MASSHIAHSAGA-PEMERINTAHAN RATU BAYANGAN

MASSHIAHSAGA-PEMERINTAHAN RATU BAYANGAN
KENANGAN YANG TERLINTAS


__ADS_3

Nagini duduk bersimpuh megap-megap berupaya mengambil udara untuk mengisi paru-parunya yang sesak sebab baru saja lepas dari bahaya akibat terapung-apung seharian ditengah perairan, menyelamatkan seorang pemuda yang tak sempat berjuang menyelamatkan dirinya sendiri.


Disisinya terbaring Havard yang diam dalam pingsannya. Keduanya berada ditepian pantai, bermandikan deburan ombak yang menyapu pasir-pasir.


Ketika Havard terjatuh, kepalanya terbentur bagian jembatan kayu yang patah menyebabkan kesadarannya hilang dan jatuh tanpa daya kedalam lautan dan terombang-ambing oleh ombak. Nagini mendengar Selena berteriak memanggil nama pemuda itu, seketika ia berlari ke sisi anjungan dan langsung terjun untuk menyelamatkan pemuda itu.


Namun tak satupun yang menolong mereka. Awak kapal yang ketakutan langsung melarikan K.M. Sancakala meninggalkan lokasi itu sedangkan kapal hantu Ourang Sana juga telah hilang melayari keabadiannya.


Nagini mencondongkan wajahnya ke wajah Havard dan wanita itu lega menyadari pemuda yang ditolongnya masih bernafas. Dengan sigap ia bangkit dan menarik tubuh Havard kedalam gendongannya. Wanita itu menggendong pemuda itu meninggalkan pantai, mencari-cari tempat untuk beristirahat.


Ia menemukan sebuah gua dekat pantai itu. Untunglah saat itu bukan musim pasang sehingga air laut tidak sampai membanjiri gua. Ia memasukinya lalu meletakkan tubuh Havard ke pasir. Setelah itu Nagini duduk bersimpuh.


Ia melepaskan pengikat kepala pemuda itu dan meraba dahinya. Pemuda itu demam namun tidak menggigau. Hanya napas yang memburu ditambah kedinginan karena basah kuyup.


Nagini akhirnya berinisiatif melucuti semua pakaian pemuda itu, mulai dari baju jirah ringan yang dikenakannya, berikutnya tunika tipis yang melapisi torso pemuda itu. Kemudian celana dan terakhir sepatu bot. Claymore pemuda itu disandarkannya ke dinding gua.


Wanita itu keluar mencari benda yang bisa digunakan sebagai selimut. Ia menemukan beberapa pohon palma yang tumbuh lalu menebang beberapa helai daunnya dan membawa kembali benda-benda itu kedalam gua.


Nagini menjalin daun palma itu menjadi sebuah selimut dan menyelimuti Havard yang telanjang. Nagini mendesah lega dan beberapa saat kemudian ia pun menggigil sebab kedinginan karena keadaannya sama dengan pemuda itu. Basah kuyup.


Daripada menahan dingin, dengan terpaksa Nagini melolosi pula pakaiannya. Tubuh wanita itu telanjang sepenuhnya dan ia merayap kedalam selimut, berkemul bersama-sama dengan Havard. Nagini kemudian meraba kembali dahi pemuda itu. Demam pemuda itu belum turun. Hanya saja napasnya sudah mulai teratur.


Nagini menatapi wajah pemuda itu. Sesosok wajah muncul pula dalam benaknya. Wajah seorang kekasih yang begitu dirindukannya.


Arken... wajah pemuda ini begitu mirip denganmu... apakah Havard adalah keturunanmu? Ah, andai saja kau berada disini... aku tak akan kesepian seperti ini...


Nagini perlahan mengulurkan tangannya memeluk Havard, mendempetkan tubuhnya yang telanjang ke tubuh telanjang pemuda itu juga. Keduanya menyatu dalam pelukan itu.


Maafkan aku Arken... aku nggak selingkuh. Aku hanya berupaya menyelamatkan pemuda ini...


Nagini menyandarkan kepalanya di dada Havard dan perlahan mengatupkan matanya yang lelah. Akhirnya wanita itu tertidur.


...****************...


Menara Temen-Ni-Zur, Dur-Salim. Tahun 2022 Miladiyah. 10.000 Sebelum Penanggalan Romulus.


Kekacauan sementara berlangsung. Pasukan Sigirlya yang dipimpin Raja Samiri menyerang Dur-Salim dengan pasukan naganya. Raja Samiri sendiri mengendarai Naga Langit.


Kaisar Uran dan Ratu Burqa memimpin sendiri pertahanan kota sementara ketujuh Satria Dewa bertarung mempertahankan Menara Temen-Ni-Zur.


Theoldur berlutut dengan satu kaki. Baju jirahnya sudah rusak sebagian dan darah membanjiri tubuhnya yang penuh luka. Satria Dewa dari golongan Aesir itu telah banyak menumpas naga-naga yang dikerahkan mengamuk dalam menara. Lelaki raksasa itu bertumpu pada kapak mjolnirnya. Lupricala berlari mendapatkan lelaki itu


"Kau tak apa-apa, Theoldur?" tanya Lupricala.


Theoldur menggeleng. "Jangan pusingkan aku. Jangan sampai Samiri keparat itu memasuki Aula Al-Mahdi. Dajjal keparat itu jangan sampai mengambil artefak dunia."


"Jangan kuatir. Megumi dan Akhnukh mempertahankan balairung itu dengan baik." ujar Lupricala.


Sementara Megumi dan Akhnukh bertarung melawan orang-orang Sigirlya yang menyerbu. Megumi adalah seorang Aragami (tengu). Wanita itu menggunakan kipas hauchiwa menangkis serangan para penyerbu dan mempergunakan sebilah tachi untuk menyerang mereka.


Melihat rekannya kerepotan, Akhnukh menggeram dan mengembangkan kedua tangannya ke udara.


"Orang-orang pengkhianat!!!! Rasakan guntur vajra!!!" seru Akhnukh. Kedua tangannya memendarkan cahaya dan lidah-lidah petir kemudian menghujam dari angkasa ke kedua tangan lelaki berjanggut itu.


Diiringi teriakan keras. Akhnukh menghujamkan kedua tinjunya ke lantai aula dan seketika lidah-lidah petir yang dahsyat menghujam orang-orang Sigirlya yang memenuhi aula itu.


Sementara Muhammad dan Nagini sibuk menaklukkan Naga Tanihwa yang mengamuk menyemburkan apinya membakar dinding menara. Raja Samiri tertawa senang diatas pelana yang terikat pada punggung naga itu.


Arken menggeram dan menghimpun tenaga dalamnya. Dengan raungan keras, lelaki itu menghimpun tenaga dalam dan sebuah aura berujud kobaran api memenuhi tubuhnya.

__ADS_1


"Raja Samiri, Dajjal pengkhianat!!!" seru Arken. "Atas nama Kaisar Uran al-Qahtan, kutumbangkan kau!!!"


Lelaki itu melesat bagaikan seekor phoenix dan menghantam tubuh naga tersebut. Naga Tanihwa meraung kesakitan dan Muhammad berhasil melemparkan rantai mythril yang melilit semua tungkai tubuh hewan itu.


"Nagini! Kuserahkan kepadamu!!!" seru Muhammad kemudian kembali maju mengacaukan gerakan Naga Tanihwa agar Nagini bisa dengan mudah mengikatnya.


Sementara Arken terlibat pertempuran seru melawan Raja Samiri diatas punggung Naga Tanihwa. Dalam suatu kesempatan, Arken berhasil menikamkan pedangnya ke tubuh raja tersebut.


Samiri mengerang kesakitan namun lelaki Sigirlya itu tiba-tiba mencengkeram tangan Arken yang mengenggam pedang.


"Kau akan membatu!!! Kau akan membatu!!!" seru Samiri sambil menyentakkan kedua tangan Arken sehingga pedangnya makin menancap dan darah menyembur menyirami tubuh lelaki tersebut.


Arken menyepak tubuh Samiri dan pada saat itu genggaman lelaki Sigirlya itu terlepas. Tubuh Arken melesat lagi dan jatuh dilantai ke lima dari menara.


Arken merasakan tubuhnya mulai membatu dan ia panik. Ditatapinya Nagini yang sedang meluncur ke arahnya.


"Arken...." seru Nagini seraya mengulurkan tangan hendak menggapai lelaki itu.


Namun terlambat. Tubuh Arken terlanjur membatu dan beberapa saat kemudian beberapa bagian dari menara runtuh menimpa arca dari lelaki itu.


"Arkeeeen...." jerit Nagini dengan pilu.


...****************...


Nagini terbangun dari tidurnya. Kenangan itu kembali datang dalam ujud mimpi. Terlalu sering bagi Nagini mengalami mimpi itu. Ia tak lagi bisa lagi menghitungnya.


Wanita itu bangun dan terkejut mendapati seorang anak kecil melihatnya yang sedang berbaring memeluk Havard.... dalam keadaan telanjang.


Anak itu menatapnya dengan heran. Nagini mendehem lalu bertanya dengan ramah. "Siapa kau nak? Apakah kau tersesat?" tanya wanita itu.


"Kenapa kalian tidur disini? Apakah kalian tak punya rumah?" tanya anak itu dengan polos.


Nagini tersenyum. "Kami bukan orang sini. Kebetulan malam, kami tak mendapat tempat istirahat. Jadi kami bermalam di gua ini." jawabnya.


"Terima kasih... dimana rumahmu?" tanya Nagini.


"Sedikit jauh dari sini. Kami tinggal di Brienn." jawab anak itu.


"Brienn.... dekat Direa?" tebak Nagini.


Anak itu mengangguk. Nagini bangkit tanpa sadar bagian atasnya menyembul dari selimut daun palma. Anak kecil itu tertawa.


"Teteknya tante kelihatan..." serunya lalu cekikikan. Nagini tersenyum malu lalu menutupi kedua *********** dengan tangan kirinya.


"Bisa tolong ambilkan pakaianku nak?" pinta Nagini menunjuk onggokan pakaian hitam yang menghampar di pasir.


Anak itu mengambilkannya dan memberikannya kepada Nagini. Wanita itu memakainya. Anak itu memperhatikan Havard yang masih terlelap.


"Apakah dia, suami Tante?" tanya anak itu.


Nagini tersenyum dan menggeleng. Anak itu memiringkan kepalanya dengan heran. "Kok tidur sama-sama? Telanjang lagi..."


"Kamu nggak perlu tahu..." ujar Nagini mencubit gemas dagu anak itu lalu bangkit dan memakai sepatunya, kemudian memasangkan tiara tanduk ke kepalanya dan terakhir menyampirkan Belati Setan ke pinggangnya. Wanita itu kemudian berlutut didepan anak itu.


"Kamu bisa berjaga-jaga diluar?" pintanya. "Tante hendak membangunkan teman Tante ini."


Anak itu mengangguk dan berlari keluar. Nagini kemudian mendekati Havard dan menggoyang-goyangkan tubuhnya.


"Bangunlah Havard." ujar Nagini.

__ADS_1


Perlahan Havard membuka matanya dan memandang langit-langit gua. Ia kemudian menatap Nagini yang berlutut disisinya.


"Bangunlah.... semalam kau berjuang keras melawan ombak dilautan... kita harus bergegas." ujar Nagini.


Havard hendak bangun dan menyadari bahwa ia telanjang. Dengan tatapan curiga dipandangnya Nagini yang sudah bangkit.


"Kamu...." tukasnya.


"Kamu demam akibat terhanyut ombak. Aku terpaksa menelanjangimu karena kau kedinginan." jawab Nagini dengan polos.


"Aku bermimpi meniduri ranjang..." ujar Havard dengan suara malas lalu menguap. " Entah kenapa ranjang itu begitu empuk saat aku membelai dan meremas-remasnya." Ia kembali menatap Nagini dengan penuh curiga. "Apa aku tak melakukan sesuatu yang aneh?"


Nagini menggeleng, namun sangat jelas wajahnya terasa panas. Tentu saja malam itu ia merasai benar jemari pemuda itu menjelajahi permukaan tubuhnya. Entah ia dalam keadaan sadar atau tidak, namun Nagini membiarkan saja meskipun ia merasa kedua buah benda didada itu dibelai dan diremas oleh pemuda itu. Bahkan Nagini merasakan begitu kukuh tonggak dibagian bawah pusar pemuda itu. Yang penting mereka tidak sampai melakukan penyatuan dan persenggamaan. Nagini berupaya mentolerirnya.


Maafkan aku Arken....


"Bangunlah... pakaianmu sudah kukeringkan..." ujar Nagini lalu berbalik dan melangkah keluar gua.


Havard bangkit menyingkirkan selimut daun palma itu lalu bergerak menuju tempat dimana pakaiannya terhampar. Pemuda itu mengenakannya dan memakai ikat kepala setelah itu mengambil claymore yang tersandar didinding gua. Havard kemudian melangkah keluar gua, mendapati Nagini dan seorang anak kecil.


"Siapa ini?" tanya Havard.


"Seorang warga lokal..." jawab Nagini. "Kita berada di Brienn... lokasi Direa sudah dekat, hanya bersebelahan gua karang yang menjorok ke laut itu." tunjuk Nagini kearah pegunungan karang yang terlihat menyembul dari laut.


"Om pulas tidurnya ya?" celetuk anak itu dengan senyum nakal.


"Kenapa memangnya?" tanya Havard.


"Enak benar..." sahut anak itu.


Havard baru saja hendak menanyakan lagi ketika Nagini menyela. "Ayo nak, kita ke rumahmu." ajaknya.


"Ayo!" seru anak itu berlari mendahului Havard dan Nagini.


Keduanya melangkah cepat menyusul anak yang sedang berlari-lari itu. Havard mengerling kepada Nagini.


"Aku tak melakukan sesuatu yang pantas kepadamu, kan?" tukas Havard.


Nagini diam saja. Havard kembali memanggil. "Nagini..."


"Kau dalam keadaan demam malam itu." jawab Nagini. "Aku membiarkan saja kau melakukan apa saja..."


"Termasuk..." tukas Havard tapi tak berani melanjutkan katanya.


"Tidak! Kita tidak melakukan hal itu, Havard..." tegas Nagini dan wanita itu tersenyum lagi. "Kalau mimpi basah, kurasa iya..."


Havard menepuk dahinya dan perasaan malunya makin bertambah. Berarti semalam mimpinya mengkhianatinya. Itu bukanlah kasur yang empuk, melainkan tubuh Nagini sendiri yang bisa jadi ditindihnya. Namun perkara memasukkan alat kelamin, kelihatannya tidak sebab Nagini menyangkalnya. Namun Havard benar-benar malu.


"Kenapa Havard? Bukankah itu manusiawi? Bukankah kau pria dewasa?" tukas Nagini dengan tenang. "Mimpi basah itu hal yang biasa, kan?"


"Tapi...."


"Sudah kubilang, kita tak melakukan hal itu, Havard." tandas Nagini lagi. "Jika kau berani memasukkan batang kelaminmu, sudah sejak tadi kau menggeletak tak bernyawa dalam gua itu!"


Wanita itu sengaja melangkah lebih cepat mendahului Havard. Pemuda itu hanya bisa berjalan dengan gontai.


"B-b-bisakah kita lup-lupakan kejadian s-semalam?" pinta Havard dengan suara agak keras.


"Ya, aku juga nggak mau cari masalah dengan Selena." timpal Nagini sambil terus melangkah. "Dan jangan pernah mengingat-ngingat hal itu lagi!"

__ADS_1


Havard bisa saja mendiamkannya. Begitu juga Nagini. Namun pemuda itu tetap saja merasai malu, menumpahkan air saripatinya ke permukaan tubuh wanita itu, meski itu dalam keadaan tak sadar.


Havard baru sadar ia sudah ketinggalan jauh sebab banyak memikirkan hal semalam itu. Pemuda itu merutuk sejenak lalu berlari menyusul Nagini. Kota Brienn sudah terlihat.[]


__ADS_2