertahan.
"Bau, Alfin!."
__ADS_1
"Heh!!!. Asal lu tahu ya, gak semua laki-laki diluar sono suka sama perempuan sombong dan sok-sokan kaya elu!. Boncel!."
"Ecieee yang berani tarik-tarik lah padahal belum sah!." Edo menggoda dan langsung disambut gelak tawa dari Alma hingga membuat Pria tadi lantas melepaskan tangannya dari si wanita dan langsung meraih bantalan sofa untuk melempar Edo yang sama terbahaknya dengan Alma.
"PERGI KALIAN SEMUA DARI SINI!. PERGI!!."
Edo meninggalkan ruangan kotor itu bersama Alma yang masih terbahak-bahak setelah melihat kekonyolan saudara lelakinya sendiri.
Devina menyusul dibelakang mereka dengan langkah santainya. Ia tak menyadari jika Alfin tengah mengikuti dirinya sembari mengukur tinggi perempuan itu yang hanya setiinggi dadanya yang berarti sebahu kurang tiga centimeter.
Pria itu diam-diam tersenyum, ia merasa lucu dengan perempuan yang beberapa hari lagi akan dinikahinya itu. "Pendek."
"Fin!."
Alfin diam dengan melipat bibirnya. Ia sadar jika Devina pasti mengetahui kelakuannya barusan.
"Dev."
Wanita itu berhenti tepat dipintu kemudian menoleh untuk melihat lawan bicaranya.
"Minta duit dong?."
"Uang?. uang apa?."
"Duit buat pesen gojek. Gue belum sarapan si Edo pergi noh barusan."
Devina menambah lekukan didahinya. Jelas saja ia tak mengerti maksud dan tujuan pria itu meminta uang kepadanya. Selain itu ia juga mengantisipasi adanya tindak penipuan ataupun pembodohan mengingat jika pria itu tidak mungkin sampai membiarkan saldonya kosong melompong.
"Enak aja minta-minta. Kerja sana biar dapet duit." Wanita itu berbicara seperti ibunya.
"Ya elah Dev, cepek doang!."
"Minta sama pacar kamu."
"Dih!. Ngaku-ngaku."
"Cepek doang Devina!."
"Gak ada!."
"Lu pelit banget sih!."
"Kamu juga pemaksaan."
"Cepek doang buat makan."
Lucu, benar-benar lucu melihat bagaimana pria sepertinya mengemis selembar uang kepadanya yang jelas - jelas enggan untuk memberi.
"Rekening aku beku Devina, please!."
Senyum wanita itu seketika merekah secara tak sadar. Ia membayangkan bagaimana pria sepertinya perlahan akan jatuh miskin dan menggembel jika tidak bekerja.
Devina tahu jika pak Hamid telah mengeluarkannya dari daftar karyawan untuk menyetop setoran yang biasa pria itu terima cuma-cuma ditiap bulannya.
"Kamu kan kerja, kenapa malah ngemis uang sama aku?."
"Ya elah tujuh juta doang Dev, ya udah abislah!."
"Tujuh juta sebulan?." Tanya Devina yang terkejut lantaran tak percaya dengan ucapannya.
"Perdua minggu."
"Gila kamu Fin, kamu ngabisin duit segitu cuman buat foya-foya?."
__ADS_1
"Ya elah itu mah gak seberapa sama gaji elu."
"Fin, mending kamu cari ustadz deh buat bantu ngeruqyah supaya jin-jin yang bersarang dibadan kamu pergi."
"Iya besok gue cari, sekarang minta dulu cepeknya. Laper ini!."
Dengan sangat dan amat terpaksa wanita itu mengeluarkan selembar merah uang kertas yang mendiami palung tasnya.
"Nih!."
"YES!!." Alfin menerimanya dengan senyum lebar.
"Sekali ini aja dan gak ada duit geratis selanjutnya."
"Gak janji!."
"Alfin!." Pria itu mendorongnya keluar dan dengan cepat menutup pintu apartemennya sebelum negara api kembali menyerang.
__________
__________
"Kamu seriusan mau langsung ke kandang abis ini?." Tanya Alma yang saat itu tengah menikmati salad buah buatan sang ibu.
"Dirumah aja dulu Vin, istirahat."
"Nah bener tuh, emang gak capek apa kamu ke kandang setiap hari?."
"Enggak, justru dikandang aku bisa dapat banyak hiburan."
"Hiburan apa?."
"Macam-macam. Beda tempat beda juga hiburannya."
"Maksud kamu?."
"Kalo kandang yang di Arjosari kita bisa manen buah mangga sam jeruk bulan ini. Soalnya disana lagi musim."
"Terus yang di Pawangdesa, orang-orang disana lagi pada tanam semangka dua bulan lagi baru panen dan biasanya kalo panen tuh kita juga dianterin."
"Udah dari dulu sebenarnya, cuman kalo dulu itu tanaman mereka bukan buah tapi umbi-umbian sama padi gunung." Bu Fatimah ikut menambahi.
"Nah tuh, bener kata ibu." Devina membenarkan ucapan calon ibu mertuanya tersebut sebelum memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat ketiganya berkumpul.
"Vina pergi ya bu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Salamnya dijawab oleh ibu dan anak yang sejak tadi ada bersamanya.
Devina kembali melanjutkan pekerjaannya setelah libur beberapa jam untuk membeli barang-barang yang diinginkan untuk pernikahannya nanti dengan Alfin si tampan yang kian melarat.
_
_
_
_
_
tbc.
__ADS_1