MASSHIAHSAGA-PEMERINTAHAN RATU BAYANGAN

MASSHIAHSAGA-PEMERINTAHAN RATU BAYANGAN
ASTRONOM BERNAMA KUN YANG


__ADS_3

"Tuanku..." panggil Selena, membuyarkan lamunan Sultan Yazid. Lelaki itu kaget sejenak lalu menatap Selena.


"Y-ya... kenapa Selena?" tanya Sultan Yazid dengan gugup.


Selena tersenyum. "Pawai sudah usai..." ujarnya menunjuk jalanan yang telah ramai oleh pejalan kaki dan pengendara kereta yang berseliweran melakukan aktifitas mereka hari itu.


Sultan Yazid tersenyum kikuk. "Aku mengkhayal ya?" akunya dengan malu.


Selena hanya tersenyum lagi, sedang Do Quo tertawa. "Hal yang manusiawi..." ungkapnya. "Siapapun pasti akan terpana menatap putri-putri yang cantik itu..." Lelaki berkumis tebal tersebut kini tak segan menepuk-nepuk pundak penguasa negara itu. "Tuanku tak perlu lama menahan hasrat... suatu saat Tuanku pasti akan bertemu muka dengannya..."


Sultan Yazid terkekeh. "Tahu dari mana kamu?" pancingnya.


"Naluri seorang lelaki, Tuanku." jawab Do Quo dengan tenang menunjuk kepalanya. "Naluri lelakiku tak akan pernah membohongiku."


Sultan Yazid manggut-manggut sejenak lalu menyahut. "Ayo kita kembali kepada dua orang yang menunggu disana itu." ajak Sultan Yazid seraya mengangguk ke arah Havard dan Nagini yang berdiri sepuluh meter jauhnya dari tempat mereka berpijak sekarang.


Ketiganya melangkah mendekati Havard dan Nagini yang berdiri menunggu. Wajah Havard nampak begitu memendam kekebalan, sedang Nagini hanya memperlihatkan tatapan datar saja.


"Sudah puas melihat pawainya?" sindir Havard yang sementara melipat kedua tangannya didada. Wajahnya terlihat keruh dan jutek.


"Ya... puas..." jawab Selena sekenanya. Havard mendengus.


"Apa kau belum pernah menonton pawai satu kali pun?!" olok Havard mengangkat alis sebelah kanannya. "Tiap tahun di Las Mecca selalu diadakan pawai..."


"Ah, pawai di Las Mecca sudah terlalu sering ku tonton." kilah Selena dengan santai dan bercakak pinggang. "Lagi pula, pawainya hanya itu saja... pawai peringatan hijrah!"


"Eh, maknanya sama!" balas Havard.


"Weeeh... sudahi dulu pertikaian diantara kalian." tegur Do Quo kemudian melerai dan memisahkan mereka berdua. "Kalian berdua kalau sudah bertemu, pasti saja berseberangan paham..."


Selena dan Havard kontan saling melengos. Sultan Yazid menggeleng-gelengkan kepalanya, takjub dengan perilaku keduanya.


Lelaki itu menatapi mereka. "Disini kita tak boleh ketahuan... misi kita adalah menemukan Sinhala!" ujar Sultan Yazid menatapi rekan-rekannya satu persatu. "Segalanya harus sesuai dengan apa yang telah kita sepakati bersama... "


Do Quo mengangkat tangan. Mereka menatap lelaki berkumis tebal itu. Do Quo tersenyum menatapi keempat rekannya.


"Aku punya kenalan seorang pemilik toko busana..." ujar lelaki berkumis tebal tersebut. "Untuk mencegah Sinhala mengenal kita, maka kita harus merubah penampilan kita semua."


"Tunggu, tunggu..." sela Havard.


Keempat orang itu menatap Havard. Pemuda itu mendengus. "Kita harus ganti pakaian lagi?" lengkingnya membuat Do Quo menatapnya sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Ya, kenapa?" tanya Do Quo.


"Aku nggak suka berganti pakaian." tolak Havard. "Pakaian ini masih layak pakai..."


"Ya, tapi kamu akan langsung dikenali oleh Sinhala. Lalu dia melarikan diri lagi dan kita kehilangan jejaknya." tukas Do Quo dengan datar. "Kau mau itu terjadi?"

__ADS_1


Havard hanya tersenyum masam dan menggaruk-garuk rambutnya yang panjang setengkuk. "Ya, terserah kamu sajalah..."


"Jangan kuatir..." ujar Do Quo. "Segala biaya hidup dan keperluan kita sudah ditanggung oleh negara!"


"Ayo kita menuju ke tempat kenalanmu itu." ajak Sultan Yazid. "Aku juga harus merubah penampilanku seutuhnya... ini juga demi misi yang kita jalankan saat ini." ujar lelaki itu.


Do Quo dengan senang mengajak mereka. Kelima orang itu melangkah kembali menuju tempat keretanya yang lama menepi disisi jalanan. Sultan Yazid masuk ke dalam kereta bersama Selena. Adapun Do Quo duduk dikursi sais bersama Nagini. Havard kembali menunggangi karkadannya.


Do Quo mengarahkan kereta menyusuri jalanan menuju ke sebuah kompleks bangunan lainnya, beberapa blok dari deretan bangunan lain.


"Disini..." ujar Do Quo menarik tali kekang. Geryon itu kemudian berhenti. Nagini memandang ke sebuah bangunan yang dimaksudkan oleh Do Quo.


Bangunan itu terlihat sederhana namun modis. Dari kaca etalasenya terpampang berbagai jenis busana yang kelihatannya berkelas. Di pintu masuknya terpampang plang nama.


...MADAME HEIN BOUTIQUE...


Sultan Yazid sudah turun dari kereta disusul kemudian oleh Selena. Nagini ikut turun setelah Do Quo. Havard sebenarnya ogah-ogahan turun dari punggung hewan tunggangannya. Namun karena desakan Do Quo, akhirnya pemuda itu menyerah dan masuk kedalam toko pakaian itu dengan setengah hati.


"Haaai... Do Quo!" seru seorang lelaki mengenakan apron dan sebuah bantalan yang disematkan beberapa jenis jarum jahit terpasang dilengan kirinya. Gayanya begitu feminin, terlihat dari gaya langkahnya dan gemulai lenggak lenggok tangannya yang terayun saat mendekati Do Quo. "Apa kabaar...???" serunya mengembangkan tangan.


Do Quo ikut mengembangkan tangan dan keduanya berpelukan dengan intim.


"Aku, syukurnya dalam keadaan sehat." jawabnya. Anehnya, sikap Do Quo ikut-ikutan menjadi feminin, membuat Havard langsung memandang jijik dan menjauh. Sementara Nagini hanya memandang lelaki berkumis tebal itu dengan tatapan takjub.


Secara naluriah, Sultan Yazid langsung mengambil posisi berdiri dibelakang Selena.


Do Quo menggeleng. "Belum... aku masih belum menemukannya."


"Aduh, kaciaaaan..." sahut lelaki feminin itu sembari menampakkan wajah bersimpati dan mencubit pipi Do Quo. "Moi doakan deh supaya Tu bis ketemu Tu punya anak perempuan itu." ujarnya dengan sendu.


Do Quo hanya mengangguk-angguk saja merespon ucapan doa lelaki feminin tersebut. Akhirnya si lelaki itu menatap rekan-rekan yang dibawa sahabatnya itu satu persatu kemudian dia bertanya, "Oh, ada yang bisa Moi bantu untuk Nous???" tanyanya dengan santun, namun bernada genit.


Do Quo langsung menyela untuk menghilangkan kecanggungan. "Aduh, aku lupa kalau sudah bertemu kamu. Eh, tolong berikan mereka pakaian yang cocok..." Do Quo memberikan gambaran. "Pakaian untuk berpetualang, terlihat praktis tapi modis. Bagaimana? Kau bisa?"


Lelaki feminin itu menepuk tangannya lalu menepuk dadanya dan tersenyum bangga.


"Tenang saja. Moi, Madame Hein akan memberikan kalian layanan paling khusus... mari silahkan." ajaknya kemudian menuju ke sebuah ruangan khusus.


Diruangan itu, Madame Hein mengamati dan menilai berbagai postur kelima orang itu dan memutuskan jenis pakaian apa yang cocok melekat ditubuh mereka.


Havard dipakaikan sebuah tunik yang ketat namun halus tak berlengan dan pasangannya adalah sebuah celana kulit lengkap dengan sepatu botnya. Tunik itu kemudian dilapisi dengan sebuah jirah ringan berbahan perunggu yang dicampur orihalcon sehingga warna baju jirah itu terlihat merah kecoklatan. Rambutnya yang setengkuk dihiasi dengan ikat kepala yang dipasangi sebuah pelat logam tipis. Nodachi Kanesada dipasangkan dipunggungnya.


Untuk Nagini, si lelaki memasangkan sebuah kemeja hitam lengan panjang yang membujur menutupi paha putih wanita tersebut. Bagian bahu dipasangi pauldron untuk menambah indahnya mode pakaiannya. Wanita itu disuruh mengenakan sebuah sepatu bot yang panjangnya hingga menutupi bagian atas lututnya. Tiara tanduk tetap dikenakan sebab menurut Madame Hein, sangat cocok dipasangkan dengan pakaian desainnya.


Untuk Sultan Yazid, adalah pakaian praktis lengkap dengan sabuk. Madame Hein memilihkan warna hijau lumut untuk pakaian tersebut, ditambah balutan mantel panjang berwarna hitam terbuat dari campuran katun dan serat kevlar. Sultan Yazid terkesan dan memberikan apresiasi yang bagus untuk desain pakaiannya.


Selena diberikan sebuah pakaian ringkas, yaitu sebuah rompi tanpa lengan yang membalut tunika lengan panjangnya yang dibalut pelindung lengan. Tunika itu membujur hingga ke paha. Bagian bawahnya dipakaikan kasut tipis yang dibungkus sepatu bot tinggi.

__ADS_1


"Terima kasih atas pilihan pakaiannya, Madame..." respon Selena dengan suka cita. "Saya suka sekali."


"Merci... merci... madamoiselle memang pandai mengambil hati Moi." balas Madame Hein dengan senyum genit dan mencolek dagu gadis itu.


Madame Hein menoleh ke arah Do Quo. "Dan kamu? Apa yang harus kukenakan ditubuhmu yang kekar itu?" ujar Madame Hein menilai diri Do Quo. Tak lama kemudian ia mengangguk. "Attendes un moment..." ujarnya kemudian melangkah menuju lemari dan membukanya. Ia mengeluarkan satu stel pakaian dan menyerahkannya kepada Do Quo.


"Kenakan, kawanku. Ini cocok untukmu." ujar Madame Hein.


Do Quo kemudian mengenakannya. Itu adalah sejenis jaket tanpa lengan yang dipadu dengan celana yang agak lebar. Sepasang kaki lelaki berkumis tebal itu dibalut sepatu bot kulit yang dipasangi pelat logam dari perak mythril. Sepasang lengannya juga dibungkus kaos tangan yang dipasangi pelat tipis perak mythril.


"Bagaimana penampilanku?" tanya Do Quo berputar-putar pelan seraya mengembangkan tangannya, mirip seorang peragawan.


"Sangat maskulin, kawan." jawab Madame Hein sambil mengecupkan jemarinya.


"Berapa semua harga pakaian ini?" tanya Sultan Yazid.


"Kurasa.... delapan puluh dinar." jawab Madame sekenanya.


"Murah sekali." desis Sultan Yazid dengan heran. "Padahal pakaian semua yang kita kenakan ini terlihat begitu berkelas." ungkapnya menatap Do Quo.


Madame Hein tersenyum dan mengibas-ngibaskan tangannya. "Sudahlah, tak usah memuji. Bayar saja." ujar laki-laki feminin itu.


Sultan Yazid membayar semuanya. Sambil menghitung uang dinar, Madame Hein kemudian bercerita.


"Kau kenal si Kun Yang?" pancing Madame Hein.


"Astronom itu?" tebak Do Quo.


Madame Hein mengangguk. "Baru-baru ini ia meneliti tentang suatu yang ganjil di angkasa...."


"Terus?" desak Do Quo.


"Dia mengatakan dalam penelitiannya, benda angkasa itu kemungkinannya adalah Valmana, sebuah pesawat jelajah yang digunakan oleh Raja Samiri, dua milenium silam saat menggempur Ur-Salem..." tutur Madame Hein.


"Ah, masa?" tukas Sultan Yazid menyela. "Setahuku, Perang Besar waktu itu di Ur-Salem, sangat dahsyat. Saking dahsyatnya, tak ada satupun teknologi yang tersisa... semuanya hancur....peradaban Ur-Salem hancur sehancur-hancurnya."


Madame Hein menatap Sultan Yazid. Lelaki bermantel hitam itu tersenyum. "Aku mempelajari sejarahnya. Setahuku seperti itu... makanya aku tak yakin jika Madamoiselle Hein bilang bahwa Valmana yang dikendarai Raja Samiri itu masih ada..."


"Mengapa tidak kau tanyakan saja kepadanya?" pancing Madame Hein. "Aku yakin, kau akan mendapatkan penjelasan sedetailnya dari Kun Yang."


"Baik... kami akan menemuinya." ujar Sultan Yazid. "Katakan dimana alamatnya?" tanya lelaki itu.


"Hanya dua blok dari kompleks toko-toko ini..." jawab Do Quo menyela Madame Hein. "Aku akan mengantarkannya untuk kalian."


Sultan Yazid mengangguk. "Ayo, kita temui Kun Yang." ajak lelaki itu.


Mereka beriman pamit kepada Madame Hein kemudian meninggalkan butik tersebut. Tujuan mereka berikutnya adalah menemui astronom bernama Kun Yang itu dikediamannya. []

__ADS_1


__ADS_2