MASSHIAHSAGA-PEMERINTAHAN RATU BAYANGAN

MASSHIAHSAGA-PEMERINTAHAN RATU BAYANGAN
SETERU MENJADI SEKUTU


__ADS_3

"Selenaaaaa!!!!" teriak Havard.


Namun terlambat. Pilar itu jatuh menghantam gadis itu. Ruangan itu sontak dipenuhi debu yang mengaburkan pemandangan.


Havard yang histeris melempar nodachi Kanesada miliknya dan berlari menyongsong reruntuhan. Do Quo yang paling dekat langsung memeluknya.


"Lepaskan aku Do Quo!!!" teriak Havard dengan panik. "Selena berada disana!!!" ronta pemuda itu ditengah pelukan Do Quo.


"Sabar!!!" balas Do Quo tak kalah kerasnya. "Suasana masih rawan!!!"


"Tidak!!! Lepaskan aku!!!" ronta Havard lalu melolong. "Selenaaaaa.... aaaarghhh!!!!!"


Debu menghilang dan pemandangan semakin menyayat. Aula itu sudah runtuh dan mereka berlima berdiri termangu-mangu dilorong, memandang pintu aula yang tertutup oleh bebatuan. Do Quo pelahan melepaskan pelukannya dan Havard duduk tersimpuh memandangi bebatuan yang menghalangi pintu.


"Selena..." erang Havard dengan pilu. Tangannya terulur dengan gemetar menyentuh bebatuan tersebut.


Meskipun sering berseteru, nyatanya yang paling mewek adalah Champa. Gadis berambut mengkilap bagai perak itu tersedu-sedu menyandarkan diri dipunggung Sultan Yazid yang juga hanya bisa terpaku dengan lidah yang kelu. Nagini memandang Havard yang masih bersimpuh didepan pintu itu dengan tatapan sendu.


Do Quo akhirnya berlutut satu kaki dan menyentuh pundak Havard dengan pelan.


"Ayo nak... kita kembali." ajak Do Quo dengan pelan.


"Ah... bagaimana tanggapan Syaikh Hasyim terhadapku?" guman Havard dengan lirih. Pemuda itu perlahan memutar tatapannya memandang Do Quo. Kedua mata pemuda tersebut merah dan basah.


"Aku.... aku adalah... lelaki yang tak bertanggung jawab..." ujarnya dengan lirih dan gemetar. "Aku... membiarkannya tewas..."


Do Quo mendesah sedih lalu menggeleng-gelengkan kepala memberikan simpatinya.


"Tidak Nak, kau adalah sosok yang bertanggung jawab." ujar Do Quo menyemangati kawannya. "Kau menjaganya hingga saat ini..."


Havard kembali memandang bebatuan itu. Do Quo tersenyum trenyuh. "Namun... takdir memang seperti ini... relakan dia, nak... Selena sudah damai..."


Havard menunduk dan tubuhnya gemetar dengan hebat. Do Quo kembali memeluknya dengan erat.


"Sabarlah.... sabar..." pinta lelaki berkumis tebal itu dengan pilu.


Tak lama kemudian mereka berlima terkejut ketika mendapati lagi ruangan bergetar.


"Gempa lagi!!!" teriak Sultan Yazid. "Ayo! Menyingkir dari sini!!!" serunya berbalik hendak lari dan menyeret Champa ikut dengannya.


Nagini hanya berdiri siaga sedang Do Quo juga langsung bangkit dan berupaya menyeret Havard yang enggan bangkit.


BROLLLLL....


Bebatuan itu ambrol dan pintu itu berlubang lagi namun pemandangannya terhalang oleh debu. Kelima orang itu menatap pintu dengan tegang.


Samar-samar dari hamparan debu tebal, nampak sesosok tubuh raksasa memondong sesuatu datang mendekat. Nagini langsung menghunus pedang.


"Hadhayusha!!!!" seru Nagini.


"Tidak mungkin!!!" bantah Do Quo. "Makhluk itu sudah mati!!!"


"Lalu siapa itu?!" desis Sultan Yazid yang juga sudah bersiaga.


Havard hanya bersimpuh saja ketika raksasa itu muncul dihadapannya bermandikan debu dan memondong seorang gadis yang pingsan.


Havard terkejut dan berseru. "Selenaa!!!"


Pemuda itu bangkit sementara lelaki bertubuh tinggi besar itu menurunkan dan membaringkan Selena didepannya.


"Thor!!!" seru Nagini makin waspada.

__ADS_1


Do Quo yang berdiri disisi Havard juga langsung memasang sikap waspada. Havard sendiri ragu-ragu mendekat meski ia ingin sekali memeluk gadis yang terbaring diam itu.


Thor tetap diam ditempatnya. Sultan Yazid mengamati raksasa itu. Lelaki tinggi besar berambut merah kecoklatan itu tidak menyandang kapak Mjolnirnya. Sebaliknya sebuah kapak berbentuk unik tergantung pada pengait dibagian kanan sabuk Megingjorđnya.


Sultan Yazid kemudian menyimpan lagi tombak pelanginya dibalik punggung. Ia melangkah mendekati Thor.


"Paduka!!!" seru Do Quo mengingatkan.


Sultan Yazid menatap Do Quo dan memberikan isyarat agar tetap waspada. Kini jarak diantara keduanya tinggal semeter saja.


"Thor... apakah kau membuntuti kami?" tanya Sultan Yazid.


"Asgrad adalah kediamanku. Aku adalah penghuni terakhir..." jawabnya dengan suara lantang menggelegar.


"Berarti kau ada hubungannya dengan kawanan chamrush yang dipimpin Luigi dan Hadayusha?!" selidik Nagini masih dengan sikap waspadanya.


Alis Thor berkerut. "Siapa mereka?! Apa yang mereka lakukan disini?!"


"Mereka mendiami tempat..." jawab Sultan Yazid.


"Akulah pemilik Asgrad!!!" seru Thor lagi dengan lantang. "Tak ada yang boleh mendiami Asgrad selain bangsa Aesir!!!"


Sultan Yazid mengangguk-angguk lalu berucap, "Berarti kau kembali pulang ke kediamanmu?"


"Kau telah meruntuhkan kekuasaan Klan Darsus. Ur-Balam kini hanya menjadi kota satelit dari kerajaanmu, sebagaimana kota-kota lainnya yang mengakui kedaulatan Kesultanan Bustamiyah..." tutur Thor kemudian melangkah ke salah satu onggokan batu lalu duduk disana. "Aku tidak lagi memiliki tuan. Jadi, mereka mengusirku sebab menurut mereka bangsa Aesir tidak cocok bergaul dengan mereka."


Sultan Yazid menghela napas lagi. "Bagaimana kau mengurus Asgrad dengan kesendirianmu?" pancingnya. "Setahuku, kau adalah darah terakhir dari bangsamu."


"Apa boleh buat." ujar Thor pada akhirnya. Raksasa itu menengadah menatap pintu aula. "Mungkin sudah waktunya takdir memutuskan bahwa Thor Donnerstein, Raja terakhir bangsa Aesir, akan duduk disana..." ia menunjuk tahta batu bersandaran tinggi. "Menanti ajal..."


Havard kini berani mendekati Selena yang terbaring pingsan. Pemuda itu memeluk dan menyentuh pipi gadis itu.


"Selena...." panggil Havard dengan lembut dan gemetar.


Setelah ia berkata demikian, perlahan mata Selena membuka. Wajah yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Havard yang haru berbalut gembira saat mengetahui bahwa gadis itu baik-baik saja.


"Selena..." seru Havard langsung memeluk gadis itu dan menangis tanpa suara, kemungkinannya ia gengsi memperdengarkan hal itu. Do Quo sendiri kembali berlutut dab menyapu punggung Havard.


"Syukurlah..." ujarnya.


Sultan Yazid tersenyum lalu menatap lagi Thor. "Ada yang ingin kutanyakan padamu."


Thor menatap si penanya. Lelaki bermantel hitam itu menghela napas sejenak lalu bertanya.


"Apakah kau memeriksa tempat ini?" tanya Sultan Yazid. "Apakah kau menemukan sesuatu?"


Thor menggeleng sejenak lalu kembali berkata. "Ruang harta benda berada tepat dibawah singgasana Wuthan." ujarnya menyebut nama tempat itu. "Mungkin kau akan menemukan sesuatu disana..."


Sultan Yazid menatap Do Quo dan menganggukkan kepala. Lelaki berkumis tebal itu mengangguk lalu bangkit dan melangkah memasuki pintu. Champa berinisiatif mengikuti langkah lelaki itu sedang Nagini melangkah dan berdiri disisi pintu masuk aula sambil berjaga-jaga disana.


Havard kemudian menatap Selena. "Aku akan masuk mencari kalungmu."


Selena menganggukkan kepala dengan lemah. Ia meringis. "Dudukkan aku..." pintanya dengan suara lemah.


Havard mendudukkan Selena kemudian menatap Sultan Yazid. "Paduka..."


"Aku paham..." ujar Sultan Yazid mengangguk. "Pergilah."


Havard bangkit lalu melangkah masuk. Pemuda itu menyusuri aula tersebut dan mendapati tahta raksasa itu. Ia memeriksa tahta tersebut dan menemukan sebuah ceruk. Tangga nampak menjulur kedalam kegelapan ceruk itu.


Havard memasuki ceruk itu yang ternyata merupakan sebuah lorong sempit yang berulir hingga menemukan sebuah ruangan lapang. Ada Do Quo dan Champa disana.

__ADS_1


Mereka berdua menemukan seorang pemuda yang sudah dalam keadaan lemah. Pemuda itu mengaku bernama Han Houw dari Navada.


"Luigi adalah kaki tangan Sinhala. Komplotannya yang lain berada di istana." ujar Han Houw dengan lemah.


Do Quo dan Havard saling memandang. Han Houw melanjutkan. "Komplotannya adalah perempuan Sigirlya bernama Hekate. Dia menyamar menjadi salah satu dari putri kerajaan... entah Mei Siocia, atau Cin Siocia... yang jelas, diantara mereka ada yang palsu."


"Kita harus memberitahukan kebenaran ini kepada Paduka Sultan." ujar Do Quo.


"Tunggu..." sela Champa. "Paduka Sultan itu siapa?" tanya gadis itu dengan mimik lugu.


Do Quo dan Havard terdiam sejenak lalu tertawa bersama-sama sedangkan Champa hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Nantilah kau tahu sendiri..." ujar Havard dengan senyum licik. Pemuda itu kemudian menatap Do Quo. "Kau bisa menggendongnya, kan? Pemuda ini terlihat sakit."


"Gampang..." ujar Do Quo mengangguk. "Kau sendiri, ada apa kemari?"


"Aku mau mencari kalung milik Selena." ujar Havard kembali mengedarkan pandangannya.


Do Quo tersenyum sendiri. Havard kemudian menatap lelaki berkumis tebal itu dan kecurigaannya muncul.


"Jangan katakan padaku kalau kau..." tukas Havard.


Seketika Do Quo mendongak dan tertawa lebar. Havard menatap lelaki itu dengan kening berkerut.


"Rupanya aku tak bisa berbohong padamu..." ujarnya ditengah tawanya. Lelaki berkumis tebal itu lalu menampar pundak Havard. "Benda itu ada padaku sekarang." ia merogoh bagian dalam pakaiannya dan mengeluarkan sebuah kalung berliontin ruby yang dibalut dengan cincin berbahan orihalcon yang diukir indah.


Havard langsung mengulurkan tangannya. "Kembalikan padaku!" pintanya dengan ketus. "Kau tahu? Selena nyaris gila gara-gara kehilangan kalung itu?!"


Do Quo menyerahkan kalung tersebut kepada Havard lalu menggendong tubuh Han Houw dipunggungnya. Champa mengikuti langkah mereka dari belakang sambil memikul martilnya.


Do Quo muncul pertama kali menggendong Han Houw disusul oleh Champa. Tak lama kemudian Havard muncul. Ia langsung berlutut dihadapan Selena.


"Aku memenuhi janjiku, Selena." ujar Havard kemudian mengeluarkan kalung dalam genggamannya. Pemuda itu menyodorkan kalung tersebut kepada Selena.


Selena dengan penuh haru menerima kalung itu lalu memeluk Havard dan sesenggukan disana. Dalam pelukan gadis itu, Havard hanya tersenyum dan menyapu punggung gadis itu.


Sultan Yazid menatap Do Quo yang menggendong Han Houw.


"Tuanku, kita sudah menemukan Han Houw." ujar Do Quo kemudian menjelaskan segalanya seperti yang dituturkan Han Houw di ruang benda harta.


"Hekate...." gumam Sultan Yazid menghalalkan nama itu dalam benaknya. Setelah itu ia menatap Do Quo. "Kita antar pemuda ini kembali ke Navada... setelah itu kita akan menangkap Hekate yang bersembunyi istana." ujarnya memerintah.


Sultan Yazid menatap Thor yang masih duduk di batu. "Kau tak terpikirkan untuk melakukan lagi pengembaraan?"


Thor menatap lama kearah Sultan Yazid yang menatap raksasa itu dengan lama. Sultan Yazid tersenyum. "Jika kau tak keberatan, ikutlah bersamaku!"


Thor akhirnya bangkit lalu melangkah lagi lebih dekat kepada Sultan Yazid. Havard dan Do Quo sudah cemas setengah mati mencurigai Thor yang akan melakukan sesuatu yang buruk.


Namun ternyata perkiraan keduanya salah. Thor tiba-tiba langsung berlutut dengan satu kaki dan menyangga tangannya pada gagang kapak berbentuk unik tersebut dihadapan Sultan Yazid.


"Aku, Thor Donnerstein.... mengabdi kepada Yang Dipertuan Agung, Sultan Yazid al-Bustami dari Tel-Qahira..." seru raksasa berambut merah itu. "Terimalah pengabdian saya, Paduka."


"Tunggu!!!" seru Champa tiba-tiba. "Berarti Tuan Yazid ini, seorang raja?!" pekik Champa dengan ketakjuban luar biasa.


"Kamu.... baru tahu sekarang?" seru Selena yang kaget dengan keterkejutan gadis berambut sekilap perak itu.


Sultan Yazid tersenyum dan menatap Thor. "Bangunlah, Thor Donnerstein, Raja Bangsa Aesir. Kau kuminta bergabung, bukan untuk menjadi abdiku... tapi kuminta engkau menjadi rekanku, sahabatku yang mana derajat kita dalam kawanan ini adalah sama."


Thor terdiam lama sambil menunduk. Sultan Yazid kembali menyeru. "Maukah kau menjadi bagian dari kami? Kuat sama memikul dan ringan sama menjinjing?"


Thor mengangkat wajahnya dan ia kemudian memamerkan senyum kakunya. "Saya.... bersedia!"

__ADS_1


Sultan Yazid tersenyum dan meminta Thor untuk bangkit. Ia menatapi kelima rekannya.


"Mari kita membawa pemuda ini ke Navada." ajaknya.[]


__ADS_2