
Mendung mewarnai benak gadis itu. Sepanjang perjalanan, Selena benar-benar tidak menikmatinya. Gadis itu selalu teringat akan kalung kesayangannya.
"Itu hanya sebuah kalung, Selena." bujuk Havard. "Aku bisa membelikanmu yang lebih indah dari itu..."
Gadis itu langsung mencengkeram kerah tunika pemuda tersebut yang menyembul dari balik baju jirahnya. "Dengar Havard! Itu bukan sekedar kalung! Bagiku, itu adalah kehidupanku! Kalung itu adalah masa lalu, masa kini dan masa depanku!" sergah Selena dengan galak membuat Havard hanya bisa terdiam sambil sesekali menyeka sisa-sisa ludah yang menghujani wajahnya saat Selena memuntahkan kata-katanya dengan penuh kemarahan.
"Aku tak mau tahu! Aku, atau kau yang akan pergi menemukan benda itu!" tandas Selena kembali mengancam.
"Baiklah! Baiklah! Aku akan mengambilkannya untukmu! Hanya untukmu!!!" jawab Havard tak kalah tegasnya.
Sultan Yazid hanya duduk diam sesekali mengerling ke arah Selena yang hanya menyandarkan wajahnya dipinggir jendela, memandang Havard yang duduk bermenung diatas punggung karkadannya.
Semuanya hening tak bersuara, bukan karena tak berminat memulai percakapan melainkan takut jika Selena kehilangan kendali dan mengamuk sejadi-jadinya. Kalau saja Havard tidak berhasil membujuknya, tentu perjalanan menuju Nevada akan terhambat.
Perjalanan melewati dataran Goldie hingga tiba dipinggiran kota Navada memakan waktu seharian. Nampak keasrian kota itu dari jalanan pegunungan yang dilewati oleh kereta yang ditumpangi Sultan Yazid.
"Cari tahu tentang lelaki bernama Han Houw..." pinta Sultan Yazid dibalik jendela berkisi-kisi besi. Do Quo yang duduk bersebelahan dengan jendela itu mengangguk lalu menggebah tali kekang hewan tersebut. Rakhsh itu mempercepat laju larinya hingga mereka tiba sedikit lebih cepat di Kota Navada.
Navada adalah kota pelabuhan dan menjadi pusat transit antar tempat melalui lalu lintas maritim. Salah satu pendapatan pajak, paling banyak disektor maritim selain dari sektor agraria. Meski tidak sebesar dan seluas Cappadonia, kota pelabuhan ini terlihat asri dan sejuk sebab setiap sudut jalanan, taman dan pekarangan penduduk ditanami pepohonan dan berbagai tetumbuhan yang menarik selera dan menyejukkan mata yang memandangnya.
Do Quo menghentikan kereta dan menepikannya dibahu jalan. Sultan Yazid turun lalu mengajak sekaligus membujuk Selena agar turun juga dari kereta tersebut. Langkah kaki gadis itu terlihat malas menapaki undakan tangga kereta saat menuruninya.
__ADS_1
Havard dan Nagini turun pula dari tunggangannya. Havard mengamati sekitarnya. Lelaki itu tergerak mendekati seorang gadis mengenakan apron dan mengikat rambutnya dengan kain untuk menghalangi kotoran. Gadis itu kelihatannya sedang sibuk membersihkan pekarangannya.
"Permisi, Nona." sapa Havard dengan sopan. Gadis itu mengangkat wajah menatap Havard yang berdiri santun diluar pagar.
"Ya, ada yang bisa dibantu?" tanya gadis itu dengan ramah sembari bangkit dan mendekati pagar. Ia membersihkan tangannya dan melipatnya ke belakang.
Havard sejenak menatapi Sultan Yazid. Pemuda itu kemudian memandang gadis itu. "Kami dari Cappadonia, mencari kediaman seorang bernama Han Houw. Apakah Nona mengenalnya?"
"Untuk apa kalian menemuinya?" tanya gadis itu dengan curiga.
Havard kembali tersenyum sopan. Do Quo kemudian mendekati Havard lalu berbincang dengan gadis itu menggunakan bahasa resmi negara tersebut.
"Kami mendapat pesan dari pamannya, Master Kun Yang agar menemui lelaki itu untuk mengorek keterangan tentang Sinhala..." ujar Do Quo dengan menggunakan bahasa resmi negara itu. Bagaimanapun dia adalah warga kerajaan ini sehingga memahami bahasa resmi negaranya.
Kelima orang itu kemudian memasuki pekarangan rumah itu. Gadis itu mempersilahkan kelimanya duduk disofa yang terletak di beranda rumah, sambil memperkenalkan dirinya dengan kemalu-maluan.
"Saya Regina, tunangannya." ujar gadis itu. "Dua hari lagi kami akan melepas masa lajang kami... tapi..." wajah gadis itu mendadak murung.
"Kenapa Nona?" tanya Havard.
Regina mendesah lesu. "Dia tertangkap anak buah kawanan Xamrush, saat melakukan penyusupan yang kedua kalinya ke Asgrad."
__ADS_1
"Tertangkap?" desis Sultan Yazid.
Regina mengangguk. "Tunanganku bekerja di lembaga pemerintahan, entah dibagian mana. Ketika pulang untuk menjalani perlop (libur cuti) selama dua minggu, entah kenapa ia berbalik lagi meninggalkan Navada. Dari surat yang ditinggalkannya, aku baru tahu kalau Han Houw melakukan kembali penyusupan ke Asgrad untuk menangkap salah satu relasi Hadhayusha."
"Nona Regina..." sahut Sultan Yazid. "Kami adalah utusan dari Master Kun Yang yang bertugas memburu kawanan Xamrush. Kami akan membantumu untuk meloloskan Han Houw dari sana."
"Terima kasih! Terima kasih!" respon Regina berkali-kali membungkukkan badannya. Suaranya gemetar menahan keharuan.
"Apakah ada yang dikatakan Han Houw terkait dengan kawanan Xamrush?" tanya Sultan Yazid.
"Tunggu sebentar..." sahut Regina bangkit dan masuk kedalam rumahnya. Tak lama kemudian ia kembali membawa sepucuk surat beramplop. "Han Houw menitipkan sebuah surat lagi untukku. Namun kelihatannya ini surat penting sebab disegel dengan stempel kerajaan. Surat ini dialamatkan kepada Gubernur kota ini, Tuan Shamrock."
"Kami akan mengantarkannya kepada Gubernur Shamrock." ujar Sultan Yazid.
Dengan berbinar, Regina menyerahkan surat itu ke tangan Sultan Yazid. "Mohon bantuannya. Saya mengharapkan bantuan anda." ujarnya menghiba membungkukkan tubuhnya rendah sekali.
Sultan Yazid bangkit diikuti yang lainnya. "Tolong tunjukkan dimana kantor gubernurmen." pinta lelaki itu.
"Sebuah istana diatas bukit kota ini, dekat pelabuhan, itulah kantor gubernur." jawab Regina.
Sultan Yazid mengangguk lalu memohon pamit. Regina seketika kaget lalu meminta permohonan maaf sebab tak sempat menjamu tamu-tamunya. Sultan Yazid hanya tersenyum sambil pamit meninggalkan kediaman gadis tersebut.
__ADS_1
"Kita menuju kantor gubernur." perintah Sultan Yazid kepada Do Quo.
Lelaki berkumis tebal itu mengangguk dan melangkah menuju kereta. Sultan Yazid menaiki kereta disusul oleh Selena. Sebagai sais, Do Quo kemudian menggebah hewan penarik itu agar berjalan meninggalkan tempat itu. Mereka menyusuri jalanan yang tak padat warga itu menuju dataran tinggi dimana kantor pemerintahan kota terletak.[]