
Rosi seperti orang gila saat mengetahui jika Alfin tak memiliki uang seperti sebelumnya setelah ia meminta kepada kekasihnya itu untuk dibelikan gaun edisi terbatas dari salah satu desainer ternama dunia. Pria itu mengatakan jika pak Hamid, ayahnya telah membekukan hak istimewa yang diberikan secara cuma-cuma kepadanya selama ini.
Wanita itu mengira jika masalah kemarinlah yang menjadi penyebab pria itu tiba-tiba menjadi miskin. Ia kemudian memutuskan untuk menemui saudara perempuan dari kekasihnya yang diketahui baru saja membuka toko kue didaerah perkantoran.
Rosi benar-benar tak malu untuk menanyakan kemana larinya uang yang dimiliki kekasihnya itu kepada Alma. Ia juga mencurigai jika toko kue yang didirikan wanita itu merupakan hasil dari hak-hak yang harusnya diberikan kepada kekasihnya tersebut.
"Mbak Rosi yang cantik dan menawan. Saya mohon untuk tidak membuang waktu saya dengan menanyakan hal-hal tidak penting seperti ini lagi, Oke?." Ucapan Alma terdengar sangat santai namun penuh dengan penekanan disetiap kata-katanya saat keduanya berbicara empat mata tepat disamping dapur, dimana sebuah lorong sempit menjadi akses utama keluar masuknya bahan-bahan utama bakery miliknya.
"Gue belum selesai!." Rosi mencekal lengan Alma yang saat itu akan kembali kedapur karena dirinya memang sedang sibuk membuat adonan bersama para asistennya.
"Tolong jangan ganggu saya, saya sarankan anda untuk bertanya langsung kepada yang bersangkutan. Permisi!." Alma menepis kasar tangan Rosi yang membuatnya benar-benar risih.
Ia meninggalkan kekasih saudara lelakinya begitu saja tanpa jawaban yang bisa memuaskan rasa keingintahuan wanita tersebut.
__________________
__________________
Tibalah hari dimana Devina menerima lamaran dari keluaraga pak Hamid yang berlangsung cukup sederhana dirumah pak Bandi, orang tua dari si calon mempelai wanita.
Tidak ada yang spesial didalamnya selain makanan yang tersaji. Meski sederhana bagi mereka yang hadir disana sudah lebih dari cukup untuk bisa menyaksikan jalannya acara lamaran yang terasa begitu tenang dan terkesan santai tak ubahnya sebuah syukuran biasa.
Edo yang juga hadir disana bisa melihat jika pria dengan sifat luarbiasa ngawur itu nyatanya cukup gugup saat berhadapan langsung dengan orang tua dari wanita yang akan dinikahinya nanti.
Bagaimana tidak gugup jika pernikahannya dengan Devina hanyalah kedok untuk bisa mendapatkan harta warisan dari ayahnya sendiri.
Tidak ada acara tukar cincin seperti kebanyakan lamaran jaman sekarang. Hanya pemberian uang dengan nominal tertentu dan juga seserahan yang dibawa oleh pihak laki-laki sebagai simbolis atas pinangan tersebut.
.......
Devina berada dikamarnya dengan Alma. Bukannya ikut mendengarkan acara khitbah, dua wanita itu justru bergosip bersama membicarakan kekasih dari pria yang menghubungkan ketiganya.
"Seruisan dia nanya begitu?." Devina tidak bisa memberikan komentar apapun mengenai perempuan bernama Rosi tersebut. Didalam pikirannya yang ada justru bagaimana cara mempertahankan posisinya agar tidak tergeser oleh wanita tidak berguna sepertinya, itu saja. Karena Alfin belum juga atau mungkin tidak akan melepaskan status 'kekasih' dari model emperan sepertinya.
.....
Acara lamaran itu berjalan cukup singkat. Karena sebagian yang hadir merupakan pekerja peternakan yang ada didaerah tempat tinggal Devina dan itu juga membuat mereka tak bisa absen terlalu lama karena harus kembali kepeternakan pada jam makan siang.
Keputusan dari kedua belah pihak mensepakati untuk pernikahan mereka yang akan diselengarakan bulan depan, yang berarti tiga minggu lebih dua hari dari sekarang.
__ADS_1
Acara telah rampung hanya menyisakan bekas sampah dari gelas minuman yang banyak terselip dibalik kursi tamu.
Alfin telah kembali lebih dulu bersama Edo. Sadar jika kini dirinya perlahan mulai dimiskinkan oleh ayahnya maka pria itu tidak ingin absen dari jadwalnya hari ini untuk manggung diclub seperti biasa demi bayaran yang akan diterimanya pekan mendatang.
Begitupun dengan Alma, calon adik iparnya itu juga sudah pulang untuk mengurus toko rotinya setelah lebih dari setengah hari ia tinggalkan untuk menghadiri acara Devina.
Lalu pak Hamid dan bu Fatimah?. Mereka memilih untuk menginap dipeternakan. Sudah lama mereka tidak sambang ketempat itu, lokasi pertama berdirinya usaha pak Hamid dimana suka dan duka telah ia rasakan bersama para karyawan pertamanya seperti ayah Devina dan beberapa orang lainnya yang sama-sama membantu usaha beliau mulai dari nol.
______________
"Fin, yakin lu bakal mutusin Devina setelah warisan itu jatuh ketangan lu?." Edo bertanya dibalik kemudi mobilnya yang berjalan santai melewati jalur pedesaan yang begitu sejuk dan juga indah.
"Oi?. Ya elah dia malah bengong!." Pria itu mengerutu.
"Do, lu tau gak Rosi mainnya sama siapa aja?." Alfin justru menanyakan hal yang jelas tidak diketahui oleh Edo.
"Main apa maksud lu?."
"Seronglah!. Masa iya main bekhel?."
"Ya mana gue tahu!. Ngapain juga gue ngurusin cewek lu yang udah jelas jadi peliharaan banyak terong."
"Banyak bekas kerokannya yang udah mulai pudar Do, dimana-mana!. Seinget gue tuh terakhir kali main sekitar dua minggu lalu!."
Ucapan Alfin membuat tawa Edo pecah seketika.
"Ya gila aja kalo lu sampe mau!."
"Untungnya waktu itu gue lagi gak mood buat main jadi ya gue tolak lah."
"Gue kasih tahu lu ya Fin, setahu gue ni ya si Rosi tuh sebelum jadian sama elu aja udah punya sugar dady dan yang paling lucu lu tahu apa?."
Alfin tampak santai mendengarkan penuturan pria itu yang lebih mengenal Rosi ketimbang dirinya.
"Anaknya si sugar dady ini ternyata pacar dia, kebayang gak lu?!." Edo terkekeh sembari memukul setir untuk melampiaskan rasa geli diperutnya.
"Dan lu tau apa jawaban si dady pas tahu hal itu?. Double kill dong!!. Gila gak tuh!?." tawa pria itu semakin menjadi.
"Kok lu bisa tau?."
__ADS_1
"Pacarnya itu temen gue pas SMA, gimana gue gak tahu coba?."
Alfin memijat keningnya untuk mengusir kebuntuan jalan pikirannya.
"Udah deh, mendingan elu seriusin aja si Vina dari pada lu perjuangin si Rosi yang jelas-jelas bisa dipake sama banyak orang!. Belum lagi lu ngadepin jiwa materialistisnya yang udah kelewat batas, bukannya tambah kaya yang ada lu malah sakit jiwa Fin!."
"Gue masih belum siap kalo sama si boncel."
"Belum siap tapi dinikahin juga!. Yang bener dong lu kalo ngomong!."
"Demi warisan gue Edo Ardiansyah!."
"Ya sekaliankan, elu dapet warisan dapet pula perawan."
"Aneh Do!."
"Aneh gimana sih?."
"Ya aneh aja abis dapet Rosi tiba-tiba sama si boncel!."
"Wah ... gak asik lu Fin, main fisik!."
"Ya kan menurut gue, bukan elu."
"Fin, cewek seperti Devina tuh gak bisa dipandang sebelah mata. Kalo lu nilai dia cuman dari fisiknya yang gak sebanding ama model-model incaran lu ya jelas dia kalah telak."
"Coba deh lu lihatnya dari sisi berbeda, gue yakin tu cewek lebih banyak nilai plusnya dari pada minusnya." Lanjut Edo panjang lebar.
"Nantilah gue pikir-pikir."
_
_
_
_
_
__ADS_1
tbc.