
Pak Hamid duduk diruang keluarga dengan anak sulungnya yang baru saja terlibat masalah tak masuk akal. Pria tua itu mengetahui semuanya setelah mendapat laporan dari seorang petugas dikepolisian yang merupakan anak dari kerabat dekat mereka.
Bu Fatimah pun sama terkejutnya mengenai permasalahan yang menimpa Alfin. Beliau lalu menanyakan tentang perempuan yang menjadi kekasih anaknya tersebut.
"Gak ada ma, kita udah pisah. Lagian kita putus juga bukan karena masalah gono gini kok."
"Fin, mama gak mau sampai orang tua Devina tahu masalah ini!."
"Iya, aku pastiin dah pokoknya."
"Yakin kamu bisa jamin perempuan itu gak bakal ganggu lagi?."
"Iya!."
"Kalo sampai dia bikin ulah dan membatalkan acara kalian, ayah gak akan tinggal diam. Ayah sendiri yang akan bikin kalian berdua masuk bui."
"Ya ampun, Yah!."
"Karena memang kamu yang jadi biang masalahnya."
Alfin tak bisa melawan dan memilih diam dengan hati yang benar-benar kesal karena terus dipojokan oleh ayahnya sendiri.
______
Malam itu Alfin memilih untuk kembali naik panggung setelah beberapa hari mangkir dari kegiatan bermusiknya. Ia berusaha melupakan rasa kesalnya dengan menjadi si paling menarik yang bertugas meramaikan tempat maksiat tersebut.
Edo baru pulang dari tempatnya bekerja saat Alfin baru saja akan naik keatas panggung tepat pukul sebelas lewat tiga puluh lima menit malam.
Dentuman musik terdengar begitu kuat memenuhi ruang dengan tingkat kepadatan luarbiasa itu. Muda-mudi saling menghentak-hentakan kaki mereka untuk menikmati suasana, melepas penat setelah seharian memikirkan pekerjaan yang tiada habisnya.
Gemerlap lampu disko membuat kerumunan dibawah sana terlihat semakin liar dan tak terkendali. Begitupun dengan Alfin, pria itu semakin memperpanas suasana kala mengingat statusnya yang sebentar lagi akan berubah menjadi pria beristri.
Edo yang berada dilantai dua tampak santai mengamati riuhnya suasana dibawah sana dengan segelas cocktail ditangannya. Cukup lama pria itu duduk sendiri hingga seorang wanita datang menghampiri.
Tania?
...
"Hai, Do." Wanita bernama Tania itu tersenyum anggun saat melihat keberadaan Edo yang tampak menikmati suasana.
"Boleh gue duduk disini?."
"Oh, duduk aja."
"Sendirian?." Tanya wanita berparas ayu tersebut.
"Emh, bisa iya bisa enggak." Edo sendiri terlihat santai dalam menanggapi pertanyaan dari mantan kekasih temannya itu.
"Lu sendiri?."
"Gue lagi gabut aja. Kesini cuma buat nyari hiburan sekalian lihat-lihat." Ucapnya dengan senyum tipis.
"Lihat dia maksud lu?." Edo menunjuk keberadaan Alfin dengan dagunya.
Wanita itu hanya tersenyum tanpa jawaban pasti.
____
Hening kembali merayapi keduanya sampai akhirnya Alfin menyelesaikan pestanya dan digantikan oleh DJ lain yang saat itu tengah bersiap untuk naik keatas panggung.
Mata pria itu sempat terpaku sesaat ketika melihat keberadaan sang mantan yang kini tampak lebih kurus dari saat terakhir mereka bertemu.
"Udah?." Tanya Edo untuk memecah keheningan diantara riuhnya suasana yang terjadi.
__ADS_1
"Udah."
"Tumben lu?."
"Gue ada urusan."
"Helaahh, yang sok sibuk."
"Demi nyonya muda pewaris tahtanya pak Hamid!." Ucapnya dengan penuh penekanan.
"Gak duduk dulu Fin?." Tania menegurnya dengan sebuah kalimat tanya.
"Sory, gue lagi buru-buru." Pria itu tampak tak acuh dengan keberadaan sang mantan yang justru menatapnya penuh harap. "Gue cabut ya."
Alfin pergi dengan sedikit tergesa. Edo yang melihatnya pun ikut bingung namun juga merasa geli disaat bersamaan. Ia paham sekali jika pria dengan tingkat kebodohan diatas rata-rata itu tengah berburu dengan waktu karena sesuatu hal.
...
"Dia sudah banyak berubah ya?." Ucap Tania seraya memastikan keadaan mantan kekasihnya itu kepada pria yang duduk disebelahnya.
"Ya seperti yang lu lihat."
"Lu sendiri gimana?." Tanyanya menggantung.
"Maksud lu?." Edo menoleh kearah Tania yang justru menatap gemerlap lampu disko yang membuat suasana dibawah mereka semakin menggila.
"Masih sama Tasya?."
Edo mengangguk tipis. Pria itu menjadi irit bicara dan tak banyak menye-menye saat berhadapan dengan wanita seperti Tania maupun Rosi yang memiliki banyak wajah.
"Rosi gimana?."
"Tan, lu cuman mau tau kabar mantan lu tadi kan sebenarnya?."
"Alfin mau nikah."
"Nikah?!." Tania jelas terkejut ketika mendengar ucapan Edo.
"Sama Rosi?." Lanjutnya penasaran.
"Bukan."
"Terus?."
"Gue juga gak kenal."
Tania seperti menarik nafas lega setelah mendengar kalimat terakhir pria itu.
"Lu gak mau nyusul?." Tanya Tania,
"Lu mau gak modalin gue buat ngelamar si Tasya?." Edo balas memberinya pertanyaan tak terduga yang membuat wanita itu seketika terbahak karena ucapan konyol dari pria disampingnya.
"Ada nih goceng kalo lu mau?."
Edo mendengus malas saat melihat wanita itu masih sibuk menahan tawa karena dirinya.
________
________
Alfin melupakan janjinya kepada Devina yang mengatakan jika pria itu akan menjemputnya dipeternakan setelah menyelesaikan masalahnya dengan pak Hamid.
"Mampus gue!. Aahhh bisa banget lupa ama tu boncel!." Gerutunya sembari terus menginjak pedal gas menyusuri gelapnya jalanan kampung menuju ke peternakan yang hanya berjarak tiga puluh tujuh kilo dari perkotaan.
__ADS_1
...
Pukul dua dini hari pria itu tiba dengan mata perih setelah memaksakan pengelihatannya untuk tetap awas sampai dilokasi.
Keadaan begitu sepi dan sangat menyeramkan. hanya ada beberapa lampu penerangan yang menyala di dekat halaman.
Tak lama seorang pria berjaket putih datang menghampiri dengan sebuah senter yang menyorot paving blok dibawahnya.
"Loh?. Mas Alfin?." Didit menyapanya dengan raut wajah bingung.
"Vina masih disini pak?."
"Mbak Vina?. Kayaknya udah dijemput sama kang Sule, mas. Sekitar jam sebelas tadi."
"Oke dah, saya langsung balik aja."
"Gak tidur disini aja dulu mas?. Udah jam dua ini, rawan dijalan mas."
Perkataan Didit membuat Alfin berbalik dengan alis bertaut.
"Rawan kenapa?."
"Banyak binatang liar yang keluar dimalam hari, terus itu juga yang kita gak tahu kalo ada orang yang gak dikenal tiba-tiba nahan mobil sampean pas dijalan."
Entah mengapa nyali Alfin yang adalah laki-laki seketika ciut membayangkan perjalanannya harus terhambat karena masalah tak terduga.
"Disini ada kamarnya mbak Vina mas yang bisa sampean pake. Kan mbak Vina-nya juga sedang tidak ada."
Alfin akhirnya menyetujui saran Didit untuk bermalam dipeternakan meski tak terasa nyaman baginya karena baru pertama kali menempati ruangan yang bukan seleranya.
Pria itu mengikuti langkah Didit yang mengarahkannya kepada salah satu pintu kamar dimana Devina menyimpan barang-barang miliknya.
"Tunggu sebentar mas, saya ambilkan kuncinya."
Didit meninggalkan Alfin sendiri didepan pintu kamar yang benar-benar menyeramkan untuk dibilang biasa saja bagi sebagian orang, terutama dirinya.
Setelah tiga menit Didit pun kembali membawa sebuah kunci dengan gantungan berbentuk hati ditangannya.
"Nah, ini mas kuncinya."
"Sekalian saya bawakan air minum, siapa tahu nanti sampean pas haus malem-malem kan males keluar." Didit sangat mengerti kebutuhan pria itu sebelum meninggalkannga kembali untuk beristirahat.
Alfin membuka kamar berukuran 3 x 3 meter persegi itu dan mendapati ruang tanpa dipan didalamnya. Jelas saja pria itu bingung harus tidur dengan apa dan bagaimana.
Hanya sebuah lemari plastik dan kasur lipat yang tersusun rapi diatasnya juga satu bantal dan sebuah guling berbalut sarung dengan corak tsum-tsum yang tampak menggemaskan. Ia kemudian membuka lemari plastik tersebut untuk mencari selimut sebelum menurunkan lipatan kasur diatasnya.
Sesuatu tak sengaja terjatuh saat Alfin menarik lipatan bedcover yang tersimpan rapih dirak terbawah.
Ia memungut kembali lembaran kertas yang sempat terhambur karena ketidak hati-hatiannya tadi dan saat dilembar terakhir, mata pria itu justru menemukan pas foto remaja laki-laki berukuran 3 x 4 berwarna hitam putih.
Alfin sadar jika itu merupakan sebuah foto kelulusan milik seseorang, tapi siapa dan mengapa Devina menyimpannya secara sengaja?.
.
.
.
.
tbc.
makasih buat jempol dan komentarnya ya gaes, itu tuh sesuatu bangetlah pokoknya buat othor ðŸ˜
__ADS_1