
Keberangkatan ketujuh orang itu dilepas tanpa sambutan sebab memang tak diinginkan. Sultan Yazid kembali memimpin rekan-rekannya meninggalkan Cappadonia kembali menuju Navada.
"Gua Hydra, kalau tak salah letaknya berada di dekat Direa, seberang laut Ju-On yang memisahkan Navada dengan kota itu." ujar Kaisar Pu Tuo.
"Kalau begitu, kami permisi untuk meninggalkan Cappadonia." ujar Sultan Yazid.
"Aku sangat berterima kasih." sahut Kaisar Pu Tuo sembari membungkuk rendah dihadapan Sultan Yazid. "Kalian telah berhasil mengembalikan Xiao Mei kepadaku."
"Juga berkat kecerdasan Xiao Cin dan dayangnya, Doh Gie yang menemukan tempat penyekapan rahasia." timpal Sultan Yazid kembali tersenyum. "Saya hanya membantu sebisanya, menyelesaikan pekerjaan terakhir dari Xiao Cin."
Kaisar Pu Tuo mendesah sendu. "Bagaimanapun, inagurasi itu kacau. Secara hukum, putriku Xiao Mei belum bisa naik tahta sebagai Kaisar. Cermin Hati telah dirampas oleh peniru tersebut..." ujar lelaki parobaya tersebut sembari melangkah menuju ujung serambi dimana terdapat pagar pembatas antara bangunan itu dengan kolam.
"Kami akan berupaya mencari cara untuk merampas kembali benda tersebut." ujar Sultan Yazid.
"Aku tak terlalu mengharapkan hal itu anda lakukan... aku hanya ingin Xiao Mei cepat sembuh dari sakitnya..." keluh Kaisar Pu Tuo.
"Sebaiknya, Tuanku pikirkan baik-baik..." ujar Sultan Yazid. "Memberikan tampuk kepemimpinan kepada Xiao Mei tidak akan bisa berjalan sebagaimana mestinya...." usul Sultan Yazid. "Masih ada Xiao Cin yang bisa memegang pemerintahan..."
"Maksudmu, aku sebaiknya menyerahkan kekuasaan kepada Xiao Cin, bukan kepada Xiao Mei?" pancing Kaisar Pu Tuo. "Bagaimana itu mungkin? Xiao Mei adalah anak sulung. Dalam adat kami, anak sulung yang berhak atas tahta..."
"Jika dia memenuhi syaratnya... salah satunya adalah sehat wal afiat." tukas Sultan Yazid. "Dan yang memenuhi hal itu untuk saat ini adalah Xiao Cin."
Kaisar Pu Tuo kembali menatap kolam dan menghela napas. "Aku akan memikirkannya."
...****************...
Sultan Yazid terbangun dari lamunannya ketika mendengar suara Do Quo. Lelaki bermantel hitam itu menoleh menatap lelaki berkumis tebal yang duduk tenang diatas punggung kudanya.
"Sesampainya di Navada, saya harap Paduka beristirahat dulu di Kediaman Chan Han Houw... saya sendiri akan mengecek dikantor syahbandar, apakah ada kapal yang merapat." ujar Do Quo.
Sultan Yazid mengangguk. "Terima kasih, Do Quo. Aku mengharapkanmu." sahutnya.
Ketujuh orang itu kemudian menderapkan laju tunggangannya. Pinggiran kota Navada sudah terlihat. Lagi-lagi seperti biasanya. Karkadan yang ditunggangi Havard dan Selena selalu saja menjadi pamungkas rombongan itu.
...****************...
Regina melayani keenam orang tamunya. Adapun suaminya, Chan Han Houw pergi menemani Do Quo menemui kepala syahbandar untuk mengecek keberangkatan kapal-kapal.
Regina pamit masuk kedalam. Diberanda itu duduklah Sultan Yazid, Chanpa dan Nagini mengelilingi meja bundar yang dihamparkan beberapa piring penganan. Thor sendiri lebih nyaman duduk ditangga serambi itu menikmati sepiring besar pie kacang kenari.
Sultan Yazid mengerling ke arah Havard dan Selena yang duduk berdampingan di hammock. Entah apa yang mereka percakapkan. Yang jelas terlihat Selena kini lebih banyak mengumbar senyum dan tawa kecil ketika Havard bercerita sambil menggoyang-goyangkan tangannya ke segala arah.
Sultan Yazid kemudian menatap Nagini yang asyik menyeruput minuman Capuccino yang diberi topping serbuk coklat.
"Nagini..." panggil Sultan Yazid. "Kalau boleh aku bertanya..."
Nagini menatap Sultan Yazid lalu meletakkan cangkir berisi kopi itu dimeja dan wanita itu menegakkan tubuhnya.
"Menurut berita yang kudengar dari mendiang Nuzlan, kau muncul saat Thor dan pasukannya menyerbu Norchburg..." ujar Sultan Yazid.
Nagini masih diam dalam duduk tegaknya. Sultan Yazid menyambung, "Apakah kau mengetahui jika Raja Saul berencana menyerang Norchburg pada malam itu?"
Nagini menggeleng lalu mengambil lagi cangkir minumannya. "Itu hanya kebetulan... aku sebenarnya seorang pejalan saja. Menurutkan langkah kaki sesuka mana ia melangkah. Perjalananku tertahan di Norchburg sebab aku melihat adanya pertempuran yang hebat. Aku masuk dan mendapati Thor yang sedang mengamuk, jadi aku menghalaunya...."
__ADS_1
"Dan dari situ, Nuzlan meminta kau bergabung dalam perjalanannya?" tanya Sultan Yazid.
"Kurasakan dari nada pertanyaan... apakah Tuan mencurigaiku?" tukas Nagini dengan datar.
"Kau salah paham." jawab Sultan Yazid. "Dari semua kawananku, kau yang belum kukenal benar... maafkan aku jika menyinggung perasaanmu."
Champa terkekeh. "Aku hanya memikirkan satu hal..."
Sultan Yazid dan Nagini menatap gadis penari itu. Champa menyambung. "Nagini sudah menerima buket mempelai saat dipernikahan Tuan Chan dan Nyonya Regina... aku penasaran, kepada siapa buket itu ia lemparkan kembali?"
"Itu masih lama!" sela Nagini menggerutu." Masih sangat lama..."
"Katakan padaku, Nagini." todong Champa sembari mencondongkan tubuhnya kepada Nagini yang mulai merasa risih. "Siapa kekasihmu?"
"Aku tak punya kekasih." ujar Nagini dengan ketus.
Aku memang pernah punya kekasih. Tapi dia membatu terkena percikan darah Raja Samiri dalam peperangan di Menara Temen-Ni-Zur... tapi... buat apa aku menceritakannya padamu?
Nagini mendengus. "Kamu masih bau kencur, belum pantas mencari-cari hal semacam itu." tegurnya.
"Tapi kau berhasil menangkap buket bunga yang ditempatkan Nyonya Regina..." balas Champa. "Kau harus segera menikah..." Gadis berambut perak itu lalu mulai menjahili Nagini. "Bagaimana kalau kau nikah saja dengan Do Quo?" usul Champa.
BYURRRR!!!!
HMMMPPHHHH....
Seketika Nagini membuang cairan kopi dalam cangkir kepada Champa yang kaget tak mampu menghindar. Sultan Yazid terperangah menyaksikan hal itu. Havard dan Selena juga sempat menyaksikan peristiwa itu, namun mereka kembali tak perduli dan sibuk kembali bercengkerama. Thor lebih lagi tak perduli sebab sibuk dengan kesenangannya sendiri.
"Itu bukan urusanmu, gadis kecil." ujar Nagini lalu tersenyum licik dan bangkit meninggalkan Champa, memasuki rumah.
Sultan Yazid hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat wajah Champa yang kecoklatan akibat berbedakkan ampas kopi yang dicipratkan Nagini kepadanya. Lelaki itu mengeluarkan sapu tangan dan menyodorkannya kepada Champa.
"Kamu terlalu usil dengan urusan orang." tegur Sultan Yazid ketika Champa menyambut sapu tangan itu dan membersihkan wajahnya yang belepotan ampas kopi. "Kamu usianya berapa sih, sampai-sampai ingin sekali menjodohkan orang? Apakah kau memang berniat jadi mak comblang?"
Champa sudah selesai membersihkan wajahnya. Kini wajah cantiknya kembali nampak dan gadis berambut perak itu kembali memamerkan cengiran sambil mengembalikan sapu tangan yang sudah penuh dengan noda ampas kopi itu.
"Terima kasih..." ujar Champa dengan senyum genit.
"Nggak mempan tahu!!!" seru Sultan Yazid sembari maju mencubit pipi Champa membuat gadis itu mengaduh lalu tersenyum-senyum.
Sultan Yazid hendak bangkit ketika melihat Do Quo dan Chan Han Houw tiba dengan berkuda. Keduanya turun dari tunggangannya dan memasuki halaman.
Sultan Yazid melangkah menuruni tangga menyambut kedatangan dua lelaki itu.
"Bagaimana?" tanya Sultan Yazid.
"Ada kapal bersandar, namanya K.M. Sancakala." jawab Do Quo.
Chan Han Houw merogoh pakaiannya dan mengeluarkan tujuh buah karcis dan menyerahkannya kepada Sultan Yazid. "Aku sudah melobi pihak syahbandar dengan dalih kalau kalian adalah anggota polisi rahasia yang ditugaskan mengejar pencuri harta karun nasional." tambahnya.
"Terima kasih..." jawab Sultan Yazid sembari mengangguk.
"Kapalnya akan berangkat dua jam lagi." timpal Do Quo. "Sebaiknya kita bergegas."
__ADS_1
Sultan Yazid mengangguk dan memanggil rekan-rekannya untuk Bersiap-siap. Chan Han Houw dan istrinya melepas kepergian ketujuh orang itu. Mereka memacu kendaraannya menuju pelabuhan kota Navada.
Disana memang bersandar sebuah kapal besar. Tercetak tulisan besar 'K.M. Sancakala' dilambung kapal tersebut. Terlihat petugas tiket sedang memeriksa karcis masuk para penumpang yang masuk. Ketujuh penunggang itu mendekat.
Sultan Yazid turun dan menuntun hewannya mendekati petugas tiket. Ia menyerahkan tujuh lembar karcis kepada petugas tiket tersebut dan melobi bagaimana agar hewan-hewan tunggangan mereka juga bisa dimasukkan dalam kapal itu. Dengan membayar ongkos lebih, petugas tersebut menyuruh kelasi lain membuka pintu palka dan memasukkan enam ekor hewan tunggangan itu kedalam kapal.
Berdasarkan tingkatan harga tiket, Sultan Yazid dan keenam sahabatnya menempati wilayah VIP. Mereka mulai mencari nomor kamar dan menemukannya.
...****************...
Malam merayap dan K.M. Sancakala masih terus saja melayari lautan. Havard berdiri dianjungan, menatap kegelapan lautan yang disapu jelaga malam. Angin malam menyapu wajahnya dan lelaki itu mengencangkan pegangannya pada gagang pedangnya.
Tak lama kemudian Selena muncul mengenakan mantel bulu yang berfungsi menahan dingin angin malam yang mengarungi lautan itu.
Havard mengerling sedikit kepada Selena yang menjajarinya ikut menatap jelaga malam.
"Semestinya kau istirahat... malam ini terasa dingin. Sangat cocok untuk berkemul selimut." ujar Havard dengan pelan.
"Kamu sendiri, kenapa tidak mendekam dikamar?" tanya Selena tanpa menoleh.
"Aku nggak terbiasa tidur sedini ini..." kilah Havard. Lelaki itu menghela napas lalu bertanya lagi, "Yang lainnya dimana?"
"Itu..." jawab Selena.
Havard menoleh menatap Do Quo yang menyandarkan tubuhnya pada pagar dek bagian atas, disamping kamar kemudi.
"Nagini dan yang lainnya?" tanya Havard lagi menatap Selena.
"Cari saja sendiri." tukas Selena dengan sedikit ketus.
Sementara itu di dek atas, Do Quo berdiri menyandarkan tubuhnya pada tiang sementara Nagini diam menyandarkan punggungnya didinding luar kamar kemudi.
"Kau tak merasakan keganjilan?" tukas Nagini tiba-tiba. Wanita itu menatap kegelapan dihadapannya tanpa menoleh ke arah Do Quo.
"Aku merasa angin malam terlalu dingin. Itu saja..." jawab Do Quo.
Nagini berbalik menatap Do Quo. Lelaki berkumis tebal itu menatapnya. "Atau kau yang merasakan keganjilan?" balasnya.
"Kau tak merasa kedinginan dengan pakaian setipis itu?" tukas Nagini.
Do Quo tersenyum. "Aku punya ajian Jirah Arhat Emas. Kekuatan itu membuat tubuhku merasakan kehangatan terus-menerus. Ajian ini berfungsi penuh sebagai tameng." ujarnya.
Nagini mengangguk-angguk lalu kembali memalingkan wajah kembali memandang kegelapan yang membentang dihadapan mereka.
"Aku mendengar dari Sultan Yazid, katanya... Champa sedang menjodohkan kita berdua..." ujar Do Quo lalu terkekeh. "Anak itu selalu saja membuat keramaian." komentarnya.
Nagini mendengus. Do Quo tersenyum. "Jangan meladeni kecentilannya. Kau tak akan bisa menyaingi kejahilan anak itu."
Nagini mengerling ke arah Do Quo dengan tatapan tajam. Do Quo langsung mengangkat tangan dan tertawa. "Baiklah, aku tak akan mengganggumu." ujar Do Quo lalu berbalik dan melangkah meninggalkan Nagini sendirian disana.
Tiba-tiba Nagini merasakan keganjilan. Ia memperhatikan sekelilingnya. Lalu wanita itu memandang kembali ke depan. Tak lama kemudian matanya nanar.
"Astaga! Apa itu?!" seru Nagini. []
__ADS_1