
Selena terpesona menatap keindahan kota yang mereka jejaki. Matanya nanar mengagumi arsitektur kota tersebut sampai-sampai tanpa sadar ia melongok terlalu jauh. Tubuhnya sebagiannya telah keluar dari jendela.
Havard yang duduk santai diatas punggung karkadannya, mengerling ke arah gadis itu dan ia mendengus.
"Hei..." tegur Havard. "Berhenti menatapi bangunan. Kau berputar-putar membentangkan tatapanmu mengagumi bangunan... bisa-bisa terputar lehermu dan wajahmu bisa pindah ke balik punggungmu." ujar pemuda itu dengan ketus. Sejujurnya, ia masih dendam karena Sultan Yazid terpaksa mengiyakan permintaan Selena untuk ikut serta.
Selena sejenak memandang Havard dengan tatapan kesal, lalu kembali tenggelam dalam kegiatannya mengagumi pemandangan kota tersebut.
"Selamat datang di Cappadonia, ibukota pemerintahan Dinasti Zhou." seru Do Quo dengan antusias diatas tempat duduk kusirnya. "Lama juga aku meninggalkan negara asalku..." gumamnya sembari menarik napas dan menghembuskannya dengan lega. "Ah, senangnya kembali ke sini." sambungnya sambil melambatkan jalan kereta. Selena masuk kedalam kereta lalu beranjak ke tempat yang bersebelahan dengan tempat kusir dimana Do Quo duduk.
"Paman Do Quo, tinggal disini?" tanya Selena dengan penuh minat. Ia menempelkan wajahnya pada jendela yang dipasangi kisi-kisi besi.
Do Quo tertawa. Havard langsung menyela. "Do Quo tidak tinggal disini... rumahnya berada diseberang dataran ini... melintasi laut. Tapi tempat itu masih berada dalam naungan kedaulatan Kerajaan Zhou." jawabnya.
"Aku tak bertanya kepadamu!" sembur Selena membuat Havard kembali mengencangkan rahangnya berupaya menahan kemarahannya yang nyaris membuncah lagi.
Dalam perjalanan itu, Sultan Yazid mempersilahkan Selena untuk menemaninya dalam kereta. Tentu saja hal itu menimbulkan kesembuhan dihati Havard. Biasanya keduanya menaiki punggung karkadan. Sultan Yazid ikut beranjak dan duduk bersebelahan dengan Selena dan menatap Do Quo lewat jendela berkisi-kisi besi.
Sultan Yazid tersenyum. "Kalau begitu, aku minta bantuanmu untuk menyelidiki keberadaan Sinhala disini..."
"Tenang saja, Paduka. Aku..." sambut Do Quo dengan tenang. Sultan Yazid menyela.
"Ssst... jangan panggil aku, Paduka." desisnya memperingatkan. Do Quo langsung membekap mulutnya sendiri sebab telah keceplosan. Do Quo mengedarkan pandangan dan mengamati aktifitas warga kota yang sibuk dengan kegiatannya sehari-hari. Ternyata tak ada yang memperhatikan mereka dan itu membuat Do Quo mendesah lega seraya mengelus dadanya.
Nagini mengerling kearah lelaki berkumis lebat itu lalu kembali mengarahkan tatapannya ke depan. Dibalik kisi-kisi besi jendela kereta itu, Sultan Yazid membeberkan rencananya.
"Kita berada dalam misi penyamaran. Jangan pernah mengungkapkan jati diri kita sebagai petugas dari Kesultanan Bustamiyah..." tegur Sultan Yazid memperingatkan.
"Lalu, saya harus memanggil Pad... maksud saya, anda bagaimana?" tanya Do Quo.
"Panggil saja namaku tanpa embel-embel jabatan itu." pinta Sultan Yazid.
Do Quo menggaruk-garuk kepalanya. Rasanya aneh memanggil sang penguasa dengan nama aslinya. "Baiklah... saya akan berupaya membiasakan diri Pa... maksud saya, Yazid..." jawab Do Quo kemudian menghela napas dengan gugup.
Nagini menyela. "Sebaiknya, kita harus segera menemukan penginapan. Kereta ini tidak bisa terus-terusan digunakan. Jalanan akan menghambat laju kereta ini." ujarnya.
Belum sempat Do Quo menyahut, tiba-tiba para warga ribut dan menghentikan kegiatan mereka. Sebagian besarnya kemudian langsung bergegas berdiri ditepi jalan.
"Ada apa ini?" gumam Do Quo kembali mengendalikan geryon yang mulai gugup. Yazid kembali menempelkan pipinya dikisi-kisi jendela kereta.
__ADS_1
"Ada apa Do Quo?!" tanya Yazid.
"Entahlah..." sahut Do Quo juga dengan bingung. "Kelihatannya ada kerumunan." Lelaki berkumis tebal itu menghentikan kendaraannya. "Saya akan memeriksanya." ujar Do Quo sembari turun dan melangkah menuju warga-warga yang berkerumun di bahu jalan.
"Ah, hai..." sapa Do Quo dengan sopan.
Beberapa warga sempat menatap lelaki berkumis tebal itu lalu kembali memperhatikan jalanan. Salah satunya tak memalingkan wajah. Ia menatap Do Quo.
"Ada apa?" tanya warga tersebut.
"Ada apa ini? Kok para warga kota sibuk berdiri disisi jalan? Apa yang mereka nantikan?" tanya Do Quo dengan heran.
"Kamu orang baru?" tanya warga itu.
"Bukan... aku warga negara Zhou juga, hanya saja aku tinggal di Daipeh." jawab Do Quo.
Warga itu mengangguk-angguk lalu menjawab. "Hari ini ada kunjungan Kaisar Zhou Pu Tuo. Beliau akan memantau langsung aktifitas rakyatnya."
Do Quo kembali mengamati keramaian itu lalu menatap warga yang ditanyainya. "Tapi kok, agak lain ya? Agak meriah begitu..."
Warga itu tersenyum. "Tentu saja lebih meriah dari biasanya. Saat ini Yang Mulia Kaisar Pu Tuo membawa serta kedua putrinya, yakni Putri Mei Ling dan Putri Cin Ling. Tentunya itu menjadi daya tarik para pemuda, kan?" warga tersebut menganggukkan kepalanya ke arah kerumunan. "Kau lihat? Lebih banyak kaum muda dari kalangan laki-laki yang memenuhi pinggiran jalan ketimbang kaum perempuan..."
Ternyata Nagini sudah menepikan kereta itu beberapa jauh dari lokasi kunjungan kenegeraan itu. Havard telah berdiri disisi hewan tunggangannya, memegang tali kekang agar karkadan itu tetap diam ditempatnya. Sultan Yazid melongokkan kepala dari jendela kereta.
"Ada kunjungan resmi Yang Mulia, Kaisar Pu Tuo..." ujar Do Quo kepada Sultan Yazid. "Apa Pad... ck..." Do Quo mendecak sejenak meralat ucapannya. "Apakah Tuan hendak turut menyaksikan pawai kunjungan itu?" pancingnya.
Sultan Yazid menimbang-nimbang lalu menatap Selena. "Bagaimana menurutmu?" tanya lelaki itu.
"Tuanku silahkan turun dan melihat-lihat pawai itu." usul Selena. "Mungkin dengan itu kita akan sedikit mengenal karakter penguasa wilayah ini..."
Sultan Yazid mengangguk. "Baik. Mari kita melihat pawai itu." ajaknya kemudian membuka pintu dan turun dari kereta, diikuti oleh Selena.
"Kalian ikut bersamaku?" tanya Sultan Yazid.
"Apakah Selena ikut dengan anda?" tanya Havard.
"Kenapa memangnya?" tukas Selena memancing. "Kau cemburu aku jalan dengan beliau?" gadis itu langsung bercakak pinggang. Havard tak merespon melainkan melengos saja. Selena mendengus kesal lalu menatap Sultan Yazid. "Mari Tuanku..." ajak Selena.
Gadis itu sengaja memancing-mancing. Ia melingkarkan lengannya ke lengan Sultan Yazid untuk memancing reaksi Havard. Pancingannya mengena. Pemuda itu menggeram dan maju lalu melepaskan lingkaran lengan gadis itu.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih?!" sergah Selena dengan kesal.
"Bukan muhrim..." jawab Havard sekenanya. Sultan Yazid tertawa pelan, begitu juga dengan Do Quo.
"Sebaiknya kau jangan memancing keributan, Selena." tegur Sultan Yazid setengah menggoda Havard. Pemuda itu kembali melengos. "Aku tak mau terkena imbas kemarahannya."
Selena menghentakkan kakinya dengan kesal. "Ah, begini salah, begitu juga salah!" Gadis itu mendekati Havard lalu mendorong dada pemuda itu dengan telunjuknya. "Maumu sebenarnya itu apa?!"
Havard menghela napas lalu menatap Selena. "Seperti ucapan Yazid, aku tak mau mencari keributan." tandas Havard. "Silahkan menemaninya melihat pawai itu... tapi jangan bergelayutan..." pesan Havard lagi. "Bukankah kau sudah sepakat untuk menuruti semua perintahku? Jadi laksanakan dan jangan pernah membantahku!"
Selena kembali menghentakkan kakinya. "Terserah padamu!!!" sergahnya lalu berbalik pergi meninggalkan tempat itu.
Sultan Yazid buru-buru menyusul gadis itu. Havard kembali menghela napas. Do Quo menepuk-nepuk pundak pemuda itu berulang kali.
"Sabar anak muda." ujarnya memberi penguatan moral. "Cinta memang seperti itu... penderitaan yang tak akan pernah berakhir..." ujarnya kemudian terkekeh dan melangkah santai menyusul Sultan Yazid dan Selena yang sudah berbaur dengan khalayak ramai.
Havard menarik napas panjang lalu mendengus. Ia menatap Nagini. "Kau tak ikut?" tanya pemuda itu.
"Aku tak suka dengan keramaian..." jawab wanita itu dengan tenang.
Havard mengangkat bahu dan menjebikan bibirnya sejenak. "Yah, kalau begitu... aku dengan kamu saja, berdiri disini dan menunggu mereka memuaskan diri sendiri...."
...****************...
Para warga kemudian bersorak-sorai saat kendaraan yang membawa sang kaisar dan kedua putrinya menyusuri jalanan itu dengan pelan. Kereta itu di tarik oleh delapan pasang kuda yang tegap dan dihias sedemikian rupa. Sang sais mengendalikan laju kuda yang menarik kereta tersebut.
Kaisar Zhou Pu Tuo berdiri menyangga tubuhnya pada pagar pembatas kereta dan melambai-lambaikan tangannya ke arah masyarakat yang membalasnya dengan lambaian tak kalah gembiranya. Di kursi kedua, nampak kedua putri kerajaan duduk dan melambai-lambaikan pula kedua tangannya ke arah khalayak ramai membalas sambutan rakyatnya yang begitu meriah.
Kaisar Zhou Pu Tuo mengenakan jubah berwarna kelabu keperakan yang dihias dengan bordiran membentuk gambar seekor ular naga yang mengejar sebuah bola api. Seuntai kalung tasbih melingkar dilehernya, menjuntai hingga ke perut. Sebuah sabuk berbahan kulit dengan sebuah gesper besi melingkari perutnya yang tambun itu. Jubah kekaisaran itu dibalut dengan sebuah mantel panjang yang menjulur hingga ke bagian sepatu botnya yang terbuat dari bahan beludru hitam. Sebuah peci yang dihias sebuah tangkai berhulu bulu ekor burung merak menambah kewibawaannya.
Kedua putrinya mengenakan pakaian terusan dengan warna yang mencolok. Keduanya mengenakan sanggul tinggi yang dihias dengan jarum-jarum panjang yang bagian ujungnya dipasangi bunga emas.
Ketika melintas tepat dimana Sultan Yazid dan kedua rekannya berdiri menonton, salah satu putri itu menoleh dan tatapan keduanya bertemu.
Sultan Yazid merasa tak mampu menghindari tatapan gadis itu. Begitupun sang putri kerajaan tersebut. Keduanya saling menatap lama hingga akhirnya kereta itu berbelok di persimpangan jalan yang akan membawa kereta kerajaan itu berbalik pulang menuju lokasi istana.
Sultan Yazid sendiri masih terpaku diam meskipun kerumunan telah bubar. Selena menatap dengan heran kepada si lelaki yang terus memandang belokan jalan dimana kereta yang ditumpangi keluarga kekaisaran menghilang dari kerumunan. Do Quo sudah paham mengapa sang penguasa terus menatap ke arah situ.
Sultan Yazid jatuh cinta!
__ADS_1
Cinta pada pandangan pertama...[]