
Keenam penunggang itu menatap sebuah bukit karang. Namun ada yang unik disana. Pegunungan karang itu membentuk lajur-lajur jalanan dan gua-gua pemukiman. Meskipun lama ditinggalkan, kawasan ini masih menyimpan kemewahan dan keindahan masa silam, sekaligus aura memancar yang menjadikannya tetap misterius.

"Asgrad..." gumam Sultan Yazid.
Kelimanya menoleh memandangi sisa-sisa keagungan masa lalu yang terpampang dihadapan mereka. Namun dari sekian itu hanya Nagini yang tidak perduli dengan pemandangan yang tersaji dihadapannya.
Wanita itu justru menatap Selena dengan pandangan sarat akan makna. Rasa penasaran yang muncul ketika menyaksikan keajaiban yang terlihat ketika Uendicho, makhluk yang tertidur didepan jalan setapak kawasan Bolshoi nyaris membunuh mereka semua.
Siapa kau??? Mengapa kau memiliki kekuatan itu???
Nagini terperangkap dalam kebingungan bercampur rasa ingin tahu yang memuncak.
Apakah kau adalah keturunannya??? Ah, tak mungkin!!! Beliau gugur bersama suaminya dalam perang dahsyat itu... tidak ada yang tersisa... hanya beliau yang memiliki kekuatan itu... Sanctus Anima...
Selena sendiri tak menyadari perhatian Nagini kepadanya begitu penuh. Gadis itu hanya duduk tenang dibelakang Havard, menenteng busurnya sedang tangan lainnya memegang sisi andong siap mengambil anak panah yang akan dibidikkan.
"Saudara-saudara. Kelihatannya tujuan kita akan tersampaikan. Mari kita masuk." ajak Champa langsung menggebah kuda chitunya dan hewan berkulit merah dan bertelinga panjang itu langsung berlari memasuki kawasan itu.
"Champa!!! Hati-hati!!!" seru Sultan Yazid.
Namun bersamaan dengan itu tiba-tiba beberapa anak panah dan lembing yang dilontarkan entah dari mana, melesat mengincar Champa yang sedang melaju.
Do Quo dengan sigap langsung melompat dari kudanya dan melayang sambil mengembangkan tangannya.
"Tapak Sakti Arhat Emas!!!" seru Do Quo.
BYAAARRRR....
Seketika tubuhnya memendarkan cahaya kuning berkilauan dan beberapa berkas sinar keemasan melesat keluar dari tubuh Do Quo dan menghantam beberapa senjata yang dilontarkan dari arah Asgrad.
PRAK PRAK PRAK PRAK...
Beberapa proyektil dan lembing yang terlontar patah menjadi beberapa potongan ketika tersambar cahaya kekuningan yang keluar dari telapak lelaki berkumis tebal. Lelaki itu kembali mendarat ke punggung kudanya.
"Dasar sembrono!!!" tukas Havard dengan kesal lalu memacu Bukefals agar maju memasuki kawasan pegunungan itu.
Karkadan memang tak memiliki ketangkasan. Namun kelebihannya adalah kulitnya yang keras bagai sisik naga. Itulah sebabnya Havard tidak terlalu memusingkan tunggangannya.
Sebaliknya, sembari masuk, Havard berulang kali mengibaskan nodachi Kanesada kesana kemari menebas sisa panah atau tombak yang terlontar.
Sultan Yazid mengikuti apa yang dilakukan oleh mereka. Ia sesekali mengibaskan tombaknya menampar setiap proyektil yang mengincarnya.
Nagini sendiri berjalan paling belakang. Selain mengawasi Selena, wanita itu juga memastikan tak ada satupun senjata rahasia yang terlontar kearah mereka.
Sepanjang perjalanan melalui lajur-lajur sempit itu, Keenam orang itu mengawasi dengan detail setiap gua-gua yang mereka lewati. Akhirnya mereka tiba di sebuah batu besar setinggi 150 meter.
Pada batu itu dipahat sebuah bangunan dengan pintu gua yang panjang. Ornamen pahatan pada dinding gua terlihat begitu anggun meski sudah banyak diselimut lumut dan jamur.
"Kelihatannya, ini adalah kediaman dari raja orang-orang Aesir." ujar Sultan Yazid kemudian mengamati gua-gua yang baru saja mereka lewati. "Bangunan ini nampak lain dari gua-gua yang ada."
"Sebaiknya, kita masuk saya, Tuanku." usul Do Quo.
"Apakah tidak berbahaya nanti?" sela Havard. "Bukankah dipintu gerbang tadi, Champa sudah diserang oleh pasukan tak terlihat. Akan lebih berbahaya memasuki tempat yang tidak kita tahu."
"Bukankah kita bisa mengantisipasi serangan semacam itu?" balas Do Quo dengan senyum.
Havard kembali mengangkat bahunya dan menjebikan bibirnya. Selena menyentuh bahu pemuda itu. "Mari kita masuk bersama-sama." ajaknya.
Havard menatap Selena dengan kesal. "Aku tak mau ada sesuatu yang jelek memimpamu. Lagi pula sudah berapa kali aku menyaksikan sesuatu yang menakutkan tentang kamu." balasnya.
Sultan Yazid menghela napas. "Kalau tak ada yang mau masuk, aku saja yang duluan." ujarnya mengarahkan rakhsh tersebut ke depan tangga gua lalu turun dari kuda. Kelima rekannya akhirnya mengikuti apa yang dilakukan lelaki bertombak pelangi itu.
"Waspada..." ujar Sultan Yazid memperingatkan. Ia sendiri telah menyiagakan tombaknya.
__ADS_1
Dengan senjata yang tergenggam ditangan, mereka menelusuri lorong-lorong yang panjang itu, hingga akhirnya Sultan Yazid langsung mengangkat tangannya. Kelima orang yang mengikutinya langsung berhenti.
"Ada apa?" tanya Do Quo dengan berbisik.
"Kalian dengar?" tanya Sultan Yazid balas berbisik.
Mereka menajamkan dria pendengarannya. mereka mendengar suara-suara orang yang bercakap-cakap.
"Kalian dengar itu? Atau hanya aku saja yang berhalusinasi?" tukas Sultan Yazid dengan berbisik.
Mereka mengangguk. Do Quo menjawab. "Berarti, kita sudah dekat, Paduka..."
Sultan Yazid kembali mengisyaratkan mereka untuk melanjutkan perjalanannya. Mereka kembali menelusuri lorong-lorong. Suara itu makin lama, makin jelas. Akhirnya mereka tiba dipenghujung lorong yang membawa mereka ke sebuah aula yng angkat luar biasa.
Dindingnya tinggi sehingga langit-langit gua tak kelihatan sebab gelap bahkan menimbulkan kesan angker. Lantai aula itu terbuat dari marmer dan diujung aula berdiri sebuah tahta tinggi terbuat dari batu keras.
Sultan Yazid dan rekan-rekannya serentak menyiagakan senjata. Dari balik kursi besar menyeruak sesosok makhluk berujud seorang lelaki kekar berkepala lembu dengan tiga pasang tanduk yang mencuat tajam.
"Goldie.... Goldie....." geramnya sambil menyeringai.
"Dia yang mengambil kalungku!!!" seru Selena dan gadis itu langsung mengambil anak panah dari andong, memasangkannya ke busurnya lalu merentangkan talinya membidik makhluk itu. Havard sendiri langsung menyilangkan pedang panjangnya didepan dada.
Sultan Yazid berdiri tegap. Dibelakangnya lima orang rekannya telah menyiagakan senjatanya masing-masing.
"Aaahhh... rupanya para pelancong dari Najd..." ujar sebuah suara yang menggema diruangan yang senyap itu. Keenam orang itu langsung bersiaga penuh mengamati sekeliling ruangan tersebut.
"Sinhala sudah menceritakan semuanya kepada kami... rupanya kalian memang tidak berpikir tentang keselamatan jiwa kalian sendiri." cela suara itu.
"Jangan hanya bersembunyi!!! Perlihatkan dirimu, jika kau memang pemberani." seru Sultan Yazid dengan lantang.
Sesosok tubuh berukuran cebol turun dengan lembut dari kegelapan langit-langit gua. Ia mendarat dengan empuk disandaran tahta bagian belakang dan berjongkok santai diatas tepian tahta tersebut.
"Orang-orang dari Najd..." ujarnya dengan senyum terkembang, memamerkan deretan giginya yang kuning tak terurus. Sejenak kemudian ia menatap Champa. "Tunggu... kau orang baru, ya?" ujarnya menunjuk ke arah Champa.
Dengan gaya centilnya, Champa menjawab sambil memikul batang martil kebahunya.
"Hei cebol laknat!!!" seru Selena dengan lantang sembari membidik lelaki itu. "Kembalikan kalungku agar semua kaum kamu ku ampuni."
"Hei, aku belum memperkenalkan nama." tegur Champa melirik kesal kepada Selena. "Seenaknya saja memotong pembicaraan orang lain." gerutunya.
Makhluk cebol itu tertawa dan mengangguk-angguk kemudian menunjuk Champa.
"Aku suka! Aku suka kamu!" ujarnya dengan nada cabul. "Setelah ini, kuingin kamu menemaniku disini... setidaknya... beberapa hari ini, aku ingin merasai bagaimana lembutnya kulit tubuhmu."
Champa baru saja menampakkan wajah marah ketika Sultan Yazid mengarahkan ujung tombaknya kepada makhluk cebol itu.
"Aku Datang untuk menangkap Sinhala dan membawa kembali ke Najd untuk diadili!" seru Sultan Yazid dengan lantang. "Tadi kau sempat menyinggung dirinya yang menceritakan tentang kami semua kepadamu." Lelaki bermantel hitam itu maju selangkah. "Sekarang katakan, dimana dia?!"
Lelaki cebol itu tertawa sembari menatap makhluk separuh lembu yang berdiri disisi kursi besar itu. Setelah puas tertawa, ia melompat turun dan berdiri dengan sikap siaga.
"Maaf jika aku tak bisa mengabulkan keinginanmu." ujar lelaki itu. "Aku, Luigi dan sahabatku, Hadhayusha..." lelaki itu menunjuk makhluk setengah lembu itu. "Tak akan membiarkan siapapun keluar dari sini dalam keadaan hidup!"
"Banyak bacot!!!" seru Nagini dengan lantang dan maju menyerang. Wanita itu menerjang sambil mengayunkan pedangnya.
Lelaki cebol itu tertawa lalu dengan lincah melompat ketika pedang milik Nagini menghantam sandaran tahta karang itu.
"Wow, Belati Setan!" seru Luigi menyebut nama pedang milik Nagini. "Tak salah rupanya, yang menyerangku adalah si Monster Khali..." serunya.
"Diaaam!!!" sergah Nagini dengan jengkel dan mengejar lagi Luigi. Hadhayusha melihat temannya dikejar terus oleh wanita berpakaian hitam dan memakai tiara mirip tanduk, meraung lalu berlari menyongsong ke arah Sultan Yazid dan keempat rekannya.
Luigi mendengus. "Tak ada mudahnya mengejarku, ******!!!" ejek Luigi dengan keras dan ia bersiul ketika melayang di udara.
Terdengar suara gemuruh memenuhi ruangan balairung tersebut. Dari kegelapan yang pekat menyeruaklah sekawanan besar makhluk camrush yang terbang dengan buas dan mengembangkan cakarnya.
"Hati-hati!!!!" teriak Sultan Yazid dengan lantang.
__ADS_1
Mereka dikepung oleh makhluk-makhluk camrush yang buas dan gaduh. Keempat orang itu meladeni kepungan camrush-camrush yang menyerang dengan beringas. Nagini tetap mengejar Luigi, menyerangnya dengan jurus-jurus yang mengunci pergerakan lelaki cebol itu.
Luigi mengumpat-umpat sambil terus menghindari tusukan dan sabetan Belati Setan yang dilancarkan Nagini.
Hadhayusha yang perkasa bertemu lawan yang sepadan. Do Quo berbekal jurus jirah Arhat Emas, lelaki berkumis tebal itu meladeni setiap pukulan yang diayunkan Hadayusha.
Do Quo tersenyum melihat serangan-serangan yang dilancarkan makhluk berkepala lembu itu. Ia melancarkan serangan dengan membagi buta. Yang perlu diwaspadai pada makhluk tersebut adalah kekuatan fisiknya yang setara raksasa.
Selena yang dendam karena kalungnya hilang, menembakkan semua proyektilnya kepada setiap camrush yang mendekat. Ketika tiada panah yang ditembakkannya, Selena menyimpan Busur Lupricala dipunggungnya lalu menghunuskan belati panjang pemberian Nuzlan dan menusuk setiap makhluk itu jika mereka berani mendekatinya.
Havard sendiri lebih banyak membantu Selena menumbangkan makhluk-makhluk itu dengan nodachi Kanesada miliknya. Pemuda itu berdiri membelakangi Selena dan beberapa kali membuat gerakan akrobatik kombinasi antara dirinya dengan Selena.
Sementara Sultan Yazid juga sibuk menaklukkan beberapa camrush dengan tombaknya dibantu oleh Champa.
Yang paling seru tentunya adalah pertarungan antara Hadayusha menghadapi Do Quo dan Luigi yang bertarung dengan genit melawan Nagini yang tak kalah lincah.
Setelah berlakunya beberapa jurus, Nagini berhasil mendesak Luigi dan akhirnya mengakhiri kehidupan lelaki cebol itu diatas ujung pedangnya. Luigi tewas tersandar disandaran tahta dengan tubuh yang terbelah dari bahu ke perut.
Do Quo juga akhirnya berhasil menaklukkan Hadayusha. Pertama, ia bergerak dengan cepat tanpa bisa dikejar Hadayusha. Do Quo telah berada dibelakang makhluk itu dan dia melompat ke punggung Hadayusha lalu mencengkeram tanduknya. Jadayusha menggeram dan meronta berusaha melepaskan Do Quo yang memegang erat tanduknya.
Namun Do Quo tidak menyerah. Dengan jurus yang dipelajarinya dari seorang tua Sigirlya, Lelaki itu mengayunkan tangannya membentuk pola Heiso-Uke, menghantam permukaan tanduk itu hingga patah. Hadayusha meraung kesakitan memegangi tanduknya yang telah dipatahkan.
Do Quo merentangkan tangannya lalu menekuk tinjunya ke perut. Setelah itu ia memutarnya dan melompat ke udara kemudian melancarkan tinju saktinya.
"Tapak Sakti Arhat Suci!!!" seru Do Quo seraya menghantamkan tinju saktinya ke dada makhluk itu. Hadayusha terlempar jauh menghantam pilar.
BRUAGHHH....
Tubuh Hadayusha akhirnya sempoyongan dan jatuh berdebam ke tanah. Do Quo melangkah maju dengan siaga lalu menyentuh leher makhluk tersebut. Sesaat kemudian lelaki berkumis tebal menghela napas dan menunduk hormat kepada lawannya.
Beberapa camrush yang tersisa, dengan menggeram terpaksa meninggalkan gua. Ruangan itu menyisakan keenam orang yang berjaya menumbangkan berpuluh-puluh camrush.
"Kita menaaaaaang...." seru Champa dengan riang sambil mengangkat martilnya ke atas.
Sultan Yazid menatap hamparan bangkai camrush yang nyaris memenuhi ruangan yang luas itu dan dia berdecak kagum.
"Aku tak menyangka kita bisa mengalahkan mereka." ujar Sultan Yazid.
Nagini telah menyarungkan kembali pedangnya dan menatap mayat Luigi yang tersandar duduk ditahta dengan tubuh yang terbelah. Tatapan matanya terlihat begitu dingin.
Selena langsung mendekati mayat Luigi dan mulai menggeledah. Havard mendekatinya.
"Apa yang kau cari Selena?" seru Havard sambil memikul pedang panjangnya.
"Dia mencuri kalung Rubihalconku! Aku harus menemukannya kembali." jawab Selena.
"Dia tak mungkin membawa benda itu kemari!!!!" tukas Havard.
"Kau bantu mencarinya, atau nggak?!" sergah Selena lagi. Havard terpaksa menelan lagi salivanya dan maju membantu menggeledah tubuh Luigi.
Tiba-tiba terdengar gemuruh yang membuat keenamnya kaget, disusul dengan gempa.
"Celaka! Kita akan terkabul disini!!!" seru Do Quo.
"Keluar!!! cepat keluar!!!" teriak Sultan Yazid.
Namun kelihatannya Selena tidak perduli. Ia terus menggeledah. Tanpa disadari gadis itu. Sebuah pilar besar rubuh hendak menimpanya.
Nagini yang sempat menyaksikan tak bisa bertindak lagi, melainkan hanya berteriak saja.
SELENAAAAA....
Selena menoleh dan bertepatan melihat pilar yang sementara rubuh mengancam nyawanya. Gadis itu hanya terdiam dengan mata yang membelalak.
Havard diterjang panik yang luar biasa.
__ADS_1
SELENAAAAA..... []