
"Naginiiiiii.... Havaaaard!!!"
Havard langsung menegakkan tubuhnya dan tatapannya gelagapan mengedar mencari pemilik suara. Betapa dilihatnya Champa yang berlari-lari mengejar kereta mesin yang ditumpanginya sambil melambai-lambaikan tangan, membuatnya langsung mengetok-ngetok bagian sekat antara boks dengan tempat kemudi.
"Hei, Hei, berhenti!!! Berhenti!!!" serunya.
"Baik, baik..." sahut si lelaki yang memegang kemudi. Kereta mesin beroda tiga itu menepi disisi jalan dan berhenti.
Havard menepuk lengan Nagini membuat Nagini yang tadinya tenggelam dalam meditasi dalam, akhirnya membuka matanya.
"Kita sudah tiba. Ayo!" ajak Havard.
Sementara Champa yang mengejar tiba disisi kereta itu dan sejenak membungkukkan tubuhnya yang kelelahan dan menopang kedua tangannya pada lutut sambil mengatur tarikan napasnya yang memburu.
Havard melompat keluar dari boks bersamaan dengan si pengrajin yang keluar dari kamar kemudi. Ketika melihat Champa, ia sejenak kaget.
"Lho? Bukankah kamu si penari istana?" serunya dengan takjub.
Champa menegakkan tubuh dan tertawa. "Wah, ternyata aku terkenal juga disini, ya?" gadis berambut putih perak itu mengulurkan tangannya. "Aku Champa... boleh kutahu, siapa dirimu, tampan?"
Dipanggil 'tampan' membuat lelaki itu tersipu sambil mengulurkan tangan, menyalami Champa. "Aku, Argos. Pengrajin alat-alat nelayan dari kota sebelah, Brienn." ujarnya memperkenalkan diri.
Nagini melompat turun dari boks dan berdiri disisi Argos. "Berterima kasihlah kepadanya. Dia menyelamatkan kami berdua dan mengantarkan kami kemari."
Champa langsung kembali menyalami Argos dengan semangat. "Wah, ternyata anda hebat juga ya?!" serunya dengan gembira. "Aku suka dengan lelaki pemberani sepertimu." tambahnya sembari mendekat dengan gaya centil.
"Sudah, tak usah merayunya." sela Havard dengan ketus dan memisahkan gadis berambut putih perak itu dari Argos. "Katakan dimana kalian menginap."
"Ah, ya! Kalau begitu, ikuti aku." seru Champa langsung menarik tangan Havard sementara Nagini masih bersama dengan Argos, bercakap-cakap sejenak lalu pamit dengan sopan, meninggalkan lelaki itu.
Mereka bertiga menyusuri jalanan kota Direa yang ramai dengan pejalan kaki, namun sulit menemukan kendaraan, bahkan penunggang kuda sekalipun sebab jalanan Direa sengaja dipersempit sehingga jalanan itu lebih banyak digunakan oleh para pejalan kaki saja.
Champa membawa kedua rekannya memasuki penginapan dan langsung menuju ruang santai dimana rekan-rekannya berkumpul.
"Lihat! Siapa yang kutemukan?!" seru Champa dengan riang sambil mengembangkan tangan. Sultan Yazid, Thor dan Do Quo menoleh menatap gadis penari itu.
Sejenak kemudian mereka terkejut melihat Havard dan Nagini masuk kedalam ruangan. Seketika Sultan Yazid dan Do Quo bangkit menghambur ke arah keduanya.
"Kalian selamat! Aku tak percaya!!!" seru Do Quo kemudian tertawa keras penuh kebahagiaan. Lelaki berkumis tebal itu menampar-nampar punggung Havard dengan keras.
Thor hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya kepada mereka berdua. Havard dan Nagini mengangguk membalas lambaian tangan itu.
Sultan Yazid menepuk-nepuk bahu Havard. "Syukurlah kau selamat. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika sampai hari ini aku tak menemukan kabar kalian berdua."
"Nagini bisa menceritakannya pada kalian." sahut Havard dengan senyum lalu mengamati ruangan. "Ngomong-ngomong, dimana Selena?" tanya pemuda itu dengan pelan.
"Ah, ya... temuilah dia." sahut Sultan Yazid. "Seharian dia mendekam dalam kamar dan terus menangis... dia memikirkanmu."
Seketika Havard berlari menuju pintu. Sementara Do Quo langsung mengintrogasi Nagini. "Sepanjang hari kalian bersama. Tak ada sesuatu yang terjadi?" godanya.
"Maksudmu?" tanya Nagini dengan ketus.
"Misalnya.... oooho, ooohooo..." ujarnya menirukan posisi laki-laki sedang menyenggamai wanita lalu tertawa.
Nagini mengumpat-umpat lelaki berkumis tebal itu membuat Do Quo tertawa-tawa saja sedang Nagini yang semula marah kini tersenyum dan melangkah menuju meja dimana terhampar makanan dan minuman.
"Kau sudah tahu, dimana letak Gua Hydra?" tanya Sultan Yazid.
__ADS_1
Nagini mencomot sebiji kue dan mencicipinya kemudian menatap Sultan Yazid lalu mengangguk.
...****************...
Selena masih setia melipat kaki dan memeluk kedua tungkai itu ketika pintu terbuka dan muncullah Havard.
"Selena..." seru Havard.
Selena yang mendengar suara yang begitu dirindukannya, sontak mengangkat wajahnya menatap pintu dan ia melihat pemuda itu.
"Havard!!!" seru Selena sembari bangkit dan berlari menghambur kepada pemuda itu.
Selena memeluk Havard dengan erat lalu kembali tersedu-sedu. "Kau jahat! Jahat! Kau membuatku tak bisa tidur!" sedu Selena sambil meninju-ninju dada pemuda itu.
Havard tetap saja memeluk Selena, membiarkan gadis itu menumpahkan emosinya didadanya. Setelah puas mengumpat-umpat, Selena kembali tersedu-sedu dan makin memeluk Havard dengan erat.
"Maafkan aku..." ujar Havard dengan lembut sambil membelai-belai punggung gadis itu. "Maaf telah membuatmu tak bisa tidur..." ujarnya kemudian melepas pelukan gadis itu.
"Sekarang aku disini... kau tak perlu lagi bergadang hanya untuk memastikan aku ada disisimu." ujar Havard dengan lirih dan mencubit dagu Selena dengan lembut.
"Aku... merindukanmu..." ujar Selena dengan rengek manja.
"Aku juga..." jawab Havard kembali memeluk Selena dengan lembut.
Pemuda itu kemudian mendekatkan wajahnya kepada Selena. Seakan tahu apa yang akan dilakukan pemuda itu, Selena memejamkan mata dan membuka belahan bibirnya. Havard memagut pelan bibir gadis itu dan mengulumnya dengan lembut. Keduanya menyatu dalam perlakuan itu, menuntaskan rasa rindu yang sempat membuat keduanya tak bisa tidur.
...****************...
Mereka bertujuh berada di Brienn saat ini, dikediaman Argos. Pengrajin itu menerima mereka dengan hangat.
"Kupikir kau dan rekan-rekanmu sudah berlayar kembali ke Navada." ujar Argos yang duduk dihadapan ketujuh orang itu.
Argos menatap Nagini sejenak lalu menatap Havard.
"Kami perlu menghadap Nyonya Morgul untuk meminta ijinnya." sahut Havard menyambung perkataan Nagini.
"Kami mencurigai, buronan itu bersembunyi di Gua Hydra." sambung Sultan Yazid. "Berdasarkan surat otoritas yang diberikan Yang Mulia Kaisar Zhou, kami harus memasuki tempat itu dan memastikannya."
"Berarti kalian harus mengeringkan air digua itu." tukas Argos.
Sultan Yazid mengangguk lalu menatap Argos. "Bisa tunjukkan kepada kami dimana kantornya?"
Argos tersenyum dan mengibas-ngibas kedua tangannya ke udara. "Kalau soal mengutak-atik pintu air, tak perlu harus meminta ijin Nyonya Walikota." ujarnya lalu menepuk dadanya dengan gaya. "Saya bisa melakukannya untuk anda."
"Apakah anda..." tebak Sultan Yazid.
"Saya, Argos Merson. Saya salah satu pegawai di jawatan pengairan kota. Saya bisa membantu anda membuka akses ke Gua Hydra." jawab Argos dengan senyum.
Sultan Yazid mengangguk gembira. "Bisakah kita segera ke Rouge untuk membuka talang air itu?" pinta lelaki tersebut.
Argos tertawa-tawa sambil mengangguk-angguk. "Mari..." ajaknya.
Kembali dengan mengendarai kereta mesin, Argos memandu jalan ketujuh penunggang itu menyusuri jalanan Brienn menuju ke Pegunungan Rouge. Setibanya di terowongan mereka melaju sedikit dan menemukan persimpangan.
Argos membelokkan kendaraannya ke kanan diikuti oleh ketujuh penunggang itu. Akhirnya mereka tiba didepan sebuah pintu besar. Argos turun dari kendaraannya. Ketujuh orang itu turun dari hewan tunggangannya.
"Didepan itulah talang air berada." ujar lelaki itu kemudian mengajak mereka memasuki pintu itu. Disana ada serombongan tentara bersenjata pedang dan kapak. Argos menjumpai mereka.
__ADS_1
"Mereka adalah pejabat yang diutus untuk mengobservasi keadaan Gua Hydra." ujar Argos kepada para tentara itu.
Sultan Yazid maju mengeluarkan secarik kertas dan menyerahkannya kepada pemimpin tentara tersebut. Melihat ada tanda tangan Kaisar Pu Tuo dan Segel Agung Kekaisaran Zhou, sontak para tentara langsung bersikap hormat.
"Silahkan Pak!!" seru mereka menyingkir.
Argos terkekeh dan membawa ketujuh orang itu memasuki lorong panjang. "Jangan salahkan mereka... mereka hanya menjalankan tugas..." ujar Argos.
Sultan Yazid hanya tersenyum lalu mengangguk. Argos menunjuk perairan yang menggenangi bagian gua.
"Itu Gua Hydra." ujar Argos sembari menunjuk sebuah tempat yang direndam air. "Dulu tak tergenang seperti ini. Kami sengaja membangun waduk dan talang air agar makhluk itu tak keluar dari gua ini."
Argos menemukan meja panel dan sebuah roda talang. Lelaki itu menggerakkan beberapa panel lalu memutar roda kincir itu. Tak lama kemudian terdengar suara air surut disusul dengan nampaknya mulut gua dihadapan mereka.
Argos menatapi ketujuh orang tersebut. "Didalam gua itu berdiam makhluk. Kami tak tahu jenis makhluk apa itu. Yang jelas, makhluk itu mengerikan dan ia sering keluar-masuk gua ini." tutur Argos. "Kami sengaja membangun benteng air dan memasang talang air untuk menggenangi wilayah mulut gua. Makhluk itu tidak memiliki insang, jadi dia tak bisa bernafas dalam air laut itu."
"Berjaga-jagalah disini." pinta Sultan Yazid. "Kami tak akan lama..."
Argos mengangguk dan Sultan Yazid memimpin rekan-rekannya menuruni tangga waduk dan menyusuri tanah-tanah lembab menuju mulut gua. Mereka memasuki gua itu dan menelusuri lorong-lorongnya.
Sesuai perintah Sultan Yazid, mereka menyiagakan senjatanya masing-masing. Tak lama menyusuri lorong, mereka menemukan sebuah ruangan yang luas. Seketika Sultan Yazid mengangkat tangan menyuruh rekan-rekannya berhenti.
Terdengar percakapan antara laki-laki dan perempuan. Mereka mengenal suara-suara itu. Kelihatannya Sinhala dan Hekate sedang berbincang-bincang.
"Bagaimana? Apakah kau sudah menghubungi Kaisar Uran?" tanya Hekate.
Nagini kaget mendengar nama Kaisar Uran disebut perempuan Sigirlya itu. Sinhala tersenyum dan mengangguk.
"Kamu tak usah kuatir... Ia sudah menunggu kita ditempat yang seharusnya..." jawab Sinhala. "Kau masih ingat, kan tempatnya?"
Hekate tersenyum pula lalu mendekati lelaki Sigirlya tersebut. Ia melingkarkan kedua tangannya ke leher Sinhala.
"Setelah ini, bisakah kita bersenang-senang dulu? Kulihat kau terlalu sibuk mengumpulkan artefak dunia sampai-sampai kau mulai melupakanku." rengek Hekate dengan manja.
Sinhala tertawa dan balas melingkarkan kedua lengan bersepirnya dipinggang ramping wanita itu.
"Aku juga sayangku..." jawabnya. "Segera setelah aku mengambil Adeola Semiramis dari Ratu Phoebe di Bellial, kita akan membawa ketiga artefak dunia itu ke hadapan Kaisar Uran..." ujar Sinhala kembali mengecup Hekate dan tangan kanannya membelai rambut wanita itu. "Kita akan memenuhi takdir sebagai salah satu pemersatu kerajaan-kerajaan dunia."
"Dan Kaisar Uran menjanjikan kepadamu sebuah anugerah." tambah Hekate dengan lembut.
Sinhala tersenyum. "Ya, anugerah..."
Sultan Yazid langsung muncul dan mengarahkan tombak pelanginya kehidupan dua muda-mudi yang sementara dimasukkan asmara itu.
"Untuk sementara ini kalian berdua tam bisa menyatu, sebab harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian." seru Sultan Yazid.
Sinhala yang kaget langsung melepas pelukannya dari Hekate dan keduanya menatap ketujuh orang dengan nanar.
"Kalian..." serunya dengan suara tercekat. Menyusul Havard dan yang lainnya muncul dibelakang Sultan Yazid.
"Serahkan Mustika Jiwa dan Cermin Hati itu, Sinhala!" seru Sultan Yazid. "Kau tak berhak mengambilnya."
Sinhala tertawa. "Kedua benda itu kuperlukan untuk sebuah rencana yang besar. Maafkan jika aku tak bisa memenuhi keinginan kalian." jawabnya.
"Pergilah sayang. Biarkan aku yang akan membungkam mulut-mulut mereka." sela Hekate sembari maju lalu menudingkan telunjuknya.
"Tak semudah itu kalian mengambilnya." ujar Hekate kembali.
__ADS_1
"Berarti kau harus berhadapan dengan kami!" sahut Havard dengan siaga.
Hekate tertawa-tawa dan berseru. "Kalian cari mati!!!" Tak lama tubuhnya mengalami metamorfosis perlahan-lahan berubah bentuk menjadi makhluk mengerikan, seekor makhluk bersayap dengan ekor panjang dan berkepala sembilan. Makhluk itu meraung keras.[]