
Apartemen Alfin kembali berbunyi pagi itu namun bukan si pemilik yang membukanya melainkan Edo, si narsis.
Pria itu mendapati Rosi sudah berdandan cantik seperti biasa. Wanita itu melenggang masuk dan mengabaikannya begitu saja tanpa basa-basi karena telah membukakan pintu untuknya.
"oh awas kamu ya bunglon." Edo mengumpat dalam hati.
"Hai honey!." Rosi langsung memeluk sang kekasih yang masih dalam mode malasnya.
"Kamu mau kemana udah dandan cantik pagi-pagi?." Tanya Alfin dengan nada santai.
"Aku mau ada pemotretan di sanur, aku kesini rencana mau pamit. Tapi gak tahu kalo ada dia disini." Wanita itu menunjuk Edo dengan lirikan matanya.
"Ya terus?. Duluan gue kesini dari pada elu kali." Edo nampak sewot dengan jelmaan bunglon tersebut.
"Ya harusnya kamu nyingkir dulu lah tahu aku ada disini." balasnya tak kalah ketus.
"Oke!. Gue persilahkan elu berdua kalo mau nanam bibit tapi inget, jangan lama-lama. Terutama elu!." Edo menaikan bibirnya untuk mencibir.
"Aku lagi gak mood sayang." Alfin tampak malas setelah mendengar ucapan sahabatnya tadi.
"Gue pergi dulu, kabarin kalo cewek lu udah pergi."
"Hush ... hush ..." Rosi mengibaskan tangannya untuk mengusir Edo yang berjalan meninggalkan keduanya.
"Minta dikepret juga ni cewek!." Pria itu menaikan sikunya dengan cepat dan membuat wanita tadi bersembunyi dibalik sofa bersama Alfin yang masih duduk dengan tenangnya tanpa terganggu.
******
Edo meninggalkan keduanya, pria itu keluar mencari angin sembari menunggu Alfin kembali menghubunginya. Ia memilih memasuki cafe yang berada tepat diseberang gedung apartemen Alfin ketimbang harus memutar arah dengan mobilnya hanya untuk membeli segelas late.
....Sementara itu,
Alma akan mengantar Devina kesebuah butik emas untuk memesan cincin pernikahan dan juga membeli sendiri mahar yang diinginkan oleh wanita itu.
"Kita ajak Alfin juga ya?." Tawaran Alma dan membuat wanita itu menggeleng samar.
"Mending kita aja Al. Ribet belanja sama dia, belum tentu juga dia udah bangun jam segini."
"Bener juga sih, tapi gak papalah. Biar sekalian dia olahraga kan dia hidupnya cuman malem doang."
Alma tanpa ba bi bu langsung memutar arah kemudinya tepat dipertigaan jalan yang mengarah pada apartemen Alfin.
_________
Rosi sudah menanggalkan atasannya untuk menggoda sang kekasih yang masih saja tak menunjukkan tanda-tanda ketertarikan.
"Kamu kenapa sih, tumben banget gak semangat gini?."
"Aku capek Ros, dari semalem juga sudah aku kasih tahu kamu."
"Aku pijitin ya?." Ia mengedip manja.
__ADS_1
"Kepala aku lagi pusing sayang."
"Kamu issh, gak asik. Aku udah topless gini lagi."
Alfin bisa melihat ada bercak samar dipundak atas kekasihnya itu yang mungkin tak disadari.
"Buatin aku kopi dong." Pintanya untuk melihat seperti apa rupa punggung si dia.
"Kok kopi sih!. Gak air putih aja?."
"Enggak, aku udah minum tadi."
"Oke, tunggu ya."
Rosi berlalu tanpa bajunya, beruntung wanita itu masih mengenakan bra untuk menutupi bagian sensitif dibagian atas tubuhnya.
Dugaan Alfin memang benar, ada beberapa bercak yang terlihat samar dan hampir memudar dipunggung atasnya.
Pria itu tersenyum miris melihat kekasihnya menjadi peliharaan banyak pria yang jelas tidak ia ketahui siapa dan bagaimana rupanya.
Disaat itu seseorang menekan bell pada pintu miliknya. Alfin mengira jika itu adalah Edo dan langsung saja membuka tanpa melihat monitor kecil yang menampilkan wajah Alma pada layarnya.
"Apaan sih lu udah balik aja?."
Alma mengerutkan dahinya saat melihat rupa sang kakak yang hanya mengenakan boxer tanpa kaos untuk menutupi bagian atasnya.
"Minggir!." Wanita itu mendorong tubuh Alfin untuk membuka jalan agar dirinya bisa masuk.
"Al?."
Alfin langsung mengejar langkah Alma yang sudah mendahuluinya hingga wanita itu berhenti ketika matanya bersirobok dengan si dia yang tengah membawa secangkir kopi dengan tubuh setengah naked.
PRAAAAANNNKKKKK!
Cangkir berisikan cairan panas itu jatuh dan pecah mengotori lantai.
Rosi sama terkejutnya dengan Alfin. Wanita itu buru-buru menyilangkan kedua tangannya didepan dada untuk menutupi aset yang bukan milik pribadinya. (?)
"Kamu ngapain sih masuk-masuk kesini?. Sama dia lagi!" Alfin membentaknya yang kemudian hanya dibalas dengan senyum sinis oleh Alma.
"Sory, aku gak tahu kalo kamu lagi pelihara ayam disini." Adik perempuannya itu menatap jijik kepada Rosi yang masih berdiri di hadapannya dengan mata membesar.
"APA KAMU BILANG!? AYAM?!." Emosi Rosi tersulut karena kata-kata Alma yang menunjuk dirinya ayam.
"Kenapa?. Marah?!."
"Al, baiknya kamu keluar dari sini." Alfin menyuruh Alma untuk pergi.
"Enggak!. Harusnya dia yang pergi, bukan aku!." Alma menunjuk wajah Rosi yang saat itu telah terbakar oleh amarah.
"Kurang*****!."
__ADS_1
Alfin dengan sigap menangkap tangan kekasihnya yang melayangkan sebuah tamparan kepada Alma.
"ROSI!!!."
"Lepas Fin!."
"Mau tampar aku?." Alma justru mencibir usaha Rosi yang terhalang oleh Alfin.
"Jaga mulut mu!." Rosi menggeretakan giginya.
Disaat itu sebuah kikikan menelusup diantara ketegangan yang terjadi.
Devina, wanita itu tidak mengikuti jalannya perseteruan diantara ketiga manusia yang ada bersamanya. Ia justru menyibukan diri dengan menonton lawakan konyol dari artis tanah air yang tampil pada sebuah progam hiburan disalah satu stasiun tv swasta.
Vina terbahak-bahak menertawakan kelucuan yang dibuat oleh artis berkepala plontos dengan inisial 'W' itu sambil memukuli bantalan sofa yang ada dipangkuannya.
"Heh, lu gila ya?." Alfin menegur tingkah laku si wanita yang saat itu masih tertawa hingga menghabiskan suaranya.
Rosi dengan cepat memunguti barangnya yang saat itu berada disofa yang sama dengan Devina namun mulutnya seketika menjerit saat melihat potongan kain yang semula ia kenakan kini sudah berada dibawah kaki wanita yang tengah asik dengan tawa bahagianya itu.
Betapa terkejutnya Rosi menyaksikan pakaiannya yang baru saja dia beli dari sebuah store dengan merk ternama dunia itu teronggok bagai selembar kain pel.
"KAMU!!!." Pekiknya penuh emosi.
Devina yang masih asik pun tak menggubris suara sumbang yang nyata terdengar memenuhi pendengarannya.
"Dasar Sampah!."
Tawa Devina seketika hilang saat seseorang menyebutnya sampah. Wanita itu berpaling dari layar tv ke wajah kesal Rosi.
Ditatapnya kekasih dari calon suaminya itu dengan wajah inoncent yang membuat Rosi semakin terbakar amarah.
"Kamu mau ambil ini?." Vina menarik potongan kain berwarna maroon dari bawah kakinya kemudian meletakannya diatas meja yang penuh dengan abu rokok dan juga bekas tumpahan air.
Rosi semakin mengeraskan suaranya saat melihat bagaimana pakaian miliknya yang dirancang oleh desainer ternama bisa tak berdaya ditangan wanita asing tersebut.
"KAMU BEG♡ YA?!." Bentaknya penuh emosi.
Kini giliran Alma yang terbahak-bahak. Ia tak menyangka jika Devina akan seberani itu menghadapi kekasih dari calon suaminya sendiri.
sedangkan Alfin, pria itu hanya bisa mengusap kasar wajahnya saat melihat bagaimana dua wanita berpengaruh dalam hidupnya itu saling menatap dengan emosi masing-masing.
_
_
_
_
tbc.
__ADS_1
hai hai hai, pembaca cerita nut nut🐛 gimana nih kabarnya ditanggal tua ini?. Mudahan tetap semangat ya, 🐓🐔 menyambut tanggal muda yang masih seminggu lagi, hihihi...
Canda ya gaes biar gak tegang, 😝 Cukup bang Alfin yang tegang ngadepin tiga perempuan sekaligus.