
Hari ini, Tanggal 02 Aperira.
Kota Cappadonia kembali dihias dengan semarak. Para warga menyambut suka cita perayaan itu dan berharap tak ada lagi kegagalan. Pengumuman tentang upacara penobatan telah disebarkan tiga hari sebelumnya.
Para tamu dari beberapa kota satelit kembali berkerumun di Aula Naga Emas menyaksikan penobatan yang unik dan diluar kebiasaan saat itu.
...****************...
Tiga hari sebelumnya, Tanggal 28 Intersecta 2022 Romulus.
Kaisar Zhou duduk dengan wibawa diatas tahtanya. Disisi kiri dan kanannya duduklah Putri Mei Ling dan Putri Cin Ling. Di Aula Naga Emas itu hadir para pejabat sipil maupun militer dari berbagai tingkatan pangkat dan golongan. Sultan Yazid dan keenam rekannya berdiri dibelakang para pejabat yang memegang pemerintahan kota.
"Aku akan memberikan perintahku untuk yang terakhir kalinya di balairung ini." ujar Kaisar Zhou Pu Tuo dengan datar sambil mengawasi wajah-wajah para pejabat itu.
"Kemarin, penobatan Xiao Mei batal disebabkan adanya huru-hara yang melanda. Seorang penyamun yang menyamar sebagai Xiao Mei dengan lancangnya mencuri benda pusaka kekaisaran..." tutur Kaisar Pu Tuo.
"Namun dengan bantuan dari sahabat-sahabatku, empat orang kelana dari Najd, seorang penari dari Navada, Raja bangsa Aesir dan salah satu warga negara kita dari Daipeh... penyamun itu berhasil dibasmi dan benda pusaka dapat direbut kembali..." ujar Kaisar Pu Tuo.
Aula Naga Emas menjadi ramai oleh riuh rendah suara para pejabat yang berkomentar antar sesamanya dengan berbisik-bisik. Kaisar Pu Tuo kembali menenangkan suasana.
"Sebenarnya ada satu rahasia yang saya pendam diantara kalian..." ujar Kaisar Pu Tuo memancing kembali perhatian para pejabat.
"Diantara para kelana itu terdapat seorang pejabat tinggi. Sementara waktu namanya dirahasiakan... namun saat ini, saya tak perlu lagi menyembunyikannya kepada kalian..." Kaisar Pu Tuo berdiri dan mengembangkan tangannya.
"Sekalian kalian berlututlah!" seru Kaisar Zhou Pu Tuo dengan lantang. "Sambutlah, Sultan Yazid al-Bustami dari Tel-Qahira!" seru protokoler istana.
Ketika Sultan Yazid melangkah ke tengah aula, seketika para pejabat langsung bersimpuh. Yang paling terkejut tentulah Lektor Chan Kun Yang, Chan Han Houw, walikota Navada Shamrock dan jendral Cia Sin Liong dari Benteng Bhulgana Bul. Mereka tak menyangka bahwa orang yang berhubungan dengannya selama ini adalah seorang penguasa negara yang menyamar.
"Salam sejahtera kepada penguasa wilayah Najd, Baginda Sultan Yazid al-Bustami dari Tel-Qahira!!" seru para pejabat tersebut secara bersamaan.
Sultan Yazid menghela napas dan tersenyum lalu mengangguk. "Saya rasa sambutan ini sudah cukup. Kiranya kalian semua silahkan bangkit."
Para pejabat kemudian bangkit dan kini berdiri lebih sopan dan segan. Sultan Yazid kemudian menatap Kaisar Zhou.
"Terima kasih Yang Mulia Kaisar telah memperkenalkan saya kepada mereka semua." ujar Sultan Yazid. "Ijinkan saya kembali ke tempat saya, Paduka."
Kaisar Zhou mengangguk lalu kembali menatap para hadirin di Aula Naga Emas. "Sekalian punggawaku, dengarkanlah. Penobatan pewaris kekuasaan tetap akan dilaksanakan kembali. Tapi aku merubah isinya. Penobatan ini bukan hanya untuk Xiao Mei, tapi juga untuk Xiao Cin."
Kaisar Pu Tuo menarik napasnya sejenak lalu mengumumkan. "Hari ini, aku melantik dua putriku untuk mengisi kekuasaanku sebagai penguasa negara. Kepada dua putriku silahkan berdiri ditengah aula." pinta kaisar tersebut.
Aula Naga Emas kembali ramai dengan riuh rendah suara para pejabat. Putri Mei Ling dan Putri Cin Ling bangkit dari duduknya dan melangkah menuruni tangga lalu berdiri ditengah aula. Kedua gadis itu kemudian bersimpuh menghadap ke arah Kaisar Pu Tuo.
Tiba-tiba Jendral Cia Sin Liong dan Jendral Yuan Shi Ga maju dan berdiri dibelakang kedua putri tersebut. Seketika pintu aula terbuka dan masuklah sepasukan pengawal istana.
"Siapa diantara Taijin, dan Thaikam yang tidak setuju dengan pengangkatan ini, silahkan maju didepan!" seru Jenderal Cia Sin Liong sembari menghunus senjatanya, sebilah pedang lentur yang gagangnya dihiasi ronce-ronce. Tindakan ini diikuti pula oleh Jenderal Yuan Shi Ga yang menghunus golok besarnya. Para pengawal seketika menghunus senjata mereka.
Pameran kekuatan itu langsung menciutkan nyali para pejabat. Mereka tak ada lagi yang berani berkomentar. Adapun Sultan Yazid dan keenam rekannya hanya mengawasi drama tersebut.
Melihat tak ada tindakan pembangkangan, Kaisar Zhou Pu Tuo kemudian menuruni tangga tahta dan berdiri dihadapan kedua putrinya yang duduk bersimpuh.
"Dengan ini kunyatakan bahwa aku, Du Pu Tuo dari Dinasti Zhou keturunan ke sembilan dari Du Qiu Bai, mengundurkan diri sebagai kaisar dan melantik kedua putriku, Xiao Mei dan Xiao Cin sebagai kaisar berikutnya. Mereka memerintah bersama bagikan dua dzat dalam satu rasa. Bagai dua ekor naga dalam satu sarang. Kepada Xiao Mei aku anugerahkan nama Narangerel Chinua yang artinya cahaya mentari yang diberkahi oleh Tuhan. Dan kepada Xiao Cin, ku anugerahkan nama Sarangerel Chinua yang artinya cahaya rembulan yang diberkahi Tuhan." seru Kaisar Pu Tuo.
__ADS_1
"Kejayaan bersama Kaisar Narangerel Chinua dan Kaisar Sarangerel Chinua!!!" seru Jenderal Yuan Shi Ga dengan lantang.
"Kejayaan bersama Kaisar Narangerel Chinua dan Sarangerel Chinua!!!" balas para pejabat sambil bersimpuh secara berbarengan.
Kaisar yang pensiun, Du Pu Tuo, puas mendengar baiat tersebut. Sultan Yazid mengangguk-angguk dan tersenyum.
...****************...
02 Aperira 2022 Romulus. Aula Naga Emas, Istana Kekaisaran Zhou, Dang Dai Chan.
Kini ditahta Naga Emas, duduklah sepasang kaisar, Naranggerel Chinua dan Sarangerel Chinua. Keduanya menatap para tamu dengan wibawa.
Acara penobatan itu disiarkan oleh stasiun komunikasi secara langsung hingga seluruh warga diseluruh wilayah kekuasaan kekaisaran Zhou dapat menyaksikannya.
Setelah persandingan itu, kedua kaisar wanita itu mengikuti pawai keliling memperkenalkan diri mereka kepada para kawula kota Cappadonia. Kereta-kereta kekaisaran dikawal pasukan berkuda yang dipimpin Jenderal Yuan Shi Ga, dan angkatan bersenjata yang dipimpin Jendral Yan Jian beserta Laksamana Yi Shun Ji.
Dikereta kedua, duduk Sultan Yazid yang berdiri dan melambai-lambaikan tangan kepada penduduk kota tersebut. Banyak yang terpesona dengan ketampanan penguasa wilayah Najd itu. Bahkan ada yang berangan-angan ingin menjadi istrinya.
Havard dan yang lainnya menumpang dikereta ketiga. Khusus Thor, terpaksa harus menaiki kereta perang sebab tubuhnya tak cukup muat dalam kereta umumnya. Terdengar puji-pujian para warga yang mengelu-elukan mereka.
malamnya, diadakan pesta resepsi. Aula Naga Emas dihamparkan meja panjang ditengah-tengahnya yang diisi dengan berbagai jenis kuliner khas dari seluruh wilayah kekuasaan kekaisaran Zhou.
Sultan Yazid duduk disisi Ratu Naranggerel Chinua, bercakap-cakap sambil bersenda gurau sementara Nagini menemani Ratu Sarangerel Chinua berbincang-bincang.
Havard tidak terlalu berselera dengan makanan sebab ia lebih ingin berbincang-bincang dengan Selena. Sayangnya gadis itu sedang bersama-sama Champa menciptakan pertunjukan yang akan disuguhkan kelak. Do Quo dan Thor seakan menjadi kontestan makanan. Selain itu para tamu undangan juga memenuhi aula tersebut.
Tak lama kemudian muncullah sekelompok dayang penari yang dipimpin oleh Champa dan Selena, menyusul para pemusik, dan yang paling unik ternyata ada juga seorang disk joki yang didatangkan langsung dari Navada.
"Itu teman mainnya Champa kalau sedang menari." jawab Selena ketika Havard menanyakan profil pemusik tersebut.
"Yang Terhormat, Yang Mulia Kaisar Narangerel Chinua dan Kaisar Sarangerel Chinua..." ujar Champa sembari membungkuk takzim diikuti oleh Selena.
"Untuk memeriahkan acara ini, ijinkan saya dan kawan-kawan saya membawakan lagu dan tarian." pinta Champa.
Kaisar Narangerel Chinua tersenyum dan mengangguk. Maka mulailah tarian berbaur lagu itu dipertunjukkan.
Ditengah lagu tekno yang diperdengarkan oleh Disk joki itu, para dayang menari sambil bernyanyi. 🎶... Ku tahu, ku tak sendiri... 🎶
Champa mulai menyanyi. 🎶...kita berkemul dalam selimut, mendengar lagu pujian dalam nada yang tak seirama...🎶
Selena menyela, 🎶...Kita adalah satu...🎶
Champa kembali melanjutkan sambil disela oleh Selena, 🎶...sesuatu yang terkubur dalam diri kita, berdenting bagikan tuts-tuts piano...🎶 (Kita adalah satu) ... Mainkanlah... (kaulah simfoni) mainkanlah.... (Disisimu, kita menyatu) mainkanlah...🎶
Para dayangpun menyahut dan tetap disela oleh Selena. 🎶...ku bersumpah (...inilah simpati...) bahkan dalam tidurku, (...dan ku melayang..) kumendengar semuanya apa yang telah berlaku...🎶
Champa menyahut lagi. 🎶 Mainkanlah... 🎶
Musik tekno yang dimainkan disk joki bercampur dengan alunan musik yang dimainkan para pemusik konvensional berlangsung. Para dayang kembali menari.
Selena dan Champa saling menyahut dalam senandungnya, 🎶...dalam lautan... dalam lautan...🎶 (mainkanlah)... wahai... lautan... monster yang bersembunyi... keluarlah... (...mainkanlah...)🎶
__ADS_1
Kini giliran Selena yang menyanyi. 🎶... kita tak bisa hentikan rotasi bumi yang berputar bagai badai...🎶
Para dayang menyahut, 🎶...ku tahu, ku tak sendiri...🎶
Selena kembali menyanyi, 🎶...namun ku terjebak dalam rasa musik mengalir bagai sebuah simfoni.... mainkanlah...🎶
Para dayang menyahut, 🎶...berdiri selamanya... tak kan kemana...🎶...
Champa menyela, 🎶...aku jelas mendengarnya bagai ingatan yang nyata... semua yang kita lakukan...🎶 ... mainkanlah...🎶
Tarian pun kembali digelar dan para tamu termasuk Havard terpesona melihat tarian yang diperagakan Selena.
Selena menyahut, 🎶... kitalah kesatuan... 🎶...
Champa pun menyahut, 🎶... mainkanlah...🎶
musik berakhir begitu juga tarian. Para tamu sontak bertepuk tangan dan memuji-muji pertunjukan itu. Kaisar Narangerel Chinua dan Kaisar Sarangerel Chinua tersenyum-senyum sambil memberikan applause.
...****************...
Keduanya meninggalkan keramaian. Menyelundup dan berlari meninggalkan Aula Naga Emas sambil tertawa-tawa dan bergandengan tangan. Havard hari ini merasakan malam yang bahagia ketimbang malam-malam sebelumnya.
Keduanya kini berjalan-jalan menyusuri jembatan-jembatan yang menghubungkan wisma demi wisma dalam kompleks istana kekaisaran. Selena menatap bintang gemintang yang bertaburan di angkasa malam itu.
Keduanya berhenti dan sama-sama bersandar pada pagar pembatas jembatan. Selena membalikkan tubuh menatap air kolam.
"Aku tak menyangka kalau kau pandai menari." komentar Havard.
Selena menatap pemuda itu. "Baru tahu ya?" Pemuda itu mengangguk. Selena tertawa kecil lalu menyambung. "Makanya jangan banyak keluyuran... jadinya kamu nggak lihat bagaimana aku menari dan menyanyi."
"Aku keluyuran kemana-mana, juga dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupku, Selena." kilah Havard merendah. "Keahlianku hanyalah berkelahi... pekerjaan sebagai pengawal kafilah dagang... hanya itu yang cocok dengan kompetensiku."
"Ya... aku tahu..." sahut Selena pelan sambil tersenyum. "Tapi aku selalu bersyukur..."
"Bersyukur apanya?" tanya Havard.
"Bersyukur... berapa lamapun kau berjalan, kau tetap kembali kepadaku..." jawab Selena dengan malu-malu.
Havard tersenyum dan mendekati Selena lalu memeluk gadis itu dari belakang dengan lembut. "Aku akan selalu kembali kepadamu, Selena." bisiknya.
Selena tersenyum. "Katakan padaku... ketika kau membawa lari aku dari Benteng Maung, itu karena apa? Kewajibanmu kepada ayahku, ataukah rasa cintamu padaku?"
"Haruskah kujawab jika kau sudah tahu artinya?" pancing Havard.
Selena kembali tersenyum. Havard menyandarkan pipinya ke pipi gadis itu. "Aku hendak mengatakan sesuatu... maukah kau mengabulkannya?" bisik Havard.
Selena menggelinjang lembut dalam pelukan pemuda itu. "Apa?" tanya Selena juga dengan berbisik.
Havard sejenak tersenyum. Pemuda itu kemudian berbisik lagi. Kali ini lebih lembut.
"Kita menikah, yuk???" []
__ADS_1
...TAMAT...
...----------------...