MASSHIAHSAGA-PEMERINTAHAN RATU BAYANGAN

MASSHIAHSAGA-PEMERINTAHAN RATU BAYANGAN
DATARAN BOLSHOI


__ADS_3

Sultan Yazid menghela napas lalu menatap kawanannya. "Kita punya banyak tugas hari ini, kawan-kawan." ujarnya.


Do Quo tersenyum. "Perihal tugas, itu tak perlu Tuanku keluhkan. Kita memang memilih resiko itu sejak meninggalkan Najd."


Sultan Yazid membalas senyumnya. "Terima kasih Do Quo." jawab Sultan Yazid. "Meski kau bukan warga dataran Najd, kau mau membantu perburuanku."


"Bagi saya, seorang yang berdiri dalam kode etik Kangouw*), mengupayakan keseimbangan alam semesta merupakan sebuah kewajiban." sahut lelaki berkumis tebal itu. "Asalkan Tuanku masih membutuhkan tenaga saya, dengan rela saya memberikannya."


"Ah, kau berkata begitu supaya memberi kesan seorang pendekar dimata Nagini. Iya kan, Do Quo?" sela Havard dengan senyum nakal lalu mengerling kearah Nagini.


"Sebaiknya kau tak terkesan dengannya." hasutnya, "Do Quo termasuk salah satu dari jejeran lelaki perayu dijagat ini."


Nagini mendengus ketus. "Urusi saja urusanmu." timpalnya.


Havard terpaksa menelan salivanya mendengar jawaban yang terkesan cuek dan ketus itu. Do Quo menertawai rekan seperjalanannya itu sedangkan Selena dengan gemas menjewer telinga pemuda itu.


"Kamu kenapa sih?!" seru Havard menguak.


"Nggak usah menggoda orang!" bentak Selena dengan galak. "Fokus saja sama jalanan didepanmu!"


Sultan Yazid kembali tersenyum melihat kekonyolan pemuda berbaju jirah perunggu itu. Sementara Champa kembali mengolok-olok Selena yang mencak-mencak sebab Havard terlihat berupaya mengintimi Nagini yang dingin.


Perjalanan itu tak terasa sebab dibawa bercanda sepanjang perjalanan. Mereka tiba dipersimpangan lalu membelok ke kiri menuju barat. Hanya dalam beberapa jam ketika mentari menjajaki angkasa dalam senja, mereka tiba didepan gerbang benteng Bhulgana Bull.


Do Quo yang selalu tampil sebagai juru bicara memajukan kendaraannya didepan Sultan Yazid. Di depan gerbang yang tertutup, diatas pelana kuda sabhrangnya, lelaki berkumis tebal itu menengadah menatap pagar balkon benteng dan berseru memanfaatkan tenaga dalamnya.


"Utusan dari Tel-Qahira datang hendak melintas menuju barat dataran Dul-Gaddhar!!!" seru Do Quo dengan keras. "Mohon dibukakan gerbang!!!"


Kesunyian melingkupi suasana tersebut sebab benteng itu begitu tinggi menjulang bagai pasak yang ujungnya mengarah ke atas. Tak lama dari pagar pembatas balkon, muncul sesosok wajah menatap kelima penunggang tersebut.


"Bhulgana Bull tidak boleh dilewati, kecuali atas perkenan Yang Mulia, Zhou Pu Tuo, Hwang Shan**). Tanpa itu, kami akan mengusir siapapun yang coba melintas tanpa ijin!!!!" seru lelaki tersebut.


Sultan Yazid dari punggung kudanya merogoh sesuatu dari balik pakaiannya dan mengeluarkan secarik kertas tebal yang disegel dengan lilin merah. Ia memperlihatkan kertas itu kepada lelaki yang mengintip dari pagar balkon.


"Ini maklumat beliau, Hwang Shan-Pu Tuo!!!" seru Sultan Yazid dengan lantang. "Biarkan kami lewat!!!"


Tak lama kemudian gerbang raksasa itu perlahan membuka, memperdengarkan bunyi-bunyi serbuk karat yang saling bergesekan dengan bebatuan cadar yang menghiasi jalanan tersebut.


Dari gerbang itu muncul seorang serdadu bersenjata tombak. Ia meminta surat dalam genggaman Sultan Yazid. Lelaki berpakaian hijau itu menjulurkan tangan menyodorkan kertas berisi perijinan untuk melintas. Serdadu itu berbalik membawa masuk surat tersebut.


Tak lama kemudian salah satu serdadu muncul lagi dan meminta mereka masuk. Sultan Yazid kemudian masuk disusul oleh ke empat rekan-rekannya.


Didalam benteng telah menanti beberapa prajurit berbaju baja, mengawal seorang prajurit yang mengenakan baju baja yang sama, namun mengenakan mantel panjang berwarna biru gelap. Ia mengenakan helm yang dihias rumbai-rumbai. Lelaki itu adalah Tio Sin Liong, seorang komandan militer yang bertanggung jawab atas pengamanan benteng Bhulgana Bull.


"Maaf jika kaki terkesan mempersulit anda, Tuan Imperator." ujar Sin Liong. "Bagaimanapun pangkat kita sama meski dari negara yang berbeda."


Sultan Yazid mengangguk. "Kami harus cepat melintas, sebab buronan yang kami buru kemungkinannya juga berada di kawasan Bolshoi."


"Tentu. Tapi saya akan memberikan beberapa nasihat kepada anda." ujar Sin Liong kemudian menatap pintu diseberang.


"Bolshoi, kami sering menyebutnya lembah tanah terapung." tutur Sin Liong. "Ada semacam kekacauan gaya magnetik ditempat itu. Udara disekitarnya dikerubuti kabut abadi. Mungkin kabut itu berasal dari konsentrasi sulfur yang tinggi dan mendapat tekanan dari panas bumi..."


"Terima kasih telah menjelaskan topografinya." sahut Sultan Yazid. "Kami akan berhati-hati mulai dari sekarang."


Tio Sin Liong mengamati kelima orang dibelakang Sultan Yazid. Ia menatap lelaki bermantel hitam yang duduk gagah dipunggung rakhsh tersebut.


"Anda sekalian yakin melintasi tempat itu tanpa pemandu?" tukas Sin Liong dengan wajah ragu.


Sultan Yazid tersenyum. "Tak perlu ragu. Kami bisa melintasi wilayah itu dengan selamat. Semoga Tuhan selalu memberikan kami kemudahan."


Tio Sin Liong mengangguk lalu menatap dua orang penjaga yang mengawasi gerbang diseberang.


"Bukakan pintu!!!" serunya dengan lantang.


Kedua pengawal itu dengan sigap mengenggam gagang pintu itu dan mulai menariknya dengan sepenuh tenaga. Sin Liong kembali menatap Sultan Yazid.


"Silahkan melintas... semoga perjalanan anda dimudahkan..." ujar Tio Sin Liong dengan nada tegas.


Sultan Yazid melambaikan tangannya ke depan seraya menarik tali kekang kudanya. Keenam penunggang itu menyusuri lorong besar yang mengarah ke pintu seberang.

__ADS_1


Sesampainya ditepi batas kawasan Bolshoi, Sultan Yazid mengingatkan keenam rekannya untuk meningkatkan kewaspadaan.


Tio Sin Liong sudah memerintahkan gerbang kembali ditutup. Sultan Yazid memandang kabut tebal yang memenuhi ruang-ruang kosong dibawah bongkahan tanah yang mengapung-apung.


"Kita tidak tahu kedalaman jurang dibawahnya." ujar Sultan Yazid. "Kewaspadaan adalah hal yang lebih utama untuk saat ini."


Keenam penunggang kendaraan itu kemudian menjajaki tanah-tanah terapung itu dengan hati-hati. Yang paling dikuatirkan adalah karkadan yang ditunggangi oleh Havard dan Selena.


Hewan itu tidak lincah sebab karkadan bukanlah hewan pacuan. makhluk itu lebih cocok digunakan sebagai hewan pengangkut sebab kemampuan fisiknya setara dengan lembu brahman.


Kekuatiran rekan-rekannya ternyata tak beralasan. Meskipun Bukefals (nama karkadan tersebut) bertubuh besar dengan kulit setebal sisik naga, namun ia adalah hewan yang lahir dari penangkaran, bukan dari alam liar. Hewan itu sedikit banyak sudah diajari melompat jauh sebagaimana seekor kuda melompat.


Mereka melompati tanah-tanah terapung itu hingga tiba diseberang. Namun mereka berhenti ketika menyadari ada sebuah benda yang menghalangi jalan.


Sultan Yazid memicingkan mata agar bisa mengamati dengan jelas benda besar yang menghalangi jalan. Champa menggebah kudanya agar mendekati benda tersebut. Tak lama ia terlonjak.


"Waduh... kok bisa ya?" seru Champa dengan bingung.


"Kenapa Champa?" tanya Sultan Yazid sembari mengendalikan tali kekang kudanya agar rakhsh itu tenang.


Champa menatap Sultan Yazid. "Ini adalah Uendicho, makhluk hasil rekayasa genetika yang dikembangkan oleh bangsa Sigirlya..." tuturnya.


"Aku tahu sejarahnya." sahut Sultan Yazid. "Makhluk ini pernah digunakan dalam peperangan besar ketika Raja Samiri dari Gog, menyerang Istana Baalthazar dan Menata Temen-Ni-Zur..."


Havard dan yang lainnya mendengar dengan seksama penjelasan lelaki bermantel hitam itu.


"Kaisar Uran memimpin pasukan Ur-Salem menghadapi Raja Samiri. Raja bangsa Sigirlya dari Gog itu melepaskan Naga Tanihwa yang berdiam di Gunung Pyrgo sehingga makhluk itu mengamuk menghancurkan Menara Temen-Ni-Zur yang dijaga oleh Tujuh Satria Dewa..." tutur Sultan Yazid.


"Lalu, bagaimana dengan ketujuh satria itu?" tanya Havard ingin tahu.


"Enam diantaranya gugur..." sela Nagini tanpa sadar.


Semuanya memandangnya membuat Nagini menjadi canggung. Champa bertanya dengan alis berkerut. "Yang satunya?"


"Aku tak tahu..." jawab Nagini.


Sultan Yazid kemudian menatap tubuh makhluk itu. Selena kemudian turun dari punggung Bukefals.


"Kemungkinannya kita harus memanjati tubuh makhluk ini agar bisa menyeberang ke sebelah." jawab Selena kemudian menyentuh tubuh makhluk tersebut.


Tiba-tiba tanah bergetar dan kesemuanya kaget. Tunggangan mereka menjadi gugup dan masing-masing berupaya menenangkannya. Havard berseru.


"Selena!!! Lari kemari!!!" teriaknya sembari mengulurkan tangan.


Selena langsung berlari menjauhi makhluk itu. Sementara tubuh makhluk tersebut tiba-tiba saja bergerak dan kemudian berdiri dengan tegap, memandang keenam orang itu dengan tatapan mata yang menyala.


GRRRRAAAARRRGGGHHHHH....


Uendicho itu menggeram. Sultan Yazid langsung mengambil tombak Pasak Bianglala diikuti oleh lainnya yang juga menghunus senjatanya.


"Kelihatannya makhluk ini tak berbahaya." seru Havard, namun pemuda itu tetap saja menghunus nodachi Kanesada dari punggungnya. Sementara Selena sudah siap dengan busur yang terentang. Sebatang anak panah sudah siap dilepaskannya.


"Coba saja kau dekati" tantang Do Quo dengan kesal. "Bujuk dia untuk menyingkir dari jalan!!"


Nagini tak menunggu lama. Ia menarik tali kekang membuat geryon serentak meringkik keras sambil mengangkat kedua tungkainya lalu berlari cepat menuju Uendicho itu. Wanita itu sudah menghunus pedangnya dari tadi.


"Nagini!!!" seru Do Quo yang juga memacu kudanya menyusul Nagini.


"Taklukkan makhluk itu!!!" seru Sultan Yazid mengangkat Tombak Pasak Bianglala keatas lalu maju menyerbu.


GRRRRAAARRTGGGGHHH...


Uendicho menggeram lagi lalu mengibaskan tangannya, hendak menampar keenam penyerangan dengan sekali kibasan tangan.


Nagini mengendalikan geryon sehingga hewan itu meloncat menaiki lengan makhluk itu. Nagini tiba-tiba meloncat dan menerjang sambil menghujamkan ujung pedangnya ke tubuh Uendicho.


JLEB!!!! RRRRAAARRRGGGHHHH....


Makhluk itu kembali meraung dan meronta membuat Nagini terlempar akibat rontaan makhluk tersebut. Do Quo menggeram lalu melompat ke udara dan mengembangkan tangan.

__ADS_1


"Rulai San Zhuan!!!" seru Do Quo merapalkan ajiannya seraya mengatupkan tangan ke dada. Kedua tangan lelaki itu bercahaya. Disertai teriakan lantang mengguntur, Do Quo menukik dan menyodorkan telapak tangannya yang bercahaya ke tubuh makhluk itu.


BAMMMMM!!!! RRRRAAAAARRRGGHHH...


Ledakan besar terjadi dan sesaat kemudian Do Quo terpental ke belakang. Untungnya saja ia tak menapak sisi jurang. Adapun Uendicho terjejer beberapa langkah ke belakang. Tanah bergetar setiap kali ia melangkah.


Champa tak mau ketinggalan. Ia memutar-mutar tongkat martilnya lalu berlari ke arah Uendicho yang belum sempat menegakkan tubuhnya.


"Rasakan ini!!!!" seru Champa seraya mengayunkan martilnya menghantam kaki Uendicho.


BUAGHHH!!!! RRRRAAAARRRGGGHHHH...


Uendicho mengangkat kakinya yang sakit dihantam Champa dengan keras. Makhluk itu kehilangan keseimbangan dan oleng hendak jatuh.


"Kesempatan besar!!!" seru Sultan Yazid melompat dari kuda. Sementara tubuhnya melayang di udara, lelaki bermantel hitam itu membidikkan tombaknya ke arah makhluk itu kemudian melepaskannya.


SWIIIIIIINGGGGG.... JLEB!!!!


RRRRRAAAAARRGGGHHH...


Tombak Pasak Bianglala menancap di kepala makhluk itu. Mungkin karena jengkel diserang terus. Uendicho kemudian meronta dan tiba-tiba mengarahkan wajahnya ke arah para penyerangnya.


"Awass!!!" seru Nagini memperingatkan.


Tiba-tiba kedua mata makhluk itu memendarkan cahaya merah lalu berubah menjadi senjata sinar yang mengarah kepada keenam penyerangnya.


JREEEEEENGGGG.... DUARR!!!!


Untung saja keenam orang itu langsung menghindar bersama tunggangannya. Sinar yang dipancarkan oleh Uendicho melalui matanya hanya mengenai tempat kosong dan menimbulkan ledakan dahsyat.


SWIIING... SWIIING... SWIIING...


DUARRR... DUARRR... DUARRRR....


Beberapa kali Uendicho menyorotkan sinar penghancurnya. Sial bagi Selena. Gadis itu terjatuh dari punggung karkadan akibat daya hempas senjata yang diujicobakan. Havard juga melompat ke udara lalu memutar-mutar pedang lengkungnya ke udara dan berseru.


"Pengumpul Awan Syurga!!!" seru Havard.


Nodachi Kanesada yang diputar-putar Havard ke udara memendarkan cahaya menyilaukan dan tiba-tiba gelegar guntur terdengar memekakkan telinga. Sesaat kemudian muncul lidah-lidah petir yang sebagiannya menyatu dengan pedang lengkung yang diputar-putar Havard di udara.


"Hancurlah keburukan di muka bumi!!!" seru Havard menggenggam gagang pedang dengan erat kemudian mengayunkan senjata itu ke arah Uendicho.


Serangkum tenaga kasat mata bercampur petir bergerak dengan cepat menuju ke arah Uendicho.


GELEGUARRRR....


Lidah-lidah petir berhasil menghantam sekujur tubuh Uendicho. Makhluk tersebut kelojotan menerima serangan alam tersebut. Namun ia masih tetap bertahan dan menjulurkan kedua tangannya ke arah Selena dengan cekatan lalu mencengkeram tubuh gadis itu.


Selena berteriak kesakitan membuat Havard naik pitam. "Bangsat!!!" serunya dengan keras dan melompat diudara. Tepat ketika lengan yang menggenggam gadis itu bereaksi mencengkeram Selena sehingga gadis itu sulit bernapas.


"Selena!!!" pekik Havard dengan kalap.


Lelaki itu mengamuk mengerahkan semua kompotensinya menghadapi Uendicho.


AAAAAAAAAKKHHHHHH...


Teriakan keras Selena membahana memenuhi semua ruang kosong wilayah itu.


"Selena!!!!" teriak Havard lagi dengan putus asa.


Tiba-tiba sebuah peristiwa unik kembali terjadi. Tubuh Selena dalam genggaman makhluk itu memencarkan cahaya ke putih cemerlang yang makin lama menyilaukan lalu memenuhi seluruh ruang wilayah tersebut.


Havard dan yang lainnya, terkecuali Nagini, terpaksa menghalangi pandangannya dengan tangan yang disilangkan.


BYAAAARRRRR... []


Catatan kaki:


*) Kangouw, adalah istilah umum bagi dunia kependekaran.

__ADS_1


**) Hwang Shan atau Huang San adalah gelar yang disematkan pada para Kaisar Dinasti Zhou secara turun temurun.


__ADS_2