
Seminggu menjelang pernikahannya, Vina masih saja berada dipeternakan untuk mengurusi ayam-ayamnya yang baru dipindahkan dari ruang penetasan. Wanita itu tak pernah memikirkan hari spesial yang akan berlangsung beberapa hari lagi sampai seorang pria datang menemuinya.
Alfin mendatangi Devina yang tengah berjongkok diantara keranjang yang berjajar rapi berisikan anak-anak ayam pilihan.
"Elu emang gila kerja ya!." Pria itu menyapa dengan kalimat yang sangat tidak berbobot dan membuat wanita itu memilih untuk mengabaikannya.
"Panas, bau, elu gak pengap apa lama-lama duduk disini?."
Devina menoleh dengan wajah yang tertutupi masker. Wanita berbaju hitam itu tampak malas saat melihat keberadaan pria tak diundang tersebut.
"Kamu ada perlu apa?."
"Mama itu dari tadi nelponin aku buat fitting baju sekalian sama kamu."
"Tunggu sebentar lagi." Jawabnya tak acuh dan membiarkan pria itu tetap pada posisinya.
Alfin masih tak habis pikir mengingat ucapan Edo yang menyuruhnya untuk serius dengan wanita yang tengah sibuk memandangi ratusan bayi ayam didalam keranjang dan seolah tak peduli terhadapnya.
"Lu ngapain sih?." Tanyanya bingung melihat Devina yang hanya diam melihat ayam-ayam kecil itu sembari berpindah dari satu kotak ke kotak lainnya.
"Bisa dipercepat gak acara mata-mata yang lu kerjain?."
Devina akhirnya mengalah dan berdiri, namun bukannya menuruti pria itu ia justru menempelkan lembar sampel dengan sebuah bolpoin ditangannya kedada si pria.
Alfin yang terlalu bodoh pun hanya bisa menerima dengan tatapan bingung.
"Bantuin, biar cepat selesai!."
"Ogah!. Gak ngerti gue!."
"Makanya belajar."
"Lu aja, gue tunggu dimobil."
"Inget Fin, warisan kamu ada ditangan ku." Kata-kata Devina yang terkesan santai nyatanya mampu membuat seorang Alfin Prambudi ciut dan tak berani melawan.
Pria itu menghela nafas kasar saat Devina menyuruhnya mengangkat keranjang berisi baby bulu tadi untuk dipindahkan keruang penghangat.
"Geli gue." Gerutunya yang masih terdengar oleh telinga Devina.
"Sumber duit elu Fin, inget!."
"Iya iya iya iya bawel lu ah!. nih gue angkatin!."
Kecerobohan Alfin saat memegang keranjang membuatnya berujung apes yang tak bisa dimaafkan oleh Devina.
Pria itu hanya mengangkat disatu sisi dan meninggalkan sisi lainnya hingga mengakibatkan anak-anak ayam yang ada didalamnya ikut terguling lalu tumpah kedalam keranjang lain dibawahnya dan Karena kesalahan itulah kini Alfin harus bekerja dua kali untuk memisahkan kembali bibit-bibit unggul itu dengan perasaannya yang benar-benar kacau akibat bau ruangan yang jelas telah meracuni jiwa dan raganya.
Secepat kilat pria itu berlari keluar untuk menuntaskan gejolak perutnya yang sejak tadi ia tahan. Wajahnya yang semula tampan kini telah berubah pucat dengan bulir-bulir keringat dingin yang membasahi dahinya.
Devina jelas telah memenangkan babak uji coba. Wanita itu kini tengah tertawa diatas penderitaan orang lain. Ia melihat bagaimana pria itu mencoba bertahan hingga detik terakhirnya.
Kemeja biru laut yang dikenakan Alfin kini telah basah oleh keringat, begitupun dengan celana skin fit yang membalut kaki panjangnya tampak kotor karena sempat terpeleset saat melompati galian paret untuk aliran air tandon yang seringkali meluber saat pengisian.
"DEVINAAAAAA!!!!." Pria itu memekik kesal diteras kandang.
__ADS_1
Sendirinya tak mengerti mengapa ia bisa begitu bodoh dan mau saja menuruti perkataan perempuan bertubuh 'semampai' tersebut. (sebahu masih tak sampai)*
Tawa Devina memenuhi ruangan kala wanita itu mendengar teriakan Alfin dari luar kandang. wanita itu tengah membayangkan bagaimana rupa si anak pemilik peternakan yang tak lagi tampan seperti saat pertama kali tiba.
"DEVINAAA ... TANGGUNG JAWAB LOE!!!."
Suara Alfin yang begitu kuat menimbulkan kehawatiran bagi sebagian karyawan yang melihatnya. Pria itu lepas kemejanya dan memilih untuk bertelanjang dada karena rasa gerah akibat keringat yang terus menerus keluar membasahi tubuhnya.
Devina keluar dengan wajah bahagia. Wanita itu benar-benar tak memiliki rasa iba kepada calon suaminya yang hampir mati keracunan setelah mencium aroma kandang ayam.
"Kenapa?."
"Tanggung jawab boncel!."
"Dih!. Maaf aja ya, itukan salah kamu sendiri bukan aku."
"Tapi gara-gara elu gue hampir mati!."
"Inget Fin, Warisan!."
"Ngancam terus lu ya beraninya!." Pria itu melayangkan baju kotornya tepat kewajah Devina.
"PRAMBUDI!."
"Apa?. Marah!?."
"Jorok!!."
"Rasain lu, makan tuh bekas keringet gue!."
Melihat tangan Devina yang siap melemparkan kembali baju kotornya, pria itu dengan cepat berlari menghindari si wanita yang ternyata malah mengejarnya.
"Kan gara-gara elu juga!."
"Salah sendiri sok kuat!." Balas Devina dengan terus mengejar si kampret.
"Lu yang pake ngancem gue!."
dan ...
"Aaaaahhhh!."
Dua kali, pria itu kembali apes karena masuk kedalam lubang drainase yang tertutup oleh jerami juga dedaunan kering dibagian atasnya.
Sungguh hiburan bagi Devina bisa melihat nasib kurang mujur Alfin yang berkali-kali harus merasakan sakit karena ulahnya sendiri.
"Udah Vin!. Udah!. Gue nyerah ... capek!." Alfin merangkak naik dengan sisa-sisa tenanganya.
"Rasain!. Emang enak masuk kubangan!." Wanita itu terkekeh geli hingga mengeluarkan air mata setelah melihat bagaimana rupa pria yang menjadi kekasih seorang model tak terkenal itu kini tergeletak tak berdaya diatas tumpukan jerami.
"Udah Vin!. Capek!. Panas, gerah, laper, gatel badan gue." Ucapnya kian melemah.
Devina bisa melihat bagaimana tubuh mulus khas seorang pria itu kini telah berubah merah dengan luka gores dan juga bintik-bintik gatal yang disebabkan oleh gesekan jerami padi dibawahnya.
"Kamu bawa baju ganti gak?."
__ADS_1
"Ya enggak lah, kan niat gue kesini bukan buat main kejar-kejaran sama elu!."
"Ckk!. Cepet bangun, bersihin badan kamu. Aku carikan baju ganti."
"Gak, makasih!. Aku gak suka pake barang murahan."
"Oh, Oke!." Devina meninggalkannya begitu saja tanpa mau membujuknya.
Sudah cukup ia menawarkan kebaikan yang kemudian ditolak mentah-mentah oleh si pria.
Alfin masih berada pada tempatnya, ia tak juga mengikuti Devina yang meninggalkannya. Pria itu semakin kesal karena rasa gatal ditubuhnya semakin menjadi-jadi. Ia yang tak tahan pun akhirnya memilih untuk menyusul langkah Devina yang kian menjauh.
Pria itu dengan sengaja menubruk bahu si wanita dan membuatnya hampir saja terjatuh karena posisinya yang tak siap dengan serangan mendadak.
"Alfin!!." Bentaknya penuh emosi.
"Dimana kamar mandinya?."
"Badan gue gatel banget!."
"Tuh dibawah tandon." Devina menunjuk jejeran keran air dibawah tandon air yang berdiri diatas menara penyangga.
"Yang bener dong lu kalo ngasih tau!."
"Ya iya, biasa mereka pada mandi disitu."
"Ya masa kalian perempuan juga disitu?."
"Kamu kan laki-laki!."
"Terus gue buka-bukaan ditempat itu gitu?."
"Mandinya pake baju, Alfin!. Bukannya buka-bukaan!."
"Ya gak bersih lah!."
"Hiss!. Kamu mandi dulu buat bersihin kotoran yang nempel dibadan sama dipakaian terus abis itu ke kamar mandi untuk bilas bersihnya."
"Ribet ah!. langsung aja ke kamar mandi!."
"Ini keburu gatel, Devina!."
"Tuh ada dibelakang!." Devina menunjuk deretan bilik kecil dengan tampungan ember disetiap kamarnya namun yang menjadi perhatian pria itu bukanlah isi didalamnya, melainkan suasana yang ada dibaliknya.
Kamar mandi itu berada dekat dengan pagar pembatas semak dibelakangnya. Dimana hewan-hewan melata seperti ular kecil, kadal, kodok dan kawan-kawannya bisa saja masuk kedalam saat ia mandi.
"Serem amat."
_
_
_
_
__ADS_1
_
tbc