MASSHIAHSAGA-PEMERINTAHAN RATU BAYANGAN

MASSHIAHSAGA-PEMERINTAHAN RATU BAYANGAN
KAPAL HANTU OURANG SANA


__ADS_3

Sebuah benda hitam besar mendekati kapal K.M. Sancakala. Sebagai nahkoda utama kapal itu, Komodor Perry Lite memerintahkan mualim yang memegang roda kemudi agar memperlambat laju kapal. Para penumpang yang terbangun gempar dan berupaya menghambur keluar kabin. Untung saja beberapa kelasi yang bertugas sebagai regu pengaman memaksa para penumpang agar tetap berada didalam kabinnya.


Sementara Nagini telah berkumpul bersama keenam rekannya yang telah berada di anjungan kapal itu, menyaksikan benda yang bergerak mendekat.


"Kelihatannya, itu adalah sebuah kapal lain." ujar Sultan Yazid dengan tenang sambil memicingkan mata, berupaya menajamkan dria penglihatannya agar dapat melihat dengan jelas jenis kapal yang mendekat.


"Tidak mungkin!" bantah Do Quo. Lelaki berkumis tebal itu sangsi.


Havard mengerling kearah Do Quo. Lelaki berkumis tebal itu berujar. "Menurut keterangan syahbandar, hanya kapal ini saja yang beroperasi dilautan ini. Tidak ada kapal lain..." bantahnya, "Jikalau ada, mungkin hanya kapal-kapal nelayan dan sampan-sampan kecil yang digunakan para penyelam."


Sultan Yazid terkejut lalu kembali mengarahkan tatapannya ke benda yang mendekat. Dan kini benda itu telah sejajar dengan K.M. Sancakala. Nyata benar bahwa itu adalah sebuah kapal. Namun berukuran besar, sedikit lebih besar dari K.M. Sancakala.


Komodor Perry Lite langsung memerintah para kelasi menyalakan lampu sorot dan mengarahkannya kepada kapal asing itu. Dari sorotan cahaya lampu itu mereka menyaksikan betapa kumuhnya kapal itu, seakan tidak terurus. Banyak karat bertebaran dilambung kapalnya.


Beberapa kelasi turun ke anjungan dipimpin langsung oleh Komodor Perry Lite sendiri. Mereka bergabung dengan Sultan Yazid dan keenam sahabatnya.


"Apa yang bisa kusimpulkan dari ini?" tanya Komodor Perry.


"Apakah benar, hanya K.M. Sancakala yang beroperasi dilautan ini?" tanya Sultan Yazid kepada nahkoda itu.


"Sepanjang pengetahuanku, memang begitu." jawab Komodor Perry. "Aku akan memerintahkan awakku untuk memeriksa."


"Biarkan kami yang memeriksa." pinta Sultan Yazid. "Anda silahkan menunggu disini saja dan mengawasi kapal."


"Anda yakin?" tanya Komodor Perry.


Sultan Yazid tersenyum dan mengeluarkan secarik kertas yang ditandatangani oleh Kaisar Pu Tuo. "Kami adalah anggota polisi pengamanan wilayah lautan... kami dalam rangka tugas yang tak dapat kami sebutkan disini. Mohon permudahkan tugas kami." ujarnya.


Komodor Perry Lite terkejut mendapati ada pejabat kekaisaran Zhou didalam kapalnya, langsung bersikap hormat.


"Baiklah... silahkan Tuan." ujar Komodor Perry lalu menyingkir sambil menyuruh kelasi-kelasinya berjaga-jaga disekitar anjungan, mengawasi kapal asing itu.


Sultan Yazid menatap keenam rekannya. "Kalian siap?" tanya lelaki itu sembari mengambil tombaknya yang tersampir dipunggung. Keenam rekannya langsung menghunus senjatanya, pertanda mereka sudah dalam keadaan siap.


"Ayo..." ajak Sultan Yazid kemudian memerintahkan beberapa kelasi mengeluarkan jembatan untuk menyeberang ke kapal tersebut.


Ketujuh orang itu menyeberang disaksikan Komodor Perry Lite dan beberapa mualim dari kabinnya, juga sebagian penumpang yang melongokkan kepala mereka dari jendela luar kabin.


"Apakah mereka tidak tahu, bahaya apa yang akan menimpa mereka?" desis salah satu mualim yang berdiri disisi Komodor Perry Lite.


Nahkoda itu hanya mengerling sesaat kepada mualim itu lalu kembali menatap kembali kapal asing yang terlihat kumuh itu.


...****************...


Sultan Yazid membagi tugas. Havard dan Selena memeriksa bagian atas, Do Quo dan Nagini memeriksa bagian palka kapal sedang Thor memeriksa kamar mesin. Sultan Yazid dan Champa kebagian memeriksa kamar-kamar dibagian tengah.


Mereka berpencar. Dalam pemeriksaan ini mereka bertujuh kerap mendapati onggokan tengkorak dan mencium bau yang busuknya tak terkira. Champa hanya mendengus mengusir bau busuk yang menyengat.


Sultan Yazid terpaksa membekap mulut dan hidungnya dengan sapu tangan. Selena memang terlihat seperti gadis lemah, namun ia seorang tabib yang sudah banyak bergaul dengan orang-orang sakit dan mayat-mayat yang membusuk. Pemandangan itu baginya terlihat biasa saja.


Sultan Yazid pertama kali mendapati kamar nahkoda. Ia mengulurkan tangan menyentuh gagang pintu dan memutarnya.


CEKLEK!! CEKLEK!!!


"Kelihatannya, pintu ini terkunci Paduka." desis Champa dengan lirih.


Sultan Yazid mencoba mendorong pintu itu dengan bahunya. Hal itu ternyata sia-sia saja. Champa menghela napas.


"Paduka, mari kita periksa kamar yang lain..." ajak Champa dengan lirih. Gadis berambut perak itu melangkah sambil memikul tongkat martilnya.


Sultan Yazid menyerah dan terpaksa mengikuti Champa.


...****************...


Sementara Havard dan Selena tersesat. Mereka berdua menyusuri sebuah koridor sambil menyiagakan senjatanya.


"Havard..." panggil Selena setengah berbisik. Havard mengerling.


"Hmmm?" gumamnya menyahut panggilan itu.


"Lihat sana..." ujar Selena dengan lirih sambil menganggukkan kepala ke suatu arah. Havard mengikuti arah anggukan itu.


Beberapa meter dari tempat mereka berdiri, nampaklah sesosok arwah anak kecil yang tertawa-tawa.


Havard mengerutkan alis lalu mengangkat pedangnya dan mengayunkannya ke arah arwah itu.


BLESSHHHH....

__ADS_1


Arwah anak kecil itu tetap saja tertawa sebab pedang itu lewat saja dari tubuhnya. Arwah itu kemudian berlari meninggalkan tempat itu.


"Hei, tunggu!!!" seru Havard sambil mengejar.


"Havard!!! Tunggu!!!" panggil Selena yang ikut mengejar Havard.


Keduanya berlari menyusuri koridor mengejar arwah yang terus saja memperdengarkan tawanya. Arwah itu kemudian menembus sebuah ruangan. Havard berhenti didepan ruangan itu. Tak lama kemudian muncul Selena dengan napas yang tak teratur.


"Kamu kenapa meninggalkan aku?!" bentak Selena dengan kesal.


Havard mendesis menyuruh Selena diam. "Hantu itu lari ke sini..." desisnya menunjuk ruangan.


Selena menatap ruangan itu. Tanpa menunggu, Havard memasukinya dan Selena menyusul dibelakang. Mereka menemukan sebuah ruangan yang terlihat acak-acakan. Namun ada sebuah peti yang kelihatannya tertutup.


Havard mendekati peti itu dan mencongkel peti itu dengan ujung pedangnya hingga membuka. Selena maju dan melongok.


"Havard... lihat, ada senjata." ujar Selena sambil mengeluarkan sebilah belati panjang berjenis epee*) dan sepucuk pistol berlaras panjang terbuat dari bahan baja berkualitas tinggi.


Havard mengambil belati panjang itu dan menyelipkannya pada sabuknya. Pemuda itu menatap pistol dalam genggaman Selena.


"Itu cocok untuk kau sandang." ujar Havard. "Apakah berisi peluru?" tanya pemuda itu.


Selena memeriksa pistol itu. "Kelihatannya menggunakan tenaga elektrosolar yang menghasilkan sinar photon." jawab gadis itu.


"Pistol laser rupanya..." gumam Havard. "Simpanlah.... siapa tahu bisa berguna."


Selena mengangguk dan menyisipkan senjata api itu dibalik sabuknya. Keduanya kembali memeriksa.


Tiba-tiba arwah itu muncul lagi dan tertawa-tawa seakan mengejek kedua muda-mudi itu, menantang mereka untuk mengejarnya.


"Hei kau hantu kecil! Jangan lari!" bentak Havard dengan galak dan mengacung-acungkan pedang panjangnya.


Arwah itu kembali tertawa dan berlari lagi. Dengan geram Havard kembali mengejar dan Selena menyusulnya. Namun dalam perjalanan itu keduanya dicegat oleh beberapa tengkorak hidup bersenjatakan sebilah cutlass**) yang biasa digunakan tentara angkatan laut.


"Jangan sia-siakan panahmu." seru Havard. "Biar mereka, aku yang urus!" Lelaki itu maju mengayunkan claymore ke arah beberapa tengkorak itu.


TRANGGG!!!! PRAKKK!!!!


TRANGGG!!!! PRAKKK!!!


mayat-mayat berujud kerangka itu berjatuhan satu persatu ditebas oleh Havard. Lelaki itu menginjak-injak sisa-sisa rangka yang berserakan untuk mengantisipasi mereka bangkit kembali melakukan perlawanan ulang.


"Sudahlah... ayo kita kejar arwah itu." pinta Selena.


Havard berhenti menginjak-injak rangka tersebut lalu kembali berlari ke arah menghilangnya arwah itu, disusul Selena.


Kedua orang itu tiba disebuah kamar yang luas. Havard melihat sebuah saklar dan menekannya. Seketika ruangan itu menjadi sedikit terang dan sesekali padam disebabkan oleh lampu ruangan yang mengedip-ngedip.


"Ruangan apa ini?" gumam Selena dengan heran. Gadis itu menurunkan busurnya yang terentang. "Rasanya aku tak merasa asing dengan ruangan ini."


Havard kembali mengerling. "Maksudmu? Apakah kau pernah menaiki kapal ini?" tanya Havard.


"Entahlah..." jawab Selena. "Yang jelas... aku seakan pernah berada disini..." desisnya.


Selena melihat sebuah ayunan bayi dan melangkah mendekatinya. Havard ikut mendekati ayunan bayi itu dan mengamatinya.


"Tak ada apa-apa dalam buaian itu." komentar Havard lalu kembali memeriksa ruangan itu. Ia menemukan sebuah potret besar.


Seorang lelaki memakai mahkota dan disisinya juga seorang wanita berkerudung. Sebuah tiara sedikit menyembul dari kerudungnya. Keduanya terlihat begitu anggun. Dua orang bayi berada dalam pelukan wanita berkerudung itu. Havard mengamati wajah bayi tersebut.


"Hei Selena... kemarilah..." panggil Havard yang tetap mengamati lukisan itu.


Selena menoleh dan melangkah mendekati Havard. Gadis itu juga menatap lukisan itu.


"Wah... kelihatannya mereka berdua ini sepasang penguasa sebuah wilayah...." komentar Selena. "Tapi kok... kelihatannya aku seperti mengenal mereka..." ujarnya dengan bingung.


"Perhatikan wajah bayi itu..." ujar Havard. "Wajahnya... mirip denganmu..." lelaki itu kemudian menoleh mengamati Selena dan membandingkannya dengan lukisan wajah bayi dalam pelukan wanita berkerudung tersebut.


"Iya... mirip sekali..." gumam Havard.


"Kakak...." seru suara dibelakangnya.


Keduanya serentak berbalik dan menemukan arwah anak kecil itu berdiri dan tersenyum-senyum kepada mereka.


"Hei kau hantu kecil." panggil Havard. "Katakan siapa kamu sebenarnya?" tanya pemuda itu.


Arwah anak kecil itu tertawa lagi lalu menatap Selena. "Sudah lama kita tidak berjumpa, Diana." ujarnya.

__ADS_1


"Kau salah..." bantah Selena dengan lembut. "Aku Selena, bukan Diana..."


Arwah itu tertawa lagi. "Ya, memang... kita sudah terpisah jauh.... tapi aku bersyukur, kau selamat..."


"Kau sendiri siapa?" tanya Selena.


"Kau tak mengenalku?" tukas arwah itu sedikit cemberut. Selena mendekatinya lalu berlutut dihadapan arwah itu.


"Katakan... siapa kau?" tanya Selena dengan lembut mengulurkan tangan hendak menyentuh namun sentuhannya menembus tubuh arwah tersebut.


"Aku kakakmu, Minerva." jawab arwah itu. "Kapal ini diserang... Ayah gugur melawan penyerbu itu. Aku pun gugur dibunuh. Tapi, kurasa Ibu berhasil menyelamatkanmu...."


"Kapal? Ini kapal siapa? Mengapa kamu berada dikapal ini?" tanya Selena.


"Ini adalah B.R.S. Orang Sana... kapal keluarga kerajaan Bellial... kapal ini berlayar dalam rangka lawatan menuju kerajaan tengah. Namun dalam pelayarannya, kita diserang... kami semua terbunuh... entah mengapa kau terselamatkan... namun aku bersyukur karena...." tutur arwah tersebut.


"Menyelamatkanku?" desis Selena menyela. "Mengapa aku diselamatkan?"


"Karena makhluk itu memburumu... aku tak tahu kenapa. Makhluk itu hanya menyebut saja satu kata...." jawab arwah itu.


"Apa... apa katanya?" desak Selena.


"Bunuh!!! Bunuh Ratu Burqa!!!" seru arwah itu. Selena mengerutkan dahi.


"Ratu Burqa?" desisnya lalu menatap Havard yang berdiri disisinya menyangga kedua tangannya pada ujung gagang claymorenya. "Kau kenal perempuan itu?"


Havard menggeleng lalu menatap arwah itu. "Siapa Ratu Burqa?"


"Itu adalah permaisuri kerajaan kuno, istri Kaisar Uran dari Dur-Salim (Ur-Salem)." jawab arwah tersebut.


"Lalu mengapa kalian dibunuh?" tanya Selena yang mulai terbawa keharuan. Wajahnya telah menyiratkan semburat merah.


"Ketahuilah Diana... tanah airmu sebenarnya adalah Kerajaan Bellial di Bumi Tengah...." tutur arwah itu. "Entah bagaimana kau selamat, namun waspadalah... kemungkinan besar kau masih diburu oleh makhluk itu...."


"Siapa? Siapa yang memburuku?!" tanya Selena lagi dengan penasaran.


Namun arwah itu hanya tersenyum lalu perlahan tubuhnya menjadi samar. "Selamat tinggal Diana... waktulah yang memisahkan kita... semoga kau terus berada dalam lindungan Tuhan..."


"Tunggu...." seru Selena lagi namun arwah itu telah menghilang sepenuhnya.


Tak lama kemudian lantai yang dijejaki terasa bergetar. Havard langsung sigap.


"Celaka!!! Kapal ini akan tenggelam." seru Havard langsung menyeret Selena bangkit. Keduanya bergegas meninggalkan ruangan tersebut dan menyusuri lorong-lorong hingga akhirnya tiba kembali dianjungan.


Disana Sultan Yazid dan yang lainnya sementara menunggu. Melihat keberadaan Havard dan Selena, mereka mendesah lega.


"Kupikir kau tersesat!!!" seru Do Quo.


"Ayo!!! Kelihatannya kapal ini akan berlayar kembali!" seru Sultan Yazid yang langsung meniti jembatan.


"Ayo cepat!!!" seru Champa.


Thor kemudian menyusul Champa meniti jembatan hingga tiba kembali dianjungan K.M. Sancakala bersama-sama dengan Sultan Yazid dan Nagini yang sudah lebih dulu berada disana. Do Quo kemudian meniti jembatan tersebut.


"Selena, kau duluan..." ujar Havard.


Selena kemudian meniti jembatan menyusul Do Quo. Havard paling terakhir meniti jembatan tersebut.


KRAK!!!!


Begitu Selena selesai menjejakkan kakinya di anjungan K.M. Sancakala, Havard yang hampir tiba, mengalami kendala.


Jembatan itu retak dan patah membuat pemuda itu tak sempat menjejak lagi hingga akhirnya melayang jatuh kedalam lautan.


"Havaaaaaarrrddd...." teriak Selena dengan histeris. Do Quo bertindak cepat memeluk gadis itu yang meronta ingin menyusul Havard yang tenggelam.


Nagini langsung mengambil tindakan cepat dan terjun kedalam lautan. Sedang K.M. Sancakala kembali melanjutkan pelayaran karena penumpang yang panik memaksa Komodor Perry Lite untuk melanjutkan pelayaran.


Kapal hantu Ourang Sana juga akhirnya berlayar kembali dan perlahan menghilang dalam kabut tebal yang menyamarkan pandangan.


Tubuh kedua orang itu hilang ditelan gelombang laut yang mengganas malam itu.[]


Catatan kaki.


*) epee adalah sejenis belati pendek dengan pelindung berbentuk silang.


**) cutlass adalah golok lengkung dengan pelindung membentuk cincin yang melingkari gagang pedang.

__ADS_1


__ADS_2