MASSHIAHSAGA-PEMERINTAHAN RATU BAYANGAN

MASSHIAHSAGA-PEMERINTAHAN RATU BAYANGAN
MENYELESAIKAN PERTARUNGAN


__ADS_3

Makhluk jelmaan Hekate meraung keras. Mereka langsung menyiagakan senjatanya. Makhluk itu adalah sesosok hewan melata dengan sisik-sisik menonjol. Ia memiliki tangan empat, sepasangnya adalah lengan bercakar yang ditumbuhi bulu-bulu mirip sayap. Tubuhnya telanjang dan dihiasi sisik-sisik dibeberapa bagian tubuh.


"Aku akan menjajalnya duluan." seru Do Quo yang melesat dengan tangan yang terkembang di udara.


"Tapak Çakyamuni!!!" seru Do Quo merapal ajiannya. Kedua tangan disatukan didada dan membentuk pola mudra. Do Quo mengangsurkan salah satu telapak tangannya yang bercahaya kedepan.


Makhluk itu meraung dan mengibaskan lengannya. Kedua tapak dan tinju berbenturan.


BAMMMM!!!!


Do Quo terpental sedang makhluk itu hanya terjejer beberapa langkah. Sultan Yazid melesat mengayunkan tombaknya lalu menusukkannya ke arah makhluk itu.


RAAAAAARGGGHHHH....


TRANGGG!!!! BUKKK!!!! UHHH....


Makhluk itu kembali mengibaskan tangannya dan menangkap tombak itu. Terdengar bunyi nyaring persentuhan cakar makhluk itu dengan batang tombak Pasak Bianglala. Makhluk itu menarik tombak itu membuat Sultan Yazid ikut terseret ke depan.


Pada saat tubuh lelaki bermantel hitam itu mendekat, makhluk itu melayangkan tinjunya menghantam tubuh Sultan Yazid. Diiringi keluhan pendek, tubuh sang penguasa terpental beberapa meter. Selena dengan geram membidik makhluk tersebut.


TRAK! SWINGGGGGG.... JLEB!!!


Tali busur yang direntangkan tiba-tiba dilepaskan dan melesatlah proyektil menghujam ke dada Hekate. Makhluk itu meraung kesakitan dan mencabit anak panah yang menancapi perutnya. Tatapan penuh dendam diarahkan kepada Selena.


Havard mendengus dan merentangkan pedangnya didepan dada. "Tak akan kubiarkan kau menjamahnya!" seru pemuda itu lalu mengarahkan claymore ke atas bagaikan menara.


"Pengumpul Awan Syurga!!!" serunya. "Api Suci Pelebur Jiwa!!!" sambungnya merapal jurus bagian dari ajian tersebut.


Perlahan cahaya keputihan dilingkari oleh lidah-lidah petir kecil kemudian berubah menjadi kobaran api yang melingkupi claymore itu. Dengan teriakan keras ia mengayunkan pedang yang berselimut kobaran api itu, ke depan.


Kobaran api hasil olah tenaga dalam pemuda itu meluncur dan mengenai tubuh Hekate, membuatnya meraung kesakitan karena makhluk itu tak mampu menahan panasnya api tersebut.


Sementara panik menyingkirkan api yang menyelimuti tubuhnya, Hekate tanpa sadar membuat pertahanan tubuhnya terbuka. Hal ini diperhatikan oleh Thor dan dia maju memutari tubuh Hekate dan memeluk makhluk tersebut dari belakang.


Hekate tahu apa yang akan diperbuat oleh raksasa itu. Ia berusaha meronta dan sepasang tangannya yang satu mencengkram bahu Thor, menahannya agar raksasa itu tak melakukan bantingan terhadapnya. Namun Thor adalah lelaki perkasa secara fisik. Makhluk apapun, selama mengandalkan kekuatan fisik tak akan bisa menandingi kekuatan mengagumkan bangsa Aesir.


Thor mengangkat tubuh makhluk jelmaan Hekate itu dan membantingnya ke belakang. Bunyi berdebam disertai getaran yang keras menimpa dinding-dinding gua ketika tubuh makhluk jelmaan Hekate terhempas dengan keras dilantai gua.


Hekate meraung keras. Thor tetap saja memeluknya sekuat tenaga sambil kembali bangkit. Keduanya bergulat. Hekate menghujamkan cakarnya menikam punggung raksasa itu.


Thor terlihat menyeringai menahan rasa sakit. Namun sakit hatinya lebih dari pada sakit fisiknya. Ia teringat kampung halamannya yang telah ternodai kesakralannya. Kawanan Xamrush yang dipimpin Luigi dan Hadayusha adalah komplotan dari Sinhala dan Hekate. Mereka mengotori Aula Bumi Sejati, tempat Theoldur, salah satu raja terkuat bangsa Aesir bertahta.

__ADS_1


HEEEEIIIIYYYAAAAAAH...


KRAKKKK!!!!


EH????


KRAKKKK!!!!


Teriakan keras membahana dari mulut raksasa itu ketika ia meremukkan tulang pinggang Hekate. Makhluk itu tersentak seiring ruas-ruas tulangnya diremukkan Thor. Pelukan terakhir yang paling kuat membuat Hekate kembali tersentak dengan kepala menengadah ke atas, melepaskan selembar nyawanya. Tak lama kemudian makhluk itu terkulai dan Thor melepaskannya membiarkan Hekate jatuh berdebam ke tanah gua.


Thor masih dengan sikap bertarungnya ketika Champa menyentuh lengannya membuat raksasa itu menoleh menatap gadis berambut putih perak itu.


"Cukup, Thor... kau sudah membunuhnya." ujar Champa dengan lirih. Thor hanya mendengus pelan lalu berdiri tegap. Lelaki besar itu mengalahkan musuhnya tanpa menggunakan senjata.


Champa kemudian mendekati makhluk itu yang perlahan kembali ke ujud aslinya sebagai Hekate. Wanita itu diam tak lagi bergerak, telanjang sepenuhnya. Keenam orang itu berdiri agak jauh membiarkan Champa memeriksa tubuh perempuan itu.


Champa menghela napas kecewa dan menatap keenam rekannya. "Ia tak memegang Cermin Hati." ujarnya.


Sultan Yazid merutuk sedang Havard mengumpat-umpat. Pemuda itu ditenangkan oleh Selena. Thor hanya menarik napas panjang dan mendengus pelan lagi. Yang datar dan dingin hanyalah Nagini. Champa kembali mendatangi mereka.


"Apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Champa dengan wajah bingungnya.


Champa menoleh lagi menatap mayat Hekate yang terbaring telanjang itu. "Lalu, bagaimana dengan dia?"


Sultan Yazid menjawab, "Warga Brienn yang akan mengebumikannya disini. Lalu tempat ini kita tutup kembali dan pastikan tidak ada satupun yang akan menyambangi tempat ini."


Champa sejenak diam lalu menghela napas dan mengangguk. "Baiklah, jika itu keinginan Paduka." ujarnya dengan pelan.


Sultan Yazid menatap rekan-rekan lainnya. "Kita pulang hari ini ke Navada." serunya.


...****************...


Pelayaran dari Direa menuju Navada telah dilaksanakan. Di pelabuhan, mereka langsung melarikan kendaraan mereka meninggalkan Navada, tanpa pamit lagi pada Chan Han Houw dan istrinya.


Perjalanan menuju Cappadonia ditempuh meski pada malam hari. Berita ini memang harus segera disampaikan sebab menyangkut harta karun negara.


...****************...


Kaisar Pu Tuo mondar-mandir di aula itu sedang ditengah aula berdiri ketujuh orang tersebut. Sesekali pria parobaya itu mengangguk-angguk pelan dan menyelai-nyelai janggutnya lalu kembali menyembunyikan kedua tangannya dibelakang.


Sultan Yazid sendiri hanya menunggu sedang empat orang lainnya, terkecuali Nagini dan Thor terlihat cemas.

__ADS_1


"Jadi... Sinhala berhasil memiliki Cermin Hati." gumamnya. Lelaki itu berhenti dan menatap Sultan Yazid. "Apakah dia pernah mengatakan hendak kemana perjalanannya berikutnya?"


Sultan Yazid tersenyum hambar lalu menggeleng. "Dia tak pernah bilang apa-apa. Tapi saya bisa memprediksi bahwa tujuan berikutnya adalah Kerajaan Bellial yang dipimpin Ratu Artemis... bukankah sang ratu memiliki Adeola Semiramis yang juga merupakan salah satu artefak dunia?"


Kaisar Pu Tuo melebarkan matanya. "Kau benar! Mengapa hal itu tak terpikirkan olehku?" rutuknya sembari meninju tangannya sendiri.


"Yang Mulia Kaisar tak usah berkecil hati. Kami tetap akan mengejarnya sampai ke ujung dunia." sahut Sultan Yazid berupaya menenangkan hati Kaisar Pu Tuo. "Bagaimanapun kita tidak boleh membiarkannya membangkitkan Raja Samiri dari tidur panjangnya."


"Itu akan kita pikirkan nanti." tukas Kaisar Pu Tuo. "Yang jadi permasalahan adalah bagaimana inagurasi kekaisaran akan bisa dilaksanakan jika Cermin Hati tidak ada?"


"Buatlah imitasinya." usul Sultan Yazid. "Sementara itu, hanya inilah cara agar Paduka bisa menyerahkan kekuasaan kepada salah satu putri anda dan hidup tenang diluar istana..."


Kaisar Pu Tuo manggut-manggut. "Kurasa, aku terpaksa menyuruh tukang istana untuk segera mewujudkan hal itu." ujarnya.


...****************...


Putri Mei Ling tersenyum kemudian memandang adik kembarnya, Putri Cin Ling.


"Aku tidak berminat menggenggam kekuasaan dengan keadaan tubuhku yang lemah sekarang." ujar Mei Ling.


Sultan Yazid mengangkat alisnya. Ketiganya sedang duduk santai menikmati hidangan ringan dan secangkir teh.


Keenam lainnya tidak memenuhi undangan kedua putri bangsawan itu sebab mereka telah memiliki agendanya masing-masing.


Thor Donnerstein meminta ijin pulang sejenak ke kampung halamannya, Asgrad. Ia hendak membersihkan tempat itu, menjadikannya sebagai pusara kenangan. Sultan Yazid mengijinkannya asalkan dihari ketiga harus kembali ke Cappadonia, bergabung bersama rekan-rekannya untuk melanjutkan perjalanan menuju Kerajaan Bellial.


Do Quo menemani Champa dan Nagini berkeliling kota Cappadonia, dan menikmati sajian kuliner khas kota itu.


Havard dan Selena sedang asyik bercengkerama diserambi Istana Tamu. Mereka memilih tidak kemana-mana, melainkan menghabiskan waktu berdua, menghilangkan kerinduan bersama.


Sultan Yazid menyeruput tehnya lalu meletakkan cangkir itu kembali di meja. "Kurasa Nona Mei Siocia memikirkan sedalam-dalamnya tentang hal itu. Ini adalah masalah hak anak sulung dan kewajiban melestarikan kekuasaan Dinasti Zhou."


Mei Ling tersenyum lagi. "Kurasa, Xiao Cin lebih cocok untuk itu." ujarnya sembari menatap lagi adik kembarnya.


Sultan Yazid menatap Putri Cin Ling. "Bagaimana Cin Siocia?" pancing Sultan Yazid. "Ingatlah, bahwa negara bukan sebuah mainan. Memimpin sebuah negara adalah tanggung jawab paling besar dari semua tanggung jawab keduniawian yang kita emban."


"Jika kakakku menghendaki, dan ayahku merestui, tentunya aku tak bisa menolaknya. Rakyat akan sangat kecewa melihat penobatan itu akan gagal pada kedua kalinya." jawab Putri Cin Ling.


"Anda memang berpikir bijaksana." puji Sultan Yazid kembali mengambil cangkirnya lalu mengangkat gelas itu ke hadapan kedua putri kerajaan itu.


"Semoga pemerintahan Dinasti Zhou akan langgeng sepanjang masa." ujarnya seraya bersulang untuk mereka berdua. []

__ADS_1


__ADS_2