
Kun Yang mencuri-curi pandang kepada lelaki berpakaian hijau lumut yang dibalut mantel hitam itu. Ada kemisteriusan dalam diri lelaki tersebut. Kun Yang dan sebagian pejabat lain dipersilahkan pengurus rumah tangga istana berdiri disepanjang koridor istana saat dua orang pengawal menutup pintu Aula Naga Emas setelah dua orang lainnya mengusung dua mayat bosoe yang sebelumnya menyandera Sultan Yazid keluar dari sana.
Aula Naga Emas memiliki keunikan tersendiri. Salah satunya adalah kekedapan suara yang sengaja dibuat oleh para tukang agar orang yang tidak berkepentingan tidak akan bisa menguping percakapan dari luar ruangan itu.
Barulah setelah setengah jam kemudian, para pejabat dari kalangan Taijin dan thaikam*) dipersilahkan memasuki Aula Naga Emas. Mereka heran ketika tamu mereka diberikan sebuah kursi yang hanya boleh diduduki oleh seorang tamu agung. Selesai pertemuan itu, Kun Yang mengiringi Abu Yazid kembali dari pertemuan dan tiba-tiba kepala dayang mencegat keduanya dan meminta Abu Yazid untuk menemui Putri Cin Ling di istana pribadinya, Wisma Teratai.
Kun Yang tak bisa memasuki kawasan itu sebab wilayah itu dihuni oleh wanita-wanita yang merupakan penghuni istana dalam, sebutan lazim untuk kediaman yang dihuni permaisuri, selir, putri kerajaan dan dayang perempuan. Terpaksa lelaki sida**) itu menunggu diluar tembok Wisma Teratai.
Satu jam lamanya Kun Yang menanti disisi gerbang tembok luar Wisma Teratai hingga akhirnya Abu Yazid kembali muncul dan keduanya melanjutkan perjalanan pulang. Semenjak kepulangannya dari Istana Dang Dai Chan, lelaki itu bungkam saja seperti arca hidup.
Kun Yang beberapa kali memancing percakapan. Lelaki itu memang meladeninya. Namun apabila Kun Yang menyinggung tentang pembicaraannya dengan Kaisar Pu Tuo di Aula Naga Emas, nampak Abu Yazid sudah kembali diam dan terkesan menyembunyikan sesuatu.
...****************...
"Kuharap, anda akan bisa meloloskan keponakan saya, Han Houw dari Asgrad." ujar Kun Yang saat melepas kepergian keenam orang itu. Sultan Yazid sengaja menitipkan keretanya di kediaman pejabat itu untuk mempermudah penyusupan ke kawasan musuh.
Sultan Yazid sendiri duduk dengan gagah diatas pelana yang dipakaikan pada kuda rakhsh kesukaannya. Tas perbekalan diikatkan pada bagian belakang pelana. Tombak Pasak Bianglala disampirkan dipunggungnya, dibungkus kain sutra.
Do Quo mengendarai kuda sabhrang sedangkan Champa mengendarai kuda chitu. Gadis berambut sekilap perak itu menyampirkan martilnya dibelakang pelana.
Nagini mengendarai kuda greyon sedangkan Havard dan Selena menaiki karkadan, satu-satunya hewan bukan kuda yang dijadikan tunggangan.
Sultan Yazid mengangguk dan tersenyum. "Saya dan rekan-rekan akan berupaya sebaik mungkin menemukan tempat dimana ponakan anda disekap." jawab Sultan Yazid kemudian menatapi kelima rekannya. "Kalian sudah siap?"
Keempat orang yang menunggang kuda mengangguk semangat. Sultan Yazid tersenyum.
"Mari kita berangkat..." ajaknya mengayunkan tangan.
Berturut-turut keluar dari halaman Observatorium itu Sultan Yazid, kemudian disusul Do Quo dan Nagini yang seakan saling membalapkan kudanya. Champa kelihatannya agak sulit memerintahkan tunggangannya untuk mengejar Do Quo dan Nagini. Paling terakhir adalah karkadan yang ditunggangi Havard dan Selena yang berlari biasa saja karena hewan itu memang bukan hewan pacuan. Karena tubuhnya yang besar menyebabkan setiap langkah larinya membuat tanah bergetar.
Mereka meninggalkan Cappadonia melalui gerbang utara. Tujuan mereka adalah Bhulgana Bull, yaitu benteng penjagaan batas yang memisahkan dataran barat Runehall dengan kawasan tanah hitam yang disebut Dul-Gaddhar. Adapun rute menuju Bhulgana Bull adalah melalui kembali dataran tinggi Goldie.
Dalam perjalanan menyusuri dataran tinggi Goldie, Sultan Yazid kemudian mengisahkan pertemuannya secara pribadi dengan Kaisar Pu Tuo.
...****************...
Sultan Yazid tersenyum dan melepaskan pelukan Kaisar Pu Tuo. "Saya sedang dalam penyamaran, Yang Mulia..." jawab Sultan Yazid.
"Tak perlu menyebut gelar..." sela Kaisar Pu Tuo sambil terkekeh. "Kita sama-sama kepala negara. Sesama pemangku pemerintahan tidak perlu saling meninggikan maupun merendahkan diri." ujarnya sembari menepuk-nepuk pundak Sultan Yazid. "Perbedaan diantara kita hanyalah soal usia saja. Kau boleh menyebutku Paman Pu Tuo. Itu akan terdengar lebih akrab." sambungnya lalu terkekeh pelan.
Sultan Yazid mengangguk-angguk. Kaisar Pu Tuo kemudian menanyakan maksud kedatangannya ke Cappadonia.
"Pamanda Kaisar tentu sudah mendengar warta, dimana aku mengakhiri hidup Raja Saul dan mengakhiri pemerintahan Dinasti Darsus di Ur-Balam..." ujar Sultan Yazid.
Kaisar Pu Tuo mengangguk-angguk. "Ya, aku sudah mendengarnya." ujarnya lalu tersenyum lagi. "Kau memang hebat. Kau seorang raja penakluk."
"Aku tidak suka menaklukkan suatu negeri, kecuali mereka berpotensi membahayakan kedaulatan negeriku." bantah Sultan Yazid kemudian melangkah hingga ke tangga menuju Tahta Naga. Lelaki bermantel hitam itu kemudian berbalik dan menatap Kaisar Pu Tuo.
"Negeriku dilanda prahara. Seorang musuh negara melakukan pembunuhan seorang menteri, kemudian menyamar sebagai menteri tersebut, menyelewengkan berbagai hukum... paling gawat, ia menjalin persekutuan rahasia dengan Raja Saul dari Istana Tarsia untuk menjatuhkan rezimku." tutur Sultan Yazid.
Kaisar Pu Tuo mengangguk-angguk pelan. "Kau berhasil membereskan segala kekacauan yang disebabkannya." sambung lelaki berjubah merah pudar itu. "Buronan itu melarikan diri ke wilayah kekuasaanku, dan kembali melakukan apa yang pernah diperbuatnya di Dataran Selatan..."
Sultan Yazid tersenyum. "Mendiang ayahku pernah bilang... Kaisar Zhou Pu Tuo adalah lelaki berpikiran tajam dan bisa menebak hati orang." komentarnya, "Kurasa pujian ayahku terhadap Pamanda memang tak salah." pujinya.
"Kun Yang bilang padaku, gerombolan Xamrush mencegat kalian di Dataran Goldie saat kalian menuju Navada, mencari keterangan kepada salah satu petugas kerajaanku..." ujar Kaisar Pu Tuo kemudian mondar-mandir dengan langkah pelan. Suara langkah sepatunya terdengar bergema diruangan itu.
__ADS_1
"Petugas Paman menemukan lokasi persembunyian mereka..." sahut Sultan Yazid.
"Asgrad... kota kuno, bekas peninggalan bangsa Aesir." timpal Kaisar Pu Tuo sembari menyembunyikan kedua tangannya dipinggul dan menatap Sultan Yazid.
"Kemungkinan buronan yang kami cari juga bersembunyi disana." sambung Sultan Yazid. "Dataran Dul-Gaddhar sekarang di terisolasi dengan didirikannya Bhulgana Bull dibatas Pegunungan Goldie dengan kawasan Bolshoi.... tempat itu menjadi kawasan favorit para buronan yang dicari negara..."
"Jadi... kau memerlukan ijinku untuk melintasi tempat itu." tebak Kaisar Pu Tuo dengan serius. Sultan Yazid kembali tersenyum.
"Anda benar, Pamanda..." jawabnya.
Kaisar Pu Tuo kembali manggut-manggut lalu menghela napas. "Baik. Aku memberikan ijin untukmu melintasi kawasan tersebut. Aku akan segera menghubungi Ciangkun***) Tio Sin Liong, komandan korps penjaga! Bhulgana Bull untuk memberikan akses kepadamu. Aku juga akan mengirimkan satu resimen pasukanku untuk membantumu menangkap buronan itu." ujarnya dengan mantap.
Sultan Yazid menggeleng. "Jangan sia-siakan satu resimen serdadu Pamanda untuk urusan ini..."
"Apakah kau akan mendatangkan pasukanmu dari Tel-Qahira?" tanya Kaisar Pu Tuo dengan heran.
"Aku punya lima orang sukarelawan yang..." jawab Sultan Yazid dengan tenang.
"Sukarelawan? Lima orang sukarelawan?" sela Kaisar Pu Tuo dengan kaget. "Kau mengandalkan tenaga lima orang sukarelawan untuk membekuk buronan itu?!"
"Lima orang berkemampuan lima ribu orang, Tuanku." tandas Sultan Yazid dengan yakin. Kaisar Pu Tuo menarik napasnya sesaat menghilangkan kekagetannya.
"Baiklah..." ujar Kaisar Pu Tuo ada akhirnya. "Setidaknya, Dinasti Zhou harus berterima kasih padamu karena sudah membantu mewujudkan keamanan didataran ini..."
"Saya tidak mau Paman membeberkan identitasku dihadapan para tentara disana." pinta Sultan Yazid. "Katakan saja, seorang imperator dari Tel-Qahira akan menemui panglima anda disana."
"Lagi-lagi kau menyamarkan identitasmu." sindir Kaisar Pu Tuo. "Kau akan mengalami kesulitan sendiri sebab karena hal itu."
"Itu sudah resiko." jawab Sultan Yazid.
...****************...
"Sepulangku dari Aula Naga Emas, kami berdua dicegat lagi oleh Kepala Dayang bernama Chu-En. Dia menyampaikan pesan dari Putri Cin Ling untuk menemuinya di Wisma Teratai." sambung Sultan Yazid.
"Wah, Tuanku ketiban rejeki dong." sela Champa. "Bagaimana tampang Cin Ling Siocia?****) Kabarnya dia cantik bagaikan kembang lotus yang bersemi ditengah kolam." godanya lalu tertawa renyah.
"Yang kau tanya cuma kecantikannya saja." sahut Selena dengan kesal. "Tentu saja beliau lebih cantik dari kamu!"
Havard mendesis meminta Selena diam. Gadis itu memberenggut manja merespon desisan pemuda itu. Champa mendengus pendek lalu terkekeh.
"Tentu saja dia lebih cantik. Mereka kan selalu saja berhias, bersolek." kilah Champa dengan gaya centilnya. "Dibenak mereka hanya mengurus kecantikan saja. Bagi mereka itu hal yang utama. Mana ada raja atau pangeran yang akan meminang mereka kalau wajah mereka jelek?"
"Mereka cantik tapi tak centil kayak kamu!" tukas Selena lagi.
Havard mendehem lagi membuat Selena kembali memukul pelan punggung pemuda itu dengan kesal. Do Quo tersenyum melihat kedua gadis itu adu mulut. Ia kemudian bertanya kepada Sultan Yazid.
"Bagaimana hasil pertemuan itu?"
Sultan Yazid pun menceritakannya lagi.
...****************...
Lelaki itu tiba di istana pribadinya Putri Cin Ling. Wisma Teratai adalah sebuah kediaman yang berdiri diatas kolam luas yang ditumbuhi tanaman lotus. Sultan Yazid dapat dengan jelas melihat hamparan dedaunan teratai yang bulat mengambang diperairan itu.
Chu-En, muncul lagi dan membungkuk sopan. "Anda dipersilahkan masuk, Tuan."
__ADS_1
Sultan Yazid mengangguk. Lelaki itu diantar masuk diantar oleh kepala dayang memasuki sebuah ruangan luas. Disana, nampak Putri Cin Ling duduk setengah berbaring disebuah kursi panjang. Dua orang pelayan berpangkat rendah sedang melayani junjungan mereka. Satunya memijit pelan betis sang putri yang tertinggal dari busananya, sedang satunya mengipasi sang putri dengan kipas dari daun palma.
"Siocia, tamu anda sudah tiba." ujar Chu-En dengan sikap takzim.
"Bawa dia kemari. Berikan dia kursi." pinta Putri Cin Ling yang kemudian menyuruh semua pelayan, terkecuali Chu-En, meninggalkan ruangan itu.
Sultan Yazid masuk lalu membungkuk sopan kepada Putri Cin Ling. Gadis bangsawan itu bangkit dan balas membungkuk.
"Selamat datang di Wisma Teratai, Paduka Sultan dari Najd." sambut Putri Cin Ling dengan penuh hormat.
Sultan Yazid terkejut. "Anda tahu siapa saya?" tukasnya dengan kaget.
Putri Cin Ling menegakkan tubuhnya lalu tersenyum. Lesung pipit dikedua pipi gadis bangsawan itu membuat senyumnya nampak menawan.
"Maaf... jika hamba bersikap tidak sopan dihadapan Paduka." ujar Putri Cin Ling. "Bagaimanapun, warta tentang kehebatan Paduka ketika menjatuhkan kekuasaan Dinasti Darsus di Ur-Balam membuat perempuan ini selalu mencari warta apapun yang berkaitan dengan Baginda."
Sultan Yazid terdiam lama. Putri Cin Ling mendekati lelaki itu. "Silahkan duduk, Tuanku Sultan."
Sultan Yazid akhirnya menurut saja. Ia duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya diruangan tersebut.
"Anda mungkin bertanya-tanya, mengapa hamba meminta pertemuan ini. Bukankah begitu?" ujar Putri Cin Ling dengan takzim.
"Pertama-tama, hilangkan rasa sungkan anda terhadapku. Diruangan ini, mari kita lupakan peradatan itu. Kau boleh memanggilku dengan nama asliku." pinta Sultan Yazid.
"Baiklah..." ujar Putri Cin Ling. "Tuan Yazid, tentunya anda sudah melihat pawai yang terselenggara tiga hari yang lalu dijalan utama." ujarnya.
Sultan Yazid hanya diam menunggu gadis itu bicara lagi. Putri Cin Ling kemudian bertanya.
"Bagaimana pendapatmu tentang kakakku?" pancing Putri Cin Ling.
"Terlihat arogan..." jawab Sultan Yazid.
"Begitu ya?" gumam Putri Cin Ling, kemudian gadis itu tersenyum lalu melangkah ke jendela yang terbuka. Pemandangan kolam yang dihiasi tanaman teratai nampak terpampang.
"Dulunya, dia tidak begitu." tutur Putri Cin Ling sembari menatap pemandangan. "Kakakku adalah pribadi yang sangat baik dan disukai kalangan jelata sebab sikapnya yang sangat merakyat."
Sultan Yazid terus menatap Putri Cin Ling yang kemudian berbalik memandang Sultan Yazid yang duduk dikursi. Putri Cin Ling kemudian berkisah sambil mondar-mandir dengan langkah pelan.
"Suatu ketika kami berdua menjadi utusan resmi dalam lawatan ke Kastil Noctra di Beningrad. Dalam perjalanan pulang, rombongan kami melewati Hutan Hoyabaccha, kakakku sempat menghilang. Namun kami menemukannya kemudian tertidur disalah satu barisan pepohonan. Sejak itu perilaku kakakku berubah drastis. Ia menjadi pribadi yang cuek, angkuh, dan... anehnya, rakus saat makan..." tutur Putri Cin Ling menghentikan langkahnya lalu menatap Sultan Yazid.
"Lalu... apa yang mestinya kulakukan?" pancing Sultan Yazid.
"Suatu ketika, aku pernah memergokinya bicara dengan salah satu chamrosh di istana pribadinya, Wisma Bangau Putih." ujar Putri Cin Ling. "Aku tak mendengar jelas karena mereka bicara seperti menggumam dan menggeram. Tapi aku yakin kalau itu adalah sebuah pembicaraan rahasia. Mungkin saja geraman dan gumaman itu adalah bahasa rahasia mereka."
Wajah gadis bangsawan itu terlihat cemas dan akhirnya berterus terang.
"Paduka, bisakah Tuanku menyelidiki hal ini?" pinta Putri Cin Ling dengan penuh harap. "Hanya Tuanlah harapanku saat ini.... aku tak bisa meminta pada siapapun..."
Sultan Yazid menatap wajah cantik yang menghiba itu. []
Catatan kaki:
*) Pejabat kekaisaran Zhou umumnya terdiri atas golongan Taijin dan Thaikam. Golongan Taijin adalah pejabat istana yang tidak melakukan pengebirian. Adapun golongan Thaikam adalah pejabat istana yang melakukan pengebirian atas perintah hukum. Mereka juga sering disebut sebagai Sida.
**) Sida adalah istilah yang dinisbatkan kepada laki-laki maupun perempuan yang memutuskan untuk melakukan pengebirian atau sterilisasi (disebabkan oleh perintah hukum, agama, atau karena alasan kesehatan). Untuk jaman ini, tindakan pengebirian tidak lagi dengan memotong batang dan buah ***** (bagi lelaki) atau menjahit lubang farji (bagi wanita) namun lebih dengan tindakan bedah memutus urat-urat benih atau tuba falovi sehingga mereka tidak lagi memiliki keturunan. Umumnya orang-orang Sida ditempatkan sebagai pelayan kamar pribadi kaisar atau permaisuri dan selir, meskipun ada diantara mereka yang berhasil lulus dalam ujian negara dan menjadi pejabat dengan status Thaikam. Sisi gelap kaum Sida adalah sering dijadikan kekasih rahasia oleh permaisuri atau selir yang menginginkan gaya percintaan yang melanggar kelaziman.
__ADS_1
***) Ciangkun/Xian-Gun adalah gelar militer yang disematkan kepada seorang serdadu yang mencapai pangkat tertinggi dalam angkatan bersenjata kekaisaran Zhou.
****) Siocia adalah istilah kebangsawanan yang disematkan pada seorang putri raja atau keturunan seorang pejabat tinggi setingkat perdana menteri dan kanselir agung. Untuk putra bangsawan, disematkan gelar Gongzu yang artinya adalah pangeran.