MASSHIAHSAGA-PEMERINTAHAN RATU BAYANGAN

MASSHIAHSAGA-PEMERINTAHAN RATU BAYANGAN
PUTRI DIBALIK KACA


__ADS_3

Ketujuh orang itu tiba di Cappadonia sehari setelahnya tepat mentari beranjak ke arah barat. Mereka mengendarai hewan tunggangannya masing-masing. Yang paling menyolok adalah Thor.


Lelaki tinggi besar itu justru malah menaiki seekor Caprigacus*) meskipun ukuran hewan memang besar layaknya kuda pada umumnya. Dalam rombongan itu kini ada tiga hewan tunggangan yang tak lazim dikendarai memasuki kotaraja kekuasaan Dinasti Zhou.


Kemunculan mereka sendiri sering menjadi pusat perhatian disebabkan tiga hewan tak lazim itu. Bagaimanapun kendaraan-kendaraan non elektronik yang ditunggangi oleh para pejabat dan kawula biasa dikota itu hanyalah kuda saja. Paling banyak mereka menunggangi kuda jenis chitu, kuda jenis rakhsh saja sangat jarang diperjual belikan di istal.


Mereka tiba didepan Istana Dang Dai Chan. Setelah menghadap penjaga gerbang dengan memperlihatkan surat kuasa langsung dari Kaisar Pu Tuo, para penjaga itu langsung memberi jalan.


Hewan-hewan tunggangan mereka diistirahatkan di istal istana dan dilayani sebaik-baiknya setelah Nagini dan Havard memberitahu jenis pakan apa yang dikonsumsi oleh Bukefals, karkadannya itu. Caprigacus milik Thor tetap saja menggemari rerumputan sebagaimana hewan-hewan herbivora pada umumnya, hanya saja ukurannya tentu tiga kali lipat sebanding dengan besar tubuhnya.


Mereka bertujuh memasuki halaman istana, diterima oleh pengurus rumah tangga bernama Cho Hyun Shik, seorang pejabat dari golongan thaikam. Ia membawa beberapa dayang istana.


"Yang Mulia Kaisar Zhou akan menerima kehadiran anda pada malam hari setelah ufuk barat menjadi gelap." ujar pejabat dari golongan sida itu kepada Sultan Yazid. "Untuk sementara itu, silahkan berdiam dulu di Wisma Tamu..."


"Baiklah Cho Hyun Shik..." jawab Sultan Yazid. "Sampaikan kepada Baginda Kaisar, terima kasih kami atas perhatian beliau."


Cho Hyun Shik membungkuk takzim dan memerintahkan dayang-dayang itu memandu mereka menuju tempat peristirahatan.


Wisma Tamu, adalah sebuah kediaman besar, bisa dikatakan sebagai istana yang dipergunakan untuk menjamu tamu negara yang menginap di kompleks Istana Dang Dai Chan. Wisma Tamu memiliki beberapa kamar dan sebuah ruang santai. Kebetulan kamar-kamar dalam istana itu mampu menampung lima puluh orang sehingga mereka bertujuh bisa beristirahat dengan leluasa mempergunakan kamar masing-masing.


Havard duduk diserambi bagian dalam kamarnya yang menjorok ke sebuah kolam air yang banyak didiami ikan mas. Pemuda itu sedang membersihkan sebilah claymore**) ketika Selena mendatanginya. Gadis itu duduk bersimpuh disamping Havard yang bersila sambil mengasah sedikit mata bilahan pedang panjang itu. Gagangnya dilapisi kulit dan bagian hulu berupa mata cincin yang dipasangi batu andesine***)


"Maaf sudah membuatmu kehilangan nodachi Kanesada..." ujar Selena dengan sendu.


Havard tersenyum. "Itu hanya sebuah pedang, Selena... bisa diganti... kemampuan kenjutsu yang diajarkan Nitsu Katsunoshin kepadaku tidak berkurang walaupun aku mengganti pedang jenis manapun." jawab pemuda itu dengan enteng. Ia kemudian mengambil sarung pedang yang juga dilapisi kulit kemudian menyarungkannya. Pemuda itu menatap Selena.


"Kamu lebih berharga ketimbang Rubihalcon itu, apalagi hanya sebilah pedang karya seorang empu." ujar Havard lalu menatap lagi pemandangan. "Memang, pedang adalah sesuatu yang berharga bagi seorang sepertiku. Tapi... jika dibandingkan dengan kamu... itu semua tak ada apa-apanya..."


Selena tersipu mendengar ucapan pemuda itu. Havard kemudian bangkit sambil menenteng claymore tersebut. Selena ikut bangkit. "Bersiap-siaplah... malam nanti, kita akan menghadap kepada Kaisar Zhou... kau tak boleh tampil dengan dandanan seperti ini." ujarnya mulai berlagak ketus.


Selena tahu pemuda itu hanya ketus diluarnya saja. Namun ia berniat menggodanya.


"Nggak pantas?" tanya Selena mengembangkan tangannya.


"Tentu saja nggak pantas." seru Havard sembari menyampirkan pedang panjang itu dipunggung. "Kau harus mengenakan pakaian yang indah dan mempesonakan siapapun."


"Aku akan mempertimbangkannya nanti." ujar Selena dengan tunduk kemalu-maluan.


Havard menggeleng-gelengkan kepalanya. "Heeeh..." desahnya, "Aku nggak tahu, apa yang Paman Syaikh katakan jika dia melihatmu mengenakan pakaian pemburu semacam ini."


"Tapi, kita kan tidak berada di Las Mecca." bantah Selena.


"Aaah sudahlah... lama-lama berdebat denganmu, aku bisa kehabisan waktu tidurku." ujar Havard lalu meninggalkan Selena sendirian di serambi itu.


...****************...


Malam itu, ketujuh rombongan memenuhi panggilan resmi penguasa wilayah barat Runehall tersebut. Kaisar Zhou menerima kedatangan mereka di Aula Naga Emas.


Disana juga telah tersedia delapan meja yang terhias dan terhampar berbagai jenis kuliner. Para pelayan berdiri disisi-sisi meja sedangkan para dayang berdiri dibelakang dua orang putri kerajaan. Kaisar Pu Tuo bersama dua putrinya duduk dibelakang meja panjang sedang ketujuh mereka duduk dimejanya masing-masing dilayani oleh para dayang.


Kaisar Zhou Pu Tuo menatap Thor dan menyambutnya. "Selamat datang, Raja Aesir, Thor Donnerstein... baru kali ini, saya dapat bertemu langsung dengan anda." ujarnya dengan gembira.


Thor hanya mengangguk sopan. Kaisar Pu Tuo tersenyum dan mengangkat gelas. "Bersatu menuju arah yang lebih baik!" serunya.


"Bersatu menuju arah yang lebih baik." balas ketujuh orang itu dan mereka bersulang minum bersama. Acara dilanjutkan dengan santap bersama.


Havard, Sultan Yazid dan Do Quo memperhatikan dengan sembunyi-sembunyi, betapa rakusnya Putri Mei Ling melahap semua makanan itu. Keempat lainnya berlagak tak perduli. Yang bisa menandingi kerakusan Putri Mei Ling agaknya hanyalah Thor Donnerstein.


Kelihatannya, Kaisar Zhou juga memperhatikan sehingga ia menjadi jengah.


"Putriku... makanlah pelan-pelan..." tegur Kaisar Zhou dengan lirih dan malu.


"Aduh ayah..." jawab Putri Mei Ling ditengah kegiatan santapnya. "Aku tak bisa menahan hasratku terhadap makanan ini... sangat menggugah selera."


Sultan Yazid mendehem membuat Kaisar Zhou menyudahi tegurannya dan kembali menatap penguasa wilayah Najd itu.


"Bagaimana keadaan sekarang Pamanda?" tanya Sultan Yazid. "Apakah gangguan-gangguan mulai terasa kurang dialami?"


Kaisar Zhou tertawa dan mengangguk-angguk. "Ah, ya Tuan Yazid. Kelihatannya kawanan Xamrush sudah melonggarkan gangguannya..." jawabnya lalu berseloroh. "Kurasa dia mulai melirik kawanan utara Runehall..."


Sultan Yazid tersenyum dan diam-diam memperhatikan Putri Mei Ling yang terus makan dengan gelojoh. Ia kemudian menyahut.


"Mereka tidak lagi kemana-mana..." jawab Sultan Yazid dengan senyum. "Sebab...." ditatapinya Putri Mei Ling dengan seksama. "Kami sudah membunuh mereka semua... termasuk Luigi dan Hadayusha!!!" pungkasnya.


UHUK!!! UHUK!!!

__ADS_1


tiba-tiba Putri Mei Ling tersedak dan terbatuk-batuk. Semua perhatian sontak makin tertuju kepada gadis itu. Kaisar Zhou memegang bahu putrinya.


"Kamu tak apa-apa, nak?" tanya Kaisar Zhou dengan lembut.


Putri Mei Ling menggeleng-gelengkan kepala sembari menyeka bibirnya membersihkan sisa-sisa sedakan disana. Gadis itu kemudian menatap Kaisar Zhou dan memelas.


"Maafkan ayah, kelihatannya saya kurang merasa sehat malam ini..." ujar Putri Mei Ling dengan sorot mata menghiba. "Mungkin saya terlalu gugup dengan hari esok."


"Jagalah kesehatanmu. Besok kau akan dilantik menjadi pewaris kerajaanku. Aku tak mau seorang ratu nantinya malah sakit dan tak bisa menjalankan pemerintahannya." ujar Kaisar Zhou.


Putri Mei Ling mengangguk dan berdiri menatap ketujuh orang tamunya. "Maaf, jika diperkenankan, saya hendak beristirahat."


"Silahkan Tuan Putri." jawab Sultan Yazid dengan senyum yang kembali terukir.


Dengan senyum hambar, Putri Mei Ling menyambut senyuman itu lalu melangkah pergi meninggalkan Aula Naga Emas.


Sepeninggalnya acara makan tetap dilanjutkan. Kaisar Zhou memelas sambil tersenyum.


"Maafkan putriku. Mungkin ia gugup sebab besok, ia akan duduk di tahta itu sebagai seorang ratu." ujar Kaisar Zhou.


"Maaf jika saya terkesan tidak sopan." sela Sultan Yazid. "Apakah penobatan itu tidak bisa diundur?"


Kaisar Zhou tersenyum. "Kamu tahu, usiaku sudah uzur. Sudah tua dan tak pantas lagi memerintah sebuah negara. Sudah saatnya generasi muda yang akan tampil menjalankan pemerintahan dengan lebih baik."


Sultan Yazid mengangguk-angguk. "Anda sungguh bijaksana." pujinya. "Kurasa Putri Cin Ling tidak keberatan dampar kerajaan diduduki kakaknya."


"Saya mawas diri, menyadari bahwa masih terlalu muda untuk menjadi panutan masyarakat." jawab Putri Cin Ling.


Mereka melanjutkan acara itu ditemani oleh para dayang yang menari menambah suasana menjadi semarak sebab alunan musik yang dimainkan para pemusik terdengar menghentak.


Sejam kemudian acara itu selesai dan mereka bertujuh pamit meninggalkan ruangan luas tersebut. Mereka menyusuri lorong panjang yang membawa mereka kembali ke istana tamu.


Baru saja mereka memasuki serambi istana tersebut, muncul Putri Cin Ling bersama dayang pribadinya yang bernama Doh Gie.


"Paduka..." panggil gadis bangsawan itu.


Sultan Yazid dan keenam sahabatnya berhenti dan menoleh. Putri Cin Ling melangkah dengan cepat diiringi Doh Gie tiba dihadapan lelaki bermantel ungu itu.


"Sudah saatnya kita membongkar kedok palsu perempuan itu." ujar Putri Cin Ling. "Ketika aku mengejarnya ke Istana Bangau Putih, jalan kesana telah diblokir oleh para pengawal istana. Aku curiga sekarang, ia sedang menghubungi komplotannya."


Sultan Yazid menatap para wanita. "Kalian tinggal dalam istana dan berlakulah seperti biasanya, agar mereka tidak curiga. Kami berempat akan menyambangi Istana Bangau Putih." ujarnya.


Sesampainya dikompleks Istana Bangau Putih, mereka memperhatikan para pengawal istana yang hilir mudik dengan waspada.


"Havard, kau bisa melumpuhkan dua orang pengawal gerbang itu?" tanya Sultan Yazid menunjuk dua orang yang menjagai gerbang masuk ke Istana Bangau Putih.


Havard mengangguk. "Bisa... saya dan Do Quo akan melakukannya untuk anda."


Do Quo dan Havard melesat menyusupkan dirinya dan tiba didekat kedua pengawal gerbang itu.


BUKK!!! UGH!!


BUKK!!! EEHHH...


Do Quo dan Havard menghantam tengkuk pengawal itu hingga mereka pingsan. Sepertinya mereka sepakat menyembunyikan kedua pengawal itu dan mempreteli pakaiannya untuk menyamar. Setelah itu keduanya mendatangi Sultan Yazid dan kroninya yang bersembunyi.


"Sudah aman Paduka!!! Mari kita masuk." ujar Havard sembari menggenggam gagang claymore yang tersarung.


Sultan Yazid menyampirkan tombak pelanginya dipunggung lalu melangkah dikawal oleh Havard dan Do Quo yang menyamar menjadi pengawal. Lelaki bermantel hitam itu melangkah diiringi Putri Cin Ling. Doh Gie mengiringi majikannya dari belakang sedangkan Thor mengikuti Sultan Yazid dari belakang.


Mereka tiba didepan serambi istana dan dicegat oleh kedua pengawal bersenjata tombak yang berhulu pedang.


"Sahabatku, Tuan Yazid hendak bertemu dengan Putri Mei Ling." kata Putri Cin Ling dengan sopan.


Kedua pengawal itu menatapi Thor yang menatap juga kearah mereka dengan tajam. Salah satunya lalu berkata, "Maaf. menurut Mei Siocia, ia tak mengundang siapapun. Beliau ingin beristirahat total malam ini." kilah pengawal itu.


"Saya ada perlu dengannya.... saya..." ujar Sultan Yazid hendak mengajukan alasannya.


"Mengapa bawa-bawa senjata?" sela salah satu pengawal membentak.


Putri Cin Ling menatap Sultan Yazid dengan kuatir, cemas jika penguasa itu marah. Namun nyatanya Sultan Yazid santai saja menjawab.


"Saya terbiasa membawa senjata kemanapun, sebab saya ini seorang pejalan. Harap dimaklumi." jawab Sultan Yazid.


"Kumohon, saya juga hendak bicara dengan beliau. Saya cemas melihat beliau meninggalkan Aula Naga Emas dengan kondisi yang kurang sehat." pinta Putri Cin Ling memelas.

__ADS_1


Kedua pengawal itu kembali saling pandang. Salah satunya akhirnya bicara.


"Tolong tinggalkan senjata anda disini. Dan lelaki besar itu tidak boleh masuk ke dalam, bersama kedua pengawal ini!" ujar salah satu pengawal itu.


"Terima kasih." jawab Sultan Yazid sembari melepaskan tombak pelanginya dari punggung dan menyerahkan kepada pengawal itu. Setelah itu ia dan Putri Cin Ling bersama Doh Gie masuk kedalam istana.


Sepeninggal mereka, pengawal itu mengawasi pedang yang disandang salah satu pengawal yang datang bersama-sama Putri Cin Ling.


"Hei, kenapa kau tak membawa tombak?" tegur pengawal itu.


Do Quo dan Havard saling berpandangan. Mereka sudah gatal tangan ingin menghajar pengawal yang banyak bicara itu.


...****************...


Didalam ruangan, Sultan Yazid bersama Putri Cin Ling dan dayang pribadinya memeriksa seluruh seluk beluk semua ruangan dalam wisma tersebut. Mereka heran tidak menemukan keberadaan Putri Mei Ling. Gadis itu bahkan tak ada di peraduannya. Mereka berdua kembali bersua di ruang utama.


"Kemana perempuan itu?" gumam Sultan Yazid. "Apakah dia menggunakan jalan rahasia?"


Lelaki bermantel hitam itu menatap Putri Cin Ling. "Cin Siocia.... apakah di istana Bangau Putih ini ada jalan rahasia?"


Putri Cin Ling mengangguk. "Setiap istana kami memiliki jalan rahasia yang digunakan ketika kompleks istana diserang oleh pasukan musuh." jawab gadis itu. "Apakah Tuanku berpikir kakakku melarikan diri lewat jalan itu?"


Sultan Yazid menghela napas dan berpikir. Tak lama kemudian muncul Doh Gie yang membungkuk ke arah Putri Cin Ling.


"Siocia... aku melihat ada yang ganjil diruang peraduan." ujar Doh Gie.


Dayang itu kemudian mengajak Putri Cin Ling dan Sultan Yazid ke kamar pribadi Putri Mei Ling.


"Tunjukkan sesuatu yang ganjil itu." pinta Sultan Yazid.


Doh Gie menunjuk sebuah lukisan. "Lihatlah wajah Mei Siocia... terlihat ganjil."


Sultan Yazid mengamati benar lukisan itu. Ia kemudian bergumam. "Ini sihir... ada kemungkinannya, Putri Mei Ling yang asli disembunyikan... tapi... apakah dia disembunyikan dalam lukisan?" desisnya dengan lirih.


Tak lama kemudian terdengar langkah kaki. Sultan Yazid menoleh ke pintu dan menemukan Havard yang melangkah masuk.


"Kau apakan mereka?" tanya Sultan Yazid dengan heran.


Havard hanya tersenyum dan mengangkat bahu. "Kutidurkan sedikit." jawabnya. Pemuda itu mendekat. "Bagaimana? Apa kalian sudah mengetahui letak persembunyian perempuan palsu itu?"


Sultan Yazid menggeleng. "Kelihatannya kita kehilangan jejak Hekate." lelaki bermantel hitam itu kemudian menatap lukisan tersebut. "Tapi aku mencurigai lukisan ini...."


"Kenapa dengan lukisan itu?" tanya Havard.


"Paduka Sultan berpikir, bisa jadi kakakku disekap dalam lukisan itu." jawab Putri Cin Ling dengan cemas.


"Apakah ada ilmu seperti itu?" tanya Sultan Yazid.


Havard mengangguk. "Bisa jadi. Sebagaimana kita tahu kekuatan Sinhala. Perempuan itu pasti memiliki ilmu gaib semacam itu."


"Kamu bisa memasuki lukisan itu?" tanya Sultan Yazid.


"Aku tak diajari Tuan Nitsu Katsunoshin jenis ilmu semacam itu... meskipun dia seorang Aragami****) namun ia tak pernah mengajariku teknik sihirnya melainkan ilmu pedang saja." jawab Havard.


"Panggilkan semua perempuan kita kemari.... siapa tahu ada diantara mereka bertiga yang punya sedikit kepandaian untuk membebaskan Putri Mei Ling." pinta Sultan Yazid.


Havard mengangguk dan berbalik berlari meninggalkan ruangan itu. Lama mereka menunggu hingga akhirnya keenam orang itu masuk kedalam kamar. Champa langsung mendekati lukisan itu.


"Bagaimana? Kau bisa?" tanya Sultan Yazid.


"Aku tak tahu.... biar kucoba dulu." ujar Champa kemudian ia membaca mantra-mantra lalu mengusap permukaan lukisan tersebut. Tak lama kemudian ia mendesah lega.


"Berhasil.... aku berhasil." ujarnya menatap Sultan Yazid. "Silahkan Paduka masuk kedalam dan periksa jika dalam ruangan ciptaan itu terdapat Putri Mei Ling yang asli."


Sultan Yazid kemudian melangkah memasuki lukisan yang dimanterai itu. mereka menunggu dengan cemas. Putri Cin Ling bahkan *******-***** tangannya dan ditenangkan oleh Doh Gie.


Tak lama kemudian, Sultan Yazid muncul memondong seorang gadis yang tergolek pingsan. Putri Cin Ling menangis bahagia. Putri Mei Ling yang asli telah ditemukan.


"Amankan Putri Mei Ling sementara di Istana Tamu." ujar Sultan Yazid kepada Selena dan Nagini. "Besok, kita akan menangkap si peniru yang ingin mencuri Cermin Hati Kekaisaran Zhou...." ujar Sultan Yazid dengan senyum bengis. []


Catatan kaki:


*) Caprigacus adalah seekor kambing raksasa syukuran kuda. Itu adalah hewan endemik pegunungan karang Asgrad. Sering dimanfaatkan oleh orang-orang Aesir untuk diambil susu dan daging. Sering juga dijadikan hewan tunggangan.


**) claymore adalah pedang lurus yang panjangnya mencapai 1.50 meter. bilahan tajamnya pada dua sisi.

__ADS_1


***) andesine adalah batu mulia berwarna merah bata.


****) Aragami adalah sebutan umum untuk siluman berkulit merah dan berhidung panjang dengan telapak kaki lebar membentuk cakar burung. Mereka pakar dalam ilmu pedang dan sering menyandang kipas daun yang disebut Hauchiwa. Dalam hikayat lama, mereka lebih populer disebut dengan Tengu.


__ADS_2