MASSHIAHSAGA-PEMERINTAHAN RATU BAYANGAN

MASSHIAHSAGA-PEMERINTAHAN RATU BAYANGAN
DUA BETINA YANG BERSAING


__ADS_3

Havard mencak-mencak sendirian sambil sesekali menegur keras Champa yang kelihatannya menggoda pemuda itu dengan bersikap genit. Ia sengaja memeluk pinggang Havard dari belakang dan menempelkan tubuhnya membuat pemuda itu blingsatan dan kembali marah-marah tak karuan.


Sultan Yazid hanya mendesah saja lalu tersenyum geli mengerling ke arah Nagini yang juga tersenyum datar melihat pertengkaran keduanya diatas punggung karkadan itu.


"Kurasa... Havard harus mempersiapkan diri untuk menjalani hidup sebagai lelaki beristri dua..." komentar Sultan Yazid.


"Anda sendiri sudah sepatutnya menikah." balas Nagini. "Mengapa masih saja membetahkan diri dalam kesendirian? Tel-Qahira memerlukan seorang pewaris kekuasaan agar Dinasti Bustamiyah tidak akan punah."


Sultan Yazid tersenyum lagi. "Aku dalam proses pencarian itu." kilahnya.


"Bagaimana dengan Putri Mei Ling?" pancing Nagini yang sukses membuat wajah Sultan Yazid perlahan memerah. "Apakah Anda dalam proses untuk menjajakinya?"


"Aku tak tahu..." jawab Sultan Yazid dengan datar.


Mereka tiba didepan pekarangan kediaman Nona Regina. Kebetulan diberanda itu duduklah Do Quo dan Selena. Keduanya sedang dijamu Regina dengan beberapa piring makanan dan beberapa botol minuman. Kedatangan keempat penunggang itu menghentikan sementara kegiatan mereka.


Melihat Havard yang memboncengi seorang gadis centil dengan rambut bak perak mengkilap, suasana keruhnya tersulut lagi. Gadis itu melangkah cepat seraya menenteng busur, mendatangi Havard yang baru turun dari punggung Bukefals, karkadannya dan langsung melabrak.


"Oooooo.... begitu rupanya ya?!" labrak Selena sembari memperbaiki kaos tangan yang membalut lengannya. "Baru ditinggal sebentar saja, sudah mulai mengganggu anak orang!!!"


Havard kaget dan langsung berbalik menatap Selena dengan pias. Selena yang jengkel langsung mengambil sebatang panah yang dipasangkan pada busurnya dan membidik Havard.


Sultan Yazid benar-benar kaget melihat kemarahan Selena. Ia menatap Nagini yang melemparkan tatapan menuduh sebab keberadaan si genit itu karena prakarsa dari Sultan Yazid sendiri.


Champa yang tak tahu apa-apa dengan santainya turun dan menggamit bahu Havard seraya menatap Selena yang sedang membidik pemuda berbaju jirah merah kecoklatan itu.


"Ini siapa?" tanya Champa.


"Anggota peronda kota yang lagi patroli." jawab Havard dengan cengiran takut yang diarahkan kepada Selena.


"Eh, diam kamu!!!" sergah Selena kepada Champa yang juga terkejut dengan bentakan keras gadis itu


Selena menatap Havard dengan bengis. "Nih anak baru ditinggal sebentar sudah pacaran sama hantu kabut begini. Kurang ajar!!!" sembur Selena menggertak hendak melepaskan anak panahnya.


Diejek sebagai hantu kabut kontan Champa yang baru saja tertimpa sial langsung bereaksi. "Apa kamu bilang?! Eeeh kurang ajar-kurang ajar-kurang ajar-kurang ajar-kurang ajjjjjaaaarrrr..." sembur Champa sembari mengacung-acungkan palu godam ke arah Selena.


"Eeeh.... kau, kau, kau, kau, kaaaauuuu itu yang kurang ajjjaaaar..." balas Selena malah membidik Champa.


"Aku dikatai Hantu Kabut..." gerutu Champa dengan kesal.


"Memang kenapa kalau kau itu Hantu kabut?!" hasut Selena dengan senyum bengis.


"Aku bukan hantu kabut!!!" bantah Champa dengan ketus.


"Kenapa kau jalan sama dia?!" sergah Selena dengan sikap membidik namun dagunya terangguk kasar kepada Havard.


"Memang dia itu siapamu?!" tantang Champa dengan jengkel.


"Dia itu... d-dia itu... t-t-temenku." sambut Selena dengan gagap.


"Ah, dia bukan pacarmu, kan?" goda Champa kemudian dan langsung bersikap genit dan memanas-manasi Selena dengan menggelayuti bahu Havard begitu mesra dan wajah gadis centil itu begitu dekat sehingga Havard bisa merasakan desah napasnya.


"Ooooh... Haaaavvvvaaardddd..." serunya dengan suara yang sengaja dibuat serak sehingga mirip dengan suara pelacur yang menggoda.


Havard yang jengah langsung melerai. "Sudah, diam!" tegurnya kepada Champa kemudian menggerutu, "Sudah tahu hantu didepan, kalian berdua bacot-bacotan seenaknya!" tegur Havard memisahkan keduanya yang sudah saling berdempetan dan memperdengarkan geraman mirip dua ekor kucing yang bertengkar.


Havard yang sudah letih tak lagi perduli. Ia membiarkan saja keduanya lalu melangkah memasuki halaman. Champa masih juga menggoda gadis itu dengan menjulurkan lidahnya mengolok-olok Selena lalu melenggang santai sambil memikul palu godamnya. Gadis itu dengan sengaja pula membuat pinggul digoyang-goyangkan seperti seorang ***** membuat Selena menatap dengan jijik. Keinginannya untuk membidik perempuan itu menguap.


"Jangan marah Selena." ujar Sultan Yazid membujuk. "Dia ada disini, karena aku yang mengajaknya bergabung."

__ADS_1


Selena menurunkan busurnya dan balik memandang Sultan Yazid dengan tatapan kecewa. Lelaki bermantel hitam itu hanya bisa tersenyum canggung. "Maaf..." Itu saja ujarannya. Sultan Yazid tak mau lagi menambah kekesalan dihati Selena. Ia beranjak melangkah memasuki halaman.


Selena menatapi lelaki-lelaki itu dan Champa yang langsung akrab dengan mereka. Do Quo sendiri entah kenapa menjadi begitu senang dengan kehadiran gadis genit berambut mengkilap bagai perak itu. Ditambah Regina sebagai tuan rumah juga melayani Champa dengan baik sebab gadis itu memang mengenalnya dengan baik.


Selena mendesis kesal dan menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Air mata sudah mulai menggenang dipelupuk matanya. Semburat merah sudah memenuhi keseluruhan wajahnya.


Nagini turun dari kendaraannya lalu melangkah santai memasuki halaman. Ketika berpapasan dengan Selena, wanita bertiara tanduk itu berujar, "Nggak usah kuatir... perempuan itu hanya menggodamu. Havard nggak akan bakal berpaling dari kamu..." ujarnya kemudian kembali melangkah masuk ke beranda, bergabung dengan yang lainnya.


Anehnya, ucapan datar wanita itu langsung menerbitkan kesejukan disanubari gadis itu. Selena tanpa sadar tersenyum sendiri.


"Terima kasih..." desahnya dengan lirih.


Gadis itu menaruh kembali sebatang panahnya ke andong dan menenteng busur, melangkah dengan santai memasuki beranda dan bergabung dengan mereka.


...****************...


Havard memilih tidur diluar. Kebetulan diberanda ada sebuah hammock yang tergantung di langit-langit beranda. Pemuda itu membaringkan tubuhnya disana. Namun kedua matanya tak kunjung terpejam.


Terkenang kembali peristiwa di Dataran Goldie yang menyebabkan Selena menjadi murung sepanjang perjalanan menuju Navada.


Dalam perjalanan itu, Mereka dicegat oleh gerombolan Xamrush. Mereka adalah sekelompok demihuman berbentuk berujud Chamrosh, yaitu manusia berwajah anjing dan memiliki sepasang sayap burung. Disertai gonggongan penuh semangat, kawanan itu muncul mengepung dan menyerang Havard dan rekan-rekannya.


Havard langsung menghunus nodachi Kanesada dari punggungnya dan menebas beberapa chamrosh yang mencoba menerjang dan menyerangnya. Sebagian lainnya tewas di sula oleh Bukefals dengan cula panjangnya.


Sementara Nagini diatas punggung geryon menghunus pedang dan memutari kereta sembari menebas beberapa chamrosh yang mengguncang-guncangkan kereta. Do Quo sendiri sudah berhasil memecahkan kepala dan menciderai beberapa chamrosh dengan ajian Rulai San Zhuan, yaitu jurus yang merupakan hasil cipta karya dari Tang San Zhuan di Kuil Hwang Chi.


Kedua tangan Do Quo memancarkan cahaya berpendar keemasan dan menyebabkan kesakitan yang luar biasa bagi para penyerang itu ketika Do Quo menyarangkan tapak saktinya ketubuh mereka.


Sultan Yazid memutuskan keluar dari kereta melalui tingkap lalu menyerang beberapa chamrosh yang mengepung. Jumlah mereka seakan tak pernah habis.


Disaat Selena ikut keluar memanah beberapa chamrosh yang menyerang melalui udara, dari balik pepohonan maple itu muncul seorang demihuman lain yang bertubuh besar dan tinggi.


Demihuman itu meraung keras membuat Havard dan rekan-rekannya seakan-akan terkena suatu kekuatan kasat mata yang membuat mereka membeku sesaat. Demihuman itu kemudian maju menyibak beberapa bangkai chamrosh yang tewas dan mendekati Selena.


Dengan tenang, ia merampas kalung ruby yang dibalut oleh logam orihalcon. Itu adalah kalung pemberian Havard saat keduanya berada di Turan. Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, demihuman itu pergi meninggalkan tempat itu.


Mereka tersadar kemudian dan beberapa chamrosh yang tersisa memilih lari tunggang langgang menghilang dibalik rimbunan pepohonan. Tak lama Selena menyadari sesuatu yang hilang. Ia meraba lehernya dan perempuan itu menjerit dengan pilu.


"Mereka mencuri kalungku!!! Mereka mencuri kalungku!!!" jerit Selena dengan histeris dan menangis pilu.


...****************...


Havard kembali kedalam kesadarannya. Ia mendesah lagi. Tatapannya membentur bentangan angkasa malam yang bertabur bintang-gemintang. Pemuda itu bertekad untuk mengambil kalung itu dari tangan pencurinya.


Pintu terbuka dan Havard menengok sejenak kearah situ. Selena muncul dan melangkah mendekati hammock dimana Havard berbaring.


Melihat gadis itu, Havard bangun dan duduk disisi kasur gantung itu. Selena sendiri duduk dikursi dekat hammock itu.


"Malam sudah larut. Tidurlah..." tegur Havard dengan lembut.


"Aku nggak bisa tidur." kilah Selena lalu duduk melipatkan kakinya dan memeluk kaki jenjangnya sendiri. Dagu gadis itu menempel dilututnya.


"Kau masih kepikiran dengan kalung itu?" pancing Havard.


Selena mengangguk. Havard menghela napas. "Sudahlah... tenangkan hatimu. Aku akan merebutnya kembali. Aku janji!" tandasnya.


"Aku tahu..." sahut Selena dengan suara serak. Havard mengerutkan alisnya.


"Lalu?"

__ADS_1


Selena mengangkat wajah menatap Havard. Lama ia menatap pemuda itu membuat Havard menjadi jengah.


"Jangan menatapku seperti itu." tegurnya. "Kau membuat suasana diantara kita menjadi canggung." Pemuda itu kembali memalingkan wajahnya menatap angkasa malam dan membaringkan tubuhnya.


Selena menarik napas seakan mengumpulkan keberaniannya. Gadis itu kemudian mendekatkan tubuhnya.


"Havard..." panggil Selena dengan lirih.


Havard hanya menggumam menjawab panggilan gadis itu. Lama Selena menimbang-nimbang sesuatu yang hendak diungkapkannya. Havard menjadi curiga. Ia menoleh menatap gadis itu.


"Kenapa?" tanya pemuda itu.


"Kamu... kamu..." ujar Selena ragu-ragu.


"Memangnya kenapa denganku?" tanya Havard dengan penasaran.


Selena mendesah lirih lagi membuat Havard kembali bangun dan duduk disisi hammock dengan wajah yang penuh tanda tanya.


"Kau ini terlihat aneh..." tegur Havard. "Ada apa denganmu?"


"Kamu nggak pacaran dengan perempuan bernama Champa itu, kan?" tanya Selena pada akhirnya setelah keberaniannya terkumpul sempurna.


Alis Havard langsung terangkat mendengar pertanyaan itu. Dengan senyum miring, Havard mendekat dan mengulurkan tangannya ke dahi Selena.


"Kamu nggak sementara demam, kan?" ujarnya mengolok membuat Selena mendecak kesal dan menepis tangan Havard yang tertempel didahinya.


"Aku serius!!!" tandasnya dengan ketus.


Havard tersenyum nakal. "Kau cemburu, ya?" godanya lalu terkekeh pelan.


Selena melengos dengan wajah yang memerah. "Aku nggak cemburu! Ngapain cemburu?! Suami bukan, pacar juga bukan..." gerutunya.


"Nggak usah bohong." tegur Havard lagi. "Bilang saja kamu cemburu... ngomong begitu saja kok susah betul?!"


Selena menatap lagi Havard lalu mendengus. "Aku hanya nggak suka dia! Orangnya genit, gatalan.... bisa-bisa kamu dijebaknya... dan..." tukasnya.


"Dan apa?" sela Havard menantang.


Selena kembali melengos. Havard tersenyum lagi lalu terkekeh. "Tenang saja... aku nggak suka tipe perempuan genit. Apalagi yang genitnya kebangetan... bagiku, cukup kamu saja yang genit!"


Selena menatap lagi Havard dengan wajah keruh lalu melengos lagi. Namun kali ini Havard bisa melihat gadis itu menyembunyikan senyumnya.


Havard tersenyum lagi lalu kembali membaringkan tubuhnya pada hammock itu. Kedua matanya mulai mengatup meski ia tak tidur.


"Aku tak suka melihatmu begadang, Selena... kesehatan tubuh itu penting." tegur Havard lagi.


Selena tersenyum tersipu dan mencuri pandang ke arah Havard yang mengatupkan matanya. Timbul keinginan gadis itu mendekatkan wajahnya dan mengamati wajah pemuda itu. Dalam tatapannya, entah karena apa, Selena melihat betapa malam itu Havard terlihat begitu tampan.


Mungkin karena mengira Havard telah tidur, Selena tanpa sungkan berbisik lirih. "Aku cinta kamu, Havard..."


"Aku juga..." bisik Havard juga dengan lirih.


Selena tersenyum mendengar kata-kata pemuda itu. Sesaat kemudian ia tersadar dan wajah gadis itu memerah.


Selena menutup wajahnya dengan malu lalu cepat-cepat berlari meninggalkan beranda itu, masuk kembali kedalam rumah. Sepeninggal Selena, Havard membuka kembali kedua matanya lalu sesungging senyum menebar dibibirnya.


"Aku juga mencintaimu... Selena..." bisiknya dengan lirih.


Angkasa bertabur bintang-gemintang menjadi saksinya. []

__ADS_1


__ADS_2