MASSHIAHSAGA-PEMERINTAHAN RATU BAYANGAN

MASSHIAHSAGA-PEMERINTAHAN RATU BAYANGAN
OBJEK YANG MENGAPUNG DI LANGIT


__ADS_3

Do Quo mengenal lelaki bernama Kun Yang tersebut. Ia adalah salah satu pejabat dalam birokrasi pemerintahan Dinasti Zhou berpangkat lektor dibidang kenujuman*). Kediamannya adalah sebuah bangunan berbentuk silinder besar mirip sebuah hidran. Bangunan tersebut terdiri atas tiga lantai. Lantai pertama adalah kediaman pribadinya. Adapun lantai kedua adalah planetarium yang juga berfungsi sebagai sekolah bagi warga yang ingin mempelajari ilmu nujum. Sedangkan lantai ketiga adalah observatorium yang dilengkapi dengan teropong besar nan canggih, digunakan untuk kepentingan penelitian yang berkaitan dengan bidang kompetensinya.


*)Kenujuman adalah hal-hal yang bersifat keangkasaan seperti astronomi dan astrologi.


Kereta yang ditumpangi empat orang itu tiba di kediaman Kun Yang. Mereka berlima turun dari kereta lalu menyusuri halaman yang asri didepan bangunan berbentuk unik tersebut. Do Quo melangkah terlebih dulu kemudian menyusul Sultan Yazid, Havard dan Selena. Nagini beberapa jarak berada dibelakang mereka.


Wanita itu sebenarnya mengetahui dengan detail peristiwa bersejarah tersebut. Ia adalah satu dari orang-orang langka yang diberikan anugerah usia yang panjang sebagaimana para nabi dan rasul dijaman avatar, puluhan juta tahun yang lalu. Namun, ia tak pernah punya niat membeberkan segala kebenaran tentang peristiwa masa silam. Biarlah itu menjadi kenangan pribadinya.


Mereka tiba didepan pintu bangunan tersebut. Tangan Do Quo terangkat dan mulai mengetuk pintunya.


TOK TOK TOK...


Pintu terbuka kemudian dan sesosok lelaki tua dengan rahang yang dipenuhi rambut, menjuntai hingga ke dada. Lelaki itu mengenakan jubah liturgia yang kedodoran. Seutas tali tambang melingkar diperutnya untuk menahan jubah tersebut agar tidak melorot ke bawah. Tudung jubah itu disampirkan dibelakang. Sebagai gantinya, lelaki itu mengenakan sebuah topi panjang yang lancip ke atas. Penampilan kaum astronom memang mirip-mirip dengan penampilan kaum wicca (penyihir).


Tatapan bingung hingga ke dasar otak nampak dalam sorot matanya yang mengamati kelima tamunya.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Lelaki berpakaian jubah kedodoran itu.


"Kami ingin bertemu anda." jawab Do Quo. Lelaki itu mengamati lagi kelima orang itu satu persatu dengan cermat lalu ia tersenyum.


"Apa kita sudah punya janji sebelumnya?" tanya lelaki itu dengan senyum ragu dan sedikit curiga.


Sultan Yazid langsung maju mensejajarkan dirinya dengan Do Quo. "Terus terang, kami bukan orang sini." jawab Sultan Yazid. "Kami pendatang dari wilayah dibagian selatan Runehall. Ketika berbincang-bincang dengan pemilik butik beberapa blok dari sini..."


"Madame Hein..." sela lelaki itu.


Sultan Yazid mengangguk. "Ya, Madame Hein. Beliau sempat bercerita tentang penelitian anda terhadap sebuah objek yang mengapung di angkasa..."


"Valmana..." sela Kun Yang kembali.


"Apakah Anda benar-benar yakin kalau itu adalah Valmana, sebuah kendaraan kuno yang digunakan Raja Samiri saat perang Besar, sepuluh ribu tahun yang lalu?" tanya Sultan Yazid dengan serius.


"Anda mau melihatnya?" pancing Kun Yang dengan senyum nakal.


"Jika anda berkenan untuk memperlihatkannya kepada kami." jawab Sultan Yazid dengan mantap.


Sejenak Kun Yang mengangguk-angguk lalu tersenyum lagi dan mengibaskan tangannya. "Kalau begitu, masuklah." ajaknya.


Lelaki itu menyingkir sedikit membuka pintu dan kelima orang itu masuk. Ia mengajak mereka duduk di sofa.


"Maafkan jika aku tadi agak curiga..." ujar Kun Yang dengan merendah. "Baru- baru ini kota Cappadonia mengalami kegemparan." ujarnya mempersilahkan mereka duduk dikursi. "Kelompok Xamrush baru saja membuat kerusuhan. Korps pasukan pengamanan kota kehilangan banyak anggota, di bunuh dan dilukai oleh mereka."


Sultan Yazid manggut-manggut mendengar keterangan pejabat tersebut. "Master Kun Yang..." ujar Sultan Yazid. "Bisakah anda memperlihatkan objek tersebut kepada saya?"


Kun Yang langsung bangkit dan mengajak kelima orang itu meninggalkan ruang tamu dan menaiki tangga menuju lantai tiga, dimana observatorium itu berada. Sambil menyusuri tangga ia membahas tentang keadaan kota Cappadonia.

__ADS_1


"Kaisar Pu Tuo tak bisa berbuat apa-apa terhadap mereka, sebab pergerakan kelompok itu begitu cepat. Mereka adalah sekumpulan preman-preman yang dipimpin oleh seorang bernama Hadhayusha." tutur Kun Yang. Mereka melewati lantai kedua. Kun Yang kembali bicara. "Ruangan disebelah pintu itu merupakan ruang kelas mengajarku. Aku seorang lektor dibidang ilmu nujum." ujarnya memperkenalkan bidang pekerjaannya.


"Lanjutkan kembali tentang kelompok itu." pinta Sultan Yazid.


Kun Yang mengangguk. "Akhirnya Kaisar Pu Tuo memerintahkan agar kawasan Bolshoi diawasi dengan ketat. "Arsitek kami membangun benteng Bhulgana Bul. (pintu pagar baja) untuk menghalangi akses masuk Kelompok Xamrush untuk menjarah dan menguasai wilayah barat Runehall yang dikuasai oleh Kerajaan Zhou." tuturnya.


"Lalu... dimana kelompok itu bersembunyi?" tanya Sultan Yazid.


"Ada rumor yang mengatakan bahwa mereka bersembunyi diluar kawasan Bhulgana Bull. Kemungkinan mereka bersembunyi di Asgrad, pegunungan karang setelah kawasan Bolshoi itu." ujar Kun Yang. M


Mereka berenam tiba didepan pintu dari ruangan ketiga.


"Inilah ruang kerjaku." ujar Kun Yang seraya membuka pintu lalu mempersilahkan mereka untuk masuk. "Sebentar, aku akan mengaktifkan dulu teropong bintangnya." ujar astronom itu pamit meninggalkan Sultan Yazid dan keempat rekannya.


Lelaki berjubah liturgia itu menyusuri lantai dan menaiki undakan tangga dan tiba pada peralatan teropong raksasa yang menjulang menyeruak dari sebuah lubang vertikal dari kubah bangunan tersebut.


Lelaki tua itu mengaktifkan beberapa komponen pada meja panel tersebut dan memeriksa jaringan kabel yang terpasang pada alat teropong tersebut. Setelah rampung, ia menatap Sultan Yazid dan melambaikan tangan kearahnya.


"Kemarilah...." ajak Kun Yang.


Sultan Yazid melangkah dan menaiki undakan tangga, tiba disisi Kun Yang. Astronom itu memintanya untuk duduk pada kursi yang menghadap ke arah corong teropong.


"Lihatlah..." pinta Kun Yang seraya mengaktifkan lensa cembung sibernetik.


Sultan Yazid mendekatkan wajahnya pada corong teleskop dan mulai meneropong. Ia menyaksikan sebuah benda melayang. Mirip sebuah planet namun tidak berotasi. Beberapa titik terlihat kerlap-kerlip.


Sultan Yazid menjauhkan wajahnya lalu menatap Kun Yang. "Itu memang objek yang melayang di angkasa..." wajah lelaki itu kemudian ragu. "Namun aku tak yakin jika obyek menyerupai sebuah planet itu adalah Valmana..."


"Maksudmu?" tanya Kun Yang yang tak paham.


"Bisa jadi itu hanyalah sebuah planet, bukan Valmana yang selama ini anda yakini..." bantah Sultan Yazid.


"Ah, bicara dengan kalian hanya sia-sia saja." tukas Kun Yang dengan jengkel. "Aku akan membuktikan pada kalian, dan pada semua orang dijagat ini bahwa benda melayang itu adalah kendaraannya Raja Samiri..."


Sultan Yazid kemudian bangkit dan berdiri didepan Kun Yang. "Mengenai Kelompok Xamrush... apakah pihak Kerajaan Zhou tidak punya inisiatif lain untuk menangkap musuhnya?" tanya lelaki itu.


"Sudah berbagai ikhtiar dilakukan, namun mereka selalu saja gagal menangkap komplotan pengacau keamanan itu." ujar Kun Yang.


"Bagaimana kalau kami yang akan membereskan mereka?" pancing Sultan Yazid.


Sejenak Kun Yang terdiam dan memandang Sultan Yazid yang kemudian menatap keempat rekan lelaki itu satu persatu hingga tatapannya kembali ke arah penguasa daulah Bustamiyah itu.


"Anda tidak bergurau, kan?" tukasnya lagi.


Sultan Yazid tersenyum kemudian menatapi Havard dan Do Quo. "Kalian tidak keberatan jika kita melakukan tugas membereskan Komplotan Xamrush?"

__ADS_1


"Aku sudah tak sabar...." sambut Do Quo dengan senyum seringai sambil *******-***** tangannya.


Sultan Yazid menatap ke arah Havard. Pemuda itu menghela napas. "Tuanku yakin jika mereka ada hubungannya dengan Sinhala?"


"Sinhala?" cetus Kun Yang tiba-tiba. Ia kemudian menatap Sultan Yazid dengan nanar. "Kalian mencari Sinhala?!" serunya dengan nada yang kembali terdengar curiga.


Sultan Yazid berpikir sejenak lalu ia menatap Kun Yang seraya merogoh sesuatu dibalik pakaiannya dan memperlihatkan benda tersebut kepada astronom tersebut.


"Lencana itu... kalian???" suara Kun Yang seakan tercekik.


"Ya, saya adalah anggota polisi rahasia yang ditugaskan untuk memburu Sinhala atas tuduhan konspirasi jahat terhadap negara-negara dikawasan Najd, Runehall Utara dan Dataran Kanpo." tutur lelaki itu.


Do Quo mengangkat alisnya lalu tersenyum. Sang penguasa tak perlu berbohong lagi, terkecuali statusnya sebagai kepala negara. Sultan Yazid memperkenalkan dirinya.


"Saya, adalah Abu Yazid al-Bustami, berpangkat Imperator*) menggantikan posisi mendiang Nuzlan bin Daliph ad-Dakhil yang gugur di Benteng Maung saat menyelamatkan Sultan Yazid yang disekap disana oleh Sinhala!"


*) Imperator adalah jabatan tertinggi dalam kepemimpinan militer. Pangkatnya kira-kira sama dengan jenderal agung.


Sultan Yazid kemudian menatap Do Quo. "Beliau adalah Do Quo, warga negara ini yang saya sewa sebagai pemandu lokal saya untuk menemukan orang itu." ujarnya kemudian menatap Havard, Selena dan Nagini.


"Adapun ketiga orang ini adalah sukarelawan yang ikut dalam misi saya." tutur Sultan Yazid mengakhiri perkenalkannya.


Kun Yang seketika langsung bersikap hormat. Jarang-jarang seorang pejabat tinggi kemiliteran negara lain mengunjunginya secara pribadi.


"Tuan Panglima... kalau begitu, saya mengucapkan rasa terima kasih yang tinggi mewakili Yang Mulia Kaisar Pu Tuo." ujar astronom tersebut.


"Tapi tolong jangan buka penyamaran kami kepada orang lain, termasuk kepada Yang Mulia Kaisar sendiri..." pinta Sultan Yazid. "Saya kuatir... konspirasi orang itu mungkin juga telah menyusup ke istana."


"Saya akan menjaga sebaik-baiknya rahasia anda, Tuan." jawab Kun Yang. "Sekarang, apa yang bisa saya bantu untuk anda?"


"Apakah Anda mengetahui sedikit tentang buronan ini?" tanya Sultan Yazid.


Kun Yang tersenyum hambar. "Saya tidak tahu." Namun kemudian wajahnya berbinar lagi. "Tapi, anda bisa menemui keponakan saya di Navada, kota pelabuhan disebelah utara Cappadonia."


"Oh ya?" seru Sultan Yazid dengan gembira. "Apakah keponakan anda mengetahui dengan baik perihal Sinhala?"


"Keponakan saya bernama Han Houw. Dia bekerja di Dinas Rahasia Kekaisaran. Saat ini dia mungkin pulang ke Navada, menikmati perlopnya sebab anak itu akan menikah beberapa hari lagi." ujar Kun Yang.


"Terima kasih atas keterangan anda." ujar Sultan Yazid sembari menyalami tangan astronom itu. "Tugas kami menjadi sedikit lebih ringan dengan bantuan anda."


"Tak usah sungkan meminta bantuan, Tuan. Saya senantiasa akan memberikan pertolongan." jawab Kun Yang dengan semangat.


"Kalau begitu, kami permisi dulu." ujar Sultan Yazid pamit.


"Silahkan." sahut Kun Yang sembari melangkah ke pintu dan membukanya.

__ADS_1


Kelima orang itu bergerak meninggalkan ruangan observatorium tersebut. []


__ADS_2