MASSHIAHSAGA-PEMERINTAHAN RATU BAYANGAN

MASSHIAHSAGA-PEMERINTAHAN RATU BAYANGAN
SI CENTIL BERAMBUT PERAK


__ADS_3

Kereta yang dikawal Havard dan Nagini terus menyusuri jalanan. Sultan Yazid menatap amplop surat itu. Kedua matanya memicing. Isi surat itu pasti berhubungan dengan eksistensi kelompok Xamrush. Pikirannya tergelitik. Haruskah ia membukanya?


Tiba-tiba terjadi guncangan pada kereta. Sultan Yazid nyaris jatuh dari tempat duduknya. Selena tak sempat mempertahankan keseimbangan sehingga jatuh dari tempat duduknya. Sultan Yazid langsung membuka jendela.


"Ada apa Do Quo?" tanya Sultan Yazid.


Do Quo turun dan memeriksa. Ia kemudian mendesah sambil menyeka keringatnya.


"Tuan Abu Yazid, kelihatannya kita harus membawa kereta ini ke bengkel." ujar Do Quo membuat Sultan Yazid memutuskan turun dan ikut memeriksa.


"Sambungan as pada roda kereta retak. Membuat kereta menjadi tidak stabil." jawab Do Quo. "Jika kita terus memaksakan kereta ini, bisa-bisa malah tak bisa lagi digunakan."


"Mungkin kawanan itu sengaja merusak kendaraan ini tanpa kita ketahui." ujar Sultan Yazid mengurut dagunya.


"Lagi pula, dimana kita menemukan bengkel?" sambung Havard diatas punggung karkadannya. Tatapannya mengedar ke segala arah. "Kita hanya akan menemukan pepohonan dan taman yang asri disini."


Do Quo diam berpikir. Selena turun dari kereta itu membawa busur Lupricala dan tombak Pasak Bianglala. Andong berisi sekumpulan batang-batang panah sudah tersampir disisi kanan pinggangnya. Lelaki berkumis tebal itu akhirnya memutuskan melepaskan tali-tali tiang kereta yang mengikat tubuh rakhsh*) itu.


*) Rakhsh adalah kuda jenis unggul, hasil rekayasa genetika. Penampilannya gagah dan kemampuan fisiknya tak diragukan.


"Sebaiknya Tuanku meneruskan perjalanan. Biar saya yang akan membawa kereta ini ke bengkel." ujar Do Quo. "Bagaimanapun, surat itu penting."


"Pikirkan caranya menukar kereta ini dengan hewan tunggangan." usul Havard. "Kita harus meringankan beban dalam perjalanan. Kereta hanya akan memperlambat perjalanan kita."


Do Quo menatap Sultan Yazid. "Tuanku..." ujarnya.


Sultan Yazid naik ke atas punggung rakhsh yang tak dipasangi pelana. Lelaki itu menyampirkan tombak Pasak Bianglala dipunggungnya. Ditatapinya Do Quo.


"Kurasa saran Havard benar." ujar Sultan Yazid. "Aku akan melanjutkan perjalanan ke kantor gubernur. Aku serahkan perihal kereta ini padamu." pesannya.


"Dimana kita akan rendezvous?*)" tanya Do Quo.


"Kita akan bertemu lagi di kediaman Nona Regina, sekalian merumuskan rencana perjalanan kita kembali." jawab Sultan Yazid kemudian menatap Havard, mengisyaratkannya untuk berangkat.


Havard mengangguk lalu menatap Selena. "Naiklah kemari." ajaknya. Selena menghela napas lalu menggeleng.


"Aku akan menemani Paman Do Quo saja." tolak Selena mengajukan keinginannya.


Havard diam sejenak lalu mengangguk. "Baiklah... kalau begitu, aku pamit." ujar pemuda itu kemudian menggebah Bukefals, karkadannya untuk melanjutkan langkahnya.


Sultan Yazid ikut menepuk-nepuk pelan leher kuda itu. Rakhsh memang benar-benar kuda yang cerdas. Ia seakan paham dan langsung melanjutkan langkah lalu berlari menyusuri jalan disusul oleh Nagini yang memerintahkan geryon mengejar Sultan Yazid. Havard paling belakang, sebab karkadan memang hewan yang tidak terlalu cepat larinya, sebab tubuh hewan itu lebih besar dari hewan-hewan tunggangan lainnya.


Do Quo menatap Selena. "Mari nak, kita bawa kereta ini." ajaknya.


"Apa kita hendak menarik kereta ini?" tanya Selena dengan heran. Do Quo tertawa dan bercakak pinggang.


"Tak perlu, anakku. Tak perlu." ujar Do Quo. "Aku sudah mampu menarik kereta ini sendirian."


Lelaki berkumis tebal itu memang kuat luar biasa. Selena sendiri sampai terheran-heran dibuatnya. Do Quo menarik kereta itu menyusuri jalanan sementara Selena mengikuti dari belakang. Kadang mereka berhenti dan menyapa salah satu warga yang kebetulan berpapasan sambil bertanya dimana letak toko barang bekas.


...****************...


Ketiga penunggang itu tiba didepan kantor gubernur. Didepan halaman kantor nampak dua orang serdadu bersenjatakan tombak berhulu pedang, kemungkinannya menjagai kawasan itu.


Kedatangan ketiga orang itu dicegat salah satu penjaga. Sultan Yazid memperkenalkan namanya sekaligus memperlihatkan lencana polisi rahasia kesultanan.

__ADS_1


"Kami ada pembicaraan penting dengan Tuan Shamrock." ujar Sultan Yazid. "Ini ada hubungannya dengan kawanan pengacau keamanan yang sering melakukan teror dikawasan barat Runehall akhir-akhir ini."


Penjaga itu menyingkir memberi jalan kepada tiga orang itu. Mereka melangkah memasuki pekarangan kantor. Didepan pintu masuk, ada seorang lagi yang berdiri dibalik meja piket. Sultan Yazid kembali mengemukakan hal yang sama. Petugas piket itu mengangguk.


"Tunggu sebentar, saya akan menyampaikannya kepada Tuan Gubernur..." kata petugas itu kemudian melangkah masuk kedalam ruangan.


Mereka bertiga berdiri menunggu di pekarangan. Tak lama kemudian, petugas piket itu muncul lagi dan mempersilahkan mereka untuk menemui Shamrock di ruangan kerjanya.


Sultan Yazid mengucapkan terima kasih lalu melangkah memasuki ruangan diikuti oleh Havard dan Nagini. Oleh petugas lainnya, mereka bertiga diarahkan menuju ruangan dimana sang gubernur berada.


Shamrock ternyata seorang demihuman. Ia adalah seorang manusia manusia panda, namun bulu-bulunya yang semestinya hitam justru malah berwarna coklat.


"Aaah... silahkan masuk, opsir-opsir dari Tel-Qahira." sambut Shamrock bangkit dari kursinya yang berupa bantalan kasur yang besar.


Sultan Yazid dan kedua rekannya dipersilahkan duduk pula di bantalan besar yang berada disisi-sisinya. Setelah berbasa-basi sejenak, gubernur kota Navada itu menanyakan maksud kedatangan ketiga orang tersebut.


Sultan Yazid kemudian mengeluarkan surat milik Han Houw yang kemudian diserahkan kepada Shamrock. Demihuman itu menerima surat tersebut dan membuka amplopnya lalu membaca isinya.


"Kami juga datang atas permintaan seorang pejabat bernama Kun Yang..." sambung Sultan Yazid.


"Kun Yang, si astronom itu... aku mengenalnya..." sela Shamrock.


"Beliau atas nama Yang Mulia Kaisar Pu Tuo, meminta kami menangkap Hadhayusha, pemimpin kelompok Xamrush..." sambung Sultan Yazid.


"Jika memang itu yang diperintahkannya kepada kalian, maka aku hanya bisa mendukung secara moril dan materil." jawab Shamrock. "Apakah beliau memberitahukan berapa dana yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan ini?" pancing manusia panda tersebut.


"Untuk perkara materil, kami sudah ditanggung oleh negara kami. Saya hanya perlu bantuan anda untuk memberitahu letak lokasi persembunyian kelompok Xamrush." sahut Sultan Yazid.


"Sesuai laporan Han Houw kepadaku beberapa hari yang lalu. Ia melaporkan letak markas kelompok itu berada disebelah barat dataran Bolshoi, tepatnya berada di pegunungan karang Asgrad...." jawab Shamrock.


"Lebih tepatnya kawasan itu adalah bekas pemukiman Bangsa Aesir, sebelum adanya serangan misterius yang menyebabkan punahnya bangsa tersebut." sambung Shamrock kemudian memanggil salah satu petugas, kemudian menyuruh petugas itu pergi ke kantin untuk memesan minuman.


"Terima kasih atas kemurahan hati anda." jawab Sultan Yazid dengan senyum. "Dengan restu anda, kami akan berangkat menuju Dataran Bolshoi."


Shamrock menggeleng. "Tidak, tidak..." ujarnya menggoyangkan jemarinya. "Dulu, sebelum kawanan Xamrush itu mendiami Asgrad, kawasan itu tidaklah dijaga ketat.... sekarang diperbatasan antara perbukitan karang Goldie, dengan Kawasan Bolshoi telah didirikan benteng Bhulgana Bull. Akses kesana hanya bisa kalian dapatkan langsung dari Kaisar Pu Tuo." tuturnya.


Sultan Yazid terdiam sejenak dan berpikir. Shamrock menatapi ketiga orang itu bergantian.


"Kelihatannya, tak ada cara lain kecuali menghadap langsung kepada Kaisar Pu Tuo untuk mendapatkan ijin memasuki Kawasan Bolshoi." ujar Havard pada akhirnya.


Sultan Yazid menghela napas. "Kelihatannya begitu." lelaki itu kemudian menatap gubernur kota tersebut. "Kalau begitu, ijinkan kami untuk bergegas sekarang, Tuanku."


Shamrock tersenyum. "Silahkan. Aku selalu berdoa, semoga ada yang akan menghentikan sepak terjang mereka. Kawanan Xamrush sudah cukup menyengsarakan rakyat." ujarnya sambil berdiri.


Ketiganya melangkah ditemani oleh Shamrock hingga ke halaman kantor. Sultan Yazid dan kedua rekannya kemudian menuju jalanan dan menaiki kendaraan mereka.


"Kita segera bergegas..." Sultan Yazid memandang langit senja. "Kita harus berada di kediaman Nona Regina."


Ketiga penunggang tersebut mulai memacu kendaraannya meninggalkan kantor gubernur. Mereka memasuki wilayah pertokoan dan kedai makan, ketika Sultan Yazid buru-buru menarik tali kekang kudanya. Rakhsh itu kaget dan meringkik sambil mengangkat kedua tungkai depannya ke udara.


Seorang gadis seusia Selena sedang berdiri didepan sebuah kedai dan memaki-maki pemilik kedai tersebut sambil mengangkat tangannya ke udara. Mereka mengamati gadis tersebut. Pemilik restoran balas memaki gadis itu dan mengacungkan jari tengahnya sebagai bentuk verbal dari lambang penghinaan terhadap si gadis itu.


Pemilik kedai itu kemudian berbalik meninggalkan gadis itu dan menutup pintu dengan keras. Gadis itu menggerutu panjang-pendek sambil menyepak kerikil disekitar kedai itu.


Gadis itu berkulit putih, mengenakan pakaian mirip para penari, lengkap dengan kemben yang menutupi kedua *********** yang mengkal itu. Sebuah pita besar menggantung dibelakang pinggang gadis tersebut. Sebuah senjata berbentuk godam bermata dua tergenggam di tangan kiri gadis itu. Rambut gadis itu terlihat terang memantulkan cahaya, sebab warnanya seputih perak mengkilap.

__ADS_1


"Hei anak kecil, apa yang kau lakukan? Menyingkirlah..." seru Havard diatas punggung karkadannya.


Gadis berambut warna perak itu menoleh dan sadar bahwa ia menjadi pusat perhatian. Gadis itu bercakak pinggang sedangkan tangan satunya yang menggenggam palu godam tersebut dipikulkan dibahunya.


"Hei, kalian orang asli disini?" tanya gadis itu.


Havard memajukan kendaraannya selangkah berada di depan gadis berambut warna perak itu. "Kau sendiri orang mana?" balas Havard menggertak gadis itu. "Siapa namamu?!"


"Aku adalah Champa! Penari terkenal disini." ujar gadis itu memperkenalkan diri. "Kau sendiri, hei Tuan bermantel hitam, siapa namamu?" tanya Champa dengan sikap genit.


"Jaga sikapmu, Nona Centil!!!" bentak Havard. "Kau tak tahu siapa yang kau hadapi!!!"


Champa menatap sinis ke arah Havard. Sultan Yazid tersenyum. "Namaku Abu Yazid al-Bustami..." lelaki itu memperkenalkan dirinya. "Sekarang, aku ingin tahu, kenapa kau memaki-maki pemilik restoran ini?" tanya Sultan Yazid dengan sopan.


"Orang brengsek itu tidak membayarku dengan semestinya!" ujar Champa mengadu dengan kesal. "Aku menagih sisanya, dia malah mengusirku... tambah lagi memaki-maki aku! Memang siapa dirinya?!"


"Kau bekerja di kedai itu?" tanya Sultan Yazid.


"Aku sudah dipecat. Tidakkah kalian lihat dia mengusirku?!" jawab Champa kemudian mengamati ketiga orang itu. "Kalian kelihatannya bukan orang sini... apa kalian pelancong?"


"Apa kau lihat kami bertiga ini seperti pelancong?!" sergah Havard dengan ketus.


"Eh, nggak usah sinis begitu kalau menjawab." tukas Champa dengan ketus pula. "Aku kan bertanya baik-baik."


"Nona Champa... kau sudah dipecat." sela Sultan Yazid. "Lalu, kamu mau kemana sekarang?" tanya lelaki itu.


Champa menggaruk-garuk rambutnya yang dikepang ke atas itu. Wajahnya mengernyit sejenak lalu berdecak. Ia kemudian memutuskan, "Aku ikut kalian bertiga saja." ujarnya. "Boleh, kan?"


Havard kontan langsung protes. "Apa, ikut?! Enak saja! Nggak bisa!"


"Eh, aku nggak nanya sama kamu!" seru Champa balas menyergah. Kedua matanya nanar menatap namun justru membuatnya semakin cantik.


"Pokoknya nggak boleh!" tandas Havard kemudian menatap Sultan Yazid. "Tuanku, kita sudah cukup kerepotan dengan Selena, jangan lagi menambah repot dengan mengikut sertakan perempuan asing ini!" tuntutnya.


Sultan Yazid malah tersenyum. "Apa kompetensimu, Champa? Kupikir godam yang kau bawa itu bukanlah sebuah pelantang, kan?"


"Tentu saja!" seru Champa dengan semangat. Ia memperlihatkan palu martil itu kepada Sultan Yazid. "Aku pandai bermain gulat. Martil ini adalah hadiah dari pertandingan yang kumenangkan. Kau lihat?"


Sultan Yazid menatap sebuah plakat yang ditempelkan pada martil itu. Disana tertulis nama dari Champa yang menjuarai kompetisi gulat lokal di Navada setahun sebelumnya. Lelaki itu kemudian tersenyum.


"Kami adalah petualang. Kami sedang dalam tugas memburu seorang yang berbahaya." ujar Sultan Yazid membuka sedikit keterangan dirinya. "Apa kau bisa membuktikan layak berada dalam kawanan kami?"


"Aku akan membuktikannya, jika kau mengijinkan aku bergabung dengan kalian." jawab Champa dengan tangkas.


Sultan Yazid mengangguk-angguk senang. "Baik, kau boleh bergabung dengan kami."


"Paduka!!!" seru Havard hendak protes.


"Naiklah kau dibelakang laki-laki itu." sela Sultan Yazid pura-pura tak perduli dan memerintahkan Champa naik ke atas punggung karkadan yang ditunggangi Havard.


"Eh, mengapa kau duduk dibelakangku?!" sergah Havard lagi.


"Eh, pelana ini punya dua tempat duduk! Kau tega membiarkan aku jalan kaki sementara kalian bertiga diatas tunggangannya?! Memangnya aku ini pelayanmu?!" balas Champa.


Nagini yang sejak tadi menonton pertengkaran itu kemudian menatap Sultan Yazid. "Anda sudah menambah daftar seorang musuh lagi bagi Havard."

__ADS_1


Sultan Yazid hanya tersenyum mendengar komentar wanita bertiara tanduk tersebut. []


__ADS_2