
Alfin masih saja memikirkan rahasia apa yang disimpan oleh perempuan bernama Devina Mahlianti itu, yang tak lain adalah istrinya sendiri.
Meski bibirnya berkata biasa namun hatinya tak bisa begitu saja melupakan hal itu. Terlebih pria yang dimaksud merupakan saudara dari Edo si narsis.
"Apa gue tanya langsung aja ya?." Pria itu berkali-kali bermonolog dengan kalimat yang sama.
"Tapi kelihatan banget kalo gue kepo!."
ASHHH!.
Alfin mengetek abu rokok miliknya kedalam asbak. Pria itu tengah duduk santai didalam club sebelum tampil membawakan musik pengiring menuju pintu kemaksiatan diatas lantai diskotek.
Tak berselang lama Edo pun tiba bersama Kenzi, kakak sepupu dari pria itu yang merupakan seorang foto grafer.
"WIIH!, Pengantin baru udah mangkal aja!. Gak moon-moon lu Fin!?." Edo beradu kepalan tinju dengan si pengantin baru yang terlihat santai tak ubahnya pria lajang.
"Moon-moon!. Moondur?."
"Atau lu mau cari sarang yang lain disini?."
"Do, lu pernah gigit karet sepatu belom?."
"Sadisss, baru juga colek dikit udah emosi. PMS lu?." Edo meninju lengan atas Alfin yang masih saja kesal kepadanya.
Alfin cukup sadar jika sedari tadi pria yang datang bersama Edo tengah mengamatinya meski tidak secara terang-terangan.
"Tumben lu cepetan datangnya?." Tanya Edo penasaran.
"Gak ada kerjaan gue."
"Emang si Vina gak ngomel tahu lu keluar malam-malam?."
"Dia juga pergi sama Alma ninggalin gue."
"Lah?. Elaahh, ni pengantin baru kenapa masing-masing jadinya!."
"Yang penting hepi, lu napa sih ribet amat ngurusin gue?." Alfin tampak semakin kesal karena ucapan Edo yang sengaja memancing emosinya.
Disela-sela perdebatan mereka Kenzi menyelinap dengan sebuah kalimat yang cukup membuat Alfin terdiam.
"Selamat atas pernikahan lu."
"Oh, terimakasih!." Ia menyunggingkan tipis senyumnya.
"Sory, kemarin gue gak sempet ngasih selamat dan langsung pulang setelah acara lu selesai."
"It's Ok, gue juga makasih banget udah mau bantu ngabadiin acaranya pak Hamid." Ucapan Alfin terdengar begitu ngawur ditelinga keduanya.
__ADS_1
"Kok pak Hamid?." Tanya Kenzi bingung.
"Bokapnya yang bikin resepsi." Edo menjelaskan dengan sedikit senyum yang terpatri diwajahnya.
"Aaah, iya ya ya." Kenzi terkekeh setelah mendengar penjelasan dari saudara sepupunya tersebut.
Mulut Alfin begitu gemas dan terasa begitu gatal ingin menanyakan uneg-uneg dikepalanya kepada pria dengan potongan rambut sedikit gondrong yang tengah duduk disamping Edo. Namun apa daya jika harga diri seorang laki-laki tetaplah yang utama.
Ia tidak mungkin bertanya secara terang-terangan mengenai permasalahan yang tersimpan dikepalanya tanpa pertimbangan dari A sampai Z jika bukan karena hal penting.
Obrolan ringan pun terjadi diantara ketiganya tanpa topik utama sebelum akhirnya Alfin memilih hengkang dari tempatnya untuk memulai aksinya diatas panggung.
_______
"Jadi seperti ini pekerjaannya setiap malam?." Kenzi secara spontan menanyakan hal yang tak seharusnya ia hiraukan.
Edo pun menganggukan kepala tanpa melihat lawan bicaranya. Namun ketika sadar akan sesuatu, pria itu seketika menoleh kepada sepupunya.
"Bang, lu pernah kenal Alfin sebelumnya?."
"Enggak, gue baru ini bicara langsung sama dia."
"eemh." Edo kembali mengangguk pelan.
Sama halnya dengan Alfin, Edo seperti melihat sesuatu yang tak biasa diwajah pria tampan disampingnya itu. Terlebih saat Alfin bertanya tentang foto hitam putih milik Kenzi sebelumnya.
________
"Kamu gak tidur disini aja?." Tanya Devina sebelum adik iparnya itu pergi.
"Gue?. Maksud lu jadi obat nyamuk apa gimana?."
"Ya enggak, kan Alfin juga gak ada?."
"Gak ada?. Dia masih main keluar?." Alma jelas terkejut saat mengetahui rutinitas kakak lelakinya yang ternyata tidak berubah meski telah menikah.
"Dia cuman bilang keluar aja sih, gak bilang yang gimana-gimana gitu."
"Dasar, Alfin BEG♡."
_________
Setelah kepergian Alma, Devina mencoba untuk berdamai dengan keadaannya kini yang telah berstatus seorang istri meski tak seutuhnya dan hanya sebuah gelar.
Wanita itu mengingat tatapan mata seseorang kepadanya tepat saat akad telah usai diucap. Sosok yang dulu pernah singgah dihatinya namun harus gugur karena hal yang tak ia sangka-sangka.
Ada hati yang terasa perih ketika netra mereka saling bertubrukan dalam sakralnya suasana akad tersebut.
__ADS_1
Ia tahu Kenzi tengah menatapnya dengan senyum meski tak terlalu kentara karena kamera yang menghalangi pandangannya saat itu.
Devina kemudian menundukan kepala untuk memutus tatapannya. Sedangkan pria itu memilih pergi dari posisinya dan digantikan oleh asistennya sampai acara selesai dan Devina tak lagi menemukannya.
Hanya itu yang bisa dilakukannya saat kembali dipertemukan dengan orang yang sama.
Devina menghirup nafas dalam lalu mengeluarkannya perlahan demi mengurangi rasa sesak didadanya.
Ia mengambil segelas air untuk meredam gejolak didadanya. Sembari menyalakan Televisi, wanita itu berbaring diatas sofa dengan matanya yang terlihat basah karena perih yang dirasakan sampai akhirnya ia terlelap dalam buaian alam bawah sadar.
______
Pukul dua dini hari, Alfin baru mengecek ponselnya dan mendapati panggilan tak terjawab dari Alma namun tak satupun dari Devina meski hanya sebuah pesan singkat dan itu membuatnya berdecak tipis.
Alfin kemudian berdiri dan meninggalkan tempatnya setelah berpamitam dengan dua orang pria yang sejak tadi ada bersamanya.
_______
Tak banyak percakapan diantara dirinya dan Kenzi, hanya sebatas YES or NO sebagai jawaban untuk setiap pertanyaan yang hadir diantaranya. Justru Edo lah yang bersikap adil kepada keduanya. Pria narsis itu menjadi penengah untuk mengurai kecanggungan yang ada.
*****
Alfin tiba diapartemen yang terlihat bersih dan rapi setelah Devina ikut menempati ruang tersebut. Namun ada satu hal yang membuatnya cukup kesal sekaligus ingin tertawa saat berhadapan dengan wanita itu. Yakni sifat tak acuhnya saat diajak berbicara.
Devina seperti tak pernah mengindahkan ucapannya dalam hal apapun termasuk seperti yang saat ini terjadi.
Alfin melihat bagaimana tubuh kecil itu tengah meringkuk diatas sofa abu-abu dengan layar tv yang menyala tanpa suara.
Sebelumnya ia juga pernah menyuruh wanita itu untuk tidur dikamar miliknya yang kemudian ditolak mentah-mentah dan berkata jika ia tidak sudi menempatinya lantaran merasa jijik karena menganggap jika kamar dengan bed ukuran besar itu telah ternoda dan menjadi saksi bisu atas perbuatan maksiat yang pernah pria itu lakukan bersama kekasihnya dulu.
"Ya elah, kalo lu bilang gitu sih semuanya juga udah ternoda kali." Alfin yang kesal pun menjawab seadanya dan membuat Devina semakin membola sembari mbergidig ngeri.
Ia kemudian berjongkok tepat dihadapan wajah Devina untuk mengamati bagaimana wanita sepertinya bisa menjatuhkan standar yang telah ia buat untuk menjadi istri seorang Prambudi.
Tangannya bergerak menyisihkan surai rambut yang menutupi mata wanita itu.
Alfin melihat kilau bening yang tersisa tepat dicekungan mata dan jambatan hidungnya.
"ada apa?." Satu pertanyaan muncul dikepalanya.
.
.
.
tbc
__ADS_1